“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

KISAH DAN MOTIVASI

Sukses di Sekolah Tidak Selalu Sukses Dalam Hidup?

Hasil gambar untuk belajar di kelas

Ketika kita masih kecil, kita diajarkan bahwa jika kita ingin sukses, kita harus belajar keras dan mendapatkan hasil yang baik di sekolah. Mendapatkan nilai “A” harus menjadi tujuan kita jika kita ingin sukses dalam hidup. Namun dalam kenyataannya, berapa banyak siswa pintar yang Anda kenal yang menjadi benar-benar sukses saat mereka tumbuh dewasa? Anak laki-laki dan perempuan yang baik, yang sangat disiplin di sekolah, menyerahkan semua tugas mereka tepat waktu dan mendapatkan hasil yang baik dalam ujian mungkin hanya berakhir dengan melakukan pekerjaan yang tidak mereka sukai terlepas dari fakta bahwa mereka dapat menghasilkan uang dari itu. Mengapa bisa terjadi seperti itu? Bukankah kita diajarkan bahwa untuk menjadi sukses, kita seharusnya belajar keras dan menjadi murid baik di sekolah?

Yang Anda butuhkan untuk kehidupan yang baik dan sukses tidak benar-benar dipelajari di sekolah

Bukan bermaksud mengecilkan hati siapa pun untuk berhenti belajar; ada mata pelajaran seperti bahasa, matematika, musik, dan pendidikan fisik yang berguna bagi kita. Yang ingin dikatakan disini adalah bahwa kurikulum sekolah tidak sempurna. Ada banyak hal yang penting di kehidupan yang hilang dalam kurikulum. Dan ada banyak kebiasaan yang tidak tepat yang ditanamkan:

Mereka ingin kita mengangkat tangan dan menunggu untuk ditunjuk. Mereka ingin kita terus meminta izin kepada orang lain. Mereka mengajarkan kita untuk memenuhi, bukannya mengubah. Mereka mengajarkan kita untuk memindahkan ide daripada memunculkannya. Mereka mengajarkan kita untuk percaya bahwa orang-orang yang berwenang (berkuasa) tahu segalanya – bahkan tidak membiarkan kita membayangkan bahwa sebenarnya tidak ada seorangpun yang benar-benar tahu segalanya. Mereka mengajarkan kita untuk mempercayai mereka sepenuhnya; dan menyembunyikan fakta bahwa mereka sebenarnya hanya peduli pada pencapaian kita saja.

Pada dasarnya, untuk berhasil di sekolah, Anda harus patuh, dan apakah Anda tergolong murid baik atau tidak sangat bergantung pada ekspektasi dari guru Anda. Seringkali guru tidak membantu siswa untuk memahami mengapa mereka harus melakukan hal-hal tertentu, guru (atau sistem sekolah) hanya memaksa siswa untuk mengikuti aturan, tidak meninggalkan ruang untuk orisinalitas dan pemikiran kritis. Tapi hidup tidak bekerja seperti ini dalam kenyataannya. Agar berhasil dalam hidup, Anda harus berpikir di luar kotak, dibanding melakukan apa yang orang lain lakukan. Dan ada banyak aspek yang harus diperhatikan selain dari mata pelajaran sekolah, misalnya, apa yang harus dilakukan untuk menjadi orang yang bahagia; bagaimana menjaga hubungan yang sehat; bagaimana bekerja cerdas; dan apa yang harus dilakukan untuk menjalani kehidupan yang bermakna dsb.

Berbuat buruk di sekolah tidak membuat Anda gagal (hal ini didukung oleh statistik)

Meskipun itu adalah fakta bahwa orang-orang yang memiliki ijazah setidaknya diploma mendapatkan lebih banyak peluang karena pengetahuan dan keterampilan dasar yang mereka miliki; namun statistik menunjukkan bahwa orang yang gagal di sekolah tidak berakhir dengan kegagalan dalam hidup. Anda mungkin sudah mengetahui bahwa Steve Jobs, Richard Branson, Oprah Winfrey, Jim Carey, dll. tidak berhasil di sekolah atau putus sekolah. Bahkan, ada lebih dari sekedar “nama besar” yang sukses dalam hidup tanpa menyelesaikan sekolah. Menurut Buku Tahunan Biografi (edisi 1959-2005 & 2007), dari semua orang sukses, setidaknya 768 dari mereka putus sekolah dan mereka sukses di berbagai bidang.

Sekarang setelah Anda memahami perbedaan antara melakukan yang baik di sekolah dan melakukan kebaikan dalam hidup, apa yang dapat Anda lakukan dengan hal ini?

Hidup adalah pelajaran yang sangat panjang, begitu panjangnya sehingga Anda tidak dapat mendefinisikan kesuksesan seseorang hanya dari satu bagian saja

Jika Anda sudah tamat sekolah, teruslah belajar karena apa yang Anda pelajari di sekolah tidak akan pernah cukup untuk menjalani kehidupan yang hebat. Jika Anda masih belajar, apakah Anda baik atau buruk di sekolah, jangan mengambil hasil sekolah Anda terlalu serius. Jangan pernah mempercayai secara mendalam dari apa yang telah dikatakan orang-orang bahwa mendapatkan nilai bagus adalah satu-satunya cara untuk menjadi sukses, atau bahwa mengikuti aturan adalah yang terbaik untuk Anda. Tetapi perlu juga diingat bahwa jangan pernah melanggar aturan kecuali Anda telah mempelajari dan memahami alasan di baliknya. Singkatnya, jangan pernah berhenti berpikir. Jika Anda adalah orang tua atau guru, jangan hanya fokus pada nilai yang didapat anak-anak. Cobalah untuk menemukan potensi mereka dan lepaskan bakat mereka, itulah cara mereka membangun kepercayaan diri dan akhirnya menjalani kehidupan yang sukses.

Orang terkenal yang pernah tidak naik kelas

Naik kelas adalah hal biasa. Bahkan menjadi keharusan. Hampir semua anak yang sekolah pernah, bahkan selalu, naik kelas. Karenanya, pengalaman tidak naik kelas lebih sedikit dialami. 

Lagi pula, sesungguhnya tidak ada juga yang sudi tinggal kelas. Perasaan malu niscaya sulit dihindarkan. Belum lagi pengalaman menyakitkan lain: menjadi sekelas dengan orang yang di tahun sebelumnya adalah adik kelas, dan kawan sekelas lalu tiba-tiba menjadi kakak kelas. Pahit, bukan?

Tinggal kelas kadang dianggap semacam penundaan sukses selama setahun. Saat harusnya sudah menaiki level yang baru, ealah… kok malah ngendon di level yang sama untuk setahun berikutnya.

Tak hanya bagi murid, tinggal kelas juga bukan hal mudah yang diterima oleh para orang tua. Selain tinggal kelas berarti menambah biaya sekolah, situasi itu juga bisa serupa aib yang memalukan. Tak heran jika banyak siswa yang seharusnya tinggal kelas kemudian dikatrol agar naik kelas. Banyak cerita-cerita di sekolah soal sogok menyogok agar bocah tersebut naik. Ada juga yang dipindahkan agak bisa lanjut ke kelas berikutnya, dengan atau tanpa pelicin. Anak yang tidak naik kelas, nyaris selalu dicap: Bodoh. Tentu saja cap macam itu tidak selalu bisa memerikan kenyataan yang sebenarnya. Cap bodoh itu lebih sering mengabaikan problem-problem non-intelijensia yang dialami si murid. Dibayangkan bahwa jika tinggal kelas maka itu terkait melulu soal otak. 
B

Padahal berbagai kemungkinan lain tersedia: problem psikis, kurangnya konsentrasi karena ada masalah di rumah, dll. Tak semua anak bisa mudah mengikuti pembalajaran di sekolah. Seringkali banyak siswa punya gangguan belajar yang membuat skor mereka tertinggal. Entah karena sakit, harus bekerja membantu orang tua, ketinggalan pelajaran karena pindah dari daerah yang tertinggal pendidikannya ke daerah yang maju pendidikannya atau gangguan lainnya. 

Bahkan gaya dan cara siswa menyerap pelajaran pun berbeda-beda. Ada yang cepat, ada yang lambat secara alamiah. Ada yang bisa paham hanya dengan mendengar saja, ada yang harus mencatat, melihat atau membaca. Ada juga yang baru bisa paham setelah menirukannya. Sialnya, terlalu banyak bertanya pun kerap dijadikan indikasi bodoh tidaknya seseorang. 

Tak semua sekolah dan bekas anak sekolah melihat mereka yang tidak naik kelas sebagai anak bodoh. Beberapa mantan siswa SMA Kolese deBritto menganggap tidak naik kelas adalah hal biasa di sekolahnya dulu. Standar naik kelas di sekolah itu juga tidak gampang. 

