“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

KISAH DAN MOTIVASI

A’touna Et-Tufoole,  Beri Kami Masa Kecil

A’touna Et-Tufoole,  Beri Kami Masa Kecil

جينا نعيدكم… بالعيد منسألكم
Jeena N’ayedkon … Bel-Eid Mnes’alkon
Kami datang dengan Ucapan Selamat Berlibur …Dan selama liburan kami bertanya padamu

ليش ما في عنا… لا أعياد ولا زينة 
Lesh Ma Fee ‘Enna … La ‘Ayyad Wala Zeineh
Kenapa kami tidak punya Liburan ataupun Dekorasi ( Perhiasan )

 يا عالم
Ya ‘Alam
Wahai Dunia

أرضي محروقة 
Ardhi Mahroo’a 
Tanahku Habis terbakar

أرضي حرية مسروقة
Ardhi Huriyyeh Masroo’a
Tanahku dicuri kebebasannya

سمانا عم تحلم… عم تسأل الأيام 
Samana ‘Am Tehlam … ‘Am Tes’al El-Ayam
Langit kami Sedang bermimpi … bertanya kepada hari hari

وين الشمس الحلوة… ورفوف الحمام
Wein Esh-Shames El-Helwe … W-Rfouf El-Hamam
Dimana matahari yang indah … dan di mana kipasan sayap  burung merpati ?

يا عالم
Ya ‘Alam
Wahai Duniaa

أرضي محروقة
Ardhi Mahroo’a
Tanahku Habis terbakar

أرضي حرية مسروقة
Ardhi Huriyyeh Masroo’a
Tanahku dicuri kebebasannya

أرضي زغيرة… متلي زغيرة
Ardhi Zgheere … Metli Zgheere
Tanahku Kecil, seperti aku, itu kecil

ردولها السلام… اعطونا الطفولة
Redoulha Es-Salam …. ‘Atouna Et-Tufoole
Berikan kedamaian kembali padanya, beri kami masa kecil

اعطونا الطفولة
A’touna Et-Tufoole 
beri kami masa kecil

اعطونا الطفولة
A’touna Et-Tufoole
beri kami masa kecil

أعطونا الطفولة
A’touna Et-Tufoole
beri kami masa kecil

اعطونا… اعطونا… اعطونا السلام
A’touna … ‘Atouna … ‘Atouna Es-Salam
Beri Kami … Beri Kami … Beri kami Kedamaian .

Iklan

PROSES SCALING PEMBERSIHAN KARANG GIGI

PROSES SCALING PEMBERSIHAN KARANG GIGI
Jadi sebetulnya gue ini penakut kelas kakap -okelah, sebut saja PENGECUT-. Kalo uda denger yang namanya dokter atau semacamnya, beeuuhh jangankan bulu kaki.. Bulu ketek aja uda pada berdiri. Tapi selama 29 tahun ini gue hidup tanpa rasa PD yang tinggi. Why? Karena karang gigi gue yang hebohnya gak ketolongan. Biasanya nih mayoritas karangnya terletak di bagian belakang gigi bawah, nahh kalo gue.. karangnya uda sampe di depan. Iya, di depan. Uda kayak pagar gitu. Padahal gue rajin gosok gigi. Sehari sekali tiap pagi! -yayaya, anda benar kawan.. Gosok gigi seharusnya minimal 2x sehari. I know I know!!- Alhasil istri marah-marah dan memaksa diriku untuk pergi ke dokter gigi untuk scaling alias bersihin karang gigi! Dengan percekcokan yang panjang, akirnya dengan hati berat gue setuju. FYI, sempet nangis tau ga sih.
Daaaaann tibalah hari H untuk bertemu dengan sang dokter!  Waktu itu otak serasa blank, pokoknya tau tau gue uda duduk di kursi panas. Melihat alat alatnya pun gue uda ga sanggup dan akirnya memutuskan untuk merem dan tidak mau tahu. Tiba2 ada alat yang dimasukin ke mulut gue.. Getar2 gak jelas gitu. Tapi anehnya sama sekali gak ada rasa sakit. Catat, SAMA SEKALI. Tapi linu ga? Kalo disuruh kasih nilai 1-10, yaahh gue kasih nilai 3 deh. Linu nya tuh nyaris gak kerasa.. Paling cuma linu bentar 1-2 detik. Nahh terus di mulut tiba2 serasa ada gigi yang copot gitu, sempet kaget sih.. eehh pas disuruh kumur ternyata itu karang gigi. Akhirnya setelah proses scaling yang cepat (antara 10-15menitan doang) disuruh kumur lagi, kali ini ada darah yang keluar. Tapi darahnya juga gak kerasa kok. Gue malah ga sadar kalo berdarah. Keluar2 dari ruangan dokter -yang tadinya terlihat seperti rumah hantu- gue langsung senyum2 lega sambil ngaca mulu. Wahhh, buseett… Kinclong banget nih gigi.. Jadi serasa enteng gak punya gigi (ya jelas lah, orang sebelumnya karang2 udah menumpuk tebel gtu).
Nahh jadi guys, JANGAN TAKUT SCALING! Karna beneran scaling itu sama sekali nggak sakit. Zaman dulu masih pakek scaler yag manual (jadi proses pembersihannya dicongkel gitu), kalo zaman sekarang dokter2 semua udah pakek ultrasonic scaler (dijamin alat ini gak bikin sakit cenat cenut). Ingat guys.. Scaling itu penting banget untuk kesehatan gigi. Gamau ompong kan ntar? Gak kebayang kan karang2 gigi menjalar sampai ke depan (kayak gue dulu)? Apalagi nafas bau gara2 karang gigi.. Makanya bagi yang belum pernah scaling, go!!! Scaling secepatnya sebelum terlambat 🙂
Sekarang mah gue udah PD senyum sana sini. Hihihii 😀
FYI, biaya scaling karang gigi sekarang sekitar Rp 200.000 untuk rahang atas dan bawah (Rp 100.000/rahang)  (DI POLIGIGI RUMAH SAKIT DAERAH SIDOARJO).
Pembersihan karang gigi / scaling-perlukah? Bagaimana prosedurnya?

Apakah anda sudah lama tidak mengecek gigi ke dokter gigi?mungkin sudah saatnya gigi anda melakukan pembersihan karang gigi/ scaling

Apakah scaling itu?scaling adalah perawatan yang paling umum untuk mencegah atau mengobati penyakit gusi/ periodontal. Perawatan ini meliputi pembersihan kalkulus/karang gigi dan plak yang menempel pada permukaan gigi, terutama area di sekitar dan di bawah garis gusi.

Mengapa karang gigi ini perlu dibersihkan? Plak adalah substansi lengket penuh bakteri yang terbentuk pada permukaan gigi. Bila tidak dibersihkan dalam jangka waktu yang cukup lama, maka akan mengeras sehingga menjadi kalkulus/ karang gigi yang tidak dapat dibersihkan hanya dengan penyikatan gigi saja. Tidak seperti permukaan gigi yang halus, permukaan karang gigi kasar sehingga plak yang berisi banyak bakteri mudah menempel. Bakteri-bakteri inilah yang menyebabkan penyakit gusi atau disebut juga gingivitis. Pada gingivitis dapat dijumpai gusi bewarna kemerahan, bengkak dan mudah berdarah. Bila tidak segea diobati dan dilakukan pembersihan karang gigi, maka infeksi akan menyebar ke tulang di bawah gusi menyebabkan kerusakan dan penurunan ketinggian tulang (periodontitis). Penurunan ketinggian gusi dan tulang ini akan menyebabkan gigi terlihat lebih ‘panjang’ karena tereksposnya akar gigi yang harusnya tertutup tulang dan gusi. Pada kasus yang sudah parah bisa menyebabkan gigi goyang dan akhirnya harus dicabut.

