“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

Arsip Penulis

Komponen Uji Cita rasa Kopi

Komponen Uji Cita rasa Kopi

kopi (1)

Secara Umum :

  • Citarasa utama pada kopi:

Fragrance (bau kopi bubuk kering), aroma (bau sedap), flavor (khas bau kopi),body (kekentalan), acidity (rasa asam enak), bitterness (rasa pahit), dan sweetness (rasa manis).

  • Cacat rasa utama (tidak boleh ada):

Stink (bau basi), earthy (bau tanah), mouldy (bau jamur), musty (bau lumut), sour (rasa asam tidak enak), oily (bau minyak bumi), chemical (bau bahan kimia), smooky (bau asap), dll.

  • Indikator lain dalam menilai citarasa:

Keseimbangan rasa, kebersihan rasa, dan keseragaman rasa

Secara Khusus :

Aroma :

Aspek aroma mencakup Fragrance (bau dari kopi ketika masih kering) dan aroma ( bau dari kopi ketika diseduh dengan air panas). Seseorang dapat menilai kriteria ini dengan dalam tiga tahap dalam cupping, yaitu ;

  1. Mencium bubuk kopi yang berbeda dalam mangkok sebelum di tuang dengan air.
  2. Mencium aroma saat mengaduk permukaan kopi seduhan
  3. mencium aroma kopi saat kopi sudah larut

Kualitas aroma yang khusus  seperti  pengaruh dari aroma kering, saat diaduk dan aroma kopi setelah kopi larut di beri nilai 5 skala vertikal pada isian formulir. Nilai akhir harus berdasarkan ketiga aspek diatas.

Flavour :

Flavour menunjukan sifat khusus antara aroma  pertama kali dicium dengan acidity  dan diakhiri dengan after taste. Flavour merupakan kombinasi yang di rasakan pada lidah dan aroma uap pada hidung yang mengalir dari mulut ke hidung. Nilai yang di berikan untuk flavour harus meliputi pengaruh , kualitas dan kompleksitas dari gabungan rasa dan aroma saat kopi diseruput kedalam mulut  dengan kuat  sehingga melibatkan seluruh langit-langit mulut dalam menilai.

After taste :

After taste adalah lama bertahanya suatu flavour positif (rasa dan aroma) yang berasal dari langit-langit belakang mulut dan bertahan setelah kopi dibuang atau ditelan. Jika after taste langsung hilang dan tidak enak maka  diberikan nilai rendah.

Acidity :

Acidity sering digambarkan sebagai rasa asam yang jelas enak, atau masam jika tidak enak. Acidity yang baik menggambarkan kopi yang enak, manis dan seperti rasa buah segar yang langsung dirasakan pada saat kopi diseruput. Acidity yang terlalu dominan dikategorikan tidak enak dan tidak sesuai sebagai contoh untuk menilai flavor.

Nilai akhir ditandai dengan cek list pada skala horizontal harus sesuai acuan penilai yang didasarkan pada negri asal dan faktor-faktor lain(suhu roasting dan tujuan roasting, dll). Acidity yang tinggi seperti pada kopi kenya dan acidity yang rendah seperti kopi sumatra menjadi acuan meskipun berbeda.

Body :

Body didasarkan pada rasa ketika cairan masuk kedalam mulut khususnya antara lidah dan langit-langit mulut. Kebanyakan contoh dengan body yang kental mendapat nilai yang tinggi. Beberapa contoh dengan body yang ringan juga dapat memiliki rasa yang enak di mulut. Kopi yang memiliki body yang kental seperti kopi sumatra atau kopi yang memiliki body ringan seperti kopi Mexico menjadi acuan walaupun berbeda.

 Balance :

Semua aspek flavor, after taste,acidity, body yang seimbang pada contoh disebut balance. Jika salah satu aspek ada yang kurang atau melebihi pada contoh mengakibatkan nilai balance akan berkurang.

Sweetness :

Adanya rasa manis yang menyenangkan karena kopi mengandung karbohidrat. Lawan dari manis dalam konteks ini adalah sour, astringent atau mentah. Sweetness ini tidak seperti rasa sukrosa yang ditemukan dalam minuman ringan soft drink. Nilai 2 diberikan pada setiap mangkok dan total nilai adalah 10 untuk 5 mangkok.

Clean cup :

Menunjukan tidak adanya nilai negatif dari awal berupa cita rasa sampai after taste sebagai akhir. Dalam menilai kriteria ini perlu diperhatikan dari awal berupa cita rasa sampai cairan kopi ditelan atau dibuang.  Kopi dari mangkok yang tidak memiliki rasa dan aroma disingkirkan. Nilai 2 angka akan diberikan pada setiap cangkir yang menunjukan Clean cup.

Uniformity :

Adanya keseragaman aroma dari setiap mangkok.  Jika aroma suatu mangkok berbeda, maka nilai untuk kriteria ini rendah, Nilai 2 diberikan pada setiap mangkok dan total nilai untuk 5 mangkok adalah 10

Overall :

Penilaian yang mencerminkan aspek keseluruhan diatas dari sebuah contoh yang dirasa oleh setiap penilai. Suatu contoh dengan aspek yang menyenangkan namun tidak memenuhi kriteria standar, akan diberi nilai rendah.  Kopi yang memiliki kriteria yang diharapkan dan memiliki aroma yang khas seperti dari negri asal akan diberi nilai yang tinggi. Contoh yang diharapkan adalah contoh yang dinilai meliputi semua aspek diatas. Langkah ini menjadi penilaian sendiri bagi cupper.

Sensori Kopi dan Q Grader

Kopi adalah sesuatu yang sangat subjektif karena persepsi rasa setiap orang bisa sangat berbeda-beda. Atas pemikiran itu Coffee Quality Institute (CQI) mengembangkan Q Coffee System untuk menetapkan nilai standar kopi yang berlaku universal. Nilai tersebut harus bersifat kredibel dan dapat diverifikasi. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan titik kalibrasi yang sama untuk sebuah biji kopi. CQI sendiri adalah lembaga independen peneliti kopi yang berlokasi di Long Beach, California.

Mari kita memasuki dunia sensory, sebuah kemampuan dimana manusia sesungguhnya bisa mengidentifikasi ribuan rasa yang ada di dunia ini. Tapi pada kelas Q Grader, mereka cukup mengenali tiga rasa saja yaitu : manis, asam, dan asin dan secara mudah bisa diidentifikasi dengan cukup mudah oleh mayoritas peserta. Tapi, ada satu bagian yang menjadi momok karena tingkat kesulitan yang sangat tinggi dimana setia peserta disuguhi 8 gelas yang punya intensitas rasa berbeda dari asam, manis, dan asin. Maksudnya, ketiga rasa itu disatukan ke dalam gelas dengan ukuran yang berbeda dimana nuansanya sangat sempit sekali. Mereka harus menjawab 8 soal yang masing-masing terdiri dari 4 cangkir dua campuran rasa dan 4 untuk tiga campuran. Di sinilah mayoritas peserta berguguran dan banyak yang harus mengulang dan bahkan ada yang terpaksa gagal menjadi Q Grader hanya gara-gara Sensory Skills ini.

Pada tantangan Olfactory yang Q Grader harus bisa mengenali dan mencocokan aroma yang biasa terdapat di dalam kopi.

Ke-36 aroma dibagi menjadi empat bagian besar yaitu Enzymatic (aroma yang terbentuk saat kopi mulai berbentuk gelondong merah dan tercium pada saat kopi baru digiling), Sugar Browning (aroma yang terjadi saat proses roasting),  Dry Dystilation (terjadi pada saat sesudah panen juga saat roasting), Aromatic Taints (aroma yang terjadi karena proses penanganan pasca panen).

Q Grader adalah pencicip kopi profesional yang diakreditasi oleh  CQI dan AKSI telah 3 kali mengadakan kegiatan  Q Grader yang diadakan setiap dua tahun sekali. Selama kegiatan berlangsung para peserta akan dikenalkan kopi dari berbagai varian di dunia, melakukan uji cita rasa, mengidentifikasi cacat biji kopi, keahlian sensori, adalah sebagian test yang harus dilalui oleh setiap peserta selama kegiatan berlangsung.
Kurang lebih hanya ada 1000 Q-Grader atau pencicip cita rasa kopi yang tersertifikasi oleh Coffee Quality Institute (CQI) di seluruh dunia, sebuah titel yang hanya diberikan kepada individu yang telah melewati berbagai test ketat. Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI)  membuka kesempatan bagi kalangan umum khususnya yang sudah terbiasa melakukan uji cita rasa kopi untuk mengikuti kelas Q Grader .Pendaftaran kelas Q Grader akan dikenai biaya sebesar  8.700.000 (anggota AKSI) dan 9.200.000 (bukan anggota), tanpa akomodasi.
Tes untuk mendapatkan sertifikat Q Grader meliputi:
General Knowledge Exam.
Satu-satunya tes tertulis yang berisi 100 pertanyaan umum tentang kopi dimulai dari penanaman, panen, pengupasan, cuppinggrading, penyangraian, hingga penyeduhan.

Coffee Grading.Peserta menyeleksi green bean dan roast bean untuk menentukan grade kopi tersebut. Apakah specialty coffeepremium coffee, atau commercial coffee. Peserta harus jeli melihat semua defect (cacat biji) yang ada dalam sebuah batch kopi sebelum akhirnya memutuskan grade kopi tersebut.

Sample Roast Identification.
Peserta harus dapat mengidentifikasi hasil sangrai yang tersaji pada secangkir kopi. Apakah under roastedover roastedbakedunderdeveloped, atau correct. Yang membuat tahap ini lebih menantang adalah kopi disajikan di bawah pancaran red light, sehingga peserta tidak dapat melihat warna tingkat sangrai. Peserta harus menebak dengan lidah dan hidung manakah kopi yang tingkat sangrainya pas.

Olfactory Skill.
Tes ini menggunakan Le Nez de Café kit yang diciptakan oleh Jean Lenoir. Kit ini berisi 36 wewangian yang biasa ditemukan dalam kopi. Untuk lulus tes, peserta harus dengan benar mencocokkan wewangian dengan namanya. Wangi yang diuji mencakup mawar, tembakau, apel, butter, dan banyak lagi yang lainnya.

Sensory Skill.
Mungkin ini adalah tes paling sulit karena banyak peserta gagal pada tes yang terdiri dari 3 tahapan ini. Teorinya sebenarnya mudah, peserta diwajibkan menebak rasa manis, asam, asin dengan beberapa intensitas. Tahap pertama dan kedua cukup mudah karena belum ada pencampuran rasa. Pada tahap ketiga peserta diberikan blind test 8 cairan bening dan menebak berapa intensitas rasa yang ada. Misalnya sweet 3, salty 2, sour 2, atau sweet 1, salty 3, sour 2.

Cupping Skill.
Peserta melakukan 4 sesi cupping dengan 6 kopi pada tiap sesi. Kopi yang digunakan tiap sesi berbeda-beda yaitu kopi Amerika Tengah, kopi Afrika, kopi Asia, dan kopi yang diproses secara natural. Setiap peserta mencicip kopi kemudian harus mengisi dengan benar SCAA Cupping Form dengan nilai semendekati mungkin dengan nilai yang sudah ditetapkan.

Triangulation.
Pada tes ini peserta disuguhkan 6 set kopi yang masing-masing terdiri dari 3 cangkir. 2 dari 3 cangkir berisi kopi yang sama. Tujuannya adalah mencari 1 cangkir yang berbeda di tiap-tiap set. Terdengar mudah? Prakteknya tidak semudah teorinya karena banyak juga peserta yang gagal pada tahap ini.

Organic Acid Matching Pair.
Kopi yang dites pada tahap ini telah dimodifikasi dengan menambahkan zat asam tambahan. Zat asam yang ditambahkan bisa berupa acetic acid (asam cuka), citric acid (asam jeruk), malic acid (asam apel), juga lactic acid (asam susu). Peserta harus dapat mengidentifikasi zat asam mana yang ditambahkan pada kopinya.

