“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

PROSES PEMBUATAN YOGURT YANG BAIK DAN BENAR

Proses Fermentasi Yoghurt

Susu terfermentasi dapat dibuat melalui beberapa cara yaitu menambahkan enzim-enzim untuk proses fermentasinya atau menambahkan mikrobia yang dapat melakukan proses fermentasi susu, cara yang pertama sangat mahal karena enzim-enzim yang harus ditambahkan jumlahnya lebih dari satu dan harus diberikan dalam kondisi tingkat kemurnian tinggi. Oleh sebab itu cara penambahan mikrobia yang dipilih, karena mikrobia tersebut secara alami terdapat pada susu, kita hanya tinggal mengisolasinya menjadi biakan murni untuk selanjutnya diperbanyak dan ditambahkan pada susu yang difermentasi. (Septia,2010)

Yogurt dibuat dengan bantuan dua jenis bakteri menguntungkan, satu dari keluarga lactobacillus yang berbentuk batang (Lactobacillus bulgaricus) dan lainnya dari keluarga streptococcus yang berbentuk bulat (Streptococcus thermophilus). Kedua bakteri yogurt ini merupakan bakteri penghasil asam laktat yang penting peranannya dalam pengaturan mikroflora usus. Saat bertumbuh di usus, Lactobacillus bulgaricus dan S. thermophilus mampu menciptakan keadaan asam yang menghambat bakteri lain. Bakteri penyebab penyakit yang umumnya tak tahan asam tak mampu bertahan di lingkungan bakteri yogurt. Sementara bakteri lain yang memang seharusnya melimpah dirangsang untuk bertumbuh. Sehingga mikroflora dalam usus didorong mendekati keadaan seimbang yang normal. Banyak penelitian menunjukkan bahwa bakteri dalam yogurt dan susu fermentasi ulain memberi ekstra manfaat bagi tubuh. Bakteri yogurt membutuhkan kondisi pertumbuhan yang cocok terutama suhu yang tepat. Umumnya bakteri tumbuh baik pada keadaan hangat. Bakteri yogurt S. thermophilus dan L. bulgaricus paling cepat tumbuh di sekitar suhu 40– 44°C (bergantung pada galurnya). Jika suhu terlalu rendah bakteri akan berkembang biak lambat atau tidak sama sekali. Sementara jika suhu terlampau panas bakteri bisa rusak dan mati. Bahaya lain, yaitu merajalelanya mikroba lain yang kondisi optimumnya di suhu lebih tinggi atau rendah. Karena lebih cepat berkembang biak di suhu tersebut, jumlah mikroba penyusup tadi dapat menyusul bahkan menyisihkan bakteri yogurt semula. (Widodo,2002)

Adapun tahap – tahap pembuatan yogurt adalah seperti berikut ini (Septia, 2010):

1. Susu segar dipanaskan sampai suhu 90 °C dan selalu diaduk supaya proteinnya tidak mengalami koagulasi. Pada suhu tersebut dipertahankan selama 1 jam. Apabila dilakukan pasteurisasi maka suhu pemanasannya adalah 70 – 75 °C . Jika hal ini yang dilakukan, maka pemanasan dilakukan sebanyak dua kali.

2. Setelah dipanaskan, selanjutnya dilakukan pendinginan sampai suhunya 37- 45 °C. Pendinginan tersebut dilakukan dalam wadah tertutup.

3. Setelah suhu mencapai 37-45 °C maka dilakukan inokulasi / penambahan bakteri ke dalam susu tersebut sejumlah 50 – 60 ml/liter susu. Penambahan bakteri dilakukan dengan teknik aseptic (di dekat api).

4. Setelah ditambah bakteri, selanjutnya diperam pada ruangan hangat (30-40 °C), dalam keadaan tertutup rapat selama 3 hari.

5. Tahap selanjutnya adalah filtrasi. Hal ini dilakukan untuk memisahkan bagian yang padat / gel dengan bagian yang cair. Pada waktu pemisahan ini diusahakan dilakukan di dekat api sehingga bagian yang cair (sebagai stater berikutnya) terhindar dari kontaminasi. Bagian yang padat inilah yang siap dikonsumsi (yoghurt). Bagian yang cair berisi bakteri Lactobacillus sp yang dapat digunakan untuk menginokulasi susu yang segar.