Mantan penyanyi dan presenter, Kris Biantoro, bercerita dalam Manisnya Ditolak: Sebuah Autobiografi (2004). Berkali-kali telat masuk sekolah di de Britto bisa mengakibatkan tidak naik kelas. “Terlambat berarti kena sanksi, dan sanksi yang berkali-kali berarti tidak naik kelas,” aku Kris Biantoro yang memang alumni de Britto. Mereka yang tidak naik kelas itu hanya disebut veteran dan jumlahnya tidak sedikit. 

Tokoh terkenal Orde Baru, Harry Tjan Silalahi, juga alumni de Britto. Dia salah seorang mantan “veteran” de Britto. Dia dua tahun di kelas dua. Bukan karena bodoh, tapi karena kesibukannya. 

“Meskipun begitu, kalau ada lomba cerdas-tangkas di RRI pada waktu itu, Harry bersama teman-teman sekolahnya di de Britto selalu jadi juara,” tulis J.B. Sudarmanto dalam Tengara Orde Baru: Kisah Harry Tjan Silalahi (2004). 

Infografik mereka pernah tinggal kelas

Jauh setelah tak naik kelas, Harry Tjan—yang aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) ini—pernah jadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan Direktur Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang berpengaruh di masa Orde Baru. 

Orang yang sukses walau pernah tinggal kelas ini menarik untuk dicermati. Seperti Thomas Alva Edison yang bahkan dicap dungu ketika masih di kelas rendah sekolah dasar. Semua tahu, bocah yang dicap bodoh ini, kelak di kemudian hari menjadi pemegang 1.093 hak paten. Dia kemudian dikenal sebagai penemu lampu listrik, proyektor film dan pendiri perusahaan legendaris bernama General Electric. 

Meski tak berada di level yang sama dengan Thomas Alva Edison, di Indonesia ada juga Rhenald Kasali yang pernah tinggal kelas. Dia pernah tidak naik kelas juga waktu duduk di Sekolah Dasar, tepatnya saat duduk di kelas lima. Jauh setelah tidak naik kelas dan melalui berpuluh tahun kerja keras, dia dianggap sebagai ahli di manajemen. Ia bahkan menjadi salah satu guru besar Universitas Indonesia (UI), salah satu kampus bergengsi di Indonesia. Buku-buku dan ceramahnya laris. 

“Saya sempat bersedih hati sewaktu tidak naik kelas di sekolah dasar. Seingat saya, salah satu penyebabnya adalah nilai Bahasa Indonesia saya yang merah menyala,” aku Rhenald Kasali dalam bukunya Marketing in Crisis: Marketing Therapy (2009). Dalam ingatannya, hal itu terjadi karena ia tak bisa menjawab pertanyaan apakah lawan kata “cinta”, “kenyang”, “rajin” dan beberapa kata lainnya. 

Iklan

Ini 10 Ide Kreatif Untuk Kedai Kopimu

Ini 10 Ide Kreatif Untuk Kedai Kopimu

Unsplash.com

Salah satu bisnis yang paling banyak diminati dan memiliki pasar yang cukup besar adalah coffee shop. Aktivitas kaum urban yang padat dengan jam kerja yang cukup panjang, membuat kopi menjadi teman setia siapa pun. Selain untuk menahan kantuk, kopi juga membuat otak kita tetap bekerja sampai jam kerja selesai.

Banyaknya coffee shop yang muncul saat ini tentu menjadi saingan tersendiri bagi pelaku bisnisnya. Nggak heran kalau mereka berlomba membuat coffee shop semenarik mungkin agar banyak pelanggan yang datang. Misalnya, membuat coffee shop dengan konsep kedai yang unik, harganya yang bersaing, atau varian kopi unik yang nggak dimiliki oleh coffee shop lainnya.

Untuk kamu yang saat ini sedang merintis usaha coffee shop, nggak ada salahnya untuk melirik sepuluh ide coffee shop yang inspiratif ini. Apa saja?

1. Salah satu kedai kopi ini menyediakan secangkir kopi gratis untuk siapa saja yang mau membersihkan lingkungan pantai di sekitar kedai kopi dari sampah. Cinta lingkungan banget nih!

Biar Laris, Ini 10 Ide Kreatif Untuk Kedai Kopimu

Boredpanda.com

2. Semakin sopan ketika order, maka semakin murah harga yang bisa kamu dapat

Biar Laris, Ini 10 Ide Kreatif Untuk Kedai Kopimu

Boredpanda.com

3. Mau membuka kedai kopi sendiri tapi nggak punya uang lebih untuk sewa toko? Ide yang satu ini bisa kamu terapkan nih! Kamu hanya membutuhkan mobil, apapun jenis dan merknya

Biar Laris, Ini 10 Ide Kreatif Untuk Kedai Kopimu

Boredpanda.com

4. Ampas kopi yang udah nggak bisa dikonsumsi jangan dibuang begitu saja, ya. Kamu bisa menjadikannya kompos, lalu dijual kembali atau membagikannya sebagai souvenir untuk pelanggan coffee shop-mu

Biar Laris, Ini 10 Ide Kreatif Untuk Kedai Kopimu

Boredpanda.com

5. Salah satu alasanmu mengunjungi coffee shop adalah untuk mengisi daya gadget-mu. Dan coffee shop satu ini punya pengisi daya yang unik banget

Biar Laris, Ini 10 Ide Kreatif Untuk Kedai Kopimu

Boredpanda.com

6. Memanfaatkan kayu dan sculpture yang sudah nggak terpakai, kamu bisa menyulapnya menjadi meja panjang penghias kedai kopimu

Biar Laris, Ini 10 Ide Kreatif Untuk Kedai Kopimu

Boredpanda.com

7. Meski susah diminumnya, tapi es kopi dengan bentuk seperti ini bakalan awet kalau kamu membawanya dalam perjalanan yang cukup panjang

Biar Laris, Ini 10 Ide Kreatif Untuk Kedai Kopimu

Boredpanda.com

8. Saat hujan, coffee shop satu ini menyediakan payung untuk dipinjamkan. Nggak takut hilang, mereka menjanjikan kopi gratis untuk siapa saja yang mengembalikan payung ini

Biar Laris, Ini 10 Ide Kreatif Untuk Kedai Kopimu

Boredpanda.com

9. Butuh tambahan susu untuk kopimu? Kamu bisa menambahkannya sendiri sesuai selera dari tempat susu yang unik banget

Biar Laris, Ini 10 Ide Kreatif Untuk Kedai Kopimu

Boredpanda.com

10. Kalau kedai kopi yang satu ini punya desain gelas yang unik banget

Biar Laris, Ini 10 Ide Kreatif Untuk Kedai Kopimu

Boredpanda.com


Diambil dari : https://www.popbela.com/career/inspiration/niken-ari/marketing-kedai-kopi-yang-kreatif/full





Hichki: There are no bad students, only bad teachers

Hichki: There are no bad students, only bad teachers

Hasil gambar untuk ulasan film hichki

Mekanisme penerimaan peserta didik baru tahun 2018/2019 di Indonesia cukup memberi efek kejut. Salah satunya adalah dengan memberikan kuota sebanyak 20% untuk siswa yang berasal dari keluarga miskin. Kesakralan nilai hasil ujian akhir menjadi berkurang.

Asal membawa bukti berupa surat keterangan tidak mampu, peluang untuk diterima di sekolah “favorit” lumayan besar. Tentu hal ini juga memiliki dampak sistemik dan menimbulkan kekecewaan yang cukup besar terutama di kalangan orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah idaman.

Menurut para pakar, dengan dikeluarkannya kebijakan tersebut diharapkan tidak ada lagi kesenjangan prestasi antar sekolah yang terlalu menonjol. Sekaligus juga menjadi ajang pembuktian kualitas para guru; apakah guru itu benar-benar memiliki kompetensi mengajar yang layak. Beberapa guru harus rela dipindah ke sekolah lain dengan alasan yang sama.

Bicara tentang pendidikan khususnya kualitas guru, saya teringat sebuah film India yang rilis awal tahun 2018 ini dan dibintangi oleh Rani Mukerji. Siapa yang tak tahu Rani Mukerji? Terutama bagi penikmat film India, tentu nama aktris cantik satu ini tidak begitu asing.

Namanya mulai semakin dikenal ketika beradu akting dengan Shah Rukh Khan dan Kajol dalam film Kuch Kuch Hota Hai (1998). Dari film itu pula Rani Mukerji mendapat dua penghargaan, Filmfare dan Zee Cine Awards sebagai Aktris Pendukung Terbaik.

Adalah Hichki judul film teranyar Rani Mukerji itu. Film ini memiliki dua fokus utama yang sama pentingnya. Pertama, penggambaran kondisi dunia pendidikan di sebuah sekolah menengah di sebuah kota pelabuhan di India. Yang kedua, tentang apa itu sindrom Tourette. Singkatnya, sindrom Tourette adalah sindrom berupa ucapan atau gerakan yang te rjadi secara spontan dan berulang-ulang disebabkan kondisi syaraf yang tidak biasa.

Iya, benar sekali. Film ini merupakan adaptasi dari buku Front of The Class karya Brad Cohen dan Lisa Wysocky yang menceritakan perjuangan seorang pengidap sindrom Tourette untuk mendapatkan hak yang sama dalam dunia pendidikan. Baik sebagai siswa maupun sebagai guru. Buku Front of The Class juga pernah difilmkan di Amerika dengan judul yang sama pada tahun 2008.

Dikisahkan di awal film, seorang perempuan bernama Naina Mathur memiliki keinginan menjadi guru sejak kecil. Namun, kendala besarnya adalah sindrom Tourette yang diidapnya. Sindrom itu berupa cegukan yang datang tiba-tiba dan tidak bisa dicegah.

Tersebutlah seorang perempuan yang mati-matian mewujudkan impiannya menjadi guru. Namanya Naina Mathur (Rani Mukerji). Ia adalah penyandang Tourette Syndrome, sebuah sindrom saraf yang menyebabkan seseorang seperti terkena kejutan listrik kepada otak secara mendadak. Akibatnya terdapat tindakan-tindakan tanpa sadar yang dilakukan seperti; cegukan, gerakan kepala tiba-tiba, hingga teriak-teriak tanpa sebab.

Sejak sekolah hingga dewasa perlakuan diskriminatif sering ia terima. Dikucilkan, ditertawakan bahkan dianggap kerasukan sudah tak terhitung jumlahnya. Sekarang, ia ingin jadi guru. Dasar tekad keras itu karena ia pernah diperkenalkan kepada publik oleh gurunya. Gurunya berujar, ”Ini sekolah. Semua datang untuk belajar. Hari ini kamu mengajarkan satu hal kepada kita semua tentang Sindrom Tourette. Mulai sekarang kamu berhak mendapat pendidikan seperti anak lain.”

Penolakan demi penolakan dialaminya dengan alasan bahwa sindrom yang dideritanya akan sangat mengganggu proses belajar mengajar. Keterbatasan itu tidak membuat Naina patah arang. Semangatnya begitu besar untuk menjadi seorang guru. Bahwa kesetaraan hak patut untuk diperjuangkan.

Dengan berbekal gelar sarjana pendidikan dan magister sains, Naina mencoba peruntungannya melamar di sekolah menengah swasta terkemuka bernama St. Notker. Naina berhasil mendapatkan kesempatan itu, untuk menjadi guru di sekolah yang selama dua tahun berturut-turut menjuarai Pekan Sains Nasional di India.

Tentu hal ini membuat Naina bergembira. Ini sekaligus menjadi ajang pembuktian kepada ayahnya yang menceraikan ibunya sebab tidak kuat menanggung malu karena anaknya memiliki keterbatasan.

Sudah puluhan sekolah ia sambangi. Sampai pada satu titik ia akhirnya diminta bantuan mengajar di sekolah almamaternya, St. Nockers. Ia diminta mengajar satu semester kelas terakhir yakni kelas 9-F. F disini mungkin saja pertanda Failure (gagal). Pasalnya kelas 9-F adalah kelas bantuan untuk masyarakat kelas bawah dalam program pemerintah “Right to Education Act”. Sebutlah seperti tanggung jawab sosial St. Nockers pada lingkungan sekitar. Isinya adalah anak-anak yang berada di bawah garis kemiskinan. Bekerja setelah jam sekolah, kenakalan-kenakalan remaja dan sifat minder pada penghuni sekolah lain adalah keseharian mereka.

Namun, ada tantangan baru yang harus dihadapi Naina. Dia ditugaskan mengampu satu kelas khusus, kelas 9F. Sebuah kelas yang hanya diisi oleh 14 siswa yang terpinggirkan. Iya, semacam kelas buangan bagi para siswa yang dianggap mencemari nama besar St. Notker. Siswa-siswa yang dianggap bodoh, nakal, tidak berguna, semua dikumpulkan di sini. Dan sialnya, tidak ada satu guru pun yang mau memegang kelas underdog ini.

Hari pertama, Naina berusaha menjelaskan apa itu Sindrom Tourette. Banyak yang tertawa. Wajar. Berkali-kali perundungan dialami oleh Naina. Menciptakan suasana kelas yang terbuka dan aspiratif bagi semua adalah yang coba dihadirkan Naina. Kaya akan karakter pada siswa 9-F. Berbeda, alami dan kontekstual. Ada seorang penjudi jalanan, montir bengkel, penjual sayur, dan sebagainya. Kisah ini klop dipadukan dengan kondisi ‘cegukan’ Naina Mathur. Bersama mereka mengalami diskriminasi dan berusaha membuktikan pada dunia kecil mereka apa itu harga diri sesungguhnya. Demi menancapkan status siswa mereka mesti lulus ujian. Naina menargetkan lebih. Mengincar pin kehormatan di sekolah. Ia tahu potensi siswa-siswanya sendiri.  Bagaimana fisika dihadirkan melalui medium olahraga adalah satu contoh.

Seperti jamak ditemui dalam film-film bertema pendidikan lainnya, adanya pemisahan kelas seperti ini adalah sebagai upaya untuk mengidentifikasi tingkat kecerdasan siswa. Bisa saja memang realitanya seperti itu. Sebagaimana yang juga bisa ditemukan dalam sistem pendidikan di Indonesia berupa terciptanya jurang pemisah yang cukup curam antara anak-anak kelas IPS dan IPA. Ada yang mengalami sendiri?

Yang menarik dalam film ini adalah upaya-upaya menyajikan perspektif lain dalam dunia pendidikan dengan gamblang. Sejenak mengingatkan kita pada film 3 Idiots (2009).

Kembali ke Naina, dia bersedia menerima tantangan tersebut dengan lapang dada. Meski pada awal mengajar dia harus menerima kejahilan-kejahilan serta ejekan dari siswa-siswanya akibat sindrom Tourette yang dideritanya. Tanpa kenal menyerah, Naina mencoba menerapkan metode-metode yang sesuai dengan cara belajar dan karakter personal siswa 9F.

“Belajar tidak harus di kelas. Kalian bisa belajar di mana pun dan kapan pun.”

Begitu Naina memotivasi siswa-siswanya. Suatu kali, Naina mengajak mereka belajar di luar kelas. Menata kursi dan papan tulis di halaman sekolah. Lalu mempresensi mereka dengan cara melemparkan telur yang sudah direbus kepada setiap siswa yang dipanggil namanya.

Dengan metode itu, Naina ingin sekaligus menjelaskan berbagai teori dalam Fisika. Naina meyakinkan siswa-siswanya bahwa mereka sebenarnya secara praktik keseharian sudah melakukan pejalaran yang diajarkan di sekolah. Itu pun menunjukkan kalau sebenarnya mereka cerdas.

Melalui film ini, kita juga diajak untuk menyaksikan potret kemiskinan yang masih banyak ditemui di India. Para siswa 9F ini tadinya belajar di sekolah negeri yang lokasinya tidak jauh dari St. Noker.

Berdasarkan peraturan pemerintah tentang hak mengenyam pendidikan, dan agar tetap bisa bersekolah, mereka terpaksa pindah karena sekolah negeri yang lama itu berada di atas tanah sengketa.

Mereka adalah anak-anak yang berasal dari kawasan yang padat penduduk. Yang harus rela mengantre sepanjang 50 meter setiap hari hanya untuk mendapatkan seember air. Jadi, sebenarnya konsentrasi mereka sama sekali bukan untuk sekolah melainkan membantu perekonomian keluarga.

Maka tak heran jika di sekolah, mereka mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan karena tidak bisa fokus mengikuti pelajaran, baik dari siswa yang lain maupun dari pihak sekolah sendiri.

Tapi, yang membuat film ini jadi semakin menarik, kondisi kesenjangan ini justru digambarkan dengan asyik melalui iringan sebuah lagu berjudul Madam Jy Go Easy di pertengahan film. Memang sudah menjadi karakteristik kuat film India dengan selalu konsisten menghadirkan lagu-lagu energik yang mampu memperkuat bangunan emosi dalam film.

Lagu Madam Jy Go Easy berirama riang. Berisi ajakan untuk menikmati dengan santai apa pun dan bagaimanapun kondisi yang sedang terjadi pada diri kita saat ini.

Madam Jy Go Easy, Sab Wi-fi Hum 3G!”  artinya “Santai saja, Bu, mereka wi-fi, kita 3G!”

Penonton pun sejenak diajak untuk larut menikmati lagu itu dan menebak-nebak kejutan apa lagi yang akan muncul. Film besutan Sidarth P. Maholtra ini kembali menghadirkan konflik ketika Naina punya keinginan mengikutsertakan siswa 9F dalam kompetisi Pekan Sains Nasional.

Selama mengajar dan mengamati kehidupan siswa 9F di luar sekolah, Naina semakin yakin bahwa tidak ada siswanya yang bodoh. Yang ada hanyalah guru dan sekolah yang tidak mengetahui potensi mereka.

Pak Wadia selaku wakil kepala sekolah sekaligus tokoh ‘antagonis’—sesungguhnya tidak ada yang benar-benar berperan seabagai tokoh jahat dalam film berlatar dunia pendidikan—memberikan syarat yang cukup sulit. Kelas 9F boleh mengikuti Pekan Sains Nasional asalkan siswanya dinyatakan lulus dalam ujian dan mendapatkan lencana perfect.

Ya, mungkin ini klise, tetapi alur film-film motivasi pendidikan mudah sekali ditebak. Masalah yang muncul selalu bisa diselesaikan dengan penuh kebanggaan. Mimpi-mimpi pun diraih penuh haru dengan sedikit bumbu derai air mata karena emosi yang diaduk-aduk sepanjang film. Semua itu menjadi semakin sempurna dengan dukungan akting Rani Mukerji yang memukau sepanjang film.

Menjadi guru yang berkualitas dengan kondisi fisik yang serba berkekurangan dan terbatas adalah impian Naina. Mungkin tidak hanya Naina. Para guru di belahan bumi mana saja pasti juga menginginkan hal yang serupa. Termasuk para guru di Indonesia.

Menjadi guru yang peka akan kondisi siswa-siswanya, punya kepekaan yang akurat dalam membaca potensi anak didiknya, tajam penglihatan ke depannnya tentu menjadi cita-cita luhur para guru. Di tengah tuntutan penyelesaian administrasi kelas yang ribet dan berbelit dan perubahan kurikulum demi kurikulum yang membingungkan, mereka tetap akan terus berusaha menghasilkan generasi mada depan yang cerdas, sukses, dan berkualitas.

Memangnya sesulit itu, ya, menjadi guru?

“Ada yang lebih sulit dari menjadi guru, yaitu menjadi siswa. Salah belajar, siswa akan mendapat nilai jelek. Salah mengajar, guru tidak akan mendapat nilai jelek karena mengajar itu mudah, belajarlah yang sulit. Tidak ada siswa yang buruk. Yang ada guru yang buruk,pungkas Pak Wadia, si wakil kepala sekolah, saat menutup acara.

“Tak ada murid yang buruk, hanya guru yang buruk”

Preseden tersebut terdengar diskriminatif dan terkesan blaming the victim dalam persoalan pendidikan kita hari-hari ini. Guru sebagai subyek juga sebagai obyek adalah epos tak tuntas soal definisi dan perannya sejak awal kemerdekaan Indonesia. Pada akhirnya guru adalah manusia. Bekal ‘kemanusiaan’ itulah yang mesti dicontohkan kepada para murid. Pada akhirnya menunjukkan bahwa “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” mungkin ini istilah yang tepat untuk menyimpulkan intisari dari film ini.


ADA APA DENGAN MAHASISWA TEKNOLOGI PANGAN???

ADA APA DENGAN MAHASISWA TEKNOLOGI PANGAN???

Based on true story ex mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian 

Proud By Widiantoko, R. K

Hal-hal yang Cuma Dirasakan oleh Mereka yang Kuliah di Jurusan Teknologi Pangan, Apa Aja Sih?

Jaman dulu,  Nicolas Appert telah menemukan cara membuat makanan kaleng, tanpa menggunakan teknologi. Setelah itu, muncul Louis Pasteuryang mengadakan penelitian, menggunakan teknologi untuk mencegah kerusakan fermentasi anggur akibat mikroba. Nah, penemuan beliau inilah yang dikenal dengan istilah pasteurisasi, yang berhasil membunuh mikroba pada susu melalui pemanasan tanpa banyak merubah sifat susu.

Penemuan tersebut mempelopori semakin banyak metode pengolahan makanan, sehingga teknologi pangan semakin berkembang dan muncullah semakin banyak makanan yang praktis, misalnya susu bubuk, mie instan, teh celup, bubur instan, keripik kentang dan lain sebagainya.

Jurusan Teknologi Pangan beberapa tahun terakhir menjadi salah satu jurusan yang banyak banget diminati oleh para calon mahasiswa karena melihat peluang di masa depan. Kalau di luar negeri, jurusan ini namanya Food Technology atau Food Tech.

Mungkin awalnya anda akan berpikir kalau jurusan ini selalu berhubungan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan makanan dan konsumsi. Kalau anda masih merasa asing sekali dengan jurusan ini, berikut adalah beberapa hal yang dirasakan oleh para mahasiswa jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan. Atau mungkin, setelah baca artikel ini bakal bikin anda  tertarik untuk lanjut kuliah di jurusan Teknologi Pangan setelah lulus SMA nanti.

Mahasiswa Teknologi Pangan adalah mahasiswa “Tersesat”

Pada saat anda masuk jurusan ini, anda bakal terus berpikir dan menebak-nebak segala sesuatu tentang jurusan ini. Banyak pertanyaan yang akan muncul, bahkan ada yang mengira kalau ia salah jurusan. Bagi mereka yang kuat iman, mereka bakal terus melangkah dan positif thinking dan tidak sedikit juga dari mereka yang memilih untuk pindah jurusan.

Setelah mengikuti kelas dan mempelajari sedikit demi sedikit, lama kelamaan anda akan memahami sendiri apa itu teknologi pangan. Bersyukurnya kalau anda yang memiliki kakak kelas atau saudara yang juga kebetulan mengambil Teknologi Pangan, setidaknya anda bisa bertanya dan punya gambaran tentang jurusan ini. Mungkin saat anda melihat dan mendengar namanya “Teknologi Pangan” bayangan anda jadi dipenuhi dengan makanan-makanan enak atau semacam kelas tata boga, This is true, but thats wrong imagine.

Kegiatan perkuliahan dipenuhi kegiatan masak memasak ??? Teknologi Pangan itu bakal menghadiahi anda mata kuliah yang merupakan gabungan dari kimia, biologi, matematika, dan fisika. Jadi, di jurusan Teknologi Pangan itu ada mata kuliah Kimia Pangan, Analisis Pangan, Biokimia Pangan, Mikrobiologi Pangan, sampai pada Evaluasi Nilai Gizi Pangan.

Cuma mahasiswa Teknologi Pangan yang tahu seberapa dahsyat mata kuliah-mata kuliah itu. Belum lagi mereka yang mengira jurusan Teknologi Pangan itu sama dengan Pertanian karena masuk dalam Fakultas Teknologi Pertanian yang persepsinya berkaitan pupuk, mesin traktor ataupun cara mencangkul adalah kesalahan besar karena saya sendiri selama kuliah tidak pernah menginjakan sejengkal jari kakipun di sawah.  Meski terkadang banyak orang disekitar yang masih belum tahu tentang jurusan ini dan suka salah paham, pada akhirnya andapun dengan sabar menjelaskan apa itu Teknologi Pangan yang ternyata lebih dahsyat dari sekadar urusan makan-memakan, masak-memasak atau bercocok tanam.

Di tahun pertama, kamu akan belajar dari dasar, mulai dari fisika, biologi, kimia, dan teknik. Dengan dasar tersebut kamu akan bisa memahami setiap ruang lingkup ilmu teknologi pangan. Setelah itu, kamu akan masuk ke mata kuliah yang lebih khusus, misalnya ilmu bioteknologi, yaitu cabang ilmu biologi yang belajar bagaimana menggunakan organisme, sistem atau proses biologi untuk menghasilkan produk yang bisa dikonsumsi. Misalnya, bagaimana caranya supaya pempek ikan bisa diolah menjadi frozen food dan bisa dijual di supermarket atau diekspor dengan masa kadarluwarsa lebih panjang. Atau misalnya di pabrik keripik pisang, bagaimana caranya membeli ratusan ton pisang dari kebun dan mendatangkan ke pabrik tanpa merusak kualitas pisang (tanpa pisang menjadi busuk).

Mahasiswa juga akan mempelajari manajemen industri. Ini merupakan salah satu mata kuliah penting, karena akan mempelajari pembuatan produk, pengemasan, hingga distribusi produk pangan. Beberapa contoh mata kuliah lainnya adalah Rekayasa Proses Pangan, Mikrobiologi dan Keamanan Pangan, Pangan dan Gizi, Pengemasan Pangan, Pengeringan dan Pendinginan, Teknologi Teh, Kopi dan Coklat, Teknologi Minyak Atsiri, Rempah dan Obat, Teknologi Fermentasi, Mikrobiologi Pangan dan Enzimonologi, alat dan mesin yang digunakan dalam proses industri pangan, bagaimana merencanakan pendirian sebuah pabrik atau usaha dalam bidang pangan, serta Kewirausahaan.

Mahasiswa Teknologi Pangan Typical Mahasiswa “Siap Tempur & Kerja Lembur”

Beberapa mata kuliah yang ada praktikum, akan mengkondisikan anda menambah jam anda di kampus. Anda bisa seharian di kampus. Pagi kuliah, siang sampai sorenya praktikum kadang bisa sampai malam ataupun menginap juga. Pulang malam buat praktikum dan mengerjakan laporan adalah kegiatan sehari-hari mahasiswa Teknologi Pangan sampai anda lulus. Tapi, hal itu membuat terbiasa pintar membagi waktu dan prioritas.

Jangan bersedih karena akan ada rezeki gratis yang menanti anda. Misalnya, kalau ada dosen atau kakak tingkat anda yang penelitian di laboratorium, anda bisa jadi panelis dadakan, bisa menjadi tester berbagai produk olahan pangan. Kalau praktikum, terutama mata kuliah Teknologi Pengolahan Pangan anda bakal praktik mulai dari pembuatan ice cream, permen, mie, manisan, yogurt, asinan, selai, mengolah daging, bahkan mengolah ikan dengan high pressure (presto) atau menjadi ikan asin dan lain sebagainya. Tapi meskipun begitu, badan saya tetap saja kurus karena terjadi keseimbangan antara makanan yang masuk dan tenaga-pikiran yang dicurahkan.

Anda akan diajarkan secara alamiah menjadi mandiri, di sini kaum hawa juga mengerjakan segala sesuatu yang dikerjakan oleh laki-laki. Dari sekian jurusan, mungkin jurusan teknologi pangan dihuni oleh sedikit mahasiswa laki-laki di dalamnya. Tidak seperti jurusan ekonomi atau teknik yang penghuni laki-lakinya banyak. Meski saat ini sudah banyak mahasiswa laki-laki mulai berminat, tetap saja kaum perempuan masih mendominasi. Karena jumlah mahasiswa perempuan lebih banyak ketimbang laki-laki. Mau tak mau para mahasiswi bersatu padu menyatukan tenaga di setiap event kampus. Karena keterbatasan jumlah mahasiswa laki-laki, mahasiswi teknologi pangan jadi terbiasa untuk melakukan tugas-tugas laki-laki di dalam sebuah kepanitiaan. Sudah sepatutnya mahasiswa Teknologi Pangan memiliki kepribadian yang mandiri, tangguh dan gigih. Mereka juga tak hanya melakukan single job, double job, bahkan triple job.

Kamu suka berorganisasi? Atau punya bakat lain? Di jurusan ini, kamu bisa banget kok ikutan berbagai organisasi yang ada bahkan berkesempatan untuk bergabung dengan himpunan profesi di tingkat universitasmu, nasional, atau mungkin di dunia. Anda akan mengenal Himpunan mahasiswa jurusan, kalau saya dulu adalah pengurus Himpunan Mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian (Himalogista Universitas Brawijaya) dan BEM Universitas Brawijaya, anda akan mengenal Himpunan Mahasiswa Peduli Pangan Indonesia di level nasional dan sebagainya. Selain itu, kamu juga bisa turut aktif menjadi panitia dan melatih jiwa kepemimpinanmu karena banyak sekali pelatihan atau seminar yang berhubungan dengan Teknologi Pangan. Tidak jadi panitia pun kamu juga bisa jadi peserta seminar atau pelatihan dan menambah keahliahanmu di bidang pangan. Dan pastinya ini adalah bekal kamu dimasa depan. Perlu anda ingat, dalam dunia kerja sangat membutuhkan lulusan yang siap tempur dengan soft skill seperti mental yang kuat, kepemimpinan, memberikan problem solving yang cepat, cara komunikasi yang etis dan lain sebagainya selain ditunjang dengan keilmuan yang memadai.

Mahasiswa Teknologi Pangan adalah Manusia “Over Protective”

Mahasiswa Teknologi Pangan juga mempelajari segala penyakit yang kemungkinan disebabkan oleh makanan. Selain itu, mereka juga belajar tentang bagaimana mengolah makanan yang baik, memilih bahan makanan yang sehat dan bergizi. Bahkan pengalaman saya melakukan praktikum terhadap kualitas maupun higienitas dari jajanan makanan atau minuman yang beredar di pasaran mebuat saya insyaf bertaubat untuk dengan mudahnya membeli di “pinggir jalan”. Sangat tahu banyak tentang bahaya bahan-bahan kimia di pangan (bahan tambahan pangan) dan tahu juga bahwa hampir tak ada satu pun makananan yang bebas dari bahan tambahan pangan ini. Anda akan merasa mengalami dilema dalam memilih makanan apa yang baik buatmu. Mungkinkah anda memilih untuk menanam dan mengolah makanan sendiri? Meski mungkin tapi pasti menyita hampir seluruh waktu. Pada akhirnya kamu akan sedikit cuek dan menyimpulkan bahwa semua akan baik-baik saja asal tidak berlebihan (sesuai dosis) kecuali untuk bahan-bahan yang memang bukan untuk pangan seperti boraks dan formalin atau bahan yang dilarang oleh BPOM.

Dari ilmu-ilmu yang dipelajarinya, dikaitkan dengan ilmu mengenai interaksi makanan dengan organ tubuh serta cakupan nutrisi yang masuk ke tubuh. Mahasiswi Teknologi Pangan juga dituntut untuk bisa menanggulangi berbagai penyakit yang berkaitan dengan makanan, meminimalisir adanya kontaminasi kimia dan mikrobiologi yang berlebihan, serta menciptakan makanan yang baik untuk dikonsumsi.

Kesehatan itu sangatlah penting dan butuh perhatian lebih. Untuk menjaga kesehatan diri, seorang calon ahli pangan sudah seharusnya selalu menjaga konsumsi makanan. Berbagai upaya akan ia lakukan untuk membuat diri dan keluarganya kelak menjadi sehat dan terhindar dari bahaya kesehatan. Mereka banyak pertimbangan dalam memilih makanan yang baik untuk dikonsumsi. Kalau mahasiswa Teknologi Pangan sampai terkena sakit diare, itu menunjukkan apa yang dipelajari belum merasuk sepenuhnya dalam keseharian.

Mahasiswa Teknologi Pangan adalah Orang Komunikatif dan Perhatian.

Seorang Mahasiswa Teknologi Pangan memiliki bekal untuk memecahkan segala permasalahan yang berkaitan dengan pangan. Kesehatan konsumen? Mereka sangat peduli dong. Mereka dengan setia berkontribusi untuk menghasilkan makanan yang baik dan aman di konsumsi dan dikomunikasikan dengan orang disekitarya.

Alhasil mereka diituntut terampil dan cakap dalam berkomunikasi, mau tidak mau mahasiswa jurusan Teknologi Pangan adalah orang yang pandai berkomunikasi namun tidak cerewet. Selama perkuliahan, mereka dituntut mampu presentasi tiada henti agar dapat berbicara di depan umum, menyampaikan pendapat, menghormati orang yang sedang berbicara, bersosialisasi, dan mampu memberikan solusi. Mereka adalah orang-orang yang sangat cerdas, kreatif, dan cekatan.

Dalam kuliah teknologi pangan, para mahasiswi juga dibekali ilmu berwirausaha. Ilmu wirausaha merupakan ilmu yang banyak diajarkan pada mahasiwa. Mereka yang tidak suka bekerja di bawah tekanan tentu sangat membutuhkan ilmu kewirausahaan ini. Mereka yang pandai dalam memanfaatkan peluang akan melahirkan ide-ide kreatif untuk dapat menghasilkan pundi-pundi uang dengan berwirausaha. Dengan keterampilan mengolah dan memodifikasi bahan pangan, tentu mereka akan mampu menciptakan produk pangan yang memiliki nilai jual yang tinggi dan pastinya bermanfaat.

Mahasiswa Teknologi Pangan Tidak Pernah Mati Gaya Setelah Lulus

Mungkin bagi Anda yang kuliah di jurusan Teknologi Pangan sering mendengar istilah As Long As human eat food, food tech will never die. Yang artinya selama manusia memakan makanan, maka teknologi pangan tidak akan mati. Setelah lulus, mahasiswa Ilmu Teknologi Pangan bisa berkarir di beberapa bidang ini:

Quality Control/Pengendalian Mutu

Kebanyakan sarjana yang baru lulus diterima bekerja di bagian Pengendalian Mutu (quality control), dimana mereka bertugas untuk memastikan proses pengolahan makanan di pabrik berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan.

Misalnya staf quality control di pabrik es krim harus memastikan bahwa es krim yang dihasilkan telah melewati proses yang higienis dan dengan kandungan bahan makanan yang tidak merugikan. Pengawasan juga dilakukan sampai di tahap pengepakan, bahkan pengiriman produk.

Bagian Quality Control membutuhkan cukup banyak lulusan Teknologi Pangan. Untuk satu jenis produk kadang-kadang diperlukan 15 orang pengawas mutu. Jadi kebanyakan lulusan jurusan Ilmu Teknologi Pangan memang mengawali karir mereka di bagian Quality Control.

Untuk dapat berkarir di bidang ini, mahasiswa harus memiliki kompetensi sebagai berikut:

  • Mampu menganalisis parameter mutu dalam bahan (sifat fisik, kimia, biologis
  • Menguasai standar mutu pangan (nasional maupun internasional)
  • Mampu memimpin tim pengendali mutu (bahan, proses, dan produk akhir)
  • Mampu merencanakan, mengendalikan, mengarahkan, dan memimpin proses produksi
  • Mampu menggali potensi pengembangan produk

Konsultan Pangan dan Gizi

Konsultan pangan dan gizi bertugas memberikan konsultasi bagi industri makanan tentang produksi, pemasaran, trend produk, serta kualitas produk makanan, permasalahan konsumsi gizi dan keamanan pangan.

Lingkup pemerintahan

Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Departemen Pertanian, Balitbang, POM(Pengawas Obat dan Makanan), LIPI,dll yang memiliki tanggung jawab sebagai berikut: mampu melayani masyarakat dengan baik, mampu mengkoordinir bagian yang dipimpinnya di Instansi tempat ia bekerja, berwawasan luas dan menguasai Teknologi.

Pengembangan Produk

Tidak mudah untuk diterima di bagian pengembangan produk di suatu perusahaan. Ini di karenakan posisi inilah yang memegang resep rahasia produk perusahaan. Karena posisinya yang penting, staf pengembangan produk (product development) mendapat gaji yang lebih tinggi dan sering berhubungan dengan para pemimpin puncak di perusahaan, sehingga mereka berpeluang mendapat kenaikan pangkat lebih cepat dibandingkan para staf di QC. Posisi tertinggi yang bisa diraih staf di bagian ini adalah Chief Technical Officer, atau Direktur Teknik.

Jumlah sarjana yang diterima di bagian ini biasanya lebih sedikit. Misalnya untuk 1 jenis produk hanya diperlukan 2 staf Pengembangan Produk saja. Kalau sebuah perusahaan memproduksi 10 macam produk, maka jumlah staf di bagian ini paling hanya 20 orang.

Berwirausaha/ Pengusaha pangan

Tidak sedikit lulusan Ilmu Teknologi Pangan yang kemudian membuka usaha ekspor impor. Jika kamu mampu merencanakan dan mendirikan suatu perusahaan, menguasai manajemen perusahaan atau mengembangkan usaha yang telah berjalan, kamu berpeluang untuk membuat pabrik sendiri, misalnya pabrik ekspor makanan beku, baik untuk pasar dalam negeri maupun luar negeri.

Lulusan Teknologi Pangan Tetap Harus Siap Bertarung di Dunia Kerja

Sebegitu banyak potensi dunia kerja dari lulusan Teknologi Pangan, tapi sesungguhnya dunia kerja sungguhlah kejam. Di dunia kerja anda tidak akan mengenal berapa IPK yang diperoleh dan berapa lama anda kuliah (saya pribadi adalah lulusan 7 tahun pas). Di dunia ini mereka yang mampu beradaptasi lah yang bisa survive.

Mungkin di kampus anda menjadi mahasiswa teknologi pangan yang terlihat vokal. Namun banyak orang menganggap mahasiswa teknologi pangan hanya sebatas akan bekerja di bagian quality control (QC). Bahkan ada beberapa orang yang mengatakan bahwa teknologi pangan sama dengan tukang sortir. Karena kerjanya mahasiswa teknologi pangan menyortir barang buruk dan baik maupun berupa produk atau bahan baku. Hal ini dilakukan terus-menerus.

Hal ini merupakan pendapat orang, dan pendapat tidak ada yang salah.  Padahal sebenarnya masih banyak pekerjaan yang bisa dilakoni oleh mahasiswa lulusan teknologi pangan. Misalnya management training, bagian produksi, sales dan marketing, dan pengembangan produk. Namun perlu diketahui bahwa Saingan dalam dunia kerja tidak hanya lulusan teknologi pangan saja. Ada kecenderungan bahwa pekerjaan yang ditangani para sarjana food tech ini seringkali digantikan oleh lulusan kimia. Hal ini disebabkan oleh keahlian sarjana teknologi pangan lebih kecil dibandingkan sarjana teknik kimia. Kelebihan lulusan teknologi pangan ada di bidang nutrisi. Namun anda juga harus tahu bahwa ada jurusan ilmu gizi. Seringkali beberapa orang berpikir bahwa sebenarnya teknologi pangan tidak diperlukan karena ada teknik kimia dan ilmu gizi.

Mungkin dibandingkan Teknik Pertanian ketika kuliah mahasiswa teknologi pangan bisa berbangga diri. Namun Tahukah anda bahwa alumni teknologi pangan kalah saing dengan alumni Teknik Pertanian karena mereka lebih fleksibel dan adaptif dengan dunia kerja.

Kuncinya adalah belajar beradaptasi untuk mampu bekerja di bawah tekanan. Selain itu Anda juga harus memiliki rasa penasaran yang tinggi agar ketika lulus kuliah anda tidak berhenti untuk belajar. Misalnya Anda bisa mencoba belajar lini produksi atau marketing. Seseorang yang mampu menguasai berbagai bidang tentu akan dianggap anak emas oleh sebuah perusahaan. Selain itu ketika anda mendaftar sebuah pekerjaan mereka pasti akan mengutamakan anda.

Dengan memiliki rasa penasaran yang tinggi Maka otak akan berkembang untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan. Seorang sarjana dibentuk bukan sebagai pekerja, namun menjadi seorang pemimpin yang mampu memecahkan masalah.

 


A’touna Et-Tufoole,  Beri Kami Masa Kecil

A’touna Et-Tufoole,  Beri Kami Masa Kecil

جينا نعيدكم… بالعيد منسألكم
Jeena N’ayedkon … Bel-Eid Mnes’alkon
Kami datang dengan Ucapan Selamat Berlibur …Dan selama liburan kami bertanya padamu

ليش ما في عنا… لا أعياد ولا زينة 
Lesh Ma Fee ‘Enna … La ‘Ayyad Wala Zeineh
Kenapa kami tidak punya Liburan ataupun Dekorasi ( Perhiasan )

 يا عالم
Ya ‘Alam
Wahai Dunia

أرضي محروقة 
Ardhi Mahroo’a 
Tanahku Habis terbakar

أرضي حرية مسروقة
Ardhi Huriyyeh Masroo’a
Tanahku dicuri kebebasannya

سمانا عم تحلم… عم تسأل الأيام 
Samana ‘Am Tehlam … ‘Am Tes’al El-Ayam
Langit kami Sedang bermimpi … bertanya kepada hari hari

وين الشمس الحلوة… ورفوف الحمام
Wein Esh-Shames El-Helwe … W-Rfouf El-Hamam
Dimana matahari yang indah … dan di mana kipasan sayap  burung merpati ?

يا عالم
Ya ‘Alam
Wahai Duniaa

أرضي محروقة
Ardhi Mahroo’a
Tanahku Habis terbakar

أرضي حرية مسروقة
Ardhi Huriyyeh Masroo’a
Tanahku dicuri kebebasannya

أرضي زغيرة… متلي زغيرة
Ardhi Zgheere … Metli Zgheere
Tanahku Kecil, seperti aku, itu kecil

ردولها السلام… اعطونا الطفولة
Redoulha Es-Salam …. ‘Atouna Et-Tufoole
Berikan kedamaian kembali padanya, beri kami masa kecil

اعطونا الطفولة
A’touna Et-Tufoole 
beri kami masa kecil

اعطونا الطفولة
A’touna Et-Tufoole
beri kami masa kecil

أعطونا الطفولة
A’touna Et-Tufoole
beri kami masa kecil

اعطونا… اعطونا… اعطونا السلام
A’touna … ‘Atouna … ‘Atouna Es-Salam
Beri Kami … Beri Kami … Beri kami Kedamaian .


PROSES SCALING PEMBERSIHAN KARANG GIGI

PROSES SCALING PEMBERSIHAN KARANG GIGI
Jadi sebetulnya gue ini penakut kelas kakap -okelah, sebut saja PENGECUT-. Kalo uda denger yang namanya dokter atau semacamnya, beeuuhh jangankan bulu kaki.. Bulu ketek aja uda pada berdiri. Tapi selama 29 tahun ini gue hidup tanpa rasa PD yang tinggi. Why? Karena karang gigi gue yang hebohnya gak ketolongan. Biasanya nih mayoritas karangnya terletak di bagian belakang gigi bawah, nahh kalo gue.. karangnya uda sampe di depan. Iya, di depan. Uda kayak pagar gitu. Padahal gue rajin gosok gigi. Sehari sekali tiap pagi! -yayaya, anda benar kawan.. Gosok gigi seharusnya minimal 2x sehari. I know I know!!- Alhasil istri marah-marah dan memaksa diriku untuk pergi ke dokter gigi untuk scaling alias bersihin karang gigi! Dengan percekcokan yang panjang, akirnya dengan hati berat gue setuju. FYI, sempet nangis tau ga sih.
Daaaaann tibalah hari H untuk bertemu dengan sang dokter!  Waktu itu otak serasa blank, pokoknya tau tau gue uda duduk di kursi panas. Melihat alat alatnya pun gue uda ga sanggup dan akirnya memutuskan untuk merem dan tidak mau tahu. Tiba2 ada alat yang dimasukin ke mulut gue.. Getar2 gak jelas gitu. Tapi anehnya sama sekali gak ada rasa sakit. Catat, SAMA SEKALI. Tapi linu ga? Kalo disuruh kasih nilai 1-10, yaahh gue kasih nilai 3 deh. Linu nya tuh nyaris gak kerasa.. Paling cuma linu bentar 1-2 detik. Nahh terus di mulut tiba2 serasa ada gigi yang copot gitu, sempet kaget sih.. eehh pas disuruh kumur ternyata itu karang gigi. Akhirnya setelah proses scaling yang cepat (antara 10-15menitan doang) disuruh kumur lagi, kali ini ada darah yang keluar. Tapi darahnya juga gak kerasa kok. Gue malah ga sadar kalo berdarah. Keluar2 dari ruangan dokter -yang tadinya terlihat seperti rumah hantu- gue langsung senyum2 lega sambil ngaca mulu. Wahhh, buseett… Kinclong banget nih gigi.. Jadi serasa enteng gak punya gigi (ya jelas lah, orang sebelumnya karang2 udah menumpuk tebel gtu).
Nahh jadi guys, JANGAN TAKUT SCALING! Karna beneran scaling itu sama sekali nggak sakit. Zaman dulu masih pakek scaler yag manual (jadi proses pembersihannya dicongkel gitu), kalo zaman sekarang dokter2 semua udah pakek ultrasonic scaler (dijamin alat ini gak bikin sakit cenat cenut). Ingat guys.. Scaling itu penting banget untuk kesehatan gigi. Gamau ompong kan ntar? Gak kebayang kan karang2 gigi menjalar sampai ke depan (kayak gue dulu)? Apalagi nafas bau gara2 karang gigi.. Makanya bagi yang belum pernah scaling, go!!! Scaling secepatnya sebelum terlambat 🙂
Sekarang mah gue udah PD senyum sana sini. Hihihii 😀
FYI, biaya scaling karang gigi sekarang sekitar Rp 200.000 untuk rahang atas dan bawah (Rp 100.000/rahang)  (DI POLIGIGI RUMAH SAKIT DAERAH SIDOARJO).
Pembersihan karang gigi / scaling-perlukah? Bagaimana prosedurnya?

Apakah anda sudah lama tidak mengecek gigi ke dokter gigi?mungkin sudah saatnya gigi anda melakukan pembersihan karang gigi/ scaling

Apakah scaling itu?scaling adalah perawatan yang paling umum untuk mencegah atau mengobati penyakit gusi/ periodontal. Perawatan ini meliputi pembersihan kalkulus/karang gigi dan plak yang menempel pada permukaan gigi, terutama area di sekitar dan di bawah garis gusi.

Mengapa karang gigi ini perlu dibersihkan? Plak adalah substansi lengket penuh bakteri yang terbentuk pada permukaan gigi. Bila tidak dibersihkan dalam jangka waktu yang cukup lama, maka akan mengeras sehingga menjadi kalkulus/ karang gigi yang tidak dapat dibersihkan hanya dengan penyikatan gigi saja. Tidak seperti permukaan gigi yang halus, permukaan karang gigi kasar sehingga plak yang berisi banyak bakteri mudah menempel. Bakteri-bakteri inilah yang menyebabkan penyakit gusi atau disebut juga gingivitis. Pada gingivitis dapat dijumpai gusi bewarna kemerahan, bengkak dan mudah berdarah. Bila tidak segea diobati dan dilakukan pembersihan karang gigi, maka infeksi akan menyebar ke tulang di bawah gusi menyebabkan kerusakan dan penurunan ketinggian tulang (periodontitis). Penurunan ketinggian gusi dan tulang ini akan menyebabkan gigi terlihat lebih ‘panjang’ karena tereksposnya akar gigi yang harusnya tertutup tulang dan gusi. Pada kasus yang sudah parah bisa menyebabkan gigi goyang dan akhirnya harus dicabut.

Bagaimana proses scaling dilakukan?

Dokter gigi biasanya menggunakan instrumen ultrasonik untuk memecah/ melepaskan karang dari permukaan gigi. Instrumen ini juga menyemprotkan air pada saat yang bersamaan untuk membersihkan sisa-sisa karang gigi dan untuk mempertahankan suhu dari area yang dibersihkan.

Kadang kala juga digunakan hand instrument  untuk menghilangkan karang gigi yang ukurannya lebih kecil dan untuk menghaluskan permukaan gigi.

Setelah karang gigi dibersihkan, gigi kemudian di-polish menggunakan brush atau rubber cup dan pasta profilaksis untuk membuat permukaan gigi lebih halus dan mengkilat.

dicuplik dari : http://viodevens.blogspot.co.id/ dan http://jb-dental.com/


Apakah Sekolah Kita Sudah “Beradab”?

Apakah Sekolah Kita Sudah “Beradab”?

oleh : Irfan Amalee

poster pendidikan

Ada sebuah tulisan dari saudara Irfan Amalee yang mampu mengguncang hati saya, bagaimana lemahnya standarisasi dalam pendidikan dimana beberapa waktu terakhir ini yang selalu dipacu adalah nilai,,nilai,,dan nilai,,sehingga kita akan lebih terkejut bila mendengar ada anak yang tidak lulus UN lantas bertindak nekat mengakhiri hidupnya,,,karena kita telah melupakan aspek mental dan moral sebagai pokok tujuan utama yang harus dibangun dalam pendidikan selain keilmuan. Kita juga melupakan aspek pelayanan dan mutu pendidikan yang telah bergeser kepada aspek penilaian betapa megahnya bangunan sekolah, betapa banyaknya murid dari kalangan elit yang bersekolah disana dan berapa banyak pajangan dinding akan prestasi lomba-lomba para muridnya. Berikut kisah yang dapat kita petik dari tulisan artikel sudara Irfan Amalee di kompasiana.

Setahun terakhir ini saya terlibat membantu program Teaching Respect for All UNESCO. Saya juga membantu sejumlah sekolah agar menjadi sekolah welas asih (compassionte school). Dua hal di atas membawa saya betemu dengan sejumlah sekolah, pendidik, hingga aktivis revolusioner dalam menciptakan pendidikan alternatif. Di benak saya ada satu pertanyaan: sudah se-compassionate apa sekolah kita? Sejauh mana sekolah menumbuhkan sikap respect pada siswa dan guru, serta semua unsur di lingkungan sekolah? Karena compassion (welas asih) dan respect (sikap hormat dan emphaty) adalah bagian dari adab (akhlak) maka pertanyaannya bisa sedikit diubah dan terdengar kasar: sudah seber-adab apakah sekolah kita?

Rekan saya melakukan sebuah experimen yang menarik. Dia berkunjung ke Sekolah Ciputra, sekolah millik pengusaha Ciputra yang menekankan pada karakter, leadeship dan entrepreneurship serta memberi pengharagaan pada keragaman agama dan budaya. Pada kunjungan pertama rekan saya itu datang dengan baju necis menggunakan mobil pribadi. Di depan gerbang Pak Satpam langsung menyambut hangat, “Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” Rekan saya menjawab bahwa dia ingin bertemu dengan kepala sekolah, tetapi dia belum buat janji. Dengan sopan Pak Satpam berkata, “Baik, saya akan telepon pak kepala sekolah untuk memastikan apakah bisa ditemui, bapak silakan duduk, mau minum kopi atau teh?” Pelayanan yang begitu mengesankan!

Di waktu lain, rekan saya datang lagi, dengan penampilan yang berbeda. Baju kumal, dengan berjalan kaki. Satpam yang bertugas memberikan sambutan yang tak beda dengan sebelumnya, diperlihakan duduk dan diberi minuman. Saat berjalan menuju ruang kepala sekolah, satpam mengantarkan sambil terus bercerita menjelaskan tentang sekolah, bangunan, serta cerita lain seolah dia adalah seorang tour guide yang betul menguasai medan. Bertemu dengan kepala sekolah tak ada birokrasi rumit dan penuh suasana kehangatan. Padahal rekan saya itu bukan siapa-siapa, dan datang tanpa janjian sebelumnya.

Melatih satpam menjadi sigap dan waspada adalah hal biasa. Tetapi menciptakan satpam dengan perangai mengesankan pastilah bukan kerja semalaman. Pastilah sekolah ini punya komitmen besar untuk menerapkan karakter luhur bukan hanya di buku teks dan di kelas. Tapi semua wilayah sekolah, sehingga saat kita masuk ke gerbangnya, kita bisa merasakannya. Itulah hidden curricullum, culture.

Di kesempatan lain, saya bersama rekan saya itu berkunjung ke sebuah sekolah Islam yang lumayan elit di sebuah kota besar (saya tidak akan sebut namanya). Di halaman sekolah terpampang baliho besar bertuliskan, “The most innovative and creative elementary school” sebuah penghargaan dari media-media nasional. Dindinging-dinding sekolah dipenuhi foto-foto siswa yang menjuarai berbagai lomba. Ada dua lemari penuh dengan piala-piala. Pastilah sekolah ini sekolah luar biasa, gumam saya.

Kami berjalan menuju gerbang sekolah menemui satpam yang bertugas. Setelah kami mengutarakan tujuan kami ketemu kepala sekolah, satpam itu dengan posisi tetap duduk menunjuk posisi gerbang dengan hanya mengatakan satu kalimat, “lewat sana”.

Kami masuk ke sekolah tersebut. Di tangga menuju ruangan kepala sekolah, ada seorang ibu yang bertugas menjadi front office menghadang kami dengan pertanyaan, “mau kemana?” dengan wajah tanpa senyum. Saat tiba di ruangan kepala sekolah, kebetulan sat itu mereka sedang rapat. Sehingga kami harus menunggu sekitar 45 menit. Selama kami duduk, berseliweran guru datang dan pergi tanpa ada ada yang menghampiri dan bertanya, ” ada yang bisa saya bantu?”

Akhirnya kepala sekolah mempersilakan kami unutk masuk ke ruangannya. Baru ngobrol sebentar, tiba tiba seseorang di luar membuka pintu dan memasukkan kepalanya menanyakan sesuatu kepada kepala sekolah yang tengah mengobrol dengan kami. Tak lama dari itu tiba-tiba seorang guru masuk lagi langsung minta tanda tangan tanpa peduli bahwa kami sedang mengobrol. Karena kesal, akhirnya kepala sekolah itu mengunci pintu agar tak ada orang masuk. Dalam obrolan, saya sempat bertanya, apa kelebihan sekolah ini? Kepala sekolah terlihat berpikir keras selama beberapa menit sampai akhirnya menjawab,” ini seperti toko serba ada, semua ada”. Dari jawaban itu saya baru faham, pantas saja satpam sekolah ini tak punya sense of excelent service, kepala sekolahnya saja tak biss menjelaskan apa value preposition sekolahnya.

Kemegahan bangunan, serta berbagai prestasi yang telah diraih, rasanya menjadi tak ada apa-apanya. Karena bukan itu yagn membaut kita terkesan, melainkan atmosfir sekolah, hidden curricullum, culture.

Perjalanan kami lanjutkan ke sekolah Islam di tengah kampung. Bangunannya kecil sederhana. Pendiri sekolah ini seorang lulusan STM, tetapi mengabdikan separuh hidupnya untuk merumuskan dan menerapkan konsep  sekolah kreatif yang dapat memanusiakan manusia. Saat ditanya tentang sekolahnya, dengan lancar dia menjelaskan konsep sekolah kreatif yang memberikan keras besar pada kreativitas anak dan guru. Ruang kelas dibuat tanpa daun pintu. Hanya lubang lubang besar berbentuk kotak, lingkaran, bulan sabit, bintang. Sehingga ketika guru tidak menarik, siswa boleh keluar kapan saja. Tak ada seragam sekolah dan buku pelajaran.

Kami duduk di pelataran sekolah sambil menyaksikan keceriaan anak-anak yang tengah bermain. Selama kami duduk, ada tiga orang guru dalam waktu yang berbeda menghampiri menyambut kami dan bertanya, “ada yang bisa yang saya bantu?”. Saya menangkap semangat melayani para guru tersebut. Mereka ingin memastikan tak ada tamu yang tak dilayani dengan baik.

Saat mengamati anak-anak bermain, saya melihat ada seorang anak yang jatuh dan menangis. Saya menebak bahwa guru akan segera membantu. Tetapi tebakan saya salah, ternyata dua teman sekelasnya datang menghibur dan membantunya untuk berdiri dan memapahnya ke kelas. Saya cukup terkesan.

Di sekolah yang sederhana ini saya menangkap aura kebahagiaan dari siswa dan guru-gurunya. Saya tak perlu tahu kurikulum dan sistemnya, saya sudah bisa merasakannya. Konsep dan visi pendirinya, ternyata bukan hanya di kertas. Saya bisa melihat dalam praktik. Itulah hidden curricullum, culture.

Pada kesempatan lain rekan saya pernah juga terkesan oleh siswa sekolah internasiona yang kebanyakn siswanya berkebangsaan jepang. Saat itu rekan saya akan mengisi acara di depan siswa pukul 10 pagi. Setengah sepuluh aula masih kosong. Tak ada orang tak ada kursi. Lima belas menit sebelum acara para siswa datang, mengambil kursi lipat dan meletakkannya dalam posisi barisan yang rapi. Seusai acara, setiap siswa kembali melipat kursi dan meletakkannya di tempat penyimpanan, hingga ruangan kembali kosong dan bersih seperti semula. Itulah culture.

Dari cerita di atas, saya semakin tidak tertarik pada prestasi apa yang diraih sekolah, semegah apa sebuah sekolah. Saya lebih tertarik bagaimana budaya sekolah dibangun dan diterapkan? Banyak sekolah yang menginvestasikan begitu banyak waktu dan pikiran untuk menyabet berbagai penghargaan. Tapi tak banyak yang serius membuat sekolah menjadi berharga dengan karakter dan budi pekerti. Banyak guru dan pelatih didatangkan untuk memberikan pembinaan tambahan pada siswa agar dapat menang lomba. Tapi sedikit sekali pelatihan service excellence untuk satpam dan karyawan. Dinding sekolah dipenuhi foto-foto siswa yang juara ini juara itu, tapi jarang sekali foto sesorang siswa dipajang karena dia melakukan sebuah kebaikan. Kehebatan lebih dihargai daripada kebaikan. Prestasi lebih berharga dari budi pekerti.

Kita harus segera mengubah sistem pendidikan kita masih berorientasi pada ta’lim (mengajarkan) menjadi ta’dib (penanaman adab). Dalam konsep compassionate school, tadib harus diterapkan secara menyeluruh (wholse school approach) meliputi tiga area, pertama SDM yaitu guru, karyawan, orangtua, hingga satpam, kedua kurikulum, dan yang ketiga iklim atau hidden curricullum.

Sebuah sekolah bukanlah pabrik yang melahirkan siswa-siswa pintar. Tapi sebuah lingkungan yang membuat semua unsur di dalamnya menjadi lebih ber-adab. Untuk mengukur apakah sebuah sekolah sudah menjadi compassionate school tak serumit standar ISO. Cobalah berinteraksi dengan satpam sekolah, amatilah bagaimana guru beriteraksi, siswa bersikap. Rasakan atmosfirnya. Jika preastasi akademik bisa dilihat di selembar kertas, budi pekerti hanya bisa kita rasakan.