 

Iklan

Bisnis Peternakan Ayam Kampung

Bisnis Peternakan Ayam Kampung

 

Betapa hati tidak terenyuh saat mendengar harga ayam kampung dan bebel tidak lebih dari Rp 30.000,- / ekor di tingkat peternak kecil. Padahal harga daging unggas potong melambung tinggi saat ini yakni saat moment bulan ramadhan dan lebaran. Apalagi kondisi harga bekatul setelah kondisi pasca panen padi dan saat masa awal musim tanam padi sangat menggila.

Kesulitan yang terpikirkan oleh peternak unggas adalah kesulitan pemasaran karena kurang lincahnya pergerakan mereka mencari konsumen, sehingga menjual murah unggasnya di pengepul. Padahal diera yang serba konsumtif dan sangat menjunjung tinggi kecepatan sangat diutamakan, kita dapat bersaing dalam dunia bisnis sehingga barang yang sulit diperdagangkan pun dapat dipermudah proses penjualannya.

Tercetus ide saya untuk menjadi pengepul daging ayam dan daging bebek dengan cara diawetkan dengan frozen after cook.

Konsepnya dengan modal peralatan ini kita akan dapat mengawetkan daging unggas serta mendekatkan ke tangan konsumen dengan konsumen karena telah siap saji. Keuntungannya adalah

  1. Daging telah dimasak dengan dibumbui, dikemas dan dibekukan. Ketiga langkah ini akan menciptakan produk yang awet selama berminggu-minggu sehingga resiko kerugian karena barang tidak terjual oleh waktu dapat dikurangi.
  2. Daging telah masak dan berbumbu, hal ini mempermudah kaum “instanis” khususnya ibu-ibu yang hidup diperkotaan sebagai target konsumen utama tinggal menggoreng dan menyajikannya tanpa ribet mencuci, merebus dsb.

Dengan memperpanjang waktu ketahanan produk akan memperpanjang masa edar dari pemasaran. Perluasan segmentasi target pasar akan meningkatkan daya jual pula. Kita tinggal ambil ayam, bebek, mentok di peternak kecil pedesaan, bawa ke tukang potong & cabut bulu, lumuri dengan bumbu dan ungkep, kemas dan jual.

You Want Try It ???

Menu makanan seperti ayam ungkep menjadi salah satu jenis makanan yang selalu disukai semua kalangan. Rasa daging ayam yang nikmat terutama jika dibuat menjadi ayam ungkep semakin banyak saja kalangan yang tergiur dengan menu satu ini. Ayam ungkep ini bisa diperoleh dengan mudah dipasaran karena banyak yang telah menjalankan usaha ayam ungkep. Hal ini disebabkan karena banyak penikmat dari ayam ungkep, selain itu harga ayam ungkep cukup terjangkau. Ayam ungkep selain memiliki rasa yang enak namun terdapat kandungan gizi yang bagus di dalam daging ayam, seperti protein, vitamin dan sebagainya sehingga banyak masyarakat yang memilih ayam ungkep sebagai menu makanan. Banyak pengusaha dari ayam ungkep sehingga kita bisa dengan mudah menemukannya, peluang usaha ayam ungkep ini menjanjikan sehingga banyak kalangan yang tertarik untuk menjalankannya. Lalu, bagaimana cara untuk menjalankan bisnis ayam ungkep ini silahkan disimak infonya :

Info Usaha Ayam Ungkep

Prospek dari bisnis ayam ungkep ini sangat menggiurkan dan menjajikan bagi yang menjalankannya. Sehingga bisnis ayam ungkep ini banyak dijalankan oleh pelaku usaha. Usaha kuliner berbahan daging ayam ini terbuka bagi siapa pun yang ingin menjalankannya. Tentunya dengan kemampuan mengolah daging ayam menjadi ayam ungkep yang enak. Bisnis ayam ungkep ini dapat menjadi salah satu jenis usaha yang mampu berkembang dengan pesat serta bisa bertahan hingga jangka waktu lama. Asalkan dalam menjalankannya selalu penuh inovasi dan mempertahankan rasa khas dari ayam ungkep yang dibuat. Walaupun bisnis ini telah banyak dijalankan oleh pelaku usaha lain namun tidak ada salahnya jika Anda mencoba bersaing secara sehat dengan pedagang ayam ungkep yang telah ada. Dengan kualitas rasa dan harga yang sesuai tentu akan banyak masyarakat yang tertarik. Apalagi ayam ungkep selalu diminati masyarakat karena rasanya yang enak.

Konsumen Usaha Ayam Ungkep

Makanan berbahan dasar daging ayam selalu disukai, rasanya yang gurih, enak dan menyehatkan. Selain itu daging ayam dapat diolah menjadi aneka jenis makanan dengan kualitas rasa yang menggiurkan. Untuk membuka bisnis ayam ungkep ini sudah tidak perlu ragu lagi karena bisnis ini akan selalu diminati masyarakat dari berbagai kalangan. Jika Anda mampu menjalankan usaha ini dengan maksimal dengan memperhatikan kualitas rasa, kualitas tempat dan pelayanan maka bisnis akan mudah dijalankan. Selain itu mencari konsumen tidaklah sulit, semua kalangan menyukai ayam ungkep, baik anak – anak, remaja sampai orang tua.

Bahan Baku Ayam Ungkep

Bahan untuk membuat ayam ungkep ini sudah pasti ialah daging ayam, bumbu ungkep, dan berbagai jenis bahan penunjang lainnya. Supaya menghasilkan ayam ungkep yang enak dan lezat gunakan bahan – bahan segar. Bahan ini bisa dibeli langsung dipasar atau tempat penjualan daging ayam dan bumbu ungkep.

Perlengkapan Usaha Ayam Ungkep

Setiap menjalankan usaha tentu akan membutuhkan peralatan pendukung. Terutama bisnis ayam ungkep ini. Anda bisa menyiapkan peralatan seperti, baskom, kompor dan gas, pisau, talenan, panci, penghalus bumbu dan aneka peralatan pendukung lain.

Tempat Usaha Ayam Ungkep

Lokasi usaha untuk menjalankan usaha ayam ungkep ini perlu mencari tempat yang ramai dan banyak dilalui masyarakat dari berbagai kalangan. Hal ini supaya ayam ungkep yang dibuat cepat terjual dan mudah dikenal banyak orang. Maka cobalah mencari tempat usaha ayam ungkep yang ramai terutama dipinggir jalan ramai. Hal ini tentu akan mempermudah Anda dalam menjalankan bisnis ayam ungkep. Anda dapat memilih tempat usaha ayam ungkep ini seperti dekat dengan kampus, sekolahan, perkantoran, pusat perbelanjaan, pusat kota dan lain – lain.

Promosi Usaha Ayam Ungkep

Supaya ayam ungkep dapat dikenal masyarakat dengan baik maka proses promosi harus dikerjakan dengan baik supaya nantinya usaha ayam ungkep bisa berjalan lancar. Untuk proses promosi usaha ayam ungkep ini dapat dikerjakan dengan cara membuat spanduk dan memasang spanduk di depan lokasi usaha agar masyarakat yang lewat bisa mengetahui jenis usaha yang dibuat. Jika kualitas rasa dan pelayanan untuk produk ayam ungkep sangat baik tentu konsumen yang pernah datang ke tempat usaha Anda ini dengan sendirinya akan merekomendasikan kepada teman atau kerabat. Oleh karena itu kualitas rasa dan pelayanan harus selalu diperhatikan agar dapat menjadi warung ayam ungkep yang berkualitas bagi semua orang. Peluang bisnis ayam ungkepini memang menguntungkan sehingga harus dimanfaatkan dengan baik.

Contoh Analisa Usaha Ayam Ungkep

Supaya mengetahui dengan baik biaya pengeluaran, keuntungan dan sebaik maka silahkan disimak mengenai contoh analisa usaha ayam ungkep sebagai berikut :

Asumsi :

  • Masa penggunaan mesin giling bumbu selama waktu 3 tahun
  • Masa penggunaan panci selama waktu 2 tahun
  • Masa penggunaan kompor dan gas selama waktu 4 tahun
  • Masa penggunaan wajan selama waktu 3 tahun
  • Masa penggunaan spatula selama waktu 2 tahun
  • Masa penggunaan pemarut kelapa selama waktu 3 tahun
  • Masa penggunaan wadah selama waktu 3 tahun
  • Masa penggunaan peralatan tambahan selama waktu 3 tahun
Peralatan  Harga 
 Mesin giling bumbu  Rp. 1,650,000
 Panci  Rp. 195,000
 Kompor dan gas  Rp. 425,000
 Wajan  Rp. 120,000
 Spatula  Rp. 35,000
 Pemarut kelapa  Rp. 450,000
 Wadah  Rp. 120,000
 Peralatan tambahan  Rp. 150,000
 Jumlah Investasi  Rp. 3,995,000

 

Biaya Operasional per Bulan
 Biaya Tetap  Nilai
 Penyusutan mesin giling  bumbu 1/36 x Rp. 1.650.000  Rp. 45,833.33
 Penyusutan panci  1/24 x Rp. 195.000  Rp. 8,125
 Penyusutan kompor dan gas 1/48 x Rp. 425.000  Rp. 8,854
 Penyusutan wajan  1/36 x Rp. 120.000  Rp. 3,333
 Penyusutan spatula 1/24 x Rp. 35.000  Rp. 1,458
 Penyusutan pemarut kelapa  1/36 x Rp. 450.000  Rp. 12,500
 Penyusutan wadah 1/36 x Rp. 120.000  Rp. 3,333
 Penyusutan peralatan tambahan 1/36 x Rp. 150.000  Rp. 4,167
 Total Biaya Tetap  Rp. 87,604

 

Biaya Variabel
 Daging ayam  Rp. 250,000  x 30  =  Rp. 7,500,000
 Bumbu ungkep  Rp. 150,000  x 30  =  Rp. 4,500,000
 Santan  Rp. 160,000  x 30  =  Rp. 4,800,000
 Serai  Rp. 15,000  x 30  =  Rp. 450,000
 Gas Lpg  Rp. 24,000  x 4  =  Rp. 96,000
 Biaya listrik  Rp. 135,000  x 1  =  Rp. 135,000
 Biaya air  Rp. 90,000  x 1  =  Rp. 90,000
 Biaya tambahan lain  Rp. 125,000  x 30  =  Rp. 3,750,000
 Total Biaya Variabel  Rp. 11,321,000

 

Total Biaya Operasional
 Biaya tetap + biaya variabel =  Rp. 11,408,604

 

Pendapatan per Bulan
 Penjualan rata – rata =
25  porsi  x  Rp. 16,500  =  Rp. 412,500
Rp. 412,500  x 30  hr  =  Rp. 12,375,000

 

Keuntungan per Bulan
 Laba    = Total Pendapatan – Total Biaya Operasional
 Rp.      12,375,000  – 11,408,604  =  Rp. 966,396

 

Lama Balik Modal
Total Investasi / Keuntungan =  Rp. 3,995,000  : 966,396  = 4  bln

 

Dalam menjalankan usaha ayam ungkep ini supaya lebih mudah dan simple maka proses pembersihan bulu ayam bisa dibantu dengan mesin pencabut bulu ayam. Kegiatan mencabuti bulu ayam memakan waktu lama jika menggunakan cara manual. Berbedajika proses pencabutan bulu dibantu mesin pencabut bulu ayam. Kegiatan usaha akan berjalan dengan cepat dan maksimal. Bagi yang berminat untuk menjalankan usaha ayam ungkep maka gunakan mesin pencabut bulu ayam. Dapatkan mesin pencabut bulu ayam ini dengan mudah di Toko Mesin Maksindo.