6. Supaya yogurt lebih lezat rasanya dapat ditambah dengan potongan buah – buahan yang segar, cocktail, nata de coco atau dibekukan menjadi es, dapat pula dicampur dengan berbagai buah-buahan untuk dibuat juice (minuman segar).

Sebagian besar senyawa alam terdegradasi oleh beberapa jenis mikroba dan bahkan banyak senyawa buatan manusia juga diserang oleh bakteri. Terjadi dalam lingkungan tanpa oksigen (atau kondisi untuk reaksi redoks yang cocok), degradasi ini mengakibatkan terjadinya fermentasi.

Meskipun banyak metode yang menggunakan bakteri untuk melakukan fermentasi terhadap senyawa organik, tetapi pada dasarnya yang terjadi pada semua fermentasi adalah NAD+ hampir selalu direduksi menjadi NADH.

Metabolisme yang melibatkan oksidasi substrat, elektron dari molekul organik akan paling sering diberikan ke NAD. (Hal ini berlaku baik dalam fermentasi dan respirasi). Di bawah ini ditampilkan contoh pengurangan NAD


– oksidasi gliseraldehida-3-fosfat untuk 1,3 bisphosphoglycerate. Elektron akan dihapus dari karbon dilambangkan dengan warna merah dan disumbangkan ke NAD +.

Fermentasi menghasilkan banyak NADH. Akumulasi NADH menyebabkan masalah pad areaksi anaerob. NADH yang terlalu banyak akan mencegah oksidasi lebih lanjut dari substrat karena kurangnya + NAD untuk menerima elektron. Dalam jalur fermentasi banyak, langkah-langkah setelah produksi energi dilakukan sebagian untuk menyingkirkan NADH tersebut. Piruvat sebagai perantara penting Banyak reaksi yang pada akhirnya menghasilkan piruvat. Piruvat adalah perantara yang berharga karena dapat digunakan untuk sintesis sel dan enzim yang berbeda dapat bertindak di atasnya. Ini memberikan fleksibilitas mikroba.

Energi berasal dari Substrat-Tingkat Fosforilasi (SLP) Substrat diubah menjadi senyawa terfosforilasi dan dalam reaksi selanjutnya fosfat energi tinggi ditransfer ke ATP.

Fermentasi dapat melibatkan setiap molekul yang dapat mengalami oksidasi. Substrat umum termasuk gula (seperti glukosa) dan asam amino. Produk khas tergantung pada substrat tetapi bisa termasuk asam-asam organik (asam laktat, asam asetat), alkohol (etanol, metanol, butanol), keton (aseton) dan gas (H2 dan CO2)

Preparasi Pembuatan Yoghurt

Selain dibuat dari susu segar, yoghurt juga dapat dibuat dari susu skim (susu tanpa lemak) yang dilarutkan dalam air dengan perbandingan tertentu, tergantung kepada kekentalan produk yang diinginkan. Selain dari susu hewani, belakangan ini yoghurt juga dapat dibuat dari campuran susu skim dengan susu nabati (susu kacang-kacangan). Sebagai contoh, yoghurt dapat dibuat dari kacang kedelai, yang sangat populer dengan sebutan “soyghurt”. Yoghurt juga dapat dibuat dari santan kelapa, yaitu yang disebut dengan “miyoghurt”.

Prinsip pembuatan yoghurt adalah fermentasi susu dengan menggunakan bakteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Kedua macam bakteri tersebut akan menguraikan laktosa (gula susu) menjadi asam laktat dan berbagai komponen aroma dan citarasa. Lactobacillus bulgaricus lebih berperan pada pembentukan aroma, sedangkan Streptococcus thermophilus lebih berperan pada pembentukan citarasa yoghurt. Yoghurt yang baik mempunyai total asam laktat sekitar 0,85-0,95%. Sedangkan derajat keasaman (pH) yang sebaiknya dicapai oleh yoghurt adalah sekitar 4,5.