Bagaimana proses scaling dilakukan?

Dokter gigi biasanya menggunakan instrumen ultrasonik untuk memecah/ melepaskan karang dari permukaan gigi. Instrumen ini juga menyemprotkan air pada saat yang bersamaan untuk membersihkan sisa-sisa karang gigi dan untuk mempertahankan suhu dari area yang dibersihkan.

Kadang kala juga digunakan hand instrument  untuk menghilangkan karang gigi yang ukurannya lebih kecil dan untuk menghaluskan permukaan gigi.

Setelah karang gigi dibersihkan, gigi kemudian di-polish menggunakan brush atau rubber cup dan pasta profilaksis untuk membuat permukaan gigi lebih halus dan mengkilat.

dicuplik dari : http://viodevens.blogspot.co.id/ dan http://jb-dental.com/


Apakah Sekolah Kita Sudah “Beradab”?

Apakah Sekolah Kita Sudah “Beradab”?

oleh : Irfan Amalee

poster pendidikan

Ada sebuah tulisan dari saudara Irfan Amalee yang mampu mengguncang hati saya, bagaimana lemahnya standarisasi dalam pendidikan dimana beberapa waktu terakhir ini yang selalu dipacu adalah nilai,,nilai,,dan nilai,,sehingga kita akan lebih terkejut bila mendengar ada anak yang tidak lulus UN lantas bertindak nekat mengakhiri hidupnya,,,karena kita telah melupakan aspek mental dan moral sebagai pokok tujuan utama yang harus dibangun dalam pendidikan selain keilmuan. Kita juga melupakan aspek pelayanan dan mutu pendidikan yang telah bergeser kepada aspek penilaian betapa megahnya bangunan sekolah, betapa banyaknya murid dari kalangan elit yang bersekolah disana dan berapa banyak pajangan dinding akan prestasi lomba-lomba para muridnya. Berikut kisah yang dapat kita petik dari tulisan artikel sudara Irfan Amalee di kompasiana.

Setahun terakhir ini saya terlibat membantu program Teaching Respect for All UNESCO. Saya juga membantu sejumlah sekolah agar menjadi sekolah welas asih (compassionte school). Dua hal di atas membawa saya betemu dengan sejumlah sekolah, pendidik, hingga aktivis revolusioner dalam menciptakan pendidikan alternatif. Di benak saya ada satu pertanyaan: sudah se-compassionate apa sekolah kita? Sejauh mana sekolah menumbuhkan sikap respect pada siswa dan guru, serta semua unsur di lingkungan sekolah? Karena compassion (welas asih) dan respect (sikap hormat dan emphaty) adalah bagian dari adab (akhlak) maka pertanyaannya bisa sedikit diubah dan terdengar kasar: sudah seber-adab apakah sekolah kita?

Rekan saya melakukan sebuah experimen yang menarik. Dia berkunjung ke Sekolah Ciputra, sekolah millik pengusaha Ciputra yang menekankan pada karakter, leadeship dan entrepreneurship serta memberi pengharagaan pada keragaman agama dan budaya. Pada kunjungan pertama rekan saya itu datang dengan baju necis menggunakan mobil pribadi. Di depan gerbang Pak Satpam langsung menyambut hangat, “Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” Rekan saya menjawab bahwa dia ingin bertemu dengan kepala sekolah, tetapi dia belum buat janji. Dengan sopan Pak Satpam berkata, “Baik, saya akan telepon pak kepala sekolah untuk memastikan apakah bisa ditemui, bapak silakan duduk, mau minum kopi atau teh?” Pelayanan yang begitu mengesankan!

Di waktu lain, rekan saya datang lagi, dengan penampilan yang berbeda. Baju kumal, dengan berjalan kaki. Satpam yang bertugas memberikan sambutan yang tak beda dengan sebelumnya, diperlihakan duduk dan diberi minuman. Saat berjalan menuju ruang kepala sekolah, satpam mengantarkan sambil terus bercerita menjelaskan tentang sekolah, bangunan, serta cerita lain seolah dia adalah seorang tour guide yang betul menguasai medan. Bertemu dengan kepala sekolah tak ada birokrasi rumit dan penuh suasana kehangatan. Padahal rekan saya itu bukan siapa-siapa, dan datang tanpa janjian sebelumnya.

Melatih satpam menjadi sigap dan waspada adalah hal biasa. Tetapi menciptakan satpam dengan perangai mengesankan pastilah bukan kerja semalaman. Pastilah sekolah ini punya komitmen besar untuk menerapkan karakter luhur bukan hanya di buku teks dan di kelas. Tapi semua wilayah sekolah, sehingga saat kita masuk ke gerbangnya, kita bisa merasakannya. Itulah hidden curricullum, culture.

Di kesempatan lain, saya bersama rekan saya itu berkunjung ke sebuah sekolah Islam yang lumayan elit di sebuah kota besar (saya tidak akan sebut namanya). Di halaman sekolah terpampang baliho besar bertuliskan, “The most innovative and creative elementary school” sebuah penghargaan dari media-media nasional. Dindinging-dinding sekolah dipenuhi foto-foto siswa yang menjuarai berbagai lomba. Ada dua lemari penuh dengan piala-piala. Pastilah sekolah ini sekolah luar biasa, gumam saya.

Kami berjalan menuju gerbang sekolah menemui satpam yang bertugas. Setelah kami mengutarakan tujuan kami ketemu kepala sekolah, satpam itu dengan posisi tetap duduk menunjuk posisi gerbang dengan hanya mengatakan satu kalimat, “lewat sana”.

Kami masuk ke sekolah tersebut. Di tangga menuju ruangan kepala sekolah, ada seorang ibu yang bertugas menjadi front office menghadang kami dengan pertanyaan, “mau kemana?” dengan wajah tanpa senyum. Saat tiba di ruangan kepala sekolah, kebetulan sat itu mereka sedang rapat. Sehingga kami harus menunggu sekitar 45 menit. Selama kami duduk, berseliweran guru datang dan pergi tanpa ada ada yang menghampiri dan bertanya, ” ada yang bisa saya bantu?”

Akhirnya kepala sekolah mempersilakan kami unutk masuk ke ruangannya. Baru ngobrol sebentar, tiba tiba seseorang di luar membuka pintu dan memasukkan kepalanya menanyakan sesuatu kepada kepala sekolah yang tengah mengobrol dengan kami. Tak lama dari itu tiba-tiba seorang guru masuk lagi langsung minta tanda tangan tanpa peduli bahwa kami sedang mengobrol. Karena kesal, akhirnya kepala sekolah itu mengunci pintu agar tak ada orang masuk. Dalam obrolan, saya sempat bertanya, apa kelebihan sekolah ini? Kepala sekolah terlihat berpikir keras selama beberapa menit sampai akhirnya menjawab,” ini seperti toko serba ada, semua ada”. Dari jawaban itu saya baru faham, pantas saja satpam sekolah ini tak punya sense of excelent service, kepala sekolahnya saja tak biss menjelaskan apa value preposition sekolahnya.

Kemegahan bangunan, serta berbagai prestasi yang telah diraih, rasanya menjadi tak ada apa-apanya. Karena bukan itu yagn membaut kita terkesan, melainkan atmosfir sekolah, hidden curricullum, culture.

Perjalanan kami lanjutkan ke sekolah Islam di tengah kampung. Bangunannya kecil sederhana. Pendiri sekolah ini seorang lulusan STM, tetapi mengabdikan separuh hidupnya untuk merumuskan dan menerapkan konsep  sekolah kreatif yang dapat memanusiakan manusia. Saat ditanya tentang sekolahnya, dengan lancar dia menjelaskan konsep sekolah kreatif yang memberikan keras besar pada kreativitas anak dan guru. Ruang kelas dibuat tanpa daun pintu. Hanya lubang lubang besar berbentuk kotak, lingkaran, bulan sabit, bintang. Sehingga ketika guru tidak menarik, siswa boleh keluar kapan saja. Tak ada seragam sekolah dan buku pelajaran.

Kami duduk di pelataran sekolah sambil menyaksikan keceriaan anak-anak yang tengah bermain. Selama kami duduk, ada tiga orang guru dalam waktu yang berbeda menghampiri menyambut kami dan bertanya, “ada yang bisa yang saya bantu?”. Saya menangkap semangat melayani para guru tersebut. Mereka ingin memastikan tak ada tamu yang tak dilayani dengan baik.

Saat mengamati anak-anak bermain, saya melihat ada seorang anak yang jatuh dan menangis. Saya menebak bahwa guru akan segera membantu. Tetapi tebakan saya salah, ternyata dua teman sekelasnya datang menghibur dan membantunya untuk berdiri dan memapahnya ke kelas. Saya cukup terkesan.

Di sekolah yang sederhana ini saya menangkap aura kebahagiaan dari siswa dan guru-gurunya. Saya tak perlu tahu kurikulum dan sistemnya, saya sudah bisa merasakannya. Konsep dan visi pendirinya, ternyata bukan hanya di kertas. Saya bisa melihat dalam praktik. Itulah hidden curricullum, culture.

Pada kesempatan lain rekan saya pernah juga terkesan oleh siswa sekolah internasiona yang kebanyakn siswanya berkebangsaan jepang. Saat itu rekan saya akan mengisi acara di depan siswa pukul 10 pagi. Setengah sepuluh aula masih kosong. Tak ada orang tak ada kursi. Lima belas menit sebelum acara para siswa datang, mengambil kursi lipat dan meletakkannya dalam posisi barisan yang rapi. Seusai acara, setiap siswa kembali melipat kursi dan meletakkannya di tempat penyimpanan, hingga ruangan kembali kosong dan bersih seperti semula. Itulah culture.

Dari cerita di atas, saya semakin tidak tertarik pada prestasi apa yang diraih sekolah, semegah apa sebuah sekolah. Saya lebih tertarik bagaimana budaya sekolah dibangun dan diterapkan? Banyak sekolah yang menginvestasikan begitu banyak waktu dan pikiran untuk menyabet berbagai penghargaan. Tapi tak banyak yang serius membuat sekolah menjadi berharga dengan karakter dan budi pekerti. Banyak guru dan pelatih didatangkan untuk memberikan pembinaan tambahan pada siswa agar dapat menang lomba. Tapi sedikit sekali pelatihan service excellence untuk satpam dan karyawan. Dinding sekolah dipenuhi foto-foto siswa yang juara ini juara itu, tapi jarang sekali foto sesorang siswa dipajang karena dia melakukan sebuah kebaikan. Kehebatan lebih dihargai daripada kebaikan. Prestasi lebih berharga dari budi pekerti.

Kita harus segera mengubah sistem pendidikan kita masih berorientasi pada ta’lim (mengajarkan) menjadi ta’dib (penanaman adab). Dalam konsep compassionate school, tadib harus diterapkan secara menyeluruh (wholse school approach) meliputi tiga area, pertama SDM yaitu guru, karyawan, orangtua, hingga satpam, kedua kurikulum, dan yang ketiga iklim atau hidden curricullum.

Sebuah sekolah bukanlah pabrik yang melahirkan siswa-siswa pintar. Tapi sebuah lingkungan yang membuat semua unsur di dalamnya menjadi lebih ber-adab. Untuk mengukur apakah sebuah sekolah sudah menjadi compassionate school tak serumit standar ISO. Cobalah berinteraksi dengan satpam sekolah, amatilah bagaimana guru beriteraksi, siswa bersikap. Rasakan atmosfirnya. Jika preastasi akademik bisa dilihat di selembar kertas, budi pekerti hanya bisa kita rasakan.


7 TAHUN

7 TAHUN

Masa muda adalah sebuah inti dari diri ini untuk membangun sebuah masa depan. Masa muda adalah sebuah masa dimana membuat kesalahan dan segera memperbaikinya sebelum menyesali segalanya. Menjadi baik itu penting, tapi diri ini tidak akan mampu menilai baik jika kita tidak mampu menilai seberapa buruknya masa lalu yang telah diselesaikan. Membuat kesalahan perlu, namun semua ada batasnya itulah yang sering dikatakan bahwa nakal itu boleh asal tidak merusak dan merugikan orang lain.

    Banyak kawan bertanya mengapa saya lulus begitu lama? 7 tahun tepat lamanya, tapi menurut regulasi yang ada masa kelulusan di transkrip saya adalah 6 tahun 11 bulan Karena tidak pernah ada yg lulus 6 tahun 12 bulan alias wafat di DO. Mengapa 7 tahun? Sebuah kejujuran dihati terdalam saya sangat menikmati 7 tahun itu dan saya ingin selalu kehidupan saya di 7 tahun itu. Lantas apakah saya salah memilih untuk sekian lama?

Terjatuh lalu bangkit, tercurangi lalu membalas kasih, menolong tapi tak berbalas budi, belajar lalu bersyukur saat mampu berkarya, berjanji kasih namun hanya untuk teringkari, dihina dengan rela untuk membentuk jiwa yang kaya pembuktian nanti, terus mencoba walaupun tertatih-tatih demi mendapat maha ilmu pengalaman ,,yah semua itu untuk mencapai derajat hati yang semakin tinggi, menggapai derajat ilmu yang bergemuruh dan menggaliderajat akhlak sebagai karunia ilahi yang mutlak.

    Tujuh tahun, bukanlah sebuah waktu yang singkat namun sungguh kurasa amat singkat. Ilmu Allah tidak terbatas, sunggu nista jiwa dan akalku jika berpuas diri dengan waktu singkat kan sekedar mengetahuinya. Tidak, tujuanku belajar dan kuliah bukanlah sekadar sebuah nilai tiga koma sekian dan waktu 3,5-4 tahun, ada yang lebih tinggi lagi yakni kemanfaatan ilmu. Maha raja dalam diriku adalah hatiku, apapun titahnya akan selalu dilaksanakan oleh mahapatih pikiranku. Saat hatiku berkata belum, belum cukup,,, maka pikiranku akan selalu mencari dan mencari hingga tercukupi segalanya. Tujuh tahun yang kulalui menjadi terasa singkat.

    “Bekerja adalah sebuah hal yang mudah jika hati dan pikiranku telah kaya”, itulah ujar kata hatiku. Semua akan menghargai ilmuku, akan menghargai etiketku, akan menghargai daya juangku dan akan menghargai pengalaman hidup yang menempaku. Waktu 3,5-4 tahun akan terbeli dengan ijazah dan senyum terindah orang tua. Waktu 7 tahun akan tertebus dengan hati tanpa keegoisan dan pengalaman berbagai ilmu kehidupan. Ilmu sangat mudah dicari namun sangat sulit dibagi, lantas untuk apakah ilmu yang kawan cari? Untuk dibawa matikah?

    Berbisnis? Mengapa tidak, Menjadi praktisi industry? Saya juga punya bekal, memulai dari bawah? Mental saya siap, Menjadi leader yang baik? Saya telah mengalaminya juga. Lantas apa yang kawan tertawakan mengenai 7 tahun diriku yang katanya telah kubuang sia-sia?

    Lulusan 7 tahun tidak mampu unjuk gigi dan bekerja?

    Dari sekian lamaran yang saya lempar dalam waktu 3 bulan, saya telah dipanggi 6 perusahaan. Sejumlah 2 perusahaan saya tolak dengan menurunkan nilai karena tidak ada waktu khusus untuk jumatan, 1 perusahaan hingga mencapai tahap akhir outbound, 1 perusahaan karena tidak mendapat ijin orang tua keluar pulau, 1 gagal di opsi wawancara karena ada kandidat yang lebih punya experience kerja dan yang terakhir adalah tempat saya bekerja. Cukup waktu bagi saya untuk 3 bulan menganggur kawan, seorang mahasiswa 7 tahun lulus yang tak berbekal ijazah dalam mencari kerja. Hati saya telah memutuskan untuk menentukan hidup pada takdir kehidupan, jika dalam 4 bulan saya tidak bekerja, saya akan menjadi bisnisman handal, namun jika saya dalam waktu 3 bulan telah diterima kerja saya akan menjadi praktisi yang handal dan akan saya buktikan bahwa lulusan 7 tahun mampu bekerja dengan baik dengan ilmu dan pengalaman yang telah kugapai.

    


PENYEBAB MAHASISWA LAMBAT LULUS

PENYEBAB MAHASISWA LAMBAT LULUS

Disadur dari poskamling dengan revisi dari eks-mahasiswa 7 tahun

Semua mahasiswa pasti ingin lulus secepatnya, sengebut-ngebutnya sampai-sampai awal masuk kuliah masuk ke gigi persneleng 4 pake gas puooollll, dengan tujuan akhir Indeks Prestasi yang mentereng. Sayangnya, mewujudkan cita-cita luhur itu tidak semudah menghadapi kehidupan kampus yang kejam. Usut punya usut, Mereka (Para Mahasiswa Sulit Lulus) terhalang sebuah tembok besar. Sebuah tembok besar di ujung proses perkuliahan.

Sebuah tembok besar yang sulit dilalui….

Tembok besar itu bernama Skripsi. Mengapa menyusun skripsi yang gak sampai 100 halaman bisa memakan waktu yang begitu lama? Padahal Bandung Bandawasa saja bisa membangun 999 candi dalam semalam. Hey, tunggu..Bandawasa bisa melakukannya karena dibantu makhluk halus. Sayangnya, kampus melarang Mahasiswa minta tolong pada makhluk halus untuk menyusun skripsi. Itulah mengapa membuat skripsi jauh lebih lama dan sulit daripada membangun Candi Prambanan.

Mungkin kamu termasuk di dalamnya. Frustasi tak jua melepas status sebagai mahasiswa karena terbentur skripsi. Baiklah,,jangan panik,,,kami lakukan survey tanpa mengajak cak Lontong sehingga survey kami layak diakreditasi dengan nilai “memuaskan” J

1. Merasa Sudah Lulus


Ini adalah sindrom akut yang biasa terjadi pada para WTS (Wisuda Tuna Skripsi). Ya, ketika kamu mulai membuat skripsi, itu artinya mungkin kamu sudah menyelesaikan hampir atau malah semua mata kuliah dengan nilai yang cukup.

“Owyeaahh..selangkah lagi menuju wisuda. Semua kerja keras gue selama ini terbayar..!! Sebentar lagi tidak ada kuliah pagi!! Tidak ada quiz!! Tidak ada dosen killer!! Yayaiyyyy…!!!”
Oww…wait.. Celakanya, dalam situasi ini, beberapa orang merasa benar-benar sudah lulus.

lu sekarang jarang ke kampus. Trus setahu gue kerjaan lu tiap hari maen Sims City sampai pagi, trus tidur seharian. Emang lu gak kuliah..?!” Pemuda Harapan Bangsa bertanya.

The answer is “Santai… gue udah lulus kok. Tinggal skripsi aja..” sambil puk-puk bantal kesayangan.


Please..sampai toga itu melekat di kepalamu, you’re nothing but still Mahasiswa. Dan toga itu tidak akan melekat di kepalamu sampai kamu menyelesaikan skripsimu. Jadi, berhentilah berpikir kamu sudah lulus dan santai-santai main game negeri anta berantah. Mulailah kerjakan skripsimu itu dengan sepenuh hati dan setelah itu bangunlah bangsamu seperti kamu membangun gedung-gedung di “SIMS CITY”.

 

Kota idaman “Sims City” dari para teknokrat pejuang skripsi 😀

2. Terlalu banyak berpikir

Berpikir itu baik, sobat. Teori relativitas juga tidak muncul begitu saja tanpa pemikiran yang dalam. Tapi kalau kamu kebanyakan mikir tapi gak kunjung bergerak ya percuma. Kami gak asal ngomong, menurut penelitian dari tim University College London (UCL), terlalu banyak mikir itu gak baik.


Kebanyakan WTS Pemula (baru mau mulai menyusun skripsi) terkungkung dengan mindset bahwa “menyusun skripsi itu sulit”. Mereka jadi malas untuk memulai karena otaknya sudah penuh dengan ketakutan berlebihan akan skripsi. Skripsi menjadi semacam phobia.


Kalo otakmu sudah penuh dengan payudara Miyabi atau kecakepan Justin Bieber ya jangan dibebani lagi,,, it’s soo..soo..heavy friend…

Menurut paparan disini, pikiran negatif yang terus menerus diulang, bisa menjadi pemicu depresi. Padahal, hal-hal negatif yang ditakutkan itu baru ada di pikiran, belum menjadi kenyataan. Yes..You’ve created a problem that wasn’t even there in the first place. Well, skripsimu gak akan pernah selesai kalau begini terus. Jangan terus terbebani dengan pikiran-pikiran negatif. Depresi karena gagal menyusun skripsi, terdengar sangat payah.

Kamu harus mulai bergerak. Sekarang juga. Buang semua pikiran negatif. Buang semua anggapan bahwa menulis skripsi itu sulit. Tanamkan di pikiranmu, menulis skripsi itu mudah..!! Tenang saja,,, semudah nge-restart laptop kita,,,cukup klik…klik…klik…


Percayalah, Segala sesuatunya hanya sulit di awalnya saja, setelah itu, mengalir seperti banjir. Deras. Jangan takut melangkah, toh nanti kamu akan dibantu oleh Dosen Pembimbing yang siap untuk memberikan saran dan revisi. Dan sebagai nilai tambahnya, bimbingan skripsi itu gratis.

Jadi, Ketika kamu sudah sadar bahwa kamu belum lulus dan berniat untuk mulai mengerjakan skripsi, jangan kebanyakan mikir, just do it. Kata motivator bisnis,” nomor 1 adalah action, nomor 2 adalah action, nomor 3 adalah action,,yang nomor 4 kata ahli hadist baru ayahmu,,nah lhooo L“. Buka komputermu, dan mulailah mengetik, tapi jangan mampir ke sosmed atau game, cukup kunjungi miss.word atau miss.excell pasti dapat inspirasi dan hidayah.

3. Terlalu banyak membuang waktu


Menyusun skripsi itu sama saja dengan menjalani LDR (Long Distance Relationship). Niat saja tidak cukup kalau mau terus bertahan. Kamu harus punya komitmen. Komitmen kuat untuk benar-benar menjalaninya agar berujung pada akhir yang bahagia.

Kalau tidak.. yahh, sama seperti LDR, niatmu hanya akan tetap menjadi niat. Kandas di tengah jalan. Melanjutkan proses menyusun skripsi akan selalu ada di to-do-list mu setiap hari, tapi tetap saja tanpa progress yang berarti dari waktu ke waktu. Gak percaya..?!

Hai yang masih mahasiswa..!! Kami cukup yakin bahwa niat awal kamu menyalakan komputer/laptop tadi adalah untuk melanjutkan menulis skripsi yang masih sampai kata pengantar itu. Tapi ironisnya, kamu berakhir dengan membuka browser dan ujung-ujungnya membaca artikel konyol ini. Yang lebih menyedihkan, begitu menyadari kesalahan, kamu tetap melanjutkan membaca dan terus tertawa. Padahal yang kamu tertawakan adalah nasib seorang pemuda juara harapan bangsa alias diri kamu sendiri.

Apalagi kalau kamu kamu tiba-tiba berubah pikiran dan memutuskan untuk main farm ville atau Pro Evolution Soccer segera setelah selesai membaca artikel ini. Wew..you’re on a big trouble, pals.. Lakukanlah terus, dijamin skripsimu tidak akan selesai sampai teman seangkatanmu jadi rektor.


Beda Tipis..

Oke, kami sadar bahwa Pro Evolution Soccer memang terlalu keren untuk dilewatkan. Tapi, please, atur waktumu. Percayalah, PES masih keren saat kamu selesai mengetik satu bab, 3 jam yang akan datang. Seimbangkan waktu antara berkutat menyusun skripsi dan cari hiburan untuk menghilangkan penat. Waktu sangat berharga, terutama untuk para PSK (Penulis Skripsi Kelamaan). Lawan rasa malasmu, stop waste your time, dan mulailah menulis. Sekarang..!! Ya.. Sekarang..!!

4. Dosen Pembimbing yang menyebalkan


Well, bro and sist.. Kami masih tidak percaya kamu masih melanjutkan mambaca artikel konyol ini, padahal kami sudah menegaskan untuk menutup browser dan mulai melanjutkan menulis skripsi. Tapi, ya sudahlah.. kita lanjutkan saja pembahasan kita ke poin selanjutnya..

Sejatinya, kami tidak suka ngomongin orang lain. Apalagi orang terhormat dan budiman seperti dosen. Tapi ada kalanya, kita udah niat bikin skripsi sampai berdarah-darah, tapi dosen pembimbing-nya menyebalkan.

Sudah janjian besok mau ketemu di kampus untuk jadwal bimbingan. Kita udah lembur gak tidur semalaman menulis 3 bab, dan jreng..jreng..jreng.. keesokan harinya, ketika kita sudah sampai kampus dengan mata merah, badan pegel dan kepala pusing, ada SMS masuk : “Maaf. Saya ada urusan mendadak, jadi harus ke luar kota. Istri saya ngajak jalan-jalan ke Bali. Jadwal bimbingannya kita atur lagi untuk minggu depan yaa.. Eh, atau bulan depan aja deh. Minggu depan anak saya ngajak jalan-jalan ke Singapore. Atau kalau kamu punya duit, kita ketemunya di Singapore aja gimana?? Eh..tapi emang kamu punya duit buat ke Singapore? Gak punya kan..?! Yauda deh..bimbingannya bulan depan aja ya…”


Terserah kamu menyebutnya apa. Menyebalkan bukan? Jadi gimana skripsi mau selesai, kalau jadwal bimbingan aja tertunda terus. Dan yang lebih menyebalkan lagi, ketika akhirnya jadwal bimbingan terealisasi, 3 bab yang udah kita buat sampai berdarah-darah dicerca habis-habisan.

“Mbak, kamu ini nulis apa..??! Anak saya yang masih TK bisa nulis lebih bagus dari kamu. Saya udah periksa semua tulisan kamu, isinya kayaknya copy-paste dari Google semua ya..?! Hayoooo….ngaku aja dehhh… Dasar pemalas kamu…!!! Cuma 3 halaman aja yang menurut saya bagus. Lainnya buang aja. Bikin lagi..!!”


Hanya satu hal yang bisa kamu lakukan dalam situasi seperti ini, berdoalah kepada Yang Maha Kuasa agar dosen pembimbingmu diberi Hidayah. Amin.

5. Kurang Motivasi

Menulis skripsi itu berat. Beragam godaan dan cobaan datang silih berganti. Mulai dari malas, ajakan teman, pacar, siaran langsung Liga Champion, zynga poker, Pro Evolution Soccer, laptop ngadat, printer macet, mati listrik, sampai Dosen pembimbing yang menyebalkan. Meskipun berat, kalau kamu punya motivasi besar untuk segera lulus, dijamin kamu akan semangat untuk menyelesaikan skripsi sesegera mungkin. Jadi, tetapkan tujuan/target yang ingin kamu capai setelah lulus nanti, agar motivasi kamu dalam menyusun skripsi terlecut. Misalnya, setelah lulus, kamu ingin mulai membangun usaha, jadi pengusaha muda sukses kaya raya, membuka ribuan lapangan pekerjaan baru, memperoleh penghargaan dari Pemerintah, mengakusisi perusahaan-perusahaan Bakrie, kemudian menikahi Sandra Dewi, nyalon jadi anggota DPR, dan hidup bahagia sampai akhir hayat. Dijamin, kalau kamu punya tujuan/target jangka menengah/panjang seperti ini, kamu akan lebih termotivasi untuk segera menyelesaikan skripsi.


Yang penting, selesaikan dulu skripsimu.

===+==+===

Ya..kira-kira itulah hasil analisis kami mengenai penyebab mengapa skripsimu tak kunjung selesai. Jadi saran kami sih, setelah selesai baca artikel konyol ini, renungkanlah poin mana yang menjadi penghambat buat kamu, dan ikutilah saran dari kami untuk mengatasinya. Segera lakukan..!! Langsung setelah ini..!! Jangan menunda-nunda lagi..!!


Bahagiakanlah kedua orang tuamu dengan wisudamu…Percayalah, emakmu pasti mendoakanmu

Percayalah, Sandra Dewi gak mau nikah sama orang yang bahkan gak bisa menyelesaikan skripsinya kecuali kamu pakai jasa dari sarjana ilmu perdukunan dan perpeletan… Percayalah satu hal untuk dijadikan motivasi, Ijazah ditangan akan menentukan kemudahan Ijab Sah digenggaman saat esok hari…


Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau tetapi Sekaligus “Menakutkan”

Setiap acara wisuda di kampus ITB selalu ada pidato sambutan dari salah seorang wisudawan. Biasanya yang terpilih memberikan pidato sambutan adalah pribadi yang unik, tetapi tidak selalu yang mempunyai IPK terbaik. Sepanjang yang saya pernah ikuti, isi pidatonya kebanyakan tidak terlalu istimewa, paling-paling isinya kenangan memorabilia selama menimba ilmu di kampus ITB, kehidupan mahasiswa selama kuliah, pesan-pesan, dan ucapan terima kasih kepada dosen dan teman-teman civitas academica.

Namun, yang saya tulis dalam posting-an ini bukan pidato wisudawan ITB, tetapi wisudawan SMA di Amerika. Beberapa hari yang lalu saya menerima kiriman surel dari teman di milis dosen yang isinya cuplikan pidato Erica Goldson (siswi SMA) pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu. Isi pidatonya sangat menarik dan menurut saya sangat memukau. Namun, setelah saya membacanya, ada rasa keprihatinan yang muncul (nanti saya jelaskan).Cuplikan pidato ini dikutip dari tulisan di blog berikut: http://pohonbodhi.blogspot.com/2010/09/you-are-either-with-me-or-against-me.html

“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.

Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”

Hmmm… setelah membaca pidato wisudawan terbaik tadi, apa kesan anda? Menurut saya pidatonya adalah sebuah ungkapan yang jujur, tetapi menurut saya kejujuran yang “menakutkan”. Menakutkan karena selama sekolah dia hanya mengejar nilai tinggi, tetapi dia meninggalkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya dalam bidang lain, seperti hobi, ketrampilan, soft skill, dan lain-lain. Akibatnya, setelah dia lulus dia merasa gamang, merasa takut terjun ke dunia nyata, yaitu masyarakat. Bahkan yang lebih mengenaskan lagi, dia sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan di dalam hidup ini.

Saya sering menemukan mahasiswa yang hanya berkutat dengan urusan kuliah semata. Obsesinya adalah memperoleh nilai tinggi untuk semua mata kuliah. Dia tidak tertarik ikut kegiatan kemahasiswaan, baik di himpunan maupun di Unit Kegiatan Mahasiswa. Baginya hanya kuliah, kuliah, dan kuliah. Memang betul dia sangat rajin, selalu mengerjakan PR dan tugas dengan gemilang. Memang akhirnya IPK-nya tinggi, lulus cum-laude pula. Tidak ada yang salah dengan obsesinya mengejar nilai tinggi, sebab semua mahasiswa seharusnya seperti itu, yaitu mengejar nilai terbaik untuk setiap kuliah. Namun, untuk hidup di dunia nyata seorang mahasiswa tidak bisa hanya berbekal nilai kuliah, namun dia juga memerlukan ketrampilan hidup semacam soft skill yang hanya didapatkan dari pengembangan diri dalam bidang non-akademis.

Nah, kalau mahasiswa hanya berat dalam hard skill dan tidak membekali dirinya dengan ketrampilan hidup, bagaimana nanti dia siap menghadapi kehidupan dunia nyata yang memerlukan ketrampilan berkomunikasi, berdiplomasi, hubungan antar personal, dan lain-lain. Menurut saya, ini pulalah yang menjadi kelemahan alumni ITB yang disatu sisi sangat percaya diri dengan keahliannya, namun lemah dalam hubungan antar personal. Itulah makanya saya sering menyemangati dan menyuruh mahasiswa saya ikut kegiatan di Himpunan mahasiswa dan di Unit-Unit Kegiatan, agar mereka tidak menjadi orang yang kaku, namun menjadi orang yang menyenangkan dan disukai oleh lingkungan tempatnya bekerja dan bertempat tinggal. Orang yang terbaik belum tentu menjadi orang tersukses, sukses dalam hidup itu hal yang lain lagi.

Menurut saya, apa yang dirasakan wisudawan terbaik Amerika itu juga merupakan gambaran sistem pendidikan dasar di negara kita. Anak didik hanya ditargetkan mencapai nilai tinggi dalam pelajaran, karena itu sistem kejar nilai tinggi selalu ditekankan oleh guru-guru dan sekolah. Jangan heran lembaga Bimbel tumbuh subur karena murid dan orangtua membutuhkannya agar anak-anak mereka menjadi juara dan terbaik di sekolahnya. Belajar hanya untuk mengejar nilai semata, sementara kreativitas dan soft skill yang penting untuk bekal kehidupan terabaikan. Sistem pendidikan seperti ini membuat anak didik tumbuh menjadi anak “penurut” ketimbang anak kreatif.

Baiklah, pada bagian akhir tulisan ini saya kutipkan teks asli (dalam Bahasa Inggris) Erica Goldson di atas agar kita memahami pidato lengkapnya. Teks asli pidatonya dapat ditemukan di dalam laman web ini: Valedictorian Speaks Out Against Schooling in Graduation Speech .

Valedictorian Speaks Out Against Schooling in Graduation Speech

by Erica Goldson

Here I stand

There is a story of a young, but earnest Zen student who approached his teacher, and asked the Master, “If I work very hard and diligently, how long will it take for me to find Zen? The Master thought about this, then replied, “Ten years.” The student then said, “But what if I work very, very hard and really apply myself to learn fast – How long then?” Replied the Master, “Well, twenty years.” “But, if I really, really work at it, how long then?” asked the student. “Thirty years,” replied the Master. “But, I do not understand,” said the disappointed student. “At each time that I say I will work harder, you say it will take me longer. Why do you say that?” Replied the Master, “When you have one eye on the goal, you only have one eye on the path.”

This is the dilemma I’ve faced within the American education system. We are so focused on a goal, whether it be passing a test, or graduating as first in the class. However, in this way, we do not really learn. We do whatever it takes to achieve our original objective.

Some of you may be thinking, “Well, if you pass a test, or become valedictorian, didn’t you learn something? Well, yes, you learned something, but not all that you could have. Perhaps, you only learned how to memorize names, places, and dates to later on forget in order to clear your mind for the next test. School is not all that it can be. Right now, it is a place for most people to determine that their goal is to get out as soon as possible.

I am now accomplishing that goal. I am graduating. I should look at this as a positive experience, especially being at the top of my class. However, in retrospect, I cannot say that I am any more intelligent than my peers. I can attest that I am only the best at doing what I am told and working the system. Yet, here I stand, and I am supposed to be proud that I have completed this period of indoctrination. I will leave in the fall to go on to the next phase expected of me, in order to receive a paper document that certifies that I am capable of work. But I contend that I am a human being, a thinker, an adventurer – not a worker. A worker is someone who is trapped within repetition – a slave of the system set up before him. But now, I have successfully shown that I was the best slave. I did what I was told to the extreme. While others sat in class and doodled to later become great artists, I sat in class to take notes and become a great test-taker. While others would come to class without their homework done because they were reading about an interest of theirs, I never missed an assignment. While others were creating music and writing lyrics, I decided to do extra credit, even though I never needed it. So, I wonder, why did I even want this position? Sure, I earned it, but what will come of it? When I leave educational institutionalism, will I be successful or forever lost? I have no clue about what I want to do with my life; I have no interests because I saw every subject of study as work, and I excelled at every subject just for the purpose of excelling, not learning. And quite frankly, now I’m scared.

John Taylor Gatto, a retired school teacher and activist critical of compulsory schooling, asserts, “We could encourage the best qualities of youthfulness – curiosity, adventure, resilience, the capacity for surprising insight simply by being more flexible about time, texts, and tests, by introducing kids into truly competent adults, and by giving each student what autonomy he or she needs in order to take a risk every now and then. But we don’t do that.” Between these cinderblock walls, we are all expected to be the same. We are trained to ace every standardized test, and those who deviate and see light through a different lens are worthless to the scheme of public education, and therefore viewed with contempt.

H. L. Mencken wrote in The American Mercury for April 1924 that the aim of public education is not “to fill the young of the species with knowledge and awaken their intelligence. … Nothing could be further from the truth. The aim … is simply to reduce as many individuals as possible to the same safe level, to breed and train a standardized citizenry, to put down dissent and originality. That is its aim in the United States.”

To illustrate this idea, doesn’t it perturb you to learn about the idea of “critical thinking?” Is there really such a thing as “uncritically thinking?” To think is to process information in order to form an opinion. But if we are not critical when processing this information, are we really thinking? Or are we mindlessly accepting other opinions as truth?

This was happening to me, and if it wasn’t for the rare occurrence of an avant-garde tenth grade English teacher, Donna Bryan, who allowed me to open my mind and ask questions before accepting textbook doctrine, I would have been doomed. I am now enlightened, but my mind still feels disabled. I must retrain myself and constantly remember how insane this ostensibly sane place really is.

And now here I am in a world guided by fear, a world suppressing the uniqueness that lies inside each of us, a world where we can either acquiesce to the inhuman nonsense of corporatism and materialism or insist on change. We are not enlivened by an educational system that clandestinely sets us up for jobs that could be automated, for work that need not be done, for enslavement without fervency for meaningful achievement. We have no choices in life when money is our motivational force. Our motivational force ought to be passion, but this is lost from the moment we step into a system that trains us, rather than inspires us.

We are more than robotic bookshelves, conditioned to blurt out facts we were taught in school. We are all very special, every human on this planet is so special, so aren’t we all deserving of something better, of using our minds for innovation, rather than memorization, for creativity, rather than futile activity, for rumination rather than stagnation? We are not here to get a degree, to then get a job, so we can consume industry-approved placation after placation. There is more, and more still.

The saddest part is that the majority of students don’t have the opportunity to reflect as I did. The majority of students are put through the same brainwashing techniques in order to create a complacent labor force working in the interests of large corporations and secretive government, and worst of all, they are completely unaware of it. I will never be able to turn back these 18 years. I can’t run away to another country with an education system meant to enlighten rather than condition. This part of my life is over, and I want to make sure that no other child will have his or her potential suppressed by powers meant to exploit and control. We are human beings. We are thinkers, dreamers, explorers, artists, writers, engineers. We are anything we want to be – but only if we have an educational system that supports us rather than holds us down. A tree can grow, but only if its roots are given a healthy foundation.

For those of you out there that must continue to sit in desks and yield to the authoritarian ideologies of instructors, do not be disheartened. You still have the opportunity to stand up, ask questions, be critical, and create your own perspective. Demand a setting that will provide you with intellectual capabilities that allow you to expand your mind instead of directing it. Demand that you be interested in class. Demand that the excuse, “You have to learn this for the test” is not good enough for you. Education is an excellent tool, if used properly, but focus more on learning rather than getting good grades.

For those of you that work within the system that I am condemning, I do not mean to insult; I intend to motivate. You have the power to change the incompetencies of this system. I know that you did not become a teacher or administrator to see your students bored. You cannot accept the authority of the governing bodies that tell you what to teach, how to teach it, and that you will be punished if you do not comply. Our potential is at stake.

For those of you that are now leaving this establishment, I say, do not forget what went on in these classrooms. Do not abandon those that come after you. We are the new future and we are not going to let tradition stand. We will break down the walls of corruption to let a garden of knowledge grow throughout America. Once educated properly, we will have the power to do anything, and best of all, we will only use that power for good, for we will be cultivated and wise. We will not accept anything at face value. We will ask questions, and we will demand truth.

So, here I stand. I am not standing here as valedictorian by myself. I was molded by my environment, by all of my peers who are sitting here watching me. I couldn’t have accomplished this without all of you. It was all of you who truly made me the person I am today. It was all of you who were my competition, yet my backbone. In that way, we are all valedictorians.

I am now supposed to say farewell to this institution, those who maintain it, and those who stand with me and behind me, but I hope this farewell is more of a “see you later” when we are all working together to rear a pedagogic movement. But first, let’s go get those pieces of paper that tell us that we’re smart enough to do so!

~~~~~~~~~~

Pidato Erica tersebut juga dimuat di blog America dan mendapat tanggapan luas oleh publik di sana. Silakan baca di sini: http://americaviaerica.blogspot.com/2010/07/coxsackie-athens-valedictorian-speech.html

SUMBER : http://rinaldimunir.wordpress.com/2013/04/07/pidato-wisudawan-terbaik-memukau-tetapi-sekaligus-menakutkan/


TANDA-TANDA SESEORANG MENCINTAIMU

Mungkin tulisan kali ini sedikit gila yah,,tapi monggo coba direnungi apakah tulisan ini memang benar adanya pada pasangan kamu,,sedikit banyak tanda-tanda ini menjadi sebuah pengalaman pribadi,,,semoga bermanfaat “Tanda-tanda seseorang benar-benar mencintaimu”

ULANG TAHUN PINGUIN

1. Orang yang mencintai kamu tidak  pernah bisa memberikan alasan  kenapa ia mencintai kamu, yang ia  tahu dimatanya hanya ada kamu satu- satunya. Cinta itu tanpa syarat karena memang cinta itu keluar dari hati, saat syarat itu keluar hal itu akan menciptakan alasan dan apabila alasan itu tak terpenuhi maka cinta akan bukanlah menjadi cinta sejati.

2. Orang yang mencintai kamu selalu menerima kamu apa adanya, dimatanya kamu selalu yang tercantik/tertampan walaupun mungkin kamu merasa berat  badan kamu sudah berlebihan atau kamu merasa kegemukan. Walaupun fisikmu tidak lagi sempurna karena kecelakaan, atau jerawat yang berbentol-bentol diwajah karena kulit sensitif yang berminyak,  dia akan tetap mencintaimu karena cinta itu apa adanya lebih dari sekadar kenampakan fisik semata, toh nanti kita akan jadi aki-aki atau nini-nini yang buruk rupa sebagai pasangan sejati sehidup semati.

3. Orang yang mencintai kamu selau ingin tau tentang apa saja yang kamu lalui sepanjang hari ini, ia ingin tau kegiatan kamu. Ini bukannya kepo yah, tapi wujud perhatian.

4. Orang yang mencintai kamu akan mengirimkan sms seperti “selamat pagi” “selamat hari minggu” “selamat tidur”, walaupun kamu tidak membalas pesannya.

5. Kalau kamu berulang tahun dan kamu tidak mengundangnya setidaknya ia akan telpon untuk mengucapkan selamat atau mengirim sms.

6. Orang yang mencintai kamu akan selalu mengingat setiap kejadian yang ia lalui bersama kamu, bahkan mungkin kejadian yang kamu sendiri sudah lupa setiap detailnya, karena saat itu adalah sesuatu yang berharga untuknya. Bukan hanya memoribilia yang indah bahkan kenangan yang menyebabkan pertengkaran yang dapat diselesaikan dengan saling berpaut kata “maaf” yang indah akan menjadi sebuah ingatan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

7. Orang yang mencintai kamu selalu mengingat tiap kata2 yang kamu ucapkan bahkan mungkin kata2 yang kamu sendiri lupa pernah mengatakannya. Bahkan termasuk janji-janji yang dibuat bersama, sebuah nostalgia yang indah bahwa setiap kata menjadi bermakna dengan saling memperhatikan.

8. Orang yang mencintai kamu akan belajar menyukai lagu-lagu kesukaanmu, bahkan mungkin meminjam CD/kaset kamu,karena ia ingin tau kesukaanmu, kesukaanmu kesukaannya juga. Bahkan itu termasuk pula bila kamu pecinta komik macam miko atau paman gober yang  sulit dipahami kekasihmu, dia akan belajar untuk membacanya,,menurut dia sungguh sebuah bahan perbincangan yang menarik apabila dia memahami apa kesukaan kamu 🙂 atau apabila kamu menyukai peliharaan macam guana pig ataupun hamster sekalipun, maka dia akan juga belajar memeliharanya agar tahu bagaimana sulitnya memeliharanya dan tidak akan pernah meremehkan kesukaanmu apalagi menyalahkanmu kalau binatang peliharaanmu meninggal.

9. Kalau terakhir kali ketemu, kamu sedang sakit flu, terkilir, atau sakit gigi, beberapa hari kemudian ia akan mengirim sms atau menelponmu dan menanyakan keadaanmu.. karena ia mengkhawatirkanmu, walaupun si dia tahu kamu enggan banget minum obat atau sudah tahu hobimu itu jalan sambil loncat-loncat dan ceroboh jadi sudah pasti sering keseleo atau jatuh meski itu cuma jalan kaki doang..itulah perhatian…

10. Kalau kamu bilang akan menghadapi ujian ia akan menanyakan kapan ujian itu dan saat harinya tiba ia akan mengirimkan sms “good luck” atau menelponmu untuk menyemangati kamu.

11. Orang yang mencintai kamu akan memberikan suatu barang miliknya yang mungkin buat kamu itu ialah sesuatu yang biasa, tapi itu ialah suatu barang yang istimewa buat dia, yah meskipun itu cuma bunga plastik tapi itu melambangkan sebuah keabadian cinta dihatinya yang tidak akan pernah layu asal kamu merawatnya dengan baik.

12. Orang yang mencintai kamu akan terdiam sesaat, saat sedang berbicara ditelpon dengan kamu,  sehingga kamu menjadi binggung saat itu dia merasa sangat gugup karena kamu telah mengguncang dunianya, bukannya karena dia kehabisan kata atau enggan berbicara dengan kamu. Seseorang yang mencintai kamu akan sangat-sangat bahagia saat mendengar suaramu terkadang dia hanya ketawa saja saat ditelepon.

13. Orang yang mencintai kamu selalu ingin berada didekatmu dan ingin menghabiskan hari2nya denganmu, dan akan selalu berwajah muram saat meninggalkkanmu.

14. Jika suatu saat kamu harus pindah ke kota lain untuk waktu yang lain ia akan memberikan nasehat supaya kamu waspada dengan lingkungan yang bisa membawa pengaruh buruk bagimu.

15. Orang yang mencintai kamu bertindak lebih seperti saudara daripada seperti seorang kekasih, dia akan menjagamu dan akan melindungimu. Dia akan mencari tahu keadaanmu yang sesungguhnya layaknya seorang detektif, dia akan selalu tahu keaadaanmu meski kamu tidak menceritakannya tapi dia tidak akan pernah menceritakan bahwa dia selalu mencari tahu keadaanmu secara diam-diam karena kabar bahwa keadaanmu sungguh benar-benar baik saja merupakan tujuannya dan apabila terjadi sesuatu yang buruk maka dia akan siap mendampingimu.

16. Orang yang mencintai kamu sering melakukan hal2 yang konyol spt menelponmu 100x dalam sehari, atau membangunkanmu ditengah malam karena ia mengirim sms atau menelponmu. karena saat itu ia sedang memikirkan kamu.

17. Orang yang mencintai kamu kadang merindukanmu dan melakukan hal2 yang membuat kamu jengkel atau gila, saat kamu bilang tindakannya membuatmu terganggu ia akan minta maaf dan tak kan melakukannya lg.

18. Jika kamu memintanya untuk mengajarimu sesuatu maka ia akan mengajarimu dengan sabar walaupun kamu mungkin orang yang terbodoh di dunia! apalagi kalo ujian mata kuliah tertentu sampai mengulang 3 kali 😀 karena kamu membenci ilmu hitung-hitungan..

19. Kalau kamu melihat handphone- nya maka namamu akan menghiasi sbgn besar “INBOX”nya. Ya ia masih menyimpan pesan dari kamu walaupun pesan itu sudah kamu kirim sejak berbulan2 bahkan bertahun2 yang lalu.

20. jika dia bisa menahan ego dan kepentingannya untuk kepentingan kamu, maka sungguh dia telah benar2 mencintai kamu. Dia akan bersedia mengingkari janji yang dia buat untuk dirinya sendiri hanya untuk membuatmu tidak malu dihadapan teman-temanmu, atau mungkin dia akan mengorbankan kuliahnya untuk berusaha mencapai kemapanan hidup agar sewaktu-waktu bisa menikahimu saat kamu minta.

21. jika dia telah memaafkan kesalahan kamu sebelum kamu meminta maaf kepadanya. percayalah hal tersebut dan jangan pernah menganggap remeh sebuah kata maaf atau bahkan mempermainkan kata maaf karena sungguh memperjuagkan sebuah kata maaf itu sungguh sulit.

22. Dan jika kamu menghindarinya atau memberi reaksi penolakan, ia akan menyadarinya dan menghilang dari kehidupanmu, walaupun hal itu membunuh hatinya. Jangan salahkan dia kalau sewaktu-waktu kembali sms kamu meski tidak rutin karena itu adalah sebuah obat yang mempanjang hidupnya, jawablah dengan baik meski kamu tidak ingin menjawabnya. Dia akan berkata ikhlas apabila kamu telah berbahagia dengan orang lain tapi percayalah bila dia benar-benar mencintaimu dia akan selalu memantaskan diri sebagai caranya untuk mendapatkan cintamu lagi, dia akan berjuang dengan memantaskan diri untuk mendapatkan cintamu, kata ikhlash hanyanya sebuah cara agar kamu berbahagia meski hatinya tak akan pernah rela.

23. Jika suatu saat kamu merindukannya dan ingin memberinya kesempatan ia akan ada di sana menunggumu karena ia tak pernah mencari orang lain. Ya… ia selalu menunggumu. separuh kehidupannya telah dia berikan untukmu….mungkin bagimu telah terlambat untuk memulai kembali tapi bagi seseorang yang benar-benar mencintaimu tidak akan ada kata terlambat untuk memperjuangkan cintamu,,,percayalah itu karena sebuah kata percaya adalah sebuah kata yang dia nanti darimu