Itu tadi merupakan pembahasan yang bisa disampaikan mengenai peluang usaha ayam ungkep dan analisa usahanya. Semoga info diatas bermanfaat dan selamat mencoba

 


Alat-Alat Laboratorium Mikrobiologi

Alat-Alat Laboratorium Mikrobiologi

Peralatan di dalam laboraturium mikrobiologi

Sebalum kita bekerja atau melakukan praktikum di laboratorium mikrobiologi ada baiknya kita terlebih dahulu mengenal alat alat Laboratorium Mikrobiologi beserta fungsinya. sebagai seorang analis sangat penting mengenal peralatan apa saja yang akan kita butuhkan saat bekerja atau praktik di dalam Lab. Misalakan saat kita sedang malakukan analisa (dengan mengacu pada suatu metode tertentu) maka kita harus mengenali alat apa saja yang kita perlukan agar saat melakukan analisa kita tidak terhenti ditengah jalan karena alat yang kita butuhkan tidak ada, jika sudah terjadi hal seperti itu kan sangat disayangkan sekali waktu dan tenaga kita terbuang percuma.

Prinsip kerja yang steril dan aseptis merupakan prinsip kerja yang harus dilakukan pada saat melakukan praktikum atau penelitian di Laboratorium Mikrobiologi.  Kerja yang steril berarti kerja pada kondisi bebas dari semua bentuk hidup mikroorganisme, termasuk endospora dan virus. Namun, kondisi steril tidak terbebas dari kehadiran prion. Proses atau tahapan kerja untuk menghilangkan atau mematikan seluruh bentuk hidup mikroorganisme dan virus disebut sterilisasi.  Sterilisasi dapat dilakukan dengan berbagai metode, baik metode fisik maupun kimia (Nester dkk., 2004).
Sementara itu, kerja aseptis adalah kerja pada kondisi tercegah dari serangan agen infeksi yang dapat menginfeksi jaringan atau material yang steril.  Untuk mencapai kondisi aseptis diperlukan teknik-teknik aseptik (Benson, 2001). Teknik-teknik aseptik adalah teknik yang dilakukan untuk mengurangi serangan patogen yang dapat mengontaminasi media/kultur (Black, 2008) dan jaringan hidup (Benson, 2001).  Suatu media atau jaringan hidup agar terbebas dari kontaminasi agen penyebab penyakit dan virus harus dilakukan upaya disinfeksi terlebih dahulu. Secara umum, disinfeksi menggunakan zat kimia antimikroba yang disebut zat disinfektan (Nester dkk., 2004; Black, 2008).
Zat disinfektan mudah mematikan bakteri dalam fase vegetatif, jamur, dan lipid containing virus. Sementara itu, zat disinfektan sulit mematikan Mycobacteria dan non-lipid containing virus serta umumnya spora bakteri dapat resistan terhadap zat tersebut (Collins & Lyne, 2004). Zat disinfektan dapat berupa fungisida dan germisida. Fungisida adalah zat disinfektan yang dapat membunuh jamur, sedangkan germisida adalah zat disinfektan yang dapat membunuh mikroorganisme dan menginaktivasi virus (Nester dkk., 2004). Sementara itu, zat disinfektan yang aman digunakan oleh kulit atau jaringan hidup lain disebut zat antiseptik (Benson, 2001; Nester dkk., 2004).
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sterilisasi mempunyai bermacam-macam metode. Metode-metode sterilisasi tersebut antara lain metode penyalaan (flaming), panas-kering, autoclaving, tyndalisasi, filtrasi, dan inspisasi (Collins & Lyne, 2004). Namun, metode yang paling umum dan mendasar untuk digunakan dalam sterilisasi adalah metode autoclaving, panas-kering, dan filtrasi (Harley & Prescott, 2002).
Metode autoclaving menggunakan alat yang disebut autoklaf. Metode autoclaving atau metode panas-basah memanfaatkan panas uap air untuk melakukan proses pensterilan. Tidak hanya itu, metode autoclaving memanfaatkan kekuatan tekanan, sehingga suhu yang dihasilkan menjadi lebih tinggi dan proses sterilisasi menjadi lebih cepat (Collins & Lyne, 2004). Sementara itu, metode panas-kering memanfaatkan aliran udara panas untuk melakukan proses pensterilan.  Berbeda dengan metode autoclaving, metode panas-kering memerlukan waktu yang lebih lama karena sterilisasi tidak disertai dengan tekanan seperti halnya pada metode autoclaving (Harley & Prescott, 2002). Selanjutnya, metode filtrasi merupakan metode pensterilan dengan menggunakan pori yang sangat kecil untuk menyaring bakteri. Namun, mikroplasma dan virus tidak ikut tersaring dengan menggunakan metode filtrasi (Collins & Lyne, 2004).
Laboratorium Mikrobiologi harus mempunyai sejumlah alat yang dapat menunjang proses praktikum dan penelitian di dalamnya. Di antara alat-alat tersebut, ada alat-alat yang khusus digunakan di dalam Laboratorium Mikrobiologi dan ada juga yang tidak. Alat-alat tersebut antara lain autoklaf, oven, inkubator statis, shaker incubator atau inkubator kocok, waterbath shaker incubator, vorteks, desikator, transfer box, anaerobic jar, sentrifugator, dan spektrofotometer. Berikut penjelasan artikel alat-alat laboratorium mikrobiologi beserta fungsinya:

Equipment

1.Ose / Jarum Inokulum (inoculating loop)

jarum inokulum berfungsi untuk memindahkan biakan untuk ditanam/ditumbuhkan ke media baru. Jarum inokulum biasanya terbuat dari kawat nichrome atau platinum sehingga dapat berpijar jika terkena panas. Bentuk ujung jarum dapat berbentuk lingkaran (loop) dan disebut ose atau inoculating loop/transfer loop, dan yang berbentuk lurus disebut inoculating needle/Transfer needle. Inoculating loop cocok untuk melakukan streak di permukaan agar, sedangkan inoculating needle cocok digunakan untuk inokulasi secara tusukan pada agar tegak (stab inoculating.
2.Mikropipet (Micropippete) dan Tip

Mikropipet adalah alat untuk memindahkan cairan yang bervolume cukup kecil, biasanya kurang dari 1000 μl. Banyak pilihan kapasitas dalam mikropipet, misalnya mikropipet yang dapat diatur volume pengambilannya (adjustable volume pipette) antara 1μl sampai 20 μl, atau mikropipet yang tidak bisa diatur volumenya, hanya tersedia satu pilihan volume (fixed volume pipette) misalnya mikropipet 5 μl. dalam penggunaannya, mukropipet memerlukan tip.
3.Tabung reaksi (Reaction Tube / Test Tube)

Di dalam mikrobiologi, tabung reaksi digunakan untuk uji-uji biokimiawi dan menumbuhkan mikroba.Tabung reaksi dapat diisi media padat maupun cair. Tutup tabung reaksi dapat berupa kapas, tutup metal, tutup plastik atau aluminium foil. Media padat yang dimasukkan ke tabung reaksi dapat diatur menjadi 2 bentuk menurut fungsinya, yaitu media agar tegak (deep tube agar) dan agar miring (slants agar). Untuk membuat agar miring, perlu diperhatikan tentang kemiringan media yaitu luas permukaan yang kontak dengan udara tidak terlalu sempit atau tidak terlalu lebar dan hindari jarak media yang terlalu dekat dengan mulut tabung karena memperbesar resiko kontaminasi. Untuk alas an efisiensi, media yang ditambahkan berkisar 10-12 ml tiap tabung.
4.Labu Erlenmeyer (Erlenmeyer Flask)

Berfungsi untuk menampung larutan, bahan atau cairan yang. Labu Erlenmeyer dapat digunakan untuk meracik dan menghomogenkan bahan-bahan komposisi media, menampung akuades, kultivasi mikroba dalam kultur cair, dll. Terdapat beberapa pilihan berdasarkan volume cairan yang dapat ditampungnya yaitu 25 ml, 50 ml, 100 ml, 250 ml, 300 ml, 500 ml, 1000 ml, dsb.
5.Beaker Glass

Beaker glass merupakan alat yang memiliki banyak fungsi. Di dalam mikrobiologi, dapat digunakan untuk preparasi media media, menampung akuades dll.
6.Gelas ukur (Graduated Cylinder)

Berguna untuk mengukur volume suatu cairan, seperti labu erlenmeyer, gelas ukur memiliki beberapa pilihan berdasarkan skala volumenya.
7.Cawan Petri (Petri Dish)

Cawan petri berfungsi untuk membiakkan (kultivasi) mikroorganisme. Medium dapat dituang ke cawan bagian bawah dan cawan bagian atas sebagai penutup. Cawan petri tersedia dalam berbagai macam ukuran, diameter cawan yang biasa berdiameter 15 cm dapat menampung media sebanyak 15-20 ml, sedangkan cawan berdiameter 9 cm kira-kira cukup diisi media sebanyak 10 ml.
8.Batang L (L Rod)

Batang L bermanfaat untuk menyebarkan cairan di permukaan mediaagar supaya bakteri yang tersuspensidalam cairan tersebut tersebar merata. Alat ini juga disebut spreader.
9.Tabung Durham (Durham Tube)

Tabung durham yaitu tabung yang memiliki bentuk yang sama dengan tabung reaksi tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil dibanding tabung reaksi. Berfungsi untuk menampung hasil fermentasi mikroorganisme berupa gas. Dalam penggunaannya, maka tabung durham itu ditempatkan terbalik di dalam tabung reaksi yang lebih besar dan tabung ini kemudian diisi dengan medium cair. Setelah seluruhnya disterilkan dan medium sudah dingin, maka dapat dilakukan inokulasi. Jika bakteri yang ditumbuhkan dalam media tersebut memang menghasilkan gas, maka gas akan tampak sebagai gelembung pada dasar tabung durham.
10.Termometer (thermometer)

Termometer adalah batang kaca yang panjangnya 300 mm, diameter 6-7 mm berisi air raksa dan gas, serta dilengkapi dengan skala derajat Celcius. Berfungsi untuk mengukur suhu suatu larutan atau ruang inkubator. Prinsip kerjanya yaitu mengukur suhu sesuai laju air raksa di dalam thermometer.

Apparatus

1.Pembakar Bunsen (Bunsen Burner)

Salah satu alat yang berfungsi untuk menciptakan kondisi yang steril adalah pembakar bunsen. Api yang menyala dapat membuat aliran udara karena oksigen dikonsumsi dari bawah dan diharapkan kontaminan ikut terbakar dalam pola aliran udara tersebut. Untuk sterilisasi jarum ose atau yang lain, bagian api yang paling cocok untuk memijarkannya adalah bagian api yang berwarna biru (paling panas). Perubahan bunsen dapat menggunakan bahan bakar gas atau metanol.

2.Hot plate stirrer dan Stirre bar

Hot plate stirrer dan Stirrer bar (magnetic stirrer) berfungsi untuk menghomogenkan suatu larutan dengan pengadukan. Pelat (plate) yang terdapat dalam alat ini dapat dipanaskan sehingga mampu mempercepat proses homogenisasi. Pengadukan dengan bantuan batang magnet Hot plate dan magnetic stirrer seri SBS-100 dari SBS® misalnya mampu menghomogenkan sampai 10 L, dengan kecepatan sangat lambat sampai 1600 rpm dan dapat dipanaskan sampai 425oC.

3.Autoklaf (Autoclave)

Autoklaf adalah alat pemanas tertutup yang digunakan untuk mensterilisasi suatu benda menggunakan uap bersuhu dan bertekanan tinggi (1210C, 15 lbs) selama kurang lebih 15 menit. Penurunan tekanan pada autoklaf tidak dimaksudkan untuk membunuh mikroorganisme, melainkan meningkatkan suhu dalam autoklaf. Suhu yang tinggi inilah yang akan membunuh microorganisme. Autoklaf terutama ditujukan untuk membunuh endospora, yaitu sel resisten yang diproduksi oleh bakteri, sel ini tahan terhadap pemanasan, kekeringan, dan antibiotik. Pada spesies yang sama, endospora dapat bertahan pada kondisi lingkungan yang dapat membunuh sel vegetatif bakteri tersebut[1]. Endospora dapat dibunuh pada suhu 100 °C, yang merupakan titik didih air pada tekanan atmosfer normal. Pada suhu 121 °C, endospora dapat dibunuh dalam waktu 4-5 menit, dimana sel vegetatif bakteri dapat dibunuh hanya dalam waktu 6-30 detik pada suhu 65 °C.Perhitungan waktu sterilisasi autoklaf dimulai ketika suhu di dalam autoklaf mencapai 121 °C. Jika objek yang disterilisasi cukup tebal atau banyak, transfer panas pada bagian dalam autoklaf akan melambat, sehingga terjadi perpanjangan waktu pemanasan total untuk memastikan bahwa semua objek bersuhu 121 °C untuk waktu 10-15 menit. Perpanjangan waktu juga dibutuhkan ketika cairan dalam volume besar akan diautoklaf karena volume yang besar membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai suhu sterilisasi. Performa autoklaf diuji dengan indicator biologi, contohnya Bacillus stearothermophilus.

Autoklaf adalah sebuah alat yang digunakan untuk melakukan sterilisasi dengan memanfaatkan panas uap air di bawah tekanan.  Temperatur panas uap air pada tekanan atmosfer hanya mencapai 100 °C. Akan tetapi, temperatur akan meningkat dengan adanya tekanan, misalnya pada tekanan 1 bar (kira-kira 15 lb/in2) temperatur menjadi 121°C. Bakteri akan dibunuh pada temperatur tersebut kurang lebih selama 15-20 menit (Collins & Lyne, 2004; Black, 2008). Autoklaf dapat digunakan untuk sterilisasi kultur media, jarum suntik, dan larutan yang termostabil (Cappuccino & Sherman, 2001).
Sterilisasi dengan menggunakan autoklaf memiliki kisaran tekanan, waktu dan temperatur, tergantung material yang akan disterilisasi. Tekanan yang dipakai pada alat autoklaf berkisar antara 15-20 lb, temperatur yang diizinkan berkisar antara 121-125 °C (250-256 °F), dan waktu yang dibutuhkan berkisar antara 15-45 menit, tergantung bahan atau material yang akan dimuat (Morello dkk., 2003). Udara juga merupakan faktor penting yang memengaruhi keefektifan alat autoklaf. Kehadiran udara pada muatan autoklaf akan memberi pengaruh kurang baik terhadap penetrasi panas uap air ke kultur media (Collins & Lyne, 2004).  Sementara itu, untuk mengecek alat autoklaf masih bekerja baik atau tidak, diperlukan pengetesan menggunakan indikator biologi. Indikator biologi yang lazim digunakan adalah endospora Bacillus stearothermophilus. Spora bakteri tersebut dipakai karena sporanya dapat resistan terhadap panas. Apabila setelah sterilisasi masih ditemukan spora bakteri tersebut, berarti alat autoklaf sedang bermasalah. Cara pengecekan dimulai dengan menaruh strip yang mengandung spora bakteri dengan material yang disterilisasi pada autoklaf. Setelah proses sterilisasi selesai, tiap strip ditempatkan di dalam medium cair.  Apabila terjadi perubahan warna pH indikator pada medium cair, berarti proses sterilisasi tidak berjalan sukses (Morello dkk., 2003).

4.oven

Oven Berfungsi untuk sterilisasi kering. alat-alat yang disterilkan menggunakan oven antaralain peralatan gelas seperti cawan petri, tabung reaksi, dll. serilisasi kerning dengan oven dilakukan dengan cara memanaskan dengan suhu 180oC selama 1 jam.

Oven adalah alat yang digunakan pula dalam melakukan sterilisasi. Berbeda dengan autoklaf, oven tidak memanfaatkan panas uap air untuk melakukan sterilisasi. Oven dapat mensterilkan barang-barang dengan memanfaatkan aliran udara panas. Aliran udara panas tersebut didapatkan secara elektrik.  Barang-barang yang disterilkan oleh oven antara lain cawan petri, labu erlenmeyer, pipet, dan objek metal (Collins & Lyne, 2004: 45). Barang pecah belah tersebut akan tergores dan rusak apabila diberikan panas uap air (Harley & Prescott, 2002).
Kelemahan sterilisasi menggunakan oven adalah waktu yang diperlukan untuk melakukan sterilisasi cukup lama, yaitu sekitar dua jam. Temperatur yang diizinkan untuk melakukan sterilisasi pada oven, berkisar antara 160-170 °C.  Apabila lebih dari 180 °C, barang yang disterilisasi akan menjadi gosong (Harley & Prescott, 2002).

5.Inkubator (Incubator)

Inkubator adalah alat untuk menginkubasi atau memeram mikroba pada suhu yang terkontrol. Alat ini dilengkapi dengan pengatur suhu dan pengatur waktu. Inkubator merupakan alat yang digunakan untuk menginkubasi atau mengerami suatu biakan.  Inkubator menyediakan kondisi temperatur yang optimum untuk mikroorganisme bisa melakukan pertumbuhan. Inkubator memiliki alat pengatur suhu, sehingga temperatur dapat diatur sesuai biakan yang akan diinkubasi. Inkubator memanfaatkan panas-kering seperti oven. Pada beberapa jenis inkubator, kelembapan disediakan dengan memberikan air di dalam inkubator selama periode pertumbuhan mikroba.  Lingkungan yang basah memperlambat dehidrasi pada medium sehingga menghindari kondisi lingkungan yang bias (Cappuccino & Sherman, 2001).

contoh gambar alat laboratorium mikrobiologi
 Inkubator.
Inkubator memiliki banyak tipe, misalnya inkubator statis, inkubator kocok, dan inkubator waterbath shaker. Inkubator statis adalah jenis inkubator yang digunakan untuk mengerami mikroba pada medium padat. Sementara itu, inkubator kocok dan inkubator waterbath shaker digunakan untuk mengerami mikroba pada medium cair. Pengocokan pada inkubator kocok dilakukan untuk memberikan pengaruh terhadap temperatur dan beberapa aspek metabolisme mikroba (Patching & Rose, 1970). Adanya prosedur pengocokan pada proses inkubasi mikroba sangat bermanfaat pada mikroba yang dikultur di medium cair, seperti meningkatkan kontak antara mikroba dan medium.
Penggunaan inkubator waterbath shaker memiliki keuntungan dibandingkan dengan jenis inkubator yang lain.  Keuntungannya adalah penghantaran panas lebih cepat dan merata kepada kultur mikroba, karena penghantaran panas melalui air. Agitasi atau pergolakan air juga akan meningkatkan aerasi. Namun, inkubator waterbath shaker juga memiliki kekurangan, yaitu hanya dapat menginkubasi mikroba pada medium cair (Cappuccino & Sherman, 2001).
Selanjutnya, timbul masalah khusus mengenai inkubasi terhadap bakteri anaerob. Hal tersebut disebabkan bakteri anaerob akan terbunuh jika terpapar dengan oksigen. Inkubasi bakteri anaerob dapat dilakukan pada alat khusus  yang mencegah kondisi lingkungan yang kaya oksigen, yaitu alat yang disebut anaerobic jarAnaerobic jar mempunyai banyak tipe, salah satunya adalah yang memanfaatkan teknik GasPak system (Cappuccino & Sherman, 2001).
Prinsip kerja dari alat anaerobic jar yang menggunakan teknik GasPak system adalah dengan mengeluarkan oksigen dari botol yang tertutup dengan bantuan GasPak Generator dan katalis. Sistem tersebut menggunakan bungkus kimia (GasPak Generator) yang terdiri dari sodium bikarbonat dan sodium borohidrit, yang nantinya akan bereaksi dengan air sehingga menghasilkan karbon dioksida dan hidrogen. Proses penambahan air dilakukan sebelum botol ditutup, dengan cara dipipet ke dalamnya. Setelah itu, paladium, yang terletak di tutup botol, mengkatalisis pembentukan air yang berasal dari hidrogen dan oksigen residu. Akhirnya, kandungan oksigen semakin berkurang dan kandungan karbon dioksida semakin meningkat, sehingga menciptakan kondisi lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan bakteri anaerob (Cappuccino & Sherman, 2001; Morello dkk., 2003; Tortora dkk., 2010).
Untuk mengecek alat anaerobic jar masih bekerja dengan baik atau tidak, dapat menggunakan indikator biologi dan kimia. Indikator biologi yang dapat digunakan seperti Pseudomonas aeruginosa dan Clostridium welchii. Indikator biologi dapat digunakan untuk melihat kecukupan prosedur anaerob yang terjadi pada alat anaerob jar. Namun, pengecekan dengan indikator biologi memerlukan waktu yang lama (harus menunggu tahap inkubasi sampai selesai) dan hasilnya bergantung juga pada medium yang digunakan (Watt dkk., 1976). Sementara itu, indikator kimia yang sering digunakan adalah metilen biru. Metilen biru akan menjadi berkurang warnanya pada kondisi yang kehilangan oksigen (Cappuccino & Sherman, 2001; Morello dkk., 2003; Tortora dkk., 2010).
6.Penangas air (Water bath)

Penangas air besfungsi untuk menyimpan media agar (yang digunakan untuk analisa dengan teknik tuang / pure plate ) supaya media tetap dalam kondisi leleh/cair, bisanya suhu diatur pada kisaran 40-45oC. Untuk menjaga air pada penangas air tidak terkontaminasi mikro organisme maka perlu ditambahkan citric acid 0.3% dan potassium sorbat 0.1%.

7.PH Meter

PH meter berfungsi untuk mencek derajat keasaman / PH media, karena derajat keasaman sangan berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroba.

8.Timbangan digital / neraca digital

Neraca digital berfungsi untuk menimbang media dan juga sample atau contoh uji saat preparasi.

9.Biological Safety Cabinet / Laminar Air Flow

Biological Safety Cabinet (BSC) atau dapat juga disebut Laminar Air Flow (LAF) adalah alat yang berguna untuk bekerja secara aseptis karena BSC mempunyai pola pengaturan dan penyaring aliran udara sehingga menjadi steril dan aplikasisinar UV beberapa jam sebelum digunakan.

Microbiological safety cabinet (MSC) adalah suatu tempat atau ruangan yang didesain untuk memproteksi suatu pekerjaan dari kontaminasi, contohnya adalah transfer box atau laminar flow. Selain itu, MSC berguna untuk menciptakan keadaan yang aseptis pada saat pembuatan medium atau manipulasi objek mikroorganisme. Alat MSC mempunyai berbagai tipe sirkulasi udara, setidaknya ada tiga tipe. Salah satu tipenya, udara yang telah terfiltrasi dialirkan ke seluruh MSC agar tercipta sirkulasi udara yang baik, kemudian dikeluarkan melalui suatu exhaust air. Sirkulasi udara bersih tersebut dapat mencegah kontaminasi pada saat melakukan kegiatan pembuatan medium atau manipulasi objek mikroorganisme (Collins & Lyne, 2004).

10.Colony counter

Alat ini berguna untuk mempermudah perhitungan koloni yang tumbuh setelah diinkubasi di dalam cawankarena adanya kaca pembesar. Selain itu alat tersebut dilengkapi dengan skala/ kuadran yang sangat berguna untuk pengamatan pertumbuhan koloni sangat banyak. Jumlah koloni pada cawan Petri dapat ditandai dan dihitung otomatis yang dapat di-reset.

11.Mikroskop Cahaya (Brightfield Microscope)

Salah satu alat untuk melihat sel mikroorganisme adalah mikroskop cahaya. Dengan mikroskop kita dapat mengamati sel bakteri yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Pada umumnya mata tidak mampu membedakan benda dengan diameter lebih kecil dari 0,1 mm.

12.Mikroskop stereo (Zoom Stereo Microscope)

Mikroskop ini berfungsi untuk melihat objek yang membutuhkan perbesaran tidak terlalu besar. Di Laboratorium Mikrobiologi, mikroskop stereo biasanya digunakan untuk mengamati secara detail bentuk koloni dan jamur.

13. Desikator
Desikator adalah alat yang menjaga suatu material dalam kondisi kering dan menjauhkannya dari uap air. Desikator disebut juga kotak pengering karena segala sesuatu yang disimpan di dalamnya akan menjadi kering. Hal tersebut karena adanya suatu desiccant, yaitu suatu agen yang dapat mengabsorpsi semua uap air yang ada di udara pada lingkungan desikator yang tertutup. Salah satu desiccant yang sering digunakan adalah silika gel. Silika gel akan berubah warna setelah mengabsorpsi uap air. Perubahan warna pada silika gel karena reaksi kimia yang terjadi antara silika gel dengan air yang telah diabsorpsi.

14. Vorteks
Vorteks merupakan alat yang digunakan untuk mencampur sejumlah bahan dalam suatu botol. Prinsip kerja dari vorteks adalah dengan memberikan putaran atau guncangan pada botol sehingga berbagai campuran bahan yang ada di dalam botol tersebut menjadi tercampur secara merata. Proses pencampuran bahan pada vorteks harus dilakukan di ruangan mikrobiological safety cabinet untuk mencegah terjadinya kontaminasi (Collin & Lyne, 2004).

15. Sentrifugator
Sentrifugator adalah alat yang digunakan untuk mempelajari struktur dan fungsi suatu komponen sel. Prinsip kerjanya adalah dengan memisahkan atau memfraksionasi setiap komponen sel berdasarkan berat jenis dari tiap komponen sel. Alat tersebut memberikan gaya sentrifugal sehingga substansi yang lebih berat akan mengendap dan substansi yang lebih ringan akan berada di atas. Jika kecepatan sentrifugator semakin meningkat, komponen yang lebih ringan akan mengendap di dasar. Komponen sel yang mengendap disebut pellet, dan komponen sel yang tersuspensi di atasnya disebut supernatan. Pellet yang berhasil didapatkan nantinya akan dipelajari lebih lanjut untuk diketahui fungsinya (Campbell & Reece, 2009).

pengenalan alat laboratorium mikrobiologi pdf

16. Spektrofotometer
Spektrofotometer adalah alat yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kekeruhan suatu sampel kultur. Pengukuran tingkat kekeruhan bertujuan untuk menghitung jumlah konsentrasi sel bakteri yang berada pada suatu sampel (Benson 2001; Nester dkk. 2003). Prinsip kerja yang digunakan adalah dengan mengkonversi jumlah cahaya yang diserap oleh sampel (absorban/densitas optik, O.D.) menjadi jumlah konsentrasi sel bakteri. Sebelumnya, jumlah cahaya yang diteruskan (%T) oleh sampel harus diketahui dengan cara melihat jarum galvanometer yang tertera pada alat spektrofotometer. Jumlah cahaya yang diteruskan (%T) tadi, kemudian dimasukkan ke dalam rumus densitas optik (O.D.) sebagai berikut:

O.D. = 2 – log . (%T)

Angka O.D. yang telah didapatkan kemudian dikonversi dengan menggunakan tabel logaritma atau kalkulator, sehingga jumlah konsentrasi sel bakteri pada sampel tersebut dapat diketahui (Benson, 2001).

 

Cara Kerja Peralatan

 No.

Nama Alat

Fungsi Cara Kerja

1.

Autoclave Untuk mensterilkan alat dan bahan.
  1. Sebelum melakukan sterilisasi cek dahulu banyaknya air dalam autoclave. Jika air kurang dari batas yang ditentukan, maka dapat ditambah air sampai batas tersebut. Gunakan air hasil destilasi, untuk menghindari terbentuknya kerak dan karat.
  2. Masukkan peralatan dan bahan. Jika mensterilisasi botol bertutup ulir, maka tutup harus dikendorkan.
  3. Tutup autoclave dengan rapat lalu kencangkan baut pengaman agar tidak ada uap yang keluar dari bibir autoclave. Klep pengaman jangan dikencangkan terlebih dahulu.
  4. Nyalakan autoclave, diatur timerdengan waktu minimal 15 menit pada suhu 121oC.
  5. Tunggu sampai air mendidih sehingga uapnya memenuhi kompartemen autoclave dan terdesak keluar dari klep pengaman. Kemudian klep pengaman ditutup (dikencangkan) dan tunggu sampai selesai. Penghitungan waktu 15’ dimulai sejak tekanan mencapai 2 atm.
  6. Jika alarm tanda selesai berbunyi, maka tunggu tekanan dalam kompartemen turun hingga   sama dengan tekanan udara di lingkungan (jarum pada preisure gauge menunjuk ke angka nol). Kemudian klep-klep pengaman dibuka dan keluarkan isi autoclave dengan hati-hati.

2.

Jarum Ose Untuk memindahkan atau mengambil koloni suatu  mikrobia ke media yang akan digunakan kembali. Jarum Ose disentuhkan pada bagian mikrobia kemudian menggosokkan pada kaca preparat untuk diamati.

3.

Enkas Sebagai tempat penanaman mikroba. Pengerjaan sampel dengan aseptis dan menekan udara bebas.

4.

Inkubator Tempat menyimpan hasil penanaman mikroba.
  1. Hubungkan kabel power ke stop kontak.
  2. Putar tombol power ke arah kiri (lampu power hijau menyala).
  3. Atur suhu dalam incubator dengan menekan tombol set.
  4. Sambil menekan tombol set, putarlah  tombol di sebeklah kanan atas tombol set hingga   mnencapai suhu yang di inginkan.
  5. Setelah suhu yang diinginkan selesai diatur, lepaskan tombol set.
  6. Inkubator akan menyesuaikan setingan suhu secara otomatis setelah beberapa menit.

5.

Magnetik Stirer Untuk menghomogenkan suatu larutan dengan pengadukan.
  1. Tombol logam untuk menghidupkan alat.
  2. Ambil stirer  ( batang magnet) dan masukkan pada larutan (di tempatkan dalam erlenmeyer/ beaker glass) yang akan di homogenkan.
  3. Letakkan tepat di bagian tengah papan besi dengan hati-hati.
  4. Ubah tombol di sebelah kanan untuk mengatur kecepatan( lihat tanda panah).
  5. Ubah tombol di sebelah kiri untuk mengatur suhu.
  6. Waktu penggunaan di sesuaikan dengan kebutuhan.
  7. Setelah selesai, tombol kecepatan dan suhu di-0 kan kemudian matikan alat.
  8. Ambil batang magnet dari larutan yang telah homogen,cuci dan letakkan kembali di atas papan besi.

 

6.

Timbangan Analitik Menimbang bahan yang akan digunakan dalam praktikum dengan tingkat ketelitian yang tinggi.
  1. Meletakkan bahan pada timbangan tersebut.
  2. Melihat angka yang tertera pada layar, dan angka itu merupakan berat dari bahan yang ditimbang.

 

7.

Fortex Untuk mengaduk senyawa kimia yang ada dalam tabung reaksi atau wadah.
  1. Tabung reaksi diletakkan pada lubang tempat tabung.
  2. Menekan tombol power hingga tempat meletakkan tabung bergerak. Dengan adanya tegangan yang diberikan, maka tabung reaksi yang berisi larutan akan tercampur rata.

 

8.

Erlenmeyer Untuk menampung larutan, bahan atau cairan.
  1. Menyiapkan Erlenmeyer yang sudah bersih.
  2. Isi dengan  benda cair dengan jumlah besar dan berskala.

 

9.

Tabung Reaksi Wadah untuk mereaksikan dua atau lebih larutan/ bahan kimia. Wadah pengembangan mikroba, misalnya dalam pengujian jumlah bakteri.
  1. Sterilisasikan alat yang akan digunakan untuk melakukan percobaan.
  2. Masukkan tabung reaksi yang telah disterilkan pada rak tabung reaksi.
  3. Masukkan bahan yang akan dilarutkan pada tabung reaksi.

10.

Cawan Petri Sebagai wadah penyimpanan dan pembuatan kultur media.
  1. Meletakan medium di dalam cawan petri.
  2. Menutup Cawan petri dengan penutup  cawan.

 

11.

Alumunium Foil Sebagai penutup Erlenmeyer/tabung reaksi.
  1. Ambil aluminium foil secukupnya.
  2. Letakkan pada bibir Erlenmeyer maupun tabung reaksi.
  3. Rekatkan sampai tertutup rapat.

 

12.

Plastic Wrap Menutup wadah (cawan petri) yang sudah berisi      media yang akan diteliti.
  1. Mengambil plastic wrap secukupnya.
  2. Menutupkan  pada cawan petri yang berisi media (bakteri)  rekatkan sampai kencang.

 

13.

Jangka Sorong Untuk mengukur panjang suatu benda dengan ketelitian hingga 0,1 mm.
  1. Hal pertama yang kita lakukan adalah melepaskan pengunci.
  2. Memasangkan dan menggeserkan rahang geser hingga bola mini terjepit diantara rahang geser dan rahang tetap, lalu mengunci rahang geser.
  3. Amati skala nonius dan mencari garis pada skala nonius yang segaris dengan garis skala pada skala utama. Pada contoh ini, kita mendapatkan angka 40 (atau 0,4 mm).
  4. Amati skala utam dan cari garis pada skala utama yang terdekat dengan garis 0 pada skala nonius. Pada contoh ini, kita mendapatkan angka 32 mm.
  5. Jumlahkan hasilyang kita dapatkan dari skala utama dan skala nonius, yaitu 32 mm + 0,44 mm = 32,4 mm

 

14.

Colony Counter Untuk menghitung jumlah koloni mikroba.
  1. Hubungkan Kabel Power ke sumber listrik.
  2. Tekan tombol di sebelah kiri belakang sampai lampu colony counter menyala dan stabil.
  3. Letakkan cawan petri dengan posisi terbalik.
  4. Tekan tombol set agar angka pada display menunjukkan angka 0.
  5. Hitung jumlah colony mikroba dengan menekan koloni yang terlihat.
  6. Jumlah yang tertera pada display menunjukkan jumlah koloni yang telah di hitung.

 

CATATAN : Jika penggunaan memerlukan waktu yang lama, colony counter harus sering di matikan.

 

15.

Mikropipet Memindahkan cairan yang bervolume cukup kecil, biasanya kurang dari 1000 µl.
  1. Sebelum digunakan Thumb Knobsebaiknya ditekan berkali-kali untuk memastikan lancarnya mikropipet.
  2. Masukkan Tip bersih ke dalam Nozzle / ujung mikropipet.
  3. Tekan Thumb Knob sampai hambatan pertama / first stop, jangan ditekan lebih ke dalam lagi.
  4. Masukkan tip ke dalam cairan sedalam 3-4 mm.
  5. Tahan pipet dalam posisi vertikal kemudian lepaskan tekanan dari Thumb Knob maka cairan akan masuk ke tip.
  6. Pindahkan ujung tip ke tempat penampung yang diinginkan.
  7. Tekan Thumb Knob sampai hambatan kedua / second stopatau tekan semaksimal mungkin maka semua cairan akan keluar dari ujung tip.
  8. Jika ingin melepas tip putar Thumb Knob searah jarum jam dan ditekan maka tip akan terdorong keluar dengan sendirinya, atau menggunakan alat tambahan yang berfungsi mendorong tip keluar.

 

16.

Tip / Ujung Mikropipet Sebagai tempat untuk cairan dalam ukuran 1µl sampai 20 µl.
  1. Masukkan Tip bersih ke dalam Nozzle / ujung mikropipet.
  2. Tekan Thumb Knob sampai hambatan pertama / first stop, jangan ditekan lebih ke dalam lagi.
  3. Masukkan tip ke dalam cairan sedalam 3-4 mm.
  4. Tahan pipet dalam posisi vertikal kemudian lepaskan tekanan dari Thumb Knob maka cairan akan masuk ke tip.
  5. Pindahkan ujung tip ke tempat penampung yang diinginkan.
  6. Tekan Thumb Knob sampai hambatan kedua / second stop atau tekan semaksimal mungkin maka semua cairan akan keluar dari ujung tip. Jika ingin melepas tip putar Thumb Knob searah jarum jam dan ditekan maka tip akan terdorong keluar dengan sendirinya, atau menggunakan alat tambahan yang berfungsi mendorong tip keluar.

 

17.

Pinset Untuk mengambil benda dengan menjepit misalnya saat memindahkancakram antibiotik. Bahan yang akan diambil, dijepit dengan pinset yang tengah-tengahnya ditekan.

18.

Rak Tabung Reaksi Tempat penyimpanan tabung reaksi agar posisi  tabung tetap tegak. Meletakkan tabung reaksi tegak lurus dalam jumlah banyak.

19.

Bunsen Untuk memanaskan medium, mensterilkan  jarum inokulasi dan alat-alat yang terbuat dari platina dan nikrom seperti jarum platina dan ose
  1. Menyalakan Bunsen.
  2. Memanaskan alat-alat tersebut di atas api sampai pijar.

 

20.

Paper Dish / Blank Dish Alat sterilisasi dengan oven yang terbuat dari kertas saring dan di celupkan kedalam cairan antibiotik.
  1. Sampel dicelupkan ke dalam paper dish.
  2. Mensterilkan dengan pemanasan

 

Reference :

Benson. 2001. Microbiological application lab manual, 8th ed.
Black, J. G. 2008. Microbiology, 7th ed.
Campbell, N. A. & J. B. Reece. 2009. Biology, 8th ed.
Cappuccino, J. G. & N. Sherman. 2002. Microbiology: A laboratory manual.
Collins, C. H. & P. M. Lyne. 2004. Collins & Lyne’s microbiological methods.
Harley & Prescott. 2002. Laboratory exercises in microbiology, 5th ed.
Patching, J. W. & A. H. Rose. 1970. The Effects and control of temperature. Dalam: Norris, J. R. & D. W. Ribbons (eds.). 1970. Methods in microbiology volume 2.
Morello, J. A., P. A. Granato & H. E. Mizer. 2003. Laboratory manual and workbook in microbiology: Applications to patient care.
Nester, E. W., D. G. Anderson, C. E. Roberts, N. N. Pearsall & M. T. Nester. 2004. Microbiology: A human perspective, 4th ed.
Tortora, G. J., B. R. Funke & C. L. Case. 2010. Microbiology: An introduction, 10th.
Watt, B., J. G. Collee & R. Brown. 1976. Tests of performance of anaerobic jars.

http://www.generasibiologi.com/

http://sulaiman-analis.blogspot.com/

 


A’touna Et-Tufoole,  Beri Kami Masa Kecil

A’touna Et-Tufoole,  Beri Kami Masa Kecil

جينا نعيدكم… بالعيد منسألكم
Jeena N’ayedkon … Bel-Eid Mnes’alkon
Kami datang dengan Ucapan Selamat Berlibur …Dan selama liburan kami bertanya padamu

ليش ما في عنا… لا أعياد ولا زينة 
Lesh Ma Fee ‘Enna … La ‘Ayyad Wala Zeineh
Kenapa kami tidak punya Liburan ataupun Dekorasi ( Perhiasan )

 يا عالم
Ya ‘Alam
Wahai Dunia

أرضي محروقة 
Ardhi Mahroo’a 
Tanahku Habis terbakar

أرضي حرية مسروقة
Ardhi Huriyyeh Masroo’a
Tanahku dicuri kebebasannya

سمانا عم تحلم… عم تسأل الأيام 
Samana ‘Am Tehlam … ‘Am Tes’al El-Ayam
Langit kami Sedang bermimpi … bertanya kepada hari hari

وين الشمس الحلوة… ورفوف الحمام
Wein Esh-Shames El-Helwe … W-Rfouf El-Hamam
Dimana matahari yang indah … dan di mana kipasan sayap  burung merpati ?

يا عالم
Ya ‘Alam
Wahai Duniaa

أرضي محروقة
Ardhi Mahroo’a
Tanahku Habis terbakar

أرضي حرية مسروقة
Ardhi Huriyyeh Masroo’a
Tanahku dicuri kebebasannya

أرضي زغيرة… متلي زغيرة
Ardhi Zgheere … Metli Zgheere
Tanahku Kecil, seperti aku, itu kecil

ردولها السلام… اعطونا الطفولة
Redoulha Es-Salam …. ‘Atouna Et-Tufoole
Berikan kedamaian kembali padanya, beri kami masa kecil

اعطونا الطفولة
A’touna Et-Tufoole 
beri kami masa kecil

اعطونا الطفولة
A’touna Et-Tufoole
beri kami masa kecil

أعطونا الطفولة
A’touna Et-Tufoole
beri kami masa kecil

اعطونا… اعطونا… اعطونا السلام
A’touna … ‘Atouna … ‘Atouna Es-Salam
Beri Kami … Beri Kami … Beri kami Kedamaian .


Hamba Hanyalah Hamba

Hamba Hanyalah Hamba

 

Jika anda shalat, manakah buktinya anda shalat.

Cukupkah menunjukkan jidat menghitam,

atau cukupkah dengan beruku’ berlama-lama,

ataukah dengan selalu bertamu di rumah Tuhanmu.

Kurasa semua tak cukup membuktikan.

 

Jika anda berpuasa, mana buktinya anda berpuasa.

Cukupkah menunjukkan lapar dengan perut kempis,

atau cukupkah dengan bibir yang kering merekah,

ataukah dengan lemas tak digdayanya tenagamu.

Kurasa semua tak cukup membuktikan.

 

Jika anda islam, manakah buktinya anda islam.

Cukupkah dengan meneriakkan syahadatmu,

atau cukupkah dengan menunjukkan puasamu,

ataukah cukup dengan menunjukkan shalatmu.

Kurasa semua tak cukup meski di KTP anda tertulis “ISLAM”

 

Kita hanyalah hamba Allah,

Tak pantaslah jika hamba menahbiskan dirinya sebagai hamba.

Jikalau tuannya tak mengakuinya sebagai hamba, hendak bagaimana?

Sesungguhnya aku hanya menjalankan perintah Tuhanku Allah,

meski aku tak tahu apakah Dia mau menerimanya, aku berserah kepada-Nya.


QUALITY ASSURANCE (QA) vs QUALITY CONTROL (QC)

QUALITY ASSURANCE (QA) vs QUALITY CONTROL (QC)

QUALITY
Beberapa tokoh mendefinisikan Quality, yaitu:
  • Juran     : fitness to use, kecocokan penggunaan produk
  • Crosby   : conformance to requirement, sesuai dengan yang dipersyaratkan
  • Deming   : kesesuaian dengan market demand
  • Feigenbaum         : total customer satisfaction
  • Garvin & Davis    : suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia, proses, environment yang memenuhi atau melebihi harapan customer.

Banyak perusahaan yang memakai Quality Assurance (QA) dan Quality Control ( QC) dalam satu Divisi, jadi QA itu ya QC. Quality Assurance dianggap Quality Control, walaupun mungkin kalau dari pengertian mungkin berbeda,tapi dalam faktanya QA adalah QC, jadi jarang ada Divisi Quality Assurance dipisah dengan Divisi Quality Control, karena sebenarnya acuan keduanya pada kualitas mutu, termasuk reliabilitinya.

Quality Control (QC)

Suatu perusahaan dapat  menentukan standar kualitas, proses dan prosedur internal masing-masing dan mengembangkannya dari waktu ke waktu, kemudian pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder) tersebut diminta untuk mengikutinya. Proses untuk memastikan semua pihak yang berkepentingan tersebut mengikuti dan mematuhi standar dan prosedur yang ditentukan inilah disebut dengan proses pengendalian kualitas atau Quality Control.

Quality control bertugas untuk menjamin mutu selama penerimaan bahan baku hingga pengendalian mutu pada bagian produksi (Muhandri dan Kardarisman, 2008). Citra mutu bahan maupun produk dari suatu industri yang sesuai dengan standar mutu dapat ditegakkan melalui pengawasan atau pemeriksaan mutu yaitu dengan memeriksa apakah segala sesuatu telah berjalan sesuai dengan rencana, intruksi-instruksi yang dikeluarkan dan prinsip yang dianut (Mukodingsih et al., 2015).

Pengawasan dan pengendalian mutu harus dilakukan sejak awal proses produksi sampai saluran distribusi untuk meningkatkan kepercayaan konsumen, meningkatkan jaminan keamanan produk, mencegah banyaknya produk yang rusak dan mencegah pemborosan biaya akibat kerugian yang dapat ditimbulkan (Junais et al., 2010). Program pengawasan mutu yang baik adalah mencakup pengawasan terhadap empat aspek, yaitu pengawasan kualitas bahan baku (ingredient quality), kualitas produk akhir (finished feed quality), kandungan zat anti nutrisi atau racun (control of toxic substances), dan kontrol terhadap proses produksi (process control) (Khalil dan Suryahadi, 1997).

Setiap organisasi yang menerapkan Quality Control (QC) harus memiliki Pedoman Kualitas yang biasanya disebut dengan Quality Manual. Quality Manual tersebut akan memberikan panduan kualitas ke berbagai unit kerja dan departemen. Dengan demikian, setiap individu dalam organisasi menyadari apa yang menjadi wewenang dan tanggung jawabnya sesuai dengan yang disebutkan dalam Quality Manual.

Pada dasarnya, Quality Control ini berkaitan dengan kegiatan operasional dan teknik yang digunakan untuk memenuhi persyaratan kualitas. Tujuan utama Pengendalian Kualitas atau Quality Control adalah memastikan bahwa produk yang akan dikirimkan ke pelanggan adalah bebas dari cacat dan dapat diterima sesuai dengan persyaratan kualitas yang ditentukan. Jika ditemukan produk yang cacat maka diperlukan tindakan perbaikan yang sesuai.

Mutu bahan baku sangat mempengaruhi hasil akhir dari produk yang dibuat. Pengendalian mutu bahan baku harus dilakukan sejak penerimaan bahan baku di gudang, selama penyimpan dan waktu bahan baku akan dimasukkan dalam proses produksi, sehingga perlu diamati sejak rencana pembelian bahan baku, penerimaan bahan baku di gudang, penyimpanan bahan baku di gudang, sampai dengan saat bahan baku tersebut akan digunakan (Prawirosentono, 2004).

Kontrol kualitas bahan baku bertujuan untuk memberikan informasi yang tepat tentang kandungan zat makanan dan antikualitas yang terkandung di dalamnya atau racun dari bahan baku, sehingga nilai nutrisi yang diinginkan dari ransum sebagai produk akhir akan didapat dengan baik dan tepat. Mutu bahan baku sangat mempengaruhi hasil akhir dari produk yang dibuat. Bahan baku dengan mutu yang baik akan menghasilkan produk akhir yang baik dan sebaliknya jika mutu bahan baku buruk akan menghasilkan produk buruk (Kurniawati, 2005). Pemilihan dan pemeliharaan kualitas bahan baku menjadi tahap penting dalam menghasilkan ransum yang berkualitas tinggi. Kualitas ransum yang dihasilkan tidak akan lebih baik dari bahan baku penyusunnya (Fairfield, 2003). Oleh karena itu, diperlukan bahan baku yang berkualitas bagus untuk digunakan dalam proses produksi. Bahan baku yang digunakan untuk produksi seharusnya keberadaannya harus bersifat kontinyu, sehingga dapat digunakan saat musim paceklik maupun musiM penghujan (Mukodiningsih et al., 2015). Pengadaan bahan baku perlu diawasi agar mengontrol kualitas setiap bahan yang diterima pada suatu pabrik. Sebelum bahan dibeli terlebih dahulu diambil sedikit sampel  untuk dianalis di laboratorium, hasil analisis tersebut kemudian dibandingkan dengan kandungan nutrisi standar. Selain itu sampel bisa diambil di beberapa tempat dan dicium, bila sampel tersebut berbau tengik atau tidak sedap lagi dan terdapat jamur pada bahan, itu menandakan bahwa bahan tersebut sudah tidak bagus lagi atau tidak berkualitas dijadikan suatu bahan (Kuswandi, 2011). Tahapan penerimaan bahan baku dimulai dari pemeriksaan bahan baku, kemudian penyerahan bahan sampel untuk diuji, proses pendistribusian yang sesuai, penyimpanan sampel dan penolakan bahan baku jika kualitas yang diberikan dari supplier tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan (Suparjo, 2010).

Bahan baku yang telah diterima gudang, selanjutnya diproses dalam mesin-mesin produksi untuk diolah menjadi konsentrat. Dalam hal ini, selain cara kerja peralatan produksi yang mengolah bahan baku dipantau, juga hasil kerja mesin-mesin tersebut dipantau dengan cara statistik agar menghasilkan barang sesuai yang direncanakan (Prawirosentono, 2004).

Pengendalian mutu selama proses produksi dilakukan dengan cara mengambil contoh (sampel) pada selang waktu yang sama. Sampel tersebut dianalisis, bila tidak sesuai berarti proses produksinya salah dan harus diperbaiki (Baedhowie dan Pranggonowati, 2005). Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum proses pengolahan adalah pemeriksaan dan perawatan alat secara periodik, pemeriksaan fungsi operasi sebelum pemakaian, pembersihan alat dari sisa proses produksi, pemeriksaan dan pengawasan akurasi fungsi alat dan bahan yang diolah pada setiap tahapan proses, serta pengendalian dan pengawasan lingkungan pabrik yang akan berpengaruh terhadap mutu  produk yang dihasilkan (Mukodiningsih et al., 2015).

Tiap tahap proses produksi harus diawasi sehingga kesalahan atau penyimpangan yang terjadi dalam proses produksi dapat diketahui, untuk segera dilakukan perbaikan atau koreksi (Attahmid, 2009). Pengawasan mutu saat proses penimbangan bahan baku perlu dilakukan dengan cara yang tepat sesuai dengan hasil formula. Akurasi timbangan harus sangat diperhatikan karena penting untuk mendapatkan mutu produk yang berkualitas dengan komposisi yang tepat sesuai dengan formula yang dikehendaki. Proses pencampuran atau mixing merupakan salah satu cara untuk mengolah bahan menjadi produk yang mempunyai sifat yang berbeda dari bahan asal (Mukodiningsih et al., 2002).

Pengendalian mutu produk akhir perlu dilakukan sebagai upaya untuk mempertahankan mutu agar tidak mengalami penurunan mutu selama proses penyimpanan dan distribusi. Produk akhir harus diawasi mutunya sejak awal proses produksi hingga tahap pengemasan, penyimpanan dan pengiriman kepada konsumen, hal ini bertujuan agar produk cacat atau rusak tidak sampai ke konsumen (Arpah, 1993). Hal-hal yang dapat dilakukan dalam rangka pengendalian mutu produk adalah pengawasan mutu atau pemeriksaan mutu produk akhir dan pemeriksaan serta pengawasan sistem pelabelan dan pengemasan, oleh karena itu pemeriksaan mutu produk akhir diperlukan untuk mendapatkan kepastian atas kesesuaian hasil dengan formulasi dan tujuan proses yang telah ditetapkan mencakup homogenitas campuran, performans fisik, kandungan nutrisi dan lain-lain (Mukodiningsih et al., 2015). Apabila produk atau produk setengah jadi sesuai dengan bentuk, ukuran dan standar mutu yang direncanakan, maka produk-produk tersebut dapat digudangkan dan dipasarkan (didistribusikan), namun apabila terdapat yang cacat, maka barang tersebut harus dibuang atau remade dan mesin perlu disetel kembali agar beroperasi secara akurat (Prawirosentono, 2004).

Sistem pelabelan dan pengemasan perlu diperhatikan karena bertujuan untuk menghindari kesalahan atau kekeliruan yang mungkin terjadi selama proses produksi, serta berfungsi sebagai dasar informasi dan penjaminan mutu pabrik atas produk yang dipasarkan. Informasi yang terdapat pada label meliputi
informasi tentang nama produk dan komposisi produk, produsen, catatan lain terkait dengan optimalisasi fungsi dan manfaat produk  (Mukodiningsih et al., 2015). Pemberian merk pada bagian luar kemasan sangat perlu dilakukan, seperti dengan mencantumkan nama atau alamat dari perusahan pembuat, jenis, nama barang, tanggal kadaluwarsa, selain itu lampiran cara penggunaan, komposisi zat dan penyimpanan sebaiknya diperhatikan (Murtidjo, 2002). Pengemasan dapat mencegah kerusakan produk akibat pengaruh
lingkungan luar yaitu kerusakan mekanis, perubahan kadar air, penyerapan air dan interaksi oksigen, selain itu pengemasan bahan maupun produknya serta pengelompokan selama penyimpanan akan mempermudah pengawasan terhadap hama selama penyimpanan. Bahan yang mudah rusak harus dikemas
dengan bahan pengemas yang tahan terhadap serangga dan pengemasan dilakukan rapat atau kedap udara (Mukodiningsih et al., 2015)

Standar pengsian yang ditetapkan yaitu standar berat produk ideal yang dikemas, jika berat produk yang dikemas kurang atau lebih besar maka kemasan dinyatakan tidak ideal dan untuk itu operator kemasan
perlu memeriksa setting mesin dan mengurangi atau menambah berat secara manual (Trisyulianti et al., 2005). Produk akhir yang telah jadi, kemudian akan dikemas dan dilakukan penyimpanan di gudang (Krisnan, 2008).

Pergudangan sangat penting untuk menyimpan bahan maupun produk sebelum didistribusikan, gudang yang baik harus menyediakan tempat penerimaan dan pemeriksaan barang yang baru datang, menyediakan tempat barang yang segera diperlukan dengan praktis dan mudah dalam pengambilan (Mukodiningsih et al., 2015). Apabila sistem pergudangan tidak ditangani dengan baik, maka akan mempengaruhi pada bahan dalam gudang. Penyusutan ini erat kaitannya dengan lama waktu penyimpanan. Proses penyimpanan ini terjadi perubahan komposisi bahan makanan yang akan menurunkan kualitas yang disimpan (Krisnan, 2008). Proses penyimpanan akan berpengaruh pada mutu  yang dihasilkan. Penyimpanan yang terlalu lama atau dalam kondisi yang kurang baik akan menurunkan mutu bahan makanan. Lama penyimpanan yang tidak sesuai dan cara menyimpan yang keliru dapat menjadi penyebab utama menjadi keras dan
menjamur serta semakin lama penyimpanan akan mengakibatkan kadar air yang semakin meningkat karena kadar air menentukan daya simpan. Bahan yang berkadar air tinggi daya simpannya lebih singkat dibandingkan ransum berkadar air lebih rendah (Yulianti, 2001).  Apabila jangka penyimpanan pendek (kurang 4 bulan) kemasan dapat disimpan dalam kemasan masal dengan memperhatikan kualiatas serta kadar air suatu bahan  (Komandoko, 2002).

Syarat gudang yang baik adalah kerangka utama kuat terdiri dari kerangka logam, dinding terbuat dari semen atau beton agar bahan-bahan yang disimpan dapat awet, ventilasi dibuat dengan memanjang di bawah atap, diberi kawat atau kasa dan saling berhadapan serta lantai gedung terbuat dari semen dan harus ada lampu penerang (Mukodiningsih et al., 2015). Lingkungan gudang juga perlu diperhatikan dalam penyimpanan, salah faktor yang mempengaruhi yaitu kelembaban gudang pabrik . Kelembapan ruang penyimpanan mempengaruhi kualitas bahan yaitu dengan semakin tingginya kelembaban udara ruang penyimpanan, maka akan terjadi absorpsi uap air dari udara ke ransum sehingga menyebabkan kadar air bahan meningkat, begitu juga sebaliknya (Yulianti, 2001). Pencegahan kerusakan bahan oleh serangga dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida dengan cara disemprotkan atau melalui pengeringan, pencampuran dengan bahan yang tajam dan menyimpan pada wadah kedap udara (Mukodiningsih et al., 2015).

Sistem penyimpanan bahan  maupun konsentrat yang baik didalam gudang dapat dilakukan dua sistem yaitu sistem First In First Out (FIFO) dan sistem Last In First Out (LIFO), Sistem FIFO diterapkan pada penyimpanan produk yang waktu pembuatannya tidak sama (Mukodiningsih et al., 2015), sedangkan sistem LIFO diterapkan untuk penyimpanan produk  di dalam gudang dengan kapasitas terbatas dan disimpan umumnya dibuat untuk jangka waktu sama (Kartadisastra, 1994).

Cara penyimpanan yang baik yaitu tidak mencampur bahan, tidak saling mencemari, bebas dari bahan yang rusak, terdapat jarak antara bahan yang disimpan dengan dinding serta barang yang disimpan dikemas dan disusun dengan baik menyerupai susunan batu bata (Mukodiningsih et al., 2015). Penyimpanan bahan  dan konsentrat dapat diberi alas berupa pallet. Pallet memiliki peranan yang cukup penting dalam penyimpanan, karena pallet mempunyai fungsi untuk melindungi bahan dari kontak langsung dengan lantai dan memperlancar sirkulasi udara serta memudahkan pengangkutan dan pemindahan produk (Harsono, 1984).

Selama proses pengangkutan dan distibusi selalu ada kemungkinan akan terjadinya kerusakan sehingga mengakibatkan penurunan mutu, oleh karena itu diperlukan pengandalian mutu selama distribusi dan transportasi untuk mencegah adanya kerusakan. Pencegahan adanya kerusakan selama proses distribusi dapat dilakukan dengan mengusahakan barang yang dikirim tidak lecet, ataupun terhimpit serta memilih alat yang sesuai dengan sifat barang yang dikirim sehingga diperlukan kontrol bahan  atau konsentrat yang akan dikirim ke konsumen (Arpah, 1993). Pengendalian mutu yang terjadi jika terdapat kerusakan akibat benturan antar pengemas maupun kemasan dengan dinding alat pengangkut yaitu dengan memberikan bantalan-bantalan pada pinggir-pinggir alat pengangkut atau dengan penggunaan wadah atau kemasan yang tahan terhadap tekanan (Mukodiningsih et al., 2015).

Teknik dan Alat yang digunakan Quality Control (QC)

Terdapat tiga teknik Quality Control yang umum digunakan oleh sebuah perusahaan manufakturing yaitu Inspeksi (Inspection), pengambilan sample secara statistik (Statistical Sampling) dan Tujuh alat pengendalian kualitas (QC Seven Tools).

Inspeksi atau Inspection adalah menguji produk-produk yang akan dikirim ke pelanggan untuk memastikan tidak ada yang cacat dan sesuai dengan persyaratan kualitas yang telah ditentukan.

Statistical Sampling adalah memilih sejumlah unit/produk secara acak dari suatu batch atau lot untuk diperiksa kembali dengan tujuan untuk memastikan produk yang akan dikirimkan tersebut tidak terdapat produk cacat dan sesuai dengan persyaratan kualitas yang ditentukan.

QC Seven Tools atau Tujuh alat pengendalian kualitas terdiri dari Histogram, Scatter Diagram, Control Chart, Check Sheet, Pareta Diagram, Cause and Effect Diagram dan Flow Chart. Alat-alat tersebut digunakan untuk membantu menemukan ketidaksesuai dan kecacatan pada produk.

Quality Assurance (QA)

Quality Assurance (QA) atau jika diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Indonesia adalah “Penjaminan Kualitas”. Istilah “Assurance” atau “Jaminan” menyatakan suatu kepastian ataupun kepercayaan terhadap produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Quality Assurance (QA) menjamin kualitas produk yang dihasilkan dan memastikan proses pembuatan produk tersebut sesuai dengan standar dan persyaratan yang telah ditentukan.

Quality Assurance merupakan suatu pendekatan yang berbasis PROSES (process base approach) yang tujuan utamanya adalah mencegah produk cacat mulai dari tahap perencanaan (planning) hingga tahap pengiriman produk ke pelanggan sehingga menghindari terjadi pengerjaan ulang (rework) dan keluhan pelanggan yang akan merugikan reputasi perusahaan serta pengeluaran biaya-biaya akibat kualitas yang buruk.

Quality Assurance adalah proses yang pro-aktif yaitu melakukan penekanan terhadap perencanaan, dokumentasi dan  penentuan panduan kualitas pada awal proyek dimulai untuk memahami persyaratan dan standar kualitas yang diharapkan. Setelah semua persyaratan dan standar kualitas yang diinginkan tersebut di-identifikasikan, maka diperlukan pengembangan perencanaan untuk memenuhi persyaratan dan standar kualitas yang diinginkan tersebut.

Teknik dan Alat Quality Assurance

Terdapat tiga teknik ataupun alat yang digunakan untuk menjamin kualitas suatu produk yaitu Quality Audit, Process Analysis, Quality Management and Control Tools.

Dalam Quality Audit, suatu tim ahli yang berasal dari pihak ketiga eksternal (bukan dari internal perusahaan) akan melakukan peninjauan proses dan prosedur yang telah ditentukan oleh perusahaan. Apabila ditemukan perbedaan antara apa yang dilakukan dengan apa yang dinyatakan dalam prosedur atau proses maka perusahaan yang bersangkutan (perusahaan yang diaudit) diminta untuk melakukan tindakan perbaikan (Corrective Action). Pihak ketiga dari eksternal tersebut juga akan memberikan saran-saran untuk perbaikan pada proses-prosesnya. Quality Audit ini memastikan proses dan prosedur yang telah disetujui dan yang telah ditentukan tersebut telah dilaksanakan dengan baik dan diikuti oleh pihak yang bersangkutan.

Process Analysis adalah menganalisis setiap proses untuk menemukan kemungkinan (potensi) terjadinya produk cacat ataupun proses-proses yang tidak memiliki nilai tambah kemudian carikan akar penyebabnya dan lakukan tindakan perbaikannya.

Quality Management dan Control Tools mencakup berbagai teknik diagram yang membantu untuk menemukan permasalahan, ide perbaikan, pengambilan keputusan dan prioritas permasalahan yang harus diselesaikan. Contoh alat-alat Quality Management and Control Tools ini diantaranya seperti Diagram Pohon, Diagram Afinitas, Diagram Jaringan dan lain-lainnya.

Perbedaan Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA)

Meskipun sasaran sama tentang kualitas tetapi QA dan QC adalah dua pekerjaan bidang yang berbeda, dimana QA itu adalah prosedur untuk pencapaian mutu. Misalnya Quality plan beserta dokumen pendukungnya. Dan QC adalah aktifitasnya (pelaksanaa dari prosedur tsb) yang dibuktikan dengan record-record.

Menurut definisi pada ISO 9000:2000 (QMS-Fundamentals and Vocabulary), adalah sbb:

Quality control (lihat section 3.2.10); part of quality management focused on fulfilling quality requirements.

Quality assurance (lihat section 3.2.11); part of quality management focused on providing confidence that quality requirements will be fulfilled.

Jadi kalau coba diterjemahkan, secara singkat QC terfokus pada pemenuhan persyaratan mutu (produk/service) sedangkan QA terfokus pada pemberian jaminan/keyakinan bahwa persyaratan mutu akan dapat dipenuhi. Atau dengan kata lain, QA membuat sistem pemastian mutu sedangkan QC memastikan output dari sistem itu memang benar-benar memenuhi persyaratan mutu.

Kalau dari definisi ini, kegiatan-kegiatan inspeksi dan uji (in-comingin-processoutgoing) akan masuk kategori QC, sedangkan hal-hal seperti perencanaan mutu, sertifikasi ISO, audit sistem manajemen, dsb tentu masuk kategori QA.

Beberapa perusahaan, saat ini tidak lagi membedakan antara QA dan QC di dalam operasional quality management-nya. Cukup disebut departemen Quality, di dalamnya ada kegiatan merancang jaminan bahwa persyaratan mutu akan dipenuhi dan sekaligus bagaimana memenuhi persyaratan mutu tersebut.

QA = Quality Assurance , to lead and operated by assure of an organization successfully, it is necessary to direct and control it in a systematic and transparent manner. Maksudnya adalah meyakinkan/menjamin secara kualitas dengan suatu sistematis kerja dan keterbukaan untuk keberhasilan suatu pekerjaan secara keseluruhan organisasi di setiap lini dengan melalui sistem control.

QC = Quality Control, to take control of quality by procedural and applicable reference that implemented direct to process system in good and full fill of minimum requirement as finally results. Maksudnya adalah pengendalian mutu dengan prosedur kerja berdasarkan referensi yang dapat diterapkan dan diimplementasikan langsung di proses pekerjaan tersebut untuk memenuhi persyaratan minimum sebagai hasil akhir pekerjaan.

Hubungan pendeknya adalah bahwa QA yang meyakinkan / menjamin QC.

QC adalah sistem kendali yang terintregrasi didalam proses, dia berfungsi mencegah terjadinya defect/ non corformity output, salah satu cara yang sudah kita kenal antara lain right from begining atau benar sejak awal. metode ini terbukti mampu mengeliminir non corformity(ketidaksesuaian) pada output dengan pencegahan.

Sedangkan QA lebih tinggi letaknya dalam struktur organisasi, dia memberi terhadap arahan yang keputusan akhirnya adalah layak atau tidaknya produk dikeluarkan. Proses ini tentunya melibatkan proses-proses lainnya seperti produksi, inventorymaintenance. QA lebih menjaga corporate image dengan mencegah defect ke konsumen. parameternya hanyalah hitam-putih dengan nilai yang telah dirumuskan dalam fungsi yang kita sebut kualitas.

QC sering membuat suatu organisasi menjadi menggelembung dan gemuk, jika kita tidak memahami konsep produktifitas. karena man power planning-nya akan menggelembung atas nama azas independent, sebenarnya orang-orang yang terlibat dalam proses tersebut itulah fungsi QC. orang Jepang sangat paham akan hal ini dan melahirkan suatu model management yang disebut TQC dengan produknya yang kita kenal sebagai GKM (Gugus Kendali Mutu). kesadaran mereka untuk memperbaiki aktifitas yang tidak perlu dan mengefisienkan langkah proses diluar jam dan lokasi kerja (walaupun sambil minum di kedai minuman atau makanan). Sesungguhnya proses PDCA sedang berjalan lewat diskusi non formal.

ini bukan hal yang mudah sebab “Management is no Sains

contohnya : Total Quality Management berasal dari Mike Robson, seorang inggris, berdasarkan prinsip bahwa setiap pekerja secara individu mempunyai tanggung jawab terhadap kualitas pekerjaannya dan pemikiran ini dikembangkan juga kepada para pemasok supaya perusahaan dapat memproduksi barang dan atau jasa yang berkualitas.

Prinsip ini dikembangkan dari Total Quality Circle yang berasal dari Jepang, dimana para pekerja berkumpul dalam gugus kendali mutu untuk mendiskusikan dan memecahkan masalah dan apa yang dapat dilakukan untuk perbaikan dan peningkatan kualitas. Hingga “poke yoke” dari Shigeo Shingo yang menjadi dasar pengembangan SIX SIGMA.

Secara fungsi QC merupakan orang operasional yang langsung melakukan aktivitas checking atau inspeksi terhadap produk, kalau di lini produksi biasanya ada seoarang yang berfungsi sebagai pengontrol kualitas produk seperti sampling dan aktifitas lainnya.

Sedangkan untuk QA, dia lebih berperan sebagai analyst untuk memperbaiki mutu produk, dan datanya bisa diperoleh dari data sampling orang QC atau feedback dari internal perusahaan ataupun adanya quality complain dari luar perusahaan yaitu customer. Dan QA biasanya juga berperan sebagai sertifikasi dari produk tersebut…

Jadi intinya QC adalah seorang executor/operator dan QA adalah conceptor.

QA : Penjamin Mutu …

QC : Pengendali Mutu…

Kembali ke perbedaan QC dan QA. Quality control (pengendalian mutu) adalah kegiatan untuk memantau, mengevaluasi dan menindaklanjuti agar persyaratan mutu yang ditetapkan tercapai (Productprocessserviceinspectiontestingsamplingmeasurement dan calibration).

Sedangkan Quality Assurance (penjaminan mutu) adalah semua tindakan terencana, sistematis dan didemonstrasikan untuk meyakinkan pelanggan bahwa persyaratan yang ditetapkan “akan dijamin” tercapai. Salah satu elemen dari QA adalah QC. Elemen yang lain yaitu: Planningorganization for qualityEstablished ProcedureSupplier SelectionCorrective ActionDocument controltrainingAudit dan Management review.

QA (Quality Assurance) : tugasnya memahami specification customer dan standard yang berhubungan dengan produk, kemudian membuat / menentukan cara inspectionnya (berupa prosedur) dan mendokumentasi hasil inspectionnya (manufacturing data report). QA lebih banyak paper work, umumnya memiliki skill inspection yang baik dan skill menulis procedure dan familiar dengan engineering & industrial standards.

QC (Quality Control) : tugasnya melakukan inspection berdasarkan prosedur yang dibuat dan disahkan oleh QA. QC lebih banyak melakukan inspection pada process manufacturing dan membuat laporannya

Dalam perusahaan besar, biasanya QA dan QC dipisah dan memiliki pimpinan masing-masing. Sedang dalam perusahaan menengah / kecil kebanyakan digabung.

QA ada di dalam suatu perusahaan yg sudah establish/ memiliki sertifikasi ISO. Dan ruang lingkupnya lebih besar dalam menjamin kualitas produk dan juga berhak mereview suatu standart/metode analisa demi menjaminan mutu. Sedangkan QC ruang lingkupnya hanya pengontrol tidak seperti QA.

Jika terdapat QA pd suatu perusahaan, maka bisa dipastikan terdapat QC di dalamnya.

Berikut ini adalah beberapa perbedaan antara Quality Control dan Quality Assurance.

  1. Quality Assurance (QA) fokus pada pencegahan cacat sedangkan Quality Control (QC) fokus pada identifikasi atau menemukan cacat.
  2. Di Quality Assurance (QA), kita mencari cara yang paling efektif untuk menghindari cacat sedangkan di Quality Control (QC) kita untuk berusaha untuk mendeteksi kecacatan dan kemudian mencari cara perbaikan untuk membuat kualitas produk menjadi lebih baik.
  3. Quality Assurance (QA) adalah proses pro-aktif sedangkan Quality Control (QC) adalah proses reaktif.
  4. Quality Assurance (QA) merupakan pendekatan berdasarkan proses (process base approach) sedangkan Quality Control (QC) merupakan pendekatan berdasarkan produk (product base approach).
  5. Quality Assurance (QA) melibatkan proses dalam menangani masalah kualitas sedangkan Quality Control (QC) melakukan verifikasi terhadap kualitas produk itu sendiri (pada produknya).
  6. Kualitas Audit (Quality Audit) merupakan salah satu contoh proses pada Quality Assurance (QA) sedangkan Inspeksi dan Pengujian (testing) terhadap produk merupakan contoh proses pada Quality Control (QC).

Manfaat Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA)

Berikut ini adalah beberapa manfaat adanya Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA) di industri manufakturing.

  1. Menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.
  2. Menghindari pemborosan (waste).
  3. Meningkatkan efisiensi operasional.
  4. Memberikan kepuasan pada pelanggan.
  5. Mengurangi pekerjaan ulang yang merugikan perusahaan dalam segi finansial maupun waktu.
  6. Memotivasi tim dalam bekerja lebih baik dengan kualitas yang tinggi.
  7. Meningkatkan kepercayaan pelanggan.

Reference:

https://jakfarsegaf.wordpress.com/2009/08/13/perbedaan-antara-quality-assurance-qa-dan-quality-control-qc/

https://ilmumanajemenindustri.com/perbedaan-pengertian-quality-control-qc-quality-assurance-qa/

Dewi A.K., Utama C.S., Mukodiningsih S., 2014. Kandungan Total Fungi Serta Jenis Kapang dan Khamir Pada Limbah Pabrik Pakan Yang Difermentasi Dengan Berbagai Arns Startex ‘Starfung’. Agripet, 14(2):102-106.


PRAY FOR SURABAYA “SUROBOYO WANI”

PRAY FOR SURABAYA “SUROBOYO WANI”

Jangan kalian dustakan isi kitab kita di Al Maidah 32, #suroboyowani mungsuh teroris & ISIS