Langkah-langkah dalam pembuatan yogurt dapat diterangkan dari yang paling mudah dan sederhana hingga yang menyerupai produk komersial. Cara yang paling sederhana untuk pembuatan yogurt, bahan yang diperlukan hanyalah susu dan bibit yogurt, serta peralatan dapur sederhana seperti panci dan sendok. Segala macam jenis susu dapat digunakan untuk pembuatan yogurt, mulai dari susu sapi dan kambing, kuda dan unta, susu nabati dari kedelai, kecipir, almond, kacang tanah, santan, dan sebagainya. Variasi susu yang digunakan dapat berupa susu segar, susu cair dalam botol/karton, susu krim, susu skim, atau susu bubuk yang telah dicampur kembali dengan air. Meski demikian, sebaiknya tidak menggunakan susu kental manis karena terlalu banyak mengandung gula. Juga perlu diperhatikan bahwa ada produk susu cair dan bubuk yang mengandung pengawet, sehingga menghambat pertumbuhan bakteri yogurt. Jenis susu seperti demikian tidak dapat dijadikan yogurt.

Secara prinsip cara pembuatan yogurt dari susu nabati seperti susu kedelai sama saja seperti pembuatan yogurt lain, yaitu dengan menambahkan sejumlah bibit yogurt pada susu. Hanya saja, karena yogurt kedelai yang sudah jadi lebih sukar diperoleh, untuk pembuatan pertama terpaksa digunakan bibit yogurt dari susu sapi. Yogurt kedelai sedikit lebih encer daripada yogurt susu sapi. Pembuatan yogurt memerlukan suhu fermentasi yang kurang lebih konstan. Karena suhu ruangan tempat menyimpan yogurt lebih dingin (25°C) dibandingkan suhu fermentasi yang seharusnya (40–44°C), maka susu akan menjadi dingin. Suhu konstan dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti alat pembuat yogurt listrik, menggunakan bola lampu dan kotak kardus atau menggunakan baskom dan air hangat. Cara yang paling praktis adalah yang pertama, karena di dalam alat tersebut terdapat pengukur suhu dan pemanas otomatis untuk menjaga suhu.

Apabila tidak ada alat pembuat yogurt, dapat digunakan cara yang kedua yaitu menggunakan bola lampu dan kotak kardus. Tempat yang berisi susu hangat yang telah diberi bibit yogurt dimasukkan ke dalam kotak kardus. Kemudian digantung sebuah bola lampu 60 watt di dekat wadah untuk menghangatkan susu. Suhu di dalam kotak kardus harus selalu diperiksa dengan termometer. Suhu optimum harus berada sekitar 42–45°C, yaitu 1–2°C lebih tinggi dari suhu fermentasi. Jika terlalu panas atau dingin, letak bola lampu dapat diatur (atau diganti ukuran wattnya). Jika cara pertama dan kedua tidak memungkinkan, dapat digunakan air penghangat. Susu hangat yang telah diberi bibit diletakkan dalam panci logam. Panci dimasukkan ke baskom atau ember yang lebih besar. Kemudian air hangat (42–45°C) dituangkan di sekeliling panci hingga mencapai tepian. Air yang digunakan dijaga jangan sampai masuk ke susu. Sekitar setengah jam sekali, air yang telah dingin dihangatkan kembali dengan menambahkan sedikit air panas. Suhu air selalu diukur dan diatur agar berkisar 42–45°C kembali. Kegiatan ini selalu diulangi dengan jangka waktu setengah jam kemudian hingga yogurt jadi. Penggunaan bibit serbuk diperlukan untuk memulai (starter) jika tidak tersedia yogurt jadi. Selanjutnya untuk beberapa kali pembuatan, dapat mengambil bibit dari yogurt hasil sebelumnya. Saat kualitas yogurt mulai menurun barulah kembali menggunakan bibit serbuk. Yogurt menggumpal disebabkan selain butiran lemak dan air, susu juga terdiri dari bola-bola protein kecil yang disebut misel. Letaknya berjarakan satu dengan yang lain. Jika suasana susu tidak asam, bertabrakan pun misel-misel ini berpantulan dan memisah kembali. Tapi saat susu menjadi asam oleh asam laktat dari bakteri yogurt, misel seolah-olah lengket dan ketika bertabrakan terbentuklah jaring-jaring yang memerangkap air. Dalam pengamatan, susu nampak menggumpal.

Secara umum ada dua jenis yogurt yang bisa dibuat yaitu setengah padat dan cair. Yogurt setengah padat bentuknya seperti tahu dan tidak diaduk. Untuk pembuatan yogurt setengah padat ini dibutuhkan susu yang kental, yang kandungan padatannya banyak, biasanya dengan menambahkan sejumlah susu skim padat ke dalam susu murni atau dengan membiarkan sebagian air dari susu menguap saat dipanaskan. Sedangkan yogurt cair, bentuknya encer dan dapat diminum karena kandungan padatan susunya lebih rendah. Malah yogurt cair ini dapat lebih encer dibandingkan susu murni.

Perbedaan komposisi antara yogurt padat, sedang, dan encer (cair)


Sumber : Widodo (2002).

Standard Nasional indonesia Yoghurt




(SNI 2981:2009)

Sebab-sebab kegagalan pembuatan yoghurt

Kegagalan pembuatan yogurt merupakan peristiwa yang umum terjadi. Sebab-sebab kegagalan dan cara mengatasinya dapat dilihat pada Tabel 3.4. Apabila masih mengalami kegagalan, maka perlu diperhatikan penggantian bahan yang dicurigai membuat gagal (baik dari susu atau bibitnya) dengan yang baru dari tempat atau sumber lain. Patut pula diperhatikan kebersihan.

Cara Mengatasi Yogurt yang tidak jadi


 



Cara Mengatasi Yogurt yang jadi tetapi memisah


 Sumber :(Widodo,2002)

Daftar Pustaka

Anonim. 2011. Lactobacillus : Learn How to Prevent Infections. http://www.vaxa/lactobacillus.cfm. Diakses tanggal 1 Desember 2011

Anonim. 2011. Penentuan Komposisi Biopolimer sebagai Bahan Pengeenkapsul. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/51162/F11adr_BAB%20IV%20Hasil%20dan%20Pembahasan.pdf?sequence=8. Diakses tanggal 30 Desember 2011

Cai H, Rodriguez BT, Zhang W, Broadbent JR, and Steele JL. 2007. Genotypic and penotypic characterization of Lactobacillus casei strains isolated from different ecological niches suggest frequent recombination and niche specificity. Microbiology. Volume 153. P. 2655-2665.

Chan B, Bonilla L, and Velazquez AC. 2003. Using banana to generate lactic acid thorugh batch process fermentation. Applied Microbiology Biotechnology. Volume 63. p. 147-152

Evillya.2010.Lactobacillus casei.http://heartfoods.Wordpress.com/2011/06/23/. lactobacillus_casei Diakses tanggal 13 Desember 2011.

Krisno, A. 2011. Pemanfaatan bakteri lactobacillus casei dalam upaya menjaga kesehatan pencernaan manusia. http://aguskrisnoblog.wordpress.com/2011/01/11/pemanfaatan-bakteri-lactobacillus-casei-dalam-upaya-menjaga-kesehatan-pencernaan-manusia. diakses pada tanggal 13 Desember 2011

Septia I. 2010. Teknik pembutaan Susu Fermentasi (Yoghurt). http://itaseptia.blogspot.com/2010/05/susu-fermentasi-yoghurt.html. diakses pada tanggal 13 Desember 2011

Widodo W. 2002. Bioteknologi Fermentasi Susu. Universitas Muhamadiyah. Malang. Hal.

Widodo, Suparni, Wahyuni, Endang. 2003. Bioenkapsulasi Probiotik \ (Lactobacillus casei) dengan Pollard dan Tepung Terigu serta Pengaruhnya terhadap Viabilitas dan Laju Pengasaman. Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

About these ads

38 tanggapan

  1. hidayat

    gimanaya cara membuat bakteri bakterinya ?

    6 Agustus 2012 pukul 14:55

  2. nanda elisa putri

    berarti saya membuat yogurtnya gagal , dan sya musti bikn yang baru , karna airnya mendidih .. ??

    29 Oktober 2012 pukul 11:19

    • sirossiris

      Maksudnya gagal?? Sederhananya gini aja Habis susu dipasteurisasi masukin stabilizer ma skim (dikit) terus dinginkan sampai hangat2 kuku kalo ga ada termometer…terus baru dimasukin kultur ato yogurt… Ga terlalu masalah sih mendidih atau ndak..yang penting masukin kulturnya waktu ga panas…

      30 Oktober 2012 pukul 20:27

    • kalomendidih biasanya susnya akan pecah dan terpisah antara krim dan skim sehingga itu tidak mungkin bisa menjadi yoghurt

      23 September 2013 pukul 16:20

  3. bintang

    makasih . bagus :)

    30 Oktober 2012 pukul 21:35

  4. sasha

    Mohon bantuannya.kalo susunya pake susu UHT bisa ga?susu skim itu susu merk apa?

    8 November 2012 pukul 17:17

    • sirossiris

      Susu skim itu susu bubuk non lemak…kalo uht juga bisa..cuman ndak efisien dari harga aja :))

      8 November 2012 pukul 20:01

  5. Ulfie

    kalo fermentasinya selama 24 jam gimana?
    trus kalo fermentasi lebih dari 2 hari jadinya bakalan gimana?

    12 November 2012 pukul 15:43

    • sirossiris

      kalo sama2 disimpan disuhu ruang bedanya di rasa masamnya…sama terkadang kalau kelamaan teksturnya jadi pecah tidak kental lagi atau air di bagian atas endapan dibawah…

      12 November 2012 pukul 18:10

      • amal

        tapi saya justru endapan berada di atas, dan air ada d bawah
        apa yg salah ya? apakah ada solusinya?

        19 Februari 2014 pukul 21:05

  6. klo yughurt mau ditambah sama buah2an, itu buah2annya perlu perlakuan blansing dulu ga ya? kan takutnya nanti ada kontaminasi dari buah k yoghurt. terus kan buah segar itu kan gampang rusak kan, jadi supaya umur simpan yoghurt yang ditambah buah lebih lama perlu ada tambahan zat2 additive ga yaa?? klo ia tambahannya apa. makasih

    13 November 2012 pukul 07:25

    • sirossiris

      Tetap perlu perlakuan blanshing biar fisiknya lbh bagus….ga perlu zat aditif pengawet, itu kan produk pake mikro alami… Phnya dah asam jd bakal kemungkinan besar aman…cm butuh penyimpanan dingin aja…

      13 November 2012 pukul 07:48

  7. ok deh makasih ya kak, itu bikin tulisannya niat banget, sumpah. aku juga yang anak teknologi pangan aja ga pernah nulis diblog sampe segitunya. thank you

    13 November 2012 pukul 19:34

    • sirossiris

      Haha namanya aja tugas kuliah

      13 November 2012 pukul 20:18

  8. meliarahman

    makasih gan :)

    26 November 2012 pukul 10:02

  9. mau nanya dong mencari bakteri (Lactobacillus bulgaricus Streptococcus thermophilus itu darimana ? berasal darimana ya kaka , tlong dong , help :( mksih :)

    1 Desember 2012 pukul 13:31

    • sirossiris

      Coba tanya ke mikrobiologi ugm aja

      4 Desember 2012 pukul 13:16

  10. rizky yusuf fahlevii

    ka bakterinya bisa i apet di mana kira2..?

    9 Desember 2012 pukul 20:06

    • sirossiris

      di kampus yang ada lab mikrobiologinya,,,utamanya jur peternakan pasti ada,,bilang aja mau beli kultur bakteri yoghurt,,

      20 Desember 2012 pukul 08:18

  11. keren banget blognya.. bermanfaat :)

    10 Desember 2012 pukul 08:43

  12. yayah

    Jazakillah ilmunya….

    14 Desember 2012 pukul 10:22

  13. kalo yoghurt nya tidak terasa lembut… malah kres2 gitu ..kurang apa y ????

    23 Desember 2012 pukul 02:27

    • sirossiris

      coba tambah stabilizer cmc 0,02 % aja ke susu…

      23 Desember 2012 pukul 21:10

  14. fauziah

    klo dlm 2 hari yoghurt udah ada kaya gelembung2 gas gitu, apa udah ga bisa dikonsumsi lagi y??
    trus yoghurt yg bagus itu tahannya brp lama??
    apa benar yoghurt itu ga baik disimpan di freezer??……..thx y..

    2 Januari 2013 pukul 16:41

  15. hasanati

    Terimakasih ya ilmunya.
    Saya sdh praktek buat yogurt dengan cara seperti yg diterangkan, hslnya bagus , kental tapi rasanya hambar dan baunya tidak asam, tidak seperti yogurt yg biasa saya makan (beli)

    18 Januari 2013 pukul 21:29

  16. hasanati

    Mas mengapa hasil yogurt rasa dan baunya tidak asam? apa yang salah? apakah salah saya menempatkan wadahnya dekat dengan lampu (jaraknya +-10cm)?. terimakasih sebelumnya

    18 Januari 2013 pukul 21:37

  17. lhela hanafii

    mau nanya apakah ada mikroba yang terdapat pada yoghurt setelah di masukkan ke frezeer ?

    22 Februari 2013 pukul 17:20

    • sirossiris

      BALnya mah masih hidup,,,cuma aktifitasnya ga sebaik suhu ruang,,,

      24 Februari 2013 pukul 10:37

  18. Pusat Studi Hewan Tropika menyediakan kultur/starter yoghurt dengan komposisi bakteri L. bulgaricus, S. thermophilus, dan L. lactis. Telp (0251) 8350 413

    26 Februari 2013 pukul 12:45

  19. yohanes

    Dimana bisa di dapat / di beli bibit yoghurt?
    Apakah d toko kimia?

    12 April 2013 pukul 14:43

    • sirossiris

      kalo bibit yoghurt murni bisa dibeli di fak peternakan univ terdekat,,tp pakai yoghurt plain (kedai yoghurt/hipermart) juga bisa dipakai..

      13 April 2013 pukul 22:00

  20. slasu

    kalo pake cmc tu cara pakenya gimana ya?????????????

    23 April 2013 pukul 11:26

  21. Reuben

    Terima kasih buat tuntunannya…. Saya tertarik untuk mencoba.
    Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan, untuk bibit yoghurt yang dari yoghurt plain, apakah semua yang dijual di pasaran (carefour) bisa dipakai ?

    Yoghurt yang plain ini dimasukkannya pada langkah ke 3 ?
    Berapa ukurannya ?? apakah juga 50 – 60 ml / liter susu ??

    Apakah plain yoghurt ini dimasukkan dalam kondisi dingin (baru keluar dari kulkas) ataukan suhunya dibuat normal dulu ??

    Pada langkah 3, didekat api, maksudnya bagaimana ? Apakah ini juga berlaku jika menggunakan bibit dari plain yoghurt ?

    Terima kasih buat responnya

    9 Juni 2013 pukul 22:54

    • sirossiris

      Bisa pakai kultur terusan krn sama2 masih aktifnya,pernah nyoba ditambahin 5-10% aja jadi kok..didekat api maksudnya biar ndak ada kontaminan yg membuat bau rusak,itu buat safety aja sih..

      11 Juni 2013 pukul 13:28

      • mas maksudnya didekat api itu yang bagaimana?, apakah api kompor dinyalakan trus kita mengemas disebelahnya begitu, karena klo pancinya yang diatas kompor berarti bukan didekat api kan tp diatas api, hadeeh bingung
        trus kmrn aku bikin yogurt sama caranya dengan yang diatas, cuma krn g punta termometer aku rebus dengan api sedang, pas mulai panas mau mendidih aku kecilkan apinya dan aku aduk terus sampai 30 mnt, hasilnya susu 2 lt yg kurebus jadi 1,5 lt, hehehehe, setelah ditambah bakteri 9 jam kemudian aku cek, alhamdulillah jadi, padat, baunya enak, rasanya juga g terlalu asam, mirip yogurt yg aku minum waktu disaudi, enak, tp waktu aku ambil sesendok, ternyata yg mengumpal yg atas saja, yang bawah mengumpal tp agak cair gitu g padat, dan konsistensinya agak kayak lendir gitu, kenapa ya?
        tp tetep aku makan, habis enak sih, alhamdulillah g sakit perut juga, syukron untuk balasannya

        23 September 2013 pukul 16:33

  22. syaka

    Gan mau tanya….
    kenapa bikin yogurt dari susu segar yang literan dari koperasi hasilnya lebih encer dibandingkan membuat nya dari susu dus seperti ultra,indomilk dll,
    dan bagaimana cara mengakali susu murni literan agar yogurtnya kental
    saya sudah coba susu bubuk tetapi masih encer.
    rasa yogurt sudah pas tapi hasilnya sangat encer seperti yogurt drink

    3 Januari 2014 pukul 21:43

  23. alfan hafidz

    terima kasih ya bang buat infonya, berguna banget buat tugas sekolah dan ijin copas ya :D

    28 Januari 2014 pukul 21:23

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 92 pengikut lainnya.

Tulisan Terakhir

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 92 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: