“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

KRITIS SOSIAL

Apakah Sekolah Kita Sudah “Beradab”?

Apakah Sekolah Kita Sudah “Beradab”?

oleh : Irfan Amalee

poster pendidikan

Ada sebuah tulisan dari saudara Irfan Amalee yang mampu mengguncang hati saya, bagaimana lemahnya standarisasi dalam pendidikan dimana beberapa waktu terakhir ini yang selalu dipacu adalah nilai,,nilai,,dan nilai,,sehingga kita akan lebih terkejut bila mendengar ada anak yang tidak lulus UN lantas bertindak nekat mengakhiri hidupnya,,,karena kita telah melupakan aspek mental dan moral sebagai pokok tujuan utama yang harus dibangun dalam pendidikan selain keilmuan. Kita juga melupakan aspek pelayanan dan mutu pendidikan yang telah bergeser kepada aspek penilaian betapa megahnya bangunan sekolah, betapa banyaknya murid dari kalangan elit yang bersekolah disana dan berapa banyak pajangan dinding akan prestasi lomba-lomba para muridnya. Berikut kisah yang dapat kita petik dari tulisan artikel sudara Irfan Amalee di kompasiana.

Setahun terakhir ini saya terlibat membantu program Teaching Respect for All UNESCO. Saya juga membantu sejumlah sekolah agar menjadi sekolah welas asih (compassionte school). Dua hal di atas membawa saya betemu dengan sejumlah sekolah, pendidik, hingga aktivis revolusioner dalam menciptakan pendidikan alternatif. Di benak saya ada satu pertanyaan: sudah se-compassionate apa sekolah kita? Sejauh mana sekolah menumbuhkan sikap respect pada siswa dan guru, serta semua unsur di lingkungan sekolah? Karena compassion (welas asih) dan respect (sikap hormat dan emphaty) adalah bagian dari adab (akhlak) maka pertanyaannya bisa sedikit diubah dan terdengar kasar: sudah seber-adab apakah sekolah kita?

Rekan saya melakukan sebuah experimen yang menarik. Dia berkunjung ke Sekolah Ciputra, sekolah millik pengusaha Ciputra yang menekankan pada karakter, leadeship dan entrepreneurship serta memberi pengharagaan pada keragaman agama dan budaya. Pada kunjungan pertama rekan saya itu datang dengan baju necis menggunakan mobil pribadi. Di depan gerbang Pak Satpam langsung menyambut hangat, “Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” Rekan saya menjawab bahwa dia ingin bertemu dengan kepala sekolah, tetapi dia belum buat janji. Dengan sopan Pak Satpam berkata, “Baik, saya akan telepon pak kepala sekolah untuk memastikan apakah bisa ditemui, bapak silakan duduk, mau minum kopi atau teh?” Pelayanan yang begitu mengesankan!

Di waktu lain, rekan saya datang lagi, dengan penampilan yang berbeda. Baju kumal, dengan berjalan kaki. Satpam yang bertugas memberikan sambutan yang tak beda dengan sebelumnya, diperlihakan duduk dan diberi minuman. Saat berjalan menuju ruang kepala sekolah, satpam mengantarkan sambil terus bercerita menjelaskan tentang sekolah, bangunan, serta cerita lain seolah dia adalah seorang tour guide yang betul menguasai medan. Bertemu dengan kepala sekolah tak ada birokrasi rumit dan penuh suasana kehangatan. Padahal rekan saya itu bukan siapa-siapa, dan datang tanpa janjian sebelumnya.

Melatih satpam menjadi sigap dan waspada adalah hal biasa. Tetapi menciptakan satpam dengan perangai mengesankan pastilah bukan kerja semalaman. Pastilah sekolah ini punya komitmen besar untuk menerapkan karakter luhur bukan hanya di buku teks dan di kelas. Tapi semua wilayah sekolah, sehingga saat kita masuk ke gerbangnya, kita bisa merasakannya. Itulah hidden curricullum, culture.

Di kesempatan lain, saya bersama rekan saya itu berkunjung ke sebuah sekolah Islam yang lumayan elit di sebuah kota besar (saya tidak akan sebut namanya). Di halaman sekolah terpampang baliho besar bertuliskan, “The most innovative and creative elementary school” sebuah penghargaan dari media-media nasional. Dindinging-dinding sekolah dipenuhi foto-foto siswa yang menjuarai berbagai lomba. Ada dua lemari penuh dengan piala-piala. Pastilah sekolah ini sekolah luar biasa, gumam saya.

Kami berjalan menuju gerbang sekolah menemui satpam yang bertugas. Setelah kami mengutarakan tujuan kami ketemu kepala sekolah, satpam itu dengan posisi tetap duduk menunjuk posisi gerbang dengan hanya mengatakan satu kalimat, “lewat sana”.

Kami masuk ke sekolah tersebut. Di tangga menuju ruangan kepala sekolah, ada seorang ibu yang bertugas menjadi front office menghadang kami dengan pertanyaan, “mau kemana?” dengan wajah tanpa senyum. Saat tiba di ruangan kepala sekolah, kebetulan sat itu mereka sedang rapat. Sehingga kami harus menunggu sekitar 45 menit. Selama kami duduk, berseliweran guru datang dan pergi tanpa ada ada yang menghampiri dan bertanya, ” ada yang bisa saya bantu?”

Akhirnya kepala sekolah mempersilakan kami unutk masuk ke ruangannya. Baru ngobrol sebentar, tiba tiba seseorang di luar membuka pintu dan memasukkan kepalanya menanyakan sesuatu kepada kepala sekolah yang tengah mengobrol dengan kami. Tak lama dari itu tiba-tiba seorang guru masuk lagi langsung minta tanda tangan tanpa peduli bahwa kami sedang mengobrol. Karena kesal, akhirnya kepala sekolah itu mengunci pintu agar tak ada orang masuk. Dalam obrolan, saya sempat bertanya, apa kelebihan sekolah ini? Kepala sekolah terlihat berpikir keras selama beberapa menit sampai akhirnya menjawab,” ini seperti toko serba ada, semua ada”. Dari jawaban itu saya baru faham, pantas saja satpam sekolah ini tak punya sense of excelent service, kepala sekolahnya saja tak biss menjelaskan apa value preposition sekolahnya.

Kemegahan bangunan, serta berbagai prestasi yang telah diraih, rasanya menjadi tak ada apa-apanya. Karena bukan itu yagn membaut kita terkesan, melainkan atmosfir sekolah, hidden curricullum, culture.

Perjalanan kami lanjutkan ke sekolah Islam di tengah kampung. Bangunannya kecil sederhana. Pendiri sekolah ini seorang lulusan STM, tetapi mengabdikan separuh hidupnya untuk merumuskan dan menerapkan konsep  sekolah kreatif yang dapat memanusiakan manusia. Saat ditanya tentang sekolahnya, dengan lancar dia menjelaskan konsep sekolah kreatif yang memberikan keras besar pada kreativitas anak dan guru. Ruang kelas dibuat tanpa daun pintu. Hanya lubang lubang besar berbentuk kotak, lingkaran, bulan sabit, bintang. Sehingga ketika guru tidak menarik, siswa boleh keluar kapan saja. Tak ada seragam sekolah dan buku pelajaran.

Kami duduk di pelataran sekolah sambil menyaksikan keceriaan anak-anak yang tengah bermain. Selama kami duduk, ada tiga orang guru dalam waktu yang berbeda menghampiri menyambut kami dan bertanya, “ada yang bisa yang saya bantu?”. Saya menangkap semangat melayani para guru tersebut. Mereka ingin memastikan tak ada tamu yang tak dilayani dengan baik.

Saat mengamati anak-anak bermain, saya melihat ada seorang anak yang jatuh dan menangis. Saya menebak bahwa guru akan segera membantu. Tetapi tebakan saya salah, ternyata dua teman sekelasnya datang menghibur dan membantunya untuk berdiri dan memapahnya ke kelas. Saya cukup terkesan.

Di sekolah yang sederhana ini saya menangkap aura kebahagiaan dari siswa dan guru-gurunya. Saya tak perlu tahu kurikulum dan sistemnya, saya sudah bisa merasakannya. Konsep dan visi pendirinya, ternyata bukan hanya di kertas. Saya bisa melihat dalam praktik. Itulah hidden curricullum, culture.

Pada kesempatan lain rekan saya pernah juga terkesan oleh siswa sekolah internasiona yang kebanyakn siswanya berkebangsaan jepang. Saat itu rekan saya akan mengisi acara di depan siswa pukul 10 pagi. Setengah sepuluh aula masih kosong. Tak ada orang tak ada kursi. Lima belas menit sebelum acara para siswa datang, mengambil kursi lipat dan meletakkannya dalam posisi barisan yang rapi. Seusai acara, setiap siswa kembali melipat kursi dan meletakkannya di tempat penyimpanan, hingga ruangan kembali kosong dan bersih seperti semula. Itulah culture.

Dari cerita di atas, saya semakin tidak tertarik pada prestasi apa yang diraih sekolah, semegah apa sebuah sekolah. Saya lebih tertarik bagaimana budaya sekolah dibangun dan diterapkan? Banyak sekolah yang menginvestasikan begitu banyak waktu dan pikiran untuk menyabet berbagai penghargaan. Tapi tak banyak yang serius membuat sekolah menjadi berharga dengan karakter dan budi pekerti. Banyak guru dan pelatih didatangkan untuk memberikan pembinaan tambahan pada siswa agar dapat menang lomba. Tapi sedikit sekali pelatihan service excellence untuk satpam dan karyawan. Dinding sekolah dipenuhi foto-foto siswa yang juara ini juara itu, tapi jarang sekali foto sesorang siswa dipajang karena dia melakukan sebuah kebaikan. Kehebatan lebih dihargai daripada kebaikan. Prestasi lebih berharga dari budi pekerti.

Kita harus segera mengubah sistem pendidikan kita masih berorientasi pada ta’lim (mengajarkan) menjadi ta’dib (penanaman adab). Dalam konsep compassionate school, tadib harus diterapkan secara menyeluruh (wholse school approach) meliputi tiga area, pertama SDM yaitu guru, karyawan, orangtua, hingga satpam, kedua kurikulum, dan yang ketiga iklim atau hidden curricullum.

Sebuah sekolah bukanlah pabrik yang melahirkan siswa-siswa pintar. Tapi sebuah lingkungan yang membuat semua unsur di dalamnya menjadi lebih ber-adab. Untuk mengukur apakah sebuah sekolah sudah menjadi compassionate school tak serumit standar ISO. Cobalah berinteraksi dengan satpam sekolah, amatilah bagaimana guru beriteraksi, siswa bersikap. Rasakan atmosfirnya. Jika preastasi akademik bisa dilihat di selembar kertas, budi pekerti hanya bisa kita rasakan.


PENYEBAB MAHASISWA LAMBAT LULUS

PENYEBAB MAHASISWA LAMBAT LULUS

Disadur dari poskamling dengan revisi dari eks-mahasiswa 7 tahun

Semua mahasiswa pasti ingin lulus secepatnya, sengebut-ngebutnya sampai-sampai awal masuk kuliah masuk ke gigi persneleng 4 pake gas puooollll, dengan tujuan akhir Indeks Prestasi yang mentereng. Sayangnya, mewujudkan cita-cita luhur itu tidak semudah menghadapi kehidupan kampus yang kejam. Usut punya usut, Mereka (Para Mahasiswa Sulit Lulus) terhalang sebuah tembok besar. Sebuah tembok besar di ujung proses perkuliahan.

Sebuah tembok besar yang sulit dilalui….

Tembok besar itu bernama Skripsi. Mengapa menyusun skripsi yang gak sampai 100 halaman bisa memakan waktu yang begitu lama? Padahal Bandung Bandawasa saja bisa membangun 999 candi dalam semalam. Hey, tunggu..Bandawasa bisa melakukannya karena dibantu makhluk halus. Sayangnya, kampus melarang Mahasiswa minta tolong pada makhluk halus untuk menyusun skripsi. Itulah mengapa membuat skripsi jauh lebih lama dan sulit daripada membangun Candi Prambanan.

Mungkin kamu termasuk di dalamnya. Frustasi tak jua melepas status sebagai mahasiswa karena terbentur skripsi. Baiklah,,jangan panik,,,kami lakukan survey tanpa mengajak cak Lontong sehingga survey kami layak diakreditasi dengan nilai “memuaskan” J

1. Merasa Sudah Lulus


Ini adalah sindrom akut yang biasa terjadi pada para WTS (Wisuda Tuna Skripsi). Ya, ketika kamu mulai membuat skripsi, itu artinya mungkin kamu sudah menyelesaikan hampir atau malah semua mata kuliah dengan nilai yang cukup.

“Owyeaahh..selangkah lagi menuju wisuda. Semua kerja keras gue selama ini terbayar..!! Sebentar lagi tidak ada kuliah pagi!! Tidak ada quiz!! Tidak ada dosen killer!! Yayaiyyyy…!!!”
Oww…wait.. Celakanya, dalam situasi ini, beberapa orang merasa benar-benar sudah lulus.

lu sekarang jarang ke kampus. Trus setahu gue kerjaan lu tiap hari maen Sims City sampai pagi, trus tidur seharian. Emang lu gak kuliah..?!” Pemuda Harapan Bangsa bertanya.

The answer is “Santai… gue udah lulus kok. Tinggal skripsi aja..” sambil puk-puk bantal kesayangan.


Please..sampai toga itu melekat di kepalamu, you’re nothing but still Mahasiswa. Dan toga itu tidak akan melekat di kepalamu sampai kamu menyelesaikan skripsimu. Jadi, berhentilah berpikir kamu sudah lulus dan santai-santai main game negeri anta berantah. Mulailah kerjakan skripsimu itu dengan sepenuh hati dan setelah itu bangunlah bangsamu seperti kamu membangun gedung-gedung di “SIMS CITY”.

 

Kota idaman “Sims City” dari para teknokrat pejuang skripsi 😀

2. Terlalu banyak berpikir

Berpikir itu baik, sobat. Teori relativitas juga tidak muncul begitu saja tanpa pemikiran yang dalam. Tapi kalau kamu kebanyakan mikir tapi gak kunjung bergerak ya percuma. Kami gak asal ngomong, menurut penelitian dari tim University College London (UCL), terlalu banyak mikir itu gak baik.


Kebanyakan WTS Pemula (baru mau mulai menyusun skripsi) terkungkung dengan mindset bahwa “menyusun skripsi itu sulit”. Mereka jadi malas untuk memulai karena otaknya sudah penuh dengan ketakutan berlebihan akan skripsi. Skripsi menjadi semacam phobia.


Kalo otakmu sudah penuh dengan payudara Miyabi atau kecakepan Justin Bieber ya jangan dibebani lagi,,, it’s soo..soo..heavy friend…

Menurut paparan disini, pikiran negatif yang terus menerus diulang, bisa menjadi pemicu depresi. Padahal, hal-hal negatif yang ditakutkan itu baru ada di pikiran, belum menjadi kenyataan. Yes..You’ve created a problem that wasn’t even there in the first place. Well, skripsimu gak akan pernah selesai kalau begini terus. Jangan terus terbebani dengan pikiran-pikiran negatif. Depresi karena gagal menyusun skripsi, terdengar sangat payah.

Kamu harus mulai bergerak. Sekarang juga. Buang semua pikiran negatif. Buang semua anggapan bahwa menulis skripsi itu sulit. Tanamkan di pikiranmu, menulis skripsi itu mudah..!! Tenang saja,,, semudah nge-restart laptop kita,,,cukup klik…klik…klik…


Percayalah, Segala sesuatunya hanya sulit di awalnya saja, setelah itu, mengalir seperti banjir. Deras. Jangan takut melangkah, toh nanti kamu akan dibantu oleh Dosen Pembimbing yang siap untuk memberikan saran dan revisi. Dan sebagai nilai tambahnya, bimbingan skripsi itu gratis.

Jadi, Ketika kamu sudah sadar bahwa kamu belum lulus dan berniat untuk mulai mengerjakan skripsi, jangan kebanyakan mikir, just do it. Kata motivator bisnis,” nomor 1 adalah action, nomor 2 adalah action, nomor 3 adalah action,,yang nomor 4 kata ahli hadist baru ayahmu,,nah lhooo L“. Buka komputermu, dan mulailah mengetik, tapi jangan mampir ke sosmed atau game, cukup kunjungi miss.word atau miss.excell pasti dapat inspirasi dan hidayah.

3. Terlalu banyak membuang waktu


Menyusun skripsi itu sama saja dengan menjalani LDR (Long Distance Relationship). Niat saja tidak cukup kalau mau terus bertahan. Kamu harus punya komitmen. Komitmen kuat untuk benar-benar menjalaninya agar berujung pada akhir yang bahagia.

Kalau tidak.. yahh, sama seperti LDR, niatmu hanya akan tetap menjadi niat. Kandas di tengah jalan. Melanjutkan proses menyusun skripsi akan selalu ada di to-do-list mu setiap hari, tapi tetap saja tanpa progress yang berarti dari waktu ke waktu. Gak percaya..?!

Hai yang masih mahasiswa..!! Kami cukup yakin bahwa niat awal kamu menyalakan komputer/laptop tadi adalah untuk melanjutkan menulis skripsi yang masih sampai kata pengantar itu. Tapi ironisnya, kamu berakhir dengan membuka browser dan ujung-ujungnya membaca artikel konyol ini. Yang lebih menyedihkan, begitu menyadari kesalahan, kamu tetap melanjutkan membaca dan terus tertawa. Padahal yang kamu tertawakan adalah nasib seorang pemuda juara harapan bangsa alias diri kamu sendiri.

Apalagi kalau kamu kamu tiba-tiba berubah pikiran dan memutuskan untuk main farm ville atau Pro Evolution Soccer segera setelah selesai membaca artikel ini. Wew..you’re on a big trouble, pals.. Lakukanlah terus, dijamin skripsimu tidak akan selesai sampai teman seangkatanmu jadi rektor.


Beda Tipis..

Oke, kami sadar bahwa Pro Evolution Soccer memang terlalu keren untuk dilewatkan. Tapi, please, atur waktumu. Percayalah, PES masih keren saat kamu selesai mengetik satu bab, 3 jam yang akan datang. Seimbangkan waktu antara berkutat menyusun skripsi dan cari hiburan untuk menghilangkan penat. Waktu sangat berharga, terutama untuk para PSK (Penulis Skripsi Kelamaan). Lawan rasa malasmu, stop waste your time, dan mulailah menulis. Sekarang..!! Ya.. Sekarang..!!

4. Dosen Pembimbing yang menyebalkan


Well, bro and sist.. Kami masih tidak percaya kamu masih melanjutkan mambaca artikel konyol ini, padahal kami sudah menegaskan untuk menutup browser dan mulai melanjutkan menulis skripsi. Tapi, ya sudahlah.. kita lanjutkan saja pembahasan kita ke poin selanjutnya..

Sejatinya, kami tidak suka ngomongin orang lain. Apalagi orang terhormat dan budiman seperti dosen. Tapi ada kalanya, kita udah niat bikin skripsi sampai berdarah-darah, tapi dosen pembimbing-nya menyebalkan.

Sudah janjian besok mau ketemu di kampus untuk jadwal bimbingan. Kita udah lembur gak tidur semalaman menulis 3 bab, dan jreng..jreng..jreng.. keesokan harinya, ketika kita sudah sampai kampus dengan mata merah, badan pegel dan kepala pusing, ada SMS masuk : “Maaf. Saya ada urusan mendadak, jadi harus ke luar kota. Istri saya ngajak jalan-jalan ke Bali. Jadwal bimbingannya kita atur lagi untuk minggu depan yaa.. Eh, atau bulan depan aja deh. Minggu depan anak saya ngajak jalan-jalan ke Singapore. Atau kalau kamu punya duit, kita ketemunya di Singapore aja gimana?? Eh..tapi emang kamu punya duit buat ke Singapore? Gak punya kan..?! Yauda deh..bimbingannya bulan depan aja ya…”


Terserah kamu menyebutnya apa. Menyebalkan bukan? Jadi gimana skripsi mau selesai, kalau jadwal bimbingan aja tertunda terus. Dan yang lebih menyebalkan lagi, ketika akhirnya jadwal bimbingan terealisasi, 3 bab yang udah kita buat sampai berdarah-darah dicerca habis-habisan.

“Mbak, kamu ini nulis apa..??! Anak saya yang masih TK bisa nulis lebih bagus dari kamu. Saya udah periksa semua tulisan kamu, isinya kayaknya copy-paste dari Google semua ya..?! Hayoooo….ngaku aja dehhh… Dasar pemalas kamu…!!! Cuma 3 halaman aja yang menurut saya bagus. Lainnya buang aja. Bikin lagi..!!”


Hanya satu hal yang bisa kamu lakukan dalam situasi seperti ini, berdoalah kepada Yang Maha Kuasa agar dosen pembimbingmu diberi Hidayah. Amin.

5. Kurang Motivasi

Menulis skripsi itu berat. Beragam godaan dan cobaan datang silih berganti. Mulai dari malas, ajakan teman, pacar, siaran langsung Liga Champion, zynga poker, Pro Evolution Soccer, laptop ngadat, printer macet, mati listrik, sampai Dosen pembimbing yang menyebalkan. Meskipun berat, kalau kamu punya motivasi besar untuk segera lulus, dijamin kamu akan semangat untuk menyelesaikan skripsi sesegera mungkin. Jadi, tetapkan tujuan/target yang ingin kamu capai setelah lulus nanti, agar motivasi kamu dalam menyusun skripsi terlecut. Misalnya, setelah lulus, kamu ingin mulai membangun usaha, jadi pengusaha muda sukses kaya raya, membuka ribuan lapangan pekerjaan baru, memperoleh penghargaan dari Pemerintah, mengakusisi perusahaan-perusahaan Bakrie, kemudian menikahi Sandra Dewi, nyalon jadi anggota DPR, dan hidup bahagia sampai akhir hayat. Dijamin, kalau kamu punya tujuan/target jangka menengah/panjang seperti ini, kamu akan lebih termotivasi untuk segera menyelesaikan skripsi.


Yang penting, selesaikan dulu skripsimu.

===+==+===

Ya..kira-kira itulah hasil analisis kami mengenai penyebab mengapa skripsimu tak kunjung selesai. Jadi saran kami sih, setelah selesai baca artikel konyol ini, renungkanlah poin mana yang menjadi penghambat buat kamu, dan ikutilah saran dari kami untuk mengatasinya. Segera lakukan..!! Langsung setelah ini..!! Jangan menunda-nunda lagi..!!


Bahagiakanlah kedua orang tuamu dengan wisudamu…Percayalah, emakmu pasti mendoakanmu

Percayalah, Sandra Dewi gak mau nikah sama orang yang bahkan gak bisa menyelesaikan skripsinya kecuali kamu pakai jasa dari sarjana ilmu perdukunan dan perpeletan… Percayalah satu hal untuk dijadikan motivasi, Ijazah ditangan akan menentukan kemudahan Ijab Sah digenggaman saat esok hari…


Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau tetapi Sekaligus “Menakutkan”

Setiap acara wisuda di kampus ITB selalu ada pidato sambutan dari salah seorang wisudawan. Biasanya yang terpilih memberikan pidato sambutan adalah pribadi yang unik, tetapi tidak selalu yang mempunyai IPK terbaik. Sepanjang yang saya pernah ikuti, isi pidatonya kebanyakan tidak terlalu istimewa, paling-paling isinya kenangan memorabilia selama menimba ilmu di kampus ITB, kehidupan mahasiswa selama kuliah, pesan-pesan, dan ucapan terima kasih kepada dosen dan teman-teman civitas academica.

Namun, yang saya tulis dalam posting-an ini bukan pidato wisudawan ITB, tetapi wisudawan SMA di Amerika. Beberapa hari yang lalu saya menerima kiriman surel dari teman di milis dosen yang isinya cuplikan pidato Erica Goldson (siswi SMA) pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu. Isi pidatonya sangat menarik dan menurut saya sangat memukau. Namun, setelah saya membacanya, ada rasa keprihatinan yang muncul (nanti saya jelaskan).Cuplikan pidato ini dikutip dari tulisan di blog berikut: http://pohonbodhi.blogspot.com/2010/09/you-are-either-with-me-or-against-me.html

“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.

Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”

Hmmm… setelah membaca pidato wisudawan terbaik tadi, apa kesan anda? Menurut saya pidatonya adalah sebuah ungkapan yang jujur, tetapi menurut saya kejujuran yang “menakutkan”. Menakutkan karena selama sekolah dia hanya mengejar nilai tinggi, tetapi dia meninggalkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya dalam bidang lain, seperti hobi, ketrampilan, soft skill, dan lain-lain. Akibatnya, setelah dia lulus dia merasa gamang, merasa takut terjun ke dunia nyata, yaitu masyarakat. Bahkan yang lebih mengenaskan lagi, dia sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan di dalam hidup ini.

Saya sering menemukan mahasiswa yang hanya berkutat dengan urusan kuliah semata. Obsesinya adalah memperoleh nilai tinggi untuk semua mata kuliah. Dia tidak tertarik ikut kegiatan kemahasiswaan, baik di himpunan maupun di Unit Kegiatan Mahasiswa. Baginya hanya kuliah, kuliah, dan kuliah. Memang betul dia sangat rajin, selalu mengerjakan PR dan tugas dengan gemilang. Memang akhirnya IPK-nya tinggi, lulus cum-laude pula. Tidak ada yang salah dengan obsesinya mengejar nilai tinggi, sebab semua mahasiswa seharusnya seperti itu, yaitu mengejar nilai terbaik untuk setiap kuliah. Namun, untuk hidup di dunia nyata seorang mahasiswa tidak bisa hanya berbekal nilai kuliah, namun dia juga memerlukan ketrampilan hidup semacam soft skill yang hanya didapatkan dari pengembangan diri dalam bidang non-akademis.

Nah, kalau mahasiswa hanya berat dalam hard skill dan tidak membekali dirinya dengan ketrampilan hidup, bagaimana nanti dia siap menghadapi kehidupan dunia nyata yang memerlukan ketrampilan berkomunikasi, berdiplomasi, hubungan antar personal, dan lain-lain. Menurut saya, ini pulalah yang menjadi kelemahan alumni ITB yang disatu sisi sangat percaya diri dengan keahliannya, namun lemah dalam hubungan antar personal. Itulah makanya saya sering menyemangati dan menyuruh mahasiswa saya ikut kegiatan di Himpunan mahasiswa dan di Unit-Unit Kegiatan, agar mereka tidak menjadi orang yang kaku, namun menjadi orang yang menyenangkan dan disukai oleh lingkungan tempatnya bekerja dan bertempat tinggal. Orang yang terbaik belum tentu menjadi orang tersukses, sukses dalam hidup itu hal yang lain lagi.

Menurut saya, apa yang dirasakan wisudawan terbaik Amerika itu juga merupakan gambaran sistem pendidikan dasar di negara kita. Anak didik hanya ditargetkan mencapai nilai tinggi dalam pelajaran, karena itu sistem kejar nilai tinggi selalu ditekankan oleh guru-guru dan sekolah. Jangan heran lembaga Bimbel tumbuh subur karena murid dan orangtua membutuhkannya agar anak-anak mereka menjadi juara dan terbaik di sekolahnya. Belajar hanya untuk mengejar nilai semata, sementara kreativitas dan soft skill yang penting untuk bekal kehidupan terabaikan. Sistem pendidikan seperti ini membuat anak didik tumbuh menjadi anak “penurut” ketimbang anak kreatif.

Baiklah, pada bagian akhir tulisan ini saya kutipkan teks asli (dalam Bahasa Inggris) Erica Goldson di atas agar kita memahami pidato lengkapnya. Teks asli pidatonya dapat ditemukan di dalam laman web ini: Valedictorian Speaks Out Against Schooling in Graduation Speech .

Valedictorian Speaks Out Against Schooling in Graduation Speech

by Erica Goldson

Here I stand

There is a story of a young, but earnest Zen student who approached his teacher, and asked the Master, “If I work very hard and diligently, how long will it take for me to find Zen? The Master thought about this, then replied, “Ten years.” The student then said, “But what if I work very, very hard and really apply myself to learn fast – How long then?” Replied the Master, “Well, twenty years.” “But, if I really, really work at it, how long then?” asked the student. “Thirty years,” replied the Master. “But, I do not understand,” said the disappointed student. “At each time that I say I will work harder, you say it will take me longer. Why do you say that?” Replied the Master, “When you have one eye on the goal, you only have one eye on the path.”

This is the dilemma I’ve faced within the American education system. We are so focused on a goal, whether it be passing a test, or graduating as first in the class. However, in this way, we do not really learn. We do whatever it takes to achieve our original objective.

Some of you may be thinking, “Well, if you pass a test, or become valedictorian, didn’t you learn something? Well, yes, you learned something, but not all that you could have. Perhaps, you only learned how to memorize names, places, and dates to later on forget in order to clear your mind for the next test. School is not all that it can be. Right now, it is a place for most people to determine that their goal is to get out as soon as possible.

I am now accomplishing that goal. I am graduating. I should look at this as a positive experience, especially being at the top of my class. However, in retrospect, I cannot say that I am any more intelligent than my peers. I can attest that I am only the best at doing what I am told and working the system. Yet, here I stand, and I am supposed to be proud that I have completed this period of indoctrination. I will leave in the fall to go on to the next phase expected of me, in order to receive a paper document that certifies that I am capable of work. But I contend that I am a human being, a thinker, an adventurer – not a worker. A worker is someone who is trapped within repetition – a slave of the system set up before him. But now, I have successfully shown that I was the best slave. I did what I was told to the extreme. While others sat in class and doodled to later become great artists, I sat in class to take notes and become a great test-taker. While others would come to class without their homework done because they were reading about an interest of theirs, I never missed an assignment. While others were creating music and writing lyrics, I decided to do extra credit, even though I never needed it. So, I wonder, why did I even want this position? Sure, I earned it, but what will come of it? When I leave educational institutionalism, will I be successful or forever lost? I have no clue about what I want to do with my life; I have no interests because I saw every subject of study as work, and I excelled at every subject just for the purpose of excelling, not learning. And quite frankly, now I’m scared.

John Taylor Gatto, a retired school teacher and activist critical of compulsory schooling, asserts, “We could encourage the best qualities of youthfulness – curiosity, adventure, resilience, the capacity for surprising insight simply by being more flexible about time, texts, and tests, by introducing kids into truly competent adults, and by giving each student what autonomy he or she needs in order to take a risk every now and then. But we don’t do that.” Between these cinderblock walls, we are all expected to be the same. We are trained to ace every standardized test, and those who deviate and see light through a different lens are worthless to the scheme of public education, and therefore viewed with contempt.

H. L. Mencken wrote in The American Mercury for April 1924 that the aim of public education is not “to fill the young of the species with knowledge and awaken their intelligence. … Nothing could be further from the truth. The aim … is simply to reduce as many individuals as possible to the same safe level, to breed and train a standardized citizenry, to put down dissent and originality. That is its aim in the United States.”

To illustrate this idea, doesn’t it perturb you to learn about the idea of “critical thinking?” Is there really such a thing as “uncritically thinking?” To think is to process information in order to form an opinion. But if we are not critical when processing this information, are we really thinking? Or are we mindlessly accepting other opinions as truth?

This was happening to me, and if it wasn’t for the rare occurrence of an avant-garde tenth grade English teacher, Donna Bryan, who allowed me to open my mind and ask questions before accepting textbook doctrine, I would have been doomed. I am now enlightened, but my mind still feels disabled. I must retrain myself and constantly remember how insane this ostensibly sane place really is.

And now here I am in a world guided by fear, a world suppressing the uniqueness that lies inside each of us, a world where we can either acquiesce to the inhuman nonsense of corporatism and materialism or insist on change. We are not enlivened by an educational system that clandestinely sets us up for jobs that could be automated, for work that need not be done, for enslavement without fervency for meaningful achievement. We have no choices in life when money is our motivational force. Our motivational force ought to be passion, but this is lost from the moment we step into a system that trains us, rather than inspires us.

We are more than robotic bookshelves, conditioned to blurt out facts we were taught in school. We are all very special, every human on this planet is so special, so aren’t we all deserving of something better, of using our minds for innovation, rather than memorization, for creativity, rather than futile activity, for rumination rather than stagnation? We are not here to get a degree, to then get a job, so we can consume industry-approved placation after placation. There is more, and more still.

The saddest part is that the majority of students don’t have the opportunity to reflect as I did. The majority of students are put through the same brainwashing techniques in order to create a complacent labor force working in the interests of large corporations and secretive government, and worst of all, they are completely unaware of it. I will never be able to turn back these 18 years. I can’t run away to another country with an education system meant to enlighten rather than condition. This part of my life is over, and I want to make sure that no other child will have his or her potential suppressed by powers meant to exploit and control. We are human beings. We are thinkers, dreamers, explorers, artists, writers, engineers. We are anything we want to be – but only if we have an educational system that supports us rather than holds us down. A tree can grow, but only if its roots are given a healthy foundation.

For those of you out there that must continue to sit in desks and yield to the authoritarian ideologies of instructors, do not be disheartened. You still have the opportunity to stand up, ask questions, be critical, and create your own perspective. Demand a setting that will provide you with intellectual capabilities that allow you to expand your mind instead of directing it. Demand that you be interested in class. Demand that the excuse, “You have to learn this for the test” is not good enough for you. Education is an excellent tool, if used properly, but focus more on learning rather than getting good grades.

For those of you that work within the system that I am condemning, I do not mean to insult; I intend to motivate. You have the power to change the incompetencies of this system. I know that you did not become a teacher or administrator to see your students bored. You cannot accept the authority of the governing bodies that tell you what to teach, how to teach it, and that you will be punished if you do not comply. Our potential is at stake.

For those of you that are now leaving this establishment, I say, do not forget what went on in these classrooms. Do not abandon those that come after you. We are the new future and we are not going to let tradition stand. We will break down the walls of corruption to let a garden of knowledge grow throughout America. Once educated properly, we will have the power to do anything, and best of all, we will only use that power for good, for we will be cultivated and wise. We will not accept anything at face value. We will ask questions, and we will demand truth.

So, here I stand. I am not standing here as valedictorian by myself. I was molded by my environment, by all of my peers who are sitting here watching me. I couldn’t have accomplished this without all of you. It was all of you who truly made me the person I am today. It was all of you who were my competition, yet my backbone. In that way, we are all valedictorians.

I am now supposed to say farewell to this institution, those who maintain it, and those who stand with me and behind me, but I hope this farewell is more of a “see you later” when we are all working together to rear a pedagogic movement. But first, let’s go get those pieces of paper that tell us that we’re smart enough to do so!

~~~~~~~~~~

Pidato Erica tersebut juga dimuat di blog America dan mendapat tanggapan luas oleh publik di sana. Silakan baca di sini: http://americaviaerica.blogspot.com/2010/07/coxsackie-athens-valedictorian-speech.html

SUMBER : http://rinaldimunir.wordpress.com/2013/04/07/pidato-wisudawan-terbaik-memukau-tetapi-sekaligus-menakutkan/


ORIENTASI MAHASISWA BARU (OSPEK) : PEMBENTUKAN GENERASI INSTAN ???

ORIENTASI MAHASISWA BARU (OSPEK) : PEMBENTUKAN GENERASI INSTAN ???

Proud by Rizky Kurnia Widiantoko

Anak Belajar dari Kehidupannya (puisi Dorothy Law Nolthe )

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Orientasi Mahasiswa. Dua buah kata yang mungkin akan mengantarkan pikiran kita pada sebuah bayangan mengenai kegiatan dimana mahasiswa – mahasiwa baru “disambut” dengan berbagai cara “unik” oleh seniornya. Menjadi sebuah kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun hampir di setiap kampus yang ada di dunia membuat orientasi mahasiswa seakan ada sebagai sebuah gerbang awal untuk menyambut bibit – bibit baru yang akan berjuang di kampus tersebut.

Jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ada dua arti dari kata orientasi. Pertama orientasi diartikan sebagai peninjuan untuk menentukan sikap (arah, tempat, dsb) yang benar dan tepat. Sedangkan arti yang kedua adalah pandangan yg mendasari pikiran, perhatian atau kecenderungan. Berangkat dari dua definisi ini, kita tahu bahwa kegiatan orientasi mahasiswa dilaksanakan sebagai sebuah kegiatan yang memberikan pandangan bagi mahasiswa – mahasiswa baru yang mendasari pemikiran dan kecenderungan mereka dalam menjalankan kehidupan mereka di kehidupan kampus agar mereka memiliki sikap yang benar dan tepat. Bicara mengenai kehidupan mahasiswa di kampus, tentu benar dan tepat disini adalah sudut pandang entitas kampus. Benar dan tepat menurut peraturan yang berlaku di universitas maupun fakultas.

Proses OSPEK adalah proses kaderisasi yang dibutuhkan untuk organisasi kemahasiswaan, sehingga keberadaannya harus tetap dipertahankan dengan tingkat fleksibilitas terhadap perubahan zaman dan tidak terpasung oleh tradisi semu yang memakan korban. Proses represivitas terhadap OSPEK harus dijawab dengan sebuah transformasi proses kaderisasi yang tidak memakan korban. Transformasi tersebut menuntut sebuah kreativitas dalam menjawab perubahan paradigma masyarakat (Pikiran Rakyat, 28/08/2004).

Para senior di setiap kampus memiliki cara tersendiri untuk memahasiswakan siswanya melalui OSPEK. Di beberapa kampus, kegiatan ospek dominan dengan pembebanan-pembenan tugas saja, misalkan tugas membuat antribut, menulis esai, menulis karya ilmiah, dsb. Di kampus lainnya, ospek diisi oleh kegiatan yang lebih variatif, selain pembebanan tugas, ada pula kegiatan seperti simulasi aksi dan acara-acara games ringan. Namun, adapula kampus yang memberikan tekanan lebih terhadap para junior mereka dengan cara pelatihan mental atau fisik yang sifatnya masih cukup ringan. Di sisi lain, masih ada pula kampus-kampus yang menerapkan aksi kekerasan.

Tak dapat dimungkiri lagi,  ospek sebelum memasuki dunia kampus sangatlah dibutuhkan, apa pun metodenya. Di momen inilah perubahan-perubahan awal dari siswa menjadi mahasiswa dilakukan.  Apa jadinya jika di suatu kampus tidak ada kegiatan ospek sama sekali? Dari manakah para mahasiswa baru tahu akan kampusnya, tahu akan esensi dari gelar mahasiswa yang kini mereka sandang, tahu akan bagaimana gelar mahasiswa yang mereka sandang kali ini berperan? Mahasiswa dengan spesies apakah yang akan dilahirkan jika tidak ada proses ospek? Akan jadi apakah bangsa ini jika para kaum intelektualnya hanya mementingkan diri mereka sendiri? Mahasiswa datang hanya untuk belajar, mendapat nilai, lulus, serta mendapat gelar. Kontribusi apakah yang akan diberikan oleh mahasiswa jenis ini kepada rakyat Indonesia ? Padahal di sisi lain, pendidikan yang mereka nikmati juga berasal dari uang-uang rakyat.

Setuju atau tidak setuju, ospek tetap dibutuhkan oleh para mahasiswa baru untuk memahasiswakan mereka setelah melewati fase siswa. Namun yang menjadi pertanyaan ialah metode ospek apakah  yang ideal bagi para mahasiswa baru agar mereka dapat memahami makna dari status mahasiswa yang kini mereka sandang? Apa pun metodenya, yang terpenting ialah metode tersebut tidak menyimpang dari garis orbit ospek sebagai sarana memahasiswakan siswa. Setidaknya hal yang perlu ditanamkan para senior kepada para juniornya saat ospek ialah mengubah paradigma berpikir para mahasiswa baru agar dapat berpikir kritis dan global terhadap apa yang sedang dialami oleh bangsa ini. Nilai selanjutnya ialah memahami peran dari mahasiswa sebagai agent of change, iron stock dan moral of voice, dan yang tak kalah penting ialah cinta Tanah Air, bukan cinta terhadap jurusan atau almamater. Metode apa pun yang akan diterapkan juga sebaiknya tidak monoton dan menyesuaikan tekanan dengan kebutuhan.

Letak permasalahan selama ini adalah, sulitnya mengawasi mahasiswa senior oleh Panitia maupun pihak pihak terkait seperti Fakultas dan Universitas, karena mereka belum mengetahui paradigma baru dari kegitan tersebut. Mereka lebih mengenang masa lalu, dan diulang kepada adik-adiknya.

Di Indonesia, kegiatan orientasi mahasiswa dikenal dengan nama OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) atau istilah di Universitas Brawijaya dikenal PK2 (Pengenalan Kehidupan Kampus), dalam lingkup lebih kecil di jurusan ITP-UB dikenal sebagai Graphista/OPJH (Orientasi Pengenalan Jurusan dan Himpunan).

Perubahan Gaya dalam Orientasi Mahasiswa Baru

Singkatan OSPEK ini mencerminkan bahwa tujuan dari OSPEK adalah untuk membantu mahasiswa baru agar memiliki pandangan tentang arah belajar sebagai mahasiswa serta mengenali seluk beluk dari kampusnya. Arah belajar mahasiswa berkaitan erat dengan sistem akademik yang berlaku di kampus.  Misal jam belajar, mata kuliah, penggunaan website kampus, cara mengetahui nilai secara online, syarat Drop Out (D.O.), dsb. Sedangkan pengenalan kampus berarti pengenalan orang – orang yang terlibat dalam perkuliahan misal teman seangkatan, dosen, karyawan, dan lain – lain, fasilitas – fasilitas yang disediakan, denah kampus, pengenalan cara meminjam buku di perpustakaan, organisasi` – organisasi kampus, kepanitiaan, dan sebagainya. Minimal, hal – hal seperti yang telah disebutkan menjadi tujuan dari adanya kegiatan OSPEK agar mahasiswa tahu apa yang sepantasnya menjadi hak serta  apa yang harus mereka lakukan sebagai wujud pemenuhan tuntutan kewajiban mereka.  Namun kenyataannya, sering kali pelaksanaan OSPEK mengandung unsur kegiatan yang tidak relevan dalam upaya pencapaian  tujuan dari OSPEK itu sendiri.  Apa yang panitia OSPEK anggap sebagai rangkaian kegiatan, tak menjadikan hal tersebut sebagai upaya tersampainya tujuan dari OSPEK.

Bentuk ketidakrelevanan yang pertama adalah kekerasan. Beberapa tahun lalu, media informasi kita, baik cetak maupun elektronik sempat dipenuhi oleh berita dimana kegiatan OSPEK dilakasanakan dengan unsur kekerasan. Kekerasan disini adalah hukuman fisik yang diberikan jika mahasiswa baru melakukan suatu tindakan yang dianggap salah oleh panitia OSPEK misal kontak fisik dengan cara memukul, menendang, menginjak, dan sebagainya yang kegiatan itu tak ubahnya seperti sebuah penindasan. Tak sedikit dari mahasiswa – mahasiswa baru itu yang mengalami cedera fisik, bahkan sempat ada berita dimana seorang mahasiswa di sebuah institusi pendidikan kehilangan nyawa akibat kekerasan dari pihak panitia.

Saat ini, penerapan system “penindasan” fisik seperti itu dilarang keras oleh pemerintah. Larangan tersebut diwujudkan melalui wacana yang dikeluarkan Sekretaris Jendral Kementrian Pendidikan Nasional tahun 2011 lalu, Dodi Nandika, yaitu Peraturan Menteri Pendidikan Nasional yang mengatur mengenai pelaksanaan Masa Orientasi Siswa (MOS) serta OSPEK. Sebagian institusi pendidikan, mulai meninggalkan kekerasan fisik semacam ini dan mengubah cara pemberian hukuman melalui verbal yaitu melalui kata – kata untuk memperingatkan mahasiswa baru yang panitia OSPEK anggap melakukan kesalahan.

Jika kita melihat dari sudut pandang panitia OSPEK, tentu mereka memiliki alasan mengapa menerapkan sistem tekanan pada mahasiswa melalui verbal. Yang pertama, system ini tidak menyebabkan cedera fisik. Kedua, melalui system ini, diharapkan kegiatan OSPEK dapat dijadikan sebagai media untuk internalisasi nilai keberanian dari mahasiswa untuk berargumen melawan statement yang telah diucapkan oleh panitia OSPEK jika mahasiswa baru menganggap tidak benar. Dapat dikatakan bahwa saat OSPEK, adalah saat yang tepat untuk melakukan internalisasi nilai – nilai tertentu bagi mahasiswa seperti berani, setiakawan, jujur, dsb.

Namun, lagi – lagi pada pelaksaan. Peringatan secara verbal seakan hanya sekedar mentransformasi bentuk kekerasan fisik menjadi verbal sehingga melahirkan bentuk penindasan baru.  Peringatan yang digunakan  justru kebablasan sehingga harus menggunakan kata – kata kasar atau bahkan umpatan yang tak sepatutnya digunakan. Penanaman nilai seperti keberanian, kesetiakawanan, dsb berubah menjadi bentuk penanaman ketakutan. Jika melawan senior, mereka akan mendapatkan hukuman tertentu sehingga kadang sebagian besar dari peserta memilih untuk diam.

Berkaitan dengan kekerasan fisik dan verbal, Paulo Freire, seorang pemikir dan praktisi pendidikan pembebasan dari Brasil, dalam bukunya Pedagogi of The Oppressed (diindonesiakan dengan judul Pendidikan Kaum Tertindas, LP3ES, 1985) mengingatkan bahwa dalam situasi penindasan, kaum tertindas melakukan identifikasi secara kontradiktif. Mereka mengidentifikasi dirinya sebagai mahluk yang terbenam, terhina, terlepas dan tercerabut dari kemanusiaannya. Adapun di hadapan mereka adalah kaum penindas yang berkuasa dengan harkat kemanusian yang sempurna, “Tuan tanpa salah”.

Kaum tertindas dipaksa untuk memilih atau melakukan apa yang dipola oleh penindasnya. Kaum tertindas tentu akan berfikir seribu kali untuk melakukan perlawanan, karena hal itu akan memberatkan mereka sendiri. Lagi pula, belum tentu kawan-kawannya yang lain akan membantu. Kebanyakan kaum tertindas akan memilih diam dan patuh. Keadaan seperti ini membuat kaum tertindas akan larut dalam sikap masokhis. Begitu pun yang terjadi pada mahasiswa baru peserta OSPEK. Mereka melakukan banyak tindakan dan hukuman seperti yang diminta oleh para panitia OSPEK, tanpa banyak berani menentang walaupun tindakan-tindakan itu sama sekali tidak logis, tidak rasional dan tentunya tidak mereka inginkan. Hal semacam ini tentu akan membungkam kebebasan berpikir mahasiswa baru. Mereka seakan dicetak menjadi sosok yang patuh tanpa memberikan mereka ruang untuk berpikir menggunakan akal dan logika yang mereka miliki.

Selain kekerasan, bentuk ketidakrelevanan lainnya adalah pemberian tugas berlebih. Pemberian tugas berlebihan sebelum atau saat OSPEK membuat mahasiswa kelelahan dalam melaksanakan kegiatan OSPEK. Dikatakan berlebih apabila dengan adanya tugas tersebut, membuat mahasiswa tidak lagi memperhatikan tujuan adanya OSPEK yaitu pengenalan sistem akademik dan pengenalan lingkungan kampus. Tugas – tugas yang seakan memang dirancang untuk tidak dapat diselesaikan akan memberikan pengaruh buruk pada kondisi psikologis peserta OSPEK karena pusat perhatian mereka tertuju pada penyelesaian tugas. Kekhawatiran timbul akibat akan ada berbagai macam hukuman yang akan mereka terima apabila tugas tidak terselesaikan. Lagi – lagi masalah ketakutan. Mereka mengerjakan tugas bukan karena tugas itu perlu dan memberikan dampak positif jika dikerjakan, namun mereka mengerjakan dengan alasan takut untuk mendapatkan hukuman. Internalisasi nilai ketakutan tentu bukan yang diharapkan oleh panitia OSPEK. Sebagian besar pelaksanaan OSPEK, dalam rangkaian kegiatannya, membuat acara seminar dan presentasi dari pihak – pihak terkait yang nantinya akan terlibat dengan kehidupan mahasiswa di kampus seperti dari sistem akademik kampus, dewan kode etik, presentasi dari organisasi – organisasi, pemanfaatan infrastruktur, dsb. Kelelahan yang diderita peserta akan membuat peserta kehilangan konsentrasi selama pelaksanaan acara presentasi. Padahal acara inilah esensi dari pelaksanaan OSPEK. Mahasiswa dikenalkan dengan system pendidikan kampusnya serta apa hak dan kewajibannya sebagai mahasiswa.

Faktor Minus yang harus Dihapuskan saat Orientasi Mahasiswa Baru

1. Pelaksanaan OSPEK selama ini yang bermaksud menanamkan kedisiplinan dengan hukuman dan bentakan hanyalah sebuah bentuk militerisasi dalam kampus. Ini adalah bentuk KEMUNAFIKAN mahasiswa yang anti militerisme dalam kampus tetapi malah melestarikan militerisme dari waktu ke waktu.

2. Penanaman nilai-nilai baru dalam waktu yang singkat dan dalam tekanan adalah sangat TIDAK EFEKTIF ditinjau dari faktor psikologi. Mahasiswa yang tidak tidur ataupun kelelahan karena mengerjakan setumpuk tugas tidak memiliki kesiapan maksimal untuk menerima informasi baru.

3. Pembuatan aneka atribut yang aneh-aneh merupakan suatu pemborosan uang dan waktu semata, tak sebanding dengan nilai-nilai yang ditanamkan dalam serangkaian aneka atribut tersebut. Dengan kata lain, pembuatan aneka atribut tersebut tidak mengacu pada aspek kreatif

4. Thorndike, seorang ahli psikologi pembelajaran menyatakan bahwa hukuman tidak efektif untuk meniadakan suatu perilaku tertentu. Begitu halnya dengan hukuman dan sanksi pada OSPEK tidak akan efektif membuat seorang mahasiswa untuk menghilangkan perilaku-perilaku buruknya. Setiap orang memiliki kerentanan psikologis yang berbeda-beda, sehingga hukuman yang serampangan ataupun perlakuan yang menekan mental pada OSPEK dapat menimbulkan suatu TRAUMA PSIKOLOGIS tersendiri bagi beberapa orang. Trauma ini pada akhirnya akan menimbulkan abnormalitas kejiwaan seseorang.

5. Hindarkan dari arogansi senioritas. OSPEK bukan ajang perpeloncoan untuk menujukkan arogansi para senior. Bukan pula digunakan sebagai ajang para senior untuk balas dendam atau melakukan intimidasi yang keras ke juniornya. Karena jika OSPEK identik dengan hal tersebut maka OSPEK akan selalu diwarnai dengan kekerasan, intimidasi, penghinaan atau aktivitas negatif yang lain. Memang dalam beberapa hal, kondisi ini menjadi hal yang turun-temurun. Untuk itu, perlu bagi ketua untuk dapat memilih panitia OSPEK dengan atitude yang baik. Perlu di-briefing juga agar panitia tidak terjebak untuk menujukkan aroganitasnya saja yang cenderung mendorong ke arah kekerasan.

6. Hindari memberikan tugas yang tidak rasional dan tidak produktif. OSPEK terkadang identik dengan tugas yang tidak rasional atau tugas yang tidak produktif. Jika jurusan tidak terkait dengan seni, maka sejatinya kadang tidak perlu menyuruh junior menggunakan cara berpakaian yang aneh-aneh dengan kostum yang aneh-aneh. Pakaian aneh-aneh ini kadang justru cenderung merendahkan para junior di mata orang lain. Justru ajarkan mereka cara berpakaian yang sopan dan rapi. Misalnya menggunakan jas, dasi layaknya mereka dipersiapkan diri menjadi profesional sejati.

7. Hindarkan kegiatan yang tidak berguna dan urakan, arahkan kegiatan OSPEK untuk memperkenalkan dunia baru yang intelek. OSPEK pada awalnya memang dirancang untuk memperkenalkan dunia baru kepada mahasiswa baru atau siswa baru. Mereka perlu diberitahu hal-hal yang baru seperti lingkungan baru dan budaya yang baru di tempat yang baru. Perlu ditanamkan ke mahasiswa baru tentang nilai-nilai positif yang perlu dijaga di kampus tersebut. Perlu dijelaskan juga tentang aturan atau norma yang dijunjung tinggi dalam kampus atau sekolah tersebut. Penanaman konsep yang bagus tersebut perlu dilakukan dalam akvitas sederhana yang rutin seperti misalnya menyapa dosen dengan sopan, membuang sampah di tempat dengan benar, bersikap yang benar ketika berjalan, dst. Arahkan kegiatan OSPEK dengan kegiatan membangun kepribadian diri yang baik. Contoh sederhana membangun kedisiplinan diri serta kemandirian. Mengajak mahasiswa baru ke kampus tidak diantar, mandiri dalam pengaturan finansial pribadi. Hal-hal tersebut perlu dipertegas kembali dalam sebuah bentuk mentoring atau dalam bentuk buku saku yang wajib dibaca. Atau kegiatan membaca buku bagi mereka yang malas membaca jadi mau membaca buku dengan kegiatan diskusi dalam perpustakaan selain juga mengurangi kecanggungan mahasiswa baru untuk mendatangi lingkungan baru seperti perpustakaan.

8. Hilangkan tindakan yang menekan (represif) yang membuat stres tapi Tujukan untuk kegiatan yang memotivasi (self-motivation) mampu memacu interaksi & bersosialisasi. Salah satu kunci keberhasilan mahasiswa/siswa baru dalam kuliahnya adalah kemampuan memotivasi diri dengan baik. Ada banyak mereka datang dengan pilihan jurusan yang tidak tepat atau motivasi yang kurang kuat. Perlu dibuat sesi untuk kegiatan yang mengarahkan kepada training motivasi dan pengembangan sikap positif. Selain itu mengingat budaya saat ini, remaja cenderung jarang bersosialisasi atau gemarnya dalam grupnya sendiri.  OSPEK diharapkan mendorong pesertanya untuk mampu lebih bersosialisasi dan berinteraksi satu sama lain. Salah satu kunci sukses di masa yang akan datang adalah kemampuan sosialisasi yang baik dan mampu membina hubungan baik dengan orang lain sehingga tidak perlu ada tindakan represif oleh disma atau QC yang berakibat melemahkan motivasi karena stress atau bahkan mengurangi interaksi dari maba dalam bersosialisasi dengan lingkungan barunya karena gerak-gerik yang terlalu diawasi.

Pembentukan Karakter bukan Dilakukan secara Instan

Titik awal peresmian kata “maha” akan  melekat di belakang kata siswa.
Selama OSPEK berlangsung, maba memberikan kesan pertama terhadap fakultas, alamater, dan senior. Kalangan mahasiswa baru pun memaknai OSPEK secara beragam. Ada yang memandang OSPEK secara positif, ada juga yang memandang OSPEK dengan skeptis dan menilainya sebagai kegiatan yang sama sekali tidak berarti.

Bagi mahasiswa baru yang memandang OSPEK dengan skeptis, maba merasa diperlakukan tidak manusiawi. Ulah panitia OSPEK yang tidak segan-segan dengan mudahnya memberi hukuman, baik fisik maupun verbal, kepada mahasiswa yang tidak displin. Parahnya lagi, ada  panitia OSPEK berusaha menemukan hukuman dengan mencari-cari kesalahan peserta OSPEK. Bila timbul pemikiran di benak maba bahwa OSPEK ialah hanya ajang balas dendam terhadap apa yang dirasakan oleh senior kepada yunior, maka hal tersebut sah-sah saja karena kenyataan di lapangan mencerminkan demikian.

Banyak panitia OSPEK yang tidak sadar bahwa pendekatan tersebut tidak efektif untuk membangkitkan kedisiplinan maba secara komunal. Pengaruh pendekatan tersebut mengesankan menciptakan efek jera, sekaligus memaksakan membudayakan disiplin. Namun, kedisiplinan yang terbangun akibat paksaan akan mendorong maba kembali ke sifat semula. Berbeda bila pendekatan yang diberikan  menekankan kehumanisan mahasiswa baru.

Panitia OSPEK perlu belajar mengenali mahasiswa baru sebagai adik kelas yang berpotensi membangun almamaternya dan sebagai partner psikologis. Selama OSPEK, melakukan pendekatan yang membangun mental, bukan kebanyakan menjatuhkan. Mengubah paradigma mereka dan memperlakukan mereka melalui sentuhan hati, bukan lewat cacian dan suruhan. Berikan pendekatan yang lembut namun tegas. Hal ini menjadi pendekatan efektif sebab membentuk kedisplinan lebih alami.

Beberapa bentuk perilaku diluar kontak non fisik yang digolongkan kekerasan di kampus yaitu: Pertama, pengungkapan kata-kata tidak senonoh dan penghinaan yang merendahkan nilai dan martabat kemanusiaan mahasiswa. Kedua, pemaksaan nilai dan atribut tertentu untuk dilakukan secara massal, seragam dan persis antar satu mahasiswa dengan mahasiswa lainnya. Ketiga, ucapan dan tindakan bernada ancaman fisik, sanksi sosial dan akademik yang tidak proporsional. Seperti seorang panitia yang mengancam mahasiswa baru tidak lulus OSPEK, padahal kelulusan mahasiswa baru ditentukan oleh penanggung jawab sesuai standard aturan yang telah diberitahukan sebelumnya dan bukan merupakan penilaian yang keluar secara pribadi. Keempat, Pemberian tugas yang tidak sepantasnya dan tidak sesuai dengan tujuan pendidikan. Misalnya membawa peralatan atau bahan yang sulit dicari ditempat umum yang bertujuan untuk membuat malu mahasiswa. Kelima, merampas dan merazia barang mahasiswa baru yang merupakan barang pribadi yang bernilai privacy. Keenam, mengaitkan kelemahan pribadi dengan ciri etnis tertentu. Ketujuh, memberi gelar yang berasal dari ciri khas fisik, gaya dan sifat bawaan yang negatif.

Kekerasan non fisik justru akan berdampak lebih buruk dari kekerasan fisik bila telah menjadi tradisi. Buah dari kekerasan non fisik adalah kekerdilan berpikir, pelecehan etika dan moral, mematikan kreatifitas, menumbuhkan dendam, meruntuhkan motivasi dan dampak lain. Dampak-dampak tersebut seharusnya dieliminir untuk memacu pertumbuhan generasi yang inovatif, kreatif dan produktif di kampus.

OSPEK akan dipandang sinis oleh maba bila tidak ada pesan yang ingin disampaikan atau mengaburkan esensi OSPEK. Dan pada dasarnya, OSPEK masih sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan mahasiswa baru mengarungi hidup di kampus. Esensi dari inti OSPEK ialah mengenalkan dan membantu maba untuk beradaptasi dengan lingkungan dan pergaulan yang baru. Maba dapat mengetahui prosedur perkuliahan dan tata tertib akademik. Program OSPEK juga harus selaras membangun kesadaran mahasiswa baru akan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Oleh karena itu OSPEK ialah media awal mendewasakan paradigma dan mematangkan sikap mahasiswa baru.

Sudah bukan zamannya lagi bila OSPEK diisi dengan muatan negatif sehingga menimbulkan stigma di kalangan mahasiswa baru. Pada perkembangannya, sudah tidak relevan bila OSPEK sebagai sarana bullying mahasiswa baru. Bila pendekatan OSPEK yang dibangun salah, maka akan menciptakan generasi mahasiwa yang apatis. Paradigma pendekatan OSPEK tersebut harus dihapuskan. Muatan OSPEK harus memberi kesan dan pesan positif. Sejatinya pesan positif OSPEK akan dinilai berhasil bila mahasiswa baru dapat memetik tergantung dari kualitas OSPEK itu sendiri. Sejauh mana OSPEK  membantu adaptasi mahasiswa baru di lingkungan yang baru. Sejauh mana tujuan dan pelaksaan OSPEK dapat mendewasakan sikap mahasiswa baru untuk menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hal ini menjadi amat penting untuk dipikirkan oleh panitia OSPEK dalam mengonsep dan mengeksekusi pelaksanaan OSPEK.

Alasan-alasan diataslah yang perlu menjadi landasan mengenai perlu atau tidaknya ada sebuah sie QC (Quality Control)/ Disma (Disiplin Mahasiswa) atau Komite Disiplin agar dapat disikapi dengan bijak sehingga sesuai tujuan orientasi mahasiswa baru yang diharapkan tanpa tercampuri pembentukan karakter dengan cara-cara yang instan.

Gaya Orientasi Mahasiswa Baru di Negara Maju

Jika kita berkaca pada beberapa negara maju, kesan OSPEK yang diberikan sungguh sangat berbeda. OSPEK yang dilakukan benar – benar dilakukan sesuai dengan tujuannya, yaitu pengenalan sistem akademik dan kehidupan kampus.

  • Jerman

Melongok tradisi penerimaan mahasiswa baru di sejumlah PT di Jerman, nampak sedikit berbeda bila dibandingkan dengan PT di Indonesia. Dari segi konteks memang serupa yaitu untuk melakukan pengenalan dengan lingkungan kampus, mulai dari informasi akademis, fasilitas kampus, hingga dosen-dosen pengajar. Namun cara yang dilakukan, setiap PT dan negara pasti memiliki perbedaan. Proses pengenalan mahasiswa baru di Indonesia biasanya memakan waktu berhari-hari, bahkan tak jarang kita ketahui di sejumlah PT menyelenggarakan kegiatan orientasi mahasiswa baru hingga berbulan-bulan, dengan tujuan tertentu pastinya.

Lain halnya dengan PT di Jerman, pada umumnya penyelenggaraan kegiatan penerimaan mahasiswa baru tidak membuang waktu lama. Di Hochschule Harz contohnya, mulai dari tingkat Diploma, Sarjana maupun Pascasarjana, pengenalan mahasiswa baru secara efektif hanya diselenggarakan selama kurang lebih 2-3 hari. Rincian kegiatan juga kurang lebih serupa, mahasiswa baru diterima secara langsung oleh petinggi PT setara Rektor, Pembantu Rektor bidang akademik ataupun Dekan Fakultas. Mereka mendapatkan pengarahan akademis secara umum dalam tingkatan PT, fakultas dan jurusan. Lalu dilanjutkan dengan Tour de Campus untuk mengenalkan fasilitas kampus itu sendiri, juga mengemas kegiatan tur kampus ini menjadi sebuah permainan seru. Selebihnya mereka mengadakan acara kumpul-kumpul bersama seperti Barbeque Party di taman kampus atau Welcoming Party di sebuah klub. Tak ada satupun kegiatan ‚bantai-membantai‘ antara senior terhadap junior. Dengan rancangan kegiatan yang padat tersebut, menjadikan waktu lebih efektif dan efisien baik dari pihak PT sendiri juga bagi mahasiswa baru. “Tiap tahun kami selalu melakukan persiapan untuk penerimaan mahasiswa baru, selain rancangan kegiatan yang sifatnya pengenalan akademis, kami juga mengatur pesta penyambutan yang menyenangkan untuk mereka,” ujar Sebastian Ziervorgel selaku tim Humas seraya menjelaskan dengan Bahasa Inggrisnya yang lancar.

Mungkin perbedaan menonjol yang terlihat adalah rasa kekeluargaan yang sangat tinggi di kalangan mahasiswa PT di Indonesia dan rasa individualis di PT Jerman. Namun bila tujuannya untuk solidaritas dan keakraban antar mahasiswa, apakah harus melalui proses ‘penyiksaan’ selama beberapa hari? Apakah tidak ada cara lain untuk memotivasi mahasiswa tanpa harus mengalami tekanan terlebih dahulu, sampai-sampai banyak insiden yang banyak menelan korban? Atau memang sudah karakter masyarakat kita yang terbiasa mengalami penekanan dari zaman penjajahan, setelah itu baru bisa merasakan dampaknya? Bisa jadi pertanyaan ini menjadi kajian penting bagi institusi pendidikan dan para mahasiswa di tanah air. Tradisi budaya boleh berbeda, namun tak ada salahnya apabila kita bisa mengambil sisi positif dari hal yang berseberangan. Menumbuhkan rasa solidaritas bisa dilakukan dengan banyak cara, dengan jalan menciptakan kegiatan yang seru dan menyenangkan seperti kegiatan Outbond atau lainnya. Melihat juga usia mahasiswa yang sudah layak disebut dewasa maka alangkah baiknya mereka diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman dengan seniornya dengan cara yang bijak dan perlakuan yang dewasa pula, tanpa melibatkan tindakan kekerasan entah verbal atau fisik yang berpotensi menimbulkan anarkis.

  • USA

Seorang narasumber yang pernah menjadi Orientation Assistant (O.A.) sebuah Universitas di Washington D.C. , Amerika Serikat berpendapat bahwa OSPEK/New Student Orientation dilakukan dengan tujuan agar mahasiswa baru tahu siapa yang mereka hubungi jika mereka membutuhkan sesuatu.

“One of the most important but simple things students learn during orientation is who to contact if they need something,” says Laura Pasley ’10, student life coordinator and former orientation assistant.

Sebagai contoh, misal seorang mahasiswa ingin berkonsultasi masalah akademis, mereka tahu pihak mana yang harus dihubungi, kepada siapa mereka harus berbicara. Selain itu, jika seorang mahasiswa ingin menggunakan fasilitas yang disediakan kampus, mereka tahu kepada siapa mereka harus meminta izin. Sekalipun sangat sederhana, tujuan OSPEK dapat tercapai, mahasiswa dapat mengetahui apa saja hak mereka dan apa saja yang menjadi kewajiban mereka.

“One aspect of making the transition to college is learning to be an advocate for your own needs and questions. During orientation, we try to give students the contacts and resources needed to be self-sufficient.” says Laura Pasley.

OSPEK menjadi media pihak Universitas dan Fakultas, khususnya panitia OSPEK sendiri, agar mahasiswa baru dapat mengadvokasi kebutuhan mereka sendiri. OSPEK dijadikan sebagai jalan agar mahasiswa mampu mandiri, mampu mengdentifikasi kebutuhan mereka lalu mencari jalan untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

“The process helps students begin adjusting to the college lifestyle because it gives first-years a chance to interact with each other without being overwhelmed by the upperclassmen population,” says Alex Birmingham, Orientation Assistant

Proses OSPEK juga merupakan langkah awal bagi mahasiswa baru untuk bisa saling mengenal satu dan lainnya, mengetahui siapa saja orang yang berada dalam lingkup universitas atau khususnya fakultas.  Tahap perkenalan tersebut dimulai dari teman seangkatan, senior, dosen, karyawan, pegawai kantin, petugas kebersihan, dekan hingga pada tingkat rektor.

Di University of California, Los Angeles (UCLA) sudah sejak tahun 1950-an tidak ada lagi masa orientasi yang diwarnai perpeloncoan. Menurut Roxanne G Neal, Direktur Program Orientasi UCLA, saat ini tidak ada lagi tindakan-tindakan senior dalam program orientasi yang menindas anak baru dengan mengatasnamakan tradisi. Seandainya ada oknum mahasiswa yang melakukannya, maka tindakan ini dianggap pelecehan dan sudah pasti akan mendapat sanksi baik dari pihak universitas maupun kepolisian. Satu-satunya tradisi yang diturunkan dalam masa orientasi adalah yel-yel yang disebut “8-tepukan”. Yel-yel sebagai sarana unjuk gigi sekaligus menjaga semangat ini biasa ditampilkan dalam acara- acara olahraga seperti football dan basket.

  • Belanda

Universitas di Belanda, OSPEK diadakan oleh perkumpulan mahasiswa atau studenten verenigning, bukan universitas. Mahasiswa baru harus mengikuti suatu program yaitu “sorority” selama dua minggu, seminggu di antaranya kerja di hutan sebagai ritual masuk ke sorority. Selama masa orientasi yang disebut Eureka Week itu, mahasiswa baru yang namanya diganti dengan angka selama seminggu kerja di hutan, tanpa mandi, tanpa tahu waktu, tanpa snack dan rokok. Untuk orientasi universitas, yang ada hanya kuliah umum serta jalan-jalan keliling kota dan kampus.

  • Malaysia

Universitas di Malaysia, OSPEK tidak lebih dari pengenalan kampus. Mulai dengan lingkungannya, seperti : berjalan mengelilingi areal kampus, asrama, perpustakaan, pusat pusat kegiatan mahasiswa, pengenalan akademik di fakultas dan jurusan masing-masing. Tidak ada terlihat atribut-atribut tiap fakultas atau jurusannya, seluruhnya sama dengan berpakaian putih – hitam. Dan panitia pelaksana turut serta berpanas-panasan dan berjalan kaki sambil menerangkan lingkungan kampus ke adik-adiknya, kegiatan ini dilaksanakan selama satu minggu.

Penutup

Pada akhirnya, proses OSPEK selayaknya dilaksanakan sebagaimana tujuan awalnya. Diperlukan berbagai macam rangkaian kegiatan yang dapat menjadi media tersampainya tujuan dari OSPEK itu sendiri. Jangan sampai OSPEK hanya dijadikan sebagai ajang balas dendam panitia atas proses OSPEK yang tidak relevan di tahun sebelumnya. Internalisasi nilai kehidupan mungkin perlu dilakukan namun porsinya hanya sebagai “bumbu” agar fokus tujuan dari OSPEK tidak membias. Semestinya, jika diperlukan sebuah rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan internalisasi nilai kehidupan, tak dapat dilakukan hanya dalam rangkaian OSPEK selama tiga sampai empat hari. Diperlukan suatu proses terus menerus dan bersifat jangka panjang, mengingat mahasiswa baru bukanlah sebuah gelas kosong yang dapat diisi dengan berbagai cairan apapun dengan mudah. Mereka adalah sosok yang telah dewasa dan mampu menentukan jalan mereka sendiri.

Saran khususnya untuk OPJH Grapistha HIMALOGISTA UB:

Beberapa saran telah diutarakan secara eksplisit maupun implisit diatas, akan tetapi ada beberapa saran yang menurut saya perlu saya tambahkan untuk memberikan solusi yang lebih kongkrit.

Pemberian informasi mengenai lingkungan kampus dan sekitarnya dapat dilakukan dalam sebuah rangkaian berupa kuliah umum dalam beberapa kali pertemuan, yang kemudian ditindaklanjuti dengan kegiatan-kegiatan dalam kelompok yang dipandu dan difasilitator oleh mahasiswa yang lebih senior. Dinamika kelompok kecil akan lebih terasa dibandingkan kelompok besar, sehingga keakraban antar mahasiswa dalam kelompok maupun antar kelompok pun akan semakin terjalin dengan baik termasuk mendalami informasi yang didapatkan secara teori mampu diterapkan secara praktik.

Tidak perlu adanya pembatasan kreatifitas dalam makna sesungguhnya, yang perlu adalah pembatasan standard minimal dalam kreatifitas. Misalnya dalam pembawaan atribut tidak perlu dilakukan penyeragaman yang serupa, seharusnya atribut dibiarkan beranekaragam sesuai kreatifitasnya.

OSPEK yang menerapkan sistem yang akan membentuk “MABA KONSUMTIF” haruslah dihilangkan. Maba konsumtif dapat dibentuk secara psikologis oleh ospek yang memeritahkan maba-mabanya untuk membeli peralatan ini ataupun membeli jadi suatu produk jadi tertentu.  Hal ini sangatlah bertentangan dengan prinsip dari orientasi mahasiswa untuk dipacu kreatif karena  apabila mahasiswa baru dipaksa untuk menyelesaikan segala permasalahan dengan “membeli” maka unsur kreatifitas dalam otak kanannya akan tertekan. Misal : selalu saja ada perintah untuk membeli merk spidol atau bolpoint merk bersandi  “manusia salju atau supir pesawat terbang” atau membeli permen bersandi “kayu” atau peralatan lain dengan kata-kata merk bersandi lain. Solusinya bagaimana? mudah,,cukup dengan konsep kotradiksi terbalik dimana maba wajib membawa peralatan ini itu tapi “WAJIB BUKAN BARANG BARU” yang akan memacu mahasiswa menjadi lebih kreatif memanfaatkan barang-barang lama, demikian halnya membuat nametag atau atribut lainnya pun harus dilabeli dengan “DIWAJIBKAN KOMPONEN BAHAN PEMBUATAN BUKAN BARANG BARU”.  Indikator keberhasilan pembetukan mahasiswa kreatif dengan cara ini cukup mudah yakni cukup melakukan total pengeluaran maba selama proses orientasi mahasiswa  ini,  semakin sedikit total biaya pengeluaran namun tugas dapat terlaksana menunjukkan bahwa semakin kreatif mahasiswa tersebut. Banyak sekali keluhan pasca ospek mengenai banyaknya pengeluaran yang dikeluarkan saat ospek menunjukkan bahwa ospek sangat “TIDAK MENDIDIK”, padahal saat masuk registrasi maba di Universitas Brawijaya sudah ditarik biaya yang lumayan tinggi untuk OSPEk ORDIK dan ORMAWA.

Penanaman nilai-nilai dan informasi baru sangat efektif dilakukan dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dalam rupa permainan-permainan ringan tanpa hukuman. Hadiah telah terbukti efektif dalam membentuk dan mempertahankan suatu perilaku baru.  Sistem Kredit Poin per Materi dapat juga digunakan sebagai hadiah (rewards). Misalnya poin untuk datang tepat waktu, 1 poin untuk kerapian, 1 poin untuk mengenal denah gedung kuliah. Jika mahasiswa tidak memperoleh standar poin tertentu maka akan bisa dievaluasi mengenai kelulusannya dalam program ospek tersebut. Jadi bukannya panitia berusaha mencari kesalahan melainkan malah panitia mampu membantu memotivasi.

Tapi selepas dari itu, Perlu dilakukan perencanaan dan pola yang matang berdasarkan esensi yang diharapkan sebagai “GOAL”. Setelah pola diperoleh, perlu sosialisasi ke mahasiswa senior dan panitia, kemudian perlu dilakukan simulasi kegitan tersebut. Dengan konsep yang jelas, dan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi telah diketahui, maka seluruh pihak akan mudah mengatur kegitan tersebut, sehingga OSPEK bernuansa positif akan muncul, barulah terlihat kegitan-kegiatan yang menjurus pada perubahan watak.

Kalau takut acara ospek menjadi tidak seru atau tidak berbobot karena sikap pasif dan plegmatis mahasiswa baru maka tidak menjadikan penghalalan sifat dan fungsi tugas disma/QC/Komite disiplin yang seperti skenario sinetron untuk dimunculkan untuk memberikan kekerasan verbal (skenario sinetron karena saat simulasi memang kejadiannya seperti artis sinetron-bukan mencerminkan pribadi yang sesungguhnya). Sungguh sangat disayangkan apabila masih ada mahasiswa baru yang menjalankan acara OSPEK khususnya OPJH Grapistha ITP UB saat evaluasi QC padahal sebelumnya habis ketawa-ketiwi game icebreaking atau saat materi, namun saat melihat QC masuk seperti melihat zombie bangkit dari kubur dan rebutan pingsan. Ada sebuah statement asyik yang bisa saya cuplik dari mrs J

ank skrg itu bnr2 beda ma jaman batu dl,,inget,,

dliat dari background pendidikannya,

maba dah biasa ngalem,liat aja kurikulumnya,KBK,CBSA,KPTS,smw kan brusaha mbwt suasana belajar semenyenangkan mungkin.

maba emg terbiasa dididik dgn menstimulir keinginan belajar mereka melalui contoh kongkrit pendidiknya.

tanpa kekerasan,agar mereka terus menggali potensi diri n mengaplikasikan dlm kehidupannya.

beda ma dulu.kL pun Qta brusaha mbntuk mental mrka yg notabene cm dlm waktu 2hr,,itu sama aja ky nyiram segelas air k gunung berapi yg lg mletus=P..

Kenangan dalam OSPEK hanya menciptakan romantisme tertentu ketika diceritakan beberapa waktu setelah OSPEK, namun tentunya setiap orang tidak ingin mengalami OSPEK untuk beberapa kali lagi. Ini merupakan bukti bahwa setiap orang tidak menginginkan OSPEK terjadi lagi dalam hidup mereka. Hal inilah sebenarnya yang dapat menjadi tolak ukur keberhasilan apakah OSPEK berhasil atau tidak, bukan ditinjau dari apakah OSPEK sudah berjalan sesuai schedule atau penilaian otoristik secara sepihak oleh panitia.

Hal yang menyenangkan akan selalu diingat sebagai kenangan yang menyenangkan bukannya hal yang membosankan karena membuang waktu dan tidak menimbulkan trauma, selain juga karena pembentukan karaktrer harus dilakukan secara bertahap serta terencana sehingga tidak akan menghasilkan generasi instan.

Sumber Informasi Penulisan:

Okezone kampus, BEM FE UI, HIMALOGISTA ITP-UB, DIKTI, dan berbagai masukan pribadi dari mahasiswa S1/S2 yang tidak cukup untuk dituliskan.

SARAN BUAT PARA MAHASISWA BARU: APABILA KAMPUSMU MENJALANKAN PRAKTEK ORIENTASI BERBASIS KEKERASAN FISIK MAUPUN MENTAL ATAU MENERAPKAN HAL-HAL YANG SANGAT  TIDAK MENDIDIK MAKA BOIKOT SAJA, JANGAN IKUTI OSPEK DAN LEBIH PENTING LAGI KIRIMKAN SURAT KOMPLAIN/PETISI BERTANDA TANGAN ORANG TUA KEPADA PEMBANTU DEKAN 3 – (secret-panitia ospek paling takut dengan pihak dekanat khususnya PD 3 karena mereka memiliki beberapa segmen acara ilegal yang biasanya bertentangan dengan konsep akademik dari PD 3). JANGAN TAKUT UNTUK TIDAK LULUS OSPEK KARENA SEMUA MABA PASTI LULUS OSPEK DAN TIDAK MENGULANG TAHUN DEPANNYA LAGI.  TAPI KALAU OSPEK BERJALAN MENYENANGKAN DAN BERMANFAAT MAKA SEBAIKNYA IKUTI, KARENA ORIENTASI TERSEBUT BANYAK MEMILIKI GUNA DI LAIN HARI


Contoh Visi Misi dan Rancangan Program Kerja

Contoh Visi Misi dan Rancangan Program Kerja

Waktu bongkar-bongkar file dokumen ternyata menemukan sebuah file mengenai visi dan misi calon kahim himalogista 3 tahun lalu. Ceritanya waktu itu saya membuatkan sebuah visi misi dan rancangan program yang seiring sejalan, namun sayang hasil kerja yang rencananya jadi selebaran tahap awal kampanye ini urung dilaksanakan karena sang calon batal maju dalam pencalonan. Daripada dokumen ini menganggur dan menjadi kenangan usang tak bermanfaat maka saya putuskan untuk publish mengingat banyaknya calon kahim yang terkesan dipaksakan dan bingung tentang visi-misinya hingga maju dalam pencalonan tanpa mempunyai rancangan kerja yang nantinya amburadul dalam perancangan RAPBO (Rancangan Pendapatan Anggaran Belanja Organisasi) yang berakibat tidak visionernya himpunan yang dia pimpin. Walaupun rancangan ini beberapa kurang sesuai dengan kondisi kekinian dan banyak yang tidak segar harap dimaklumi, tapi meskipun begitu planning yang saya tuliskan merupakan sebuah ide segar di 3 tahun lalu dan belum ada yang melaksanakan saat itu. Semoga bermanfaat J

Visi:

Dengan semangat kekeluargaan menjadikan HIMALOGISTA sebagai wadah berprestasi dan bekarya bagi mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian yang profesional dan memberikan kontribusi nyata, bertanggung jawab serta peduli pada masyarakat.

Misi:

  • Menciptakan kondisi terbaik sebagai tempat kebanggaan mahasiswa THP untuk bekarya dan berprestasi
  • Memperkuat jaringan dengan basis-basis pengkaderan demi kelangsungan transformasi nilai kekeluargaan warga THP
  • Membangun titik temu yang menjemuk antar warga THP dengan instansi-instansi yang terkait demi terciptanya hubungan kerja sama yang harmonis
  • Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan sosial masyarakat
  • Membentuk mahasiswa THP yang inovatif, berdaya saing dan mandiri.

Penjabaran visi dan misi:

HIMALOGISTA, sebuah himpunan mahasiswa yang diharapkan dapat memberikan kontribusi konkrit pada masyarakat dengan mendedikasikan ilmu mengenai pangan dan hasil pertanian melalui program-program yang nyata dan berkelanjutan. Beranggotakan mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian, HIMALOGISTA diharapkan mampu menyuarakan aspirasi dan menyolidkan seluruh anggotanya.

  1. Menciptakan kondisi terbaik sebagai tempat kebanggan mahasiswa THP untuk bekerya dan berprestasi
  • Mahasiswa THP dididik untuk menjadi ahli di bidang Pangan dan Hasil Pertanian. Diperlukan sebuah media yang dapat menyalurkan potensi tersebut hingga manfaatnya dapat lebih dirasakan, baik untuk anggota maupun pengurus HIMALOGISTA.
  • Debat mahasiswa dilakukan untuk mengasah daya nalar dan kekritisan mahasiswa THP terhadap isu-isu pangan.
  • Pengoptimalan workshop guna mengaplikasikan ilmu dan kreatifitas mahasiswa THP.
  1. Memperkuat jaringan dengan basis-basis pengkaderan demi kelangsungan transformasi nilai kekeluargaan warga THP
  • Penguatan internal HIMALOGISTA dengan harapan terbentuk suasana berorganisasi yang kondusif sehingga dapat meningkatkan produktivitas HIMALOGISTA.
  • Pelaksanaan program-program kerja secara profesional.
  • Pengadaan training dan up grading untuk mengetahui dan memetakan potensi mahasiswa THP.
  • Pedampingan Mahasiswa Baru yang berkelanjutan untuk membentuk kader-kader yang tangguh.
  1. Membangun titik temu yang menjemuk antar warga THP dengan instansi-instansi yang terkait demi terciptanya hubungan kerja sama yang harmonis
  • Sebagai aspek penunjang HIMALOGISTA untuk menunjukkan peranannya di masyarakat.
  • Berperan aktif dalam Himpunan Mahasiswa Peduli Pangan Indonesia.
  • Meningkatkan ‘bargaining position’ HIMALOGISTA.
  • Menjalin kerja sama dengan instansi-instansi yang akan mendukung kemajuan HIMALOGISTA.
  1. Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan sosial masyarakat
  • Sebagai bentuk kepedulian HIMALOGISTA terhadap sosial kemasyarakatan yang berkaitan dengan keilmuan anggotanya.
  • Berpartisipasi penuh terhadap program-program yang sejalan dengan dengan misi HIMALOGISTA.
  • Pelaksanaan Bhakti Sosial, Bina UKM, Bina Desa dan sebagainya guna mendukung pengabdian masyarakat dari HIMALOGISTA.
  1. Membentuk mahasiswa THP yang inovatif, berdaya saing dan mandiri.
  • Pemanfaatan ide dari skripsi atau produk PKM yang dapat diaplikasikan dan memiliki prospek daya jual yang tinggi untuk unit produksi kewirausahaan.
  • Turut berpartisipasi dalam berbagai pameran produk dan kewirausahaan yang dapat mencirikan identitas THP.
  • Pembentukan UKM yang mampu menjadi salah satu tulang punggung pembiayaan himalogista yang mandiri.

     

PROGRAM KERJA BARU

LIGA SEPAKBOLA THP (THP SUPER LEAGUE)

Tujuan:

  • Mempererat jalinan kekeluargaan seluruh keluarga besar THP.
  • Menghilangkan bias gengsi antar angkatan yang selalu terjadi tiap turnamen futsal yang dapat memecah persaudaraan.
  • Mensinergikan antara kebutuhan jasmani dengan kegiatan akademik THP yang padat.
  • Aplikasi pembelajaran aspek manajerial dan profesionalitas dalam sebuah team.

    Mekanisme:

  • Sebuah tim sepak bola dapat terdiri dari beberapa angkatan dengan dipimpin oleh seorang manajer. Bahkan bila memungkinkan karyawan THP bila berminat dapat turut serta di dalam tim. Waktu pelaksanaannya pun dilakukan dalam jangka waktu 1 tahun dengan cara sistem kompetisi penuh 2 putaran, dengan waktu pertandingan yang fleksibel disesuaikan agar tidak mengganggu jadwal akademik. Tim maupun kompetisi harus dikelola secara profesional sebab akan terjadi proses degradasi, transfer pemain dan perekrutran pemain baru.

    THP GOES TO UKM

    Tujuan:

  • Wujud pendalaman aplikasi dari ilmu ke-THP an yang didapat dari bangku perkuliahan.
  • Mengetahui secara langsung dan nyata kondisi dunia wirausaha sebagai wujud pembelajaran.
  • Memperluas jaringan himalogista dalam dunia usaha, utamanya nanti dapat berguna dalam sponsorship.
  • Wujud kepedulian mahasiswa THP terhadap masyarakat khususnya dunia Usaha Kecil Menengah.
  • Memotivasi mahasiswa THP untuk berwirausaha.

Mekanisme:

  • Himalogista mengakomodir pelaksanaan kunjungan setiap 1 bulan sekali, ke UKM produk pangan yang banyak tersebar di malang raya. Prinsipnya sama seperti Study Banding hanya saja lebih ditekankan kepada UKM yang ada disekitar kampus. Di UKM tersebut para mahasiwa dianjurkan untuk memperdalam keilmuannya secara langsung melalui aplikasi lapangan. Tidak hanya itu, himalogista juga diharapkan mampu memecahkan permasalahan yang dialami UKM tersebut sebagai wujud pengabdian terhadap masyarakat.

    STUDY CLUB

    Tujuan:

  • Membantu teman-teman mahasiswa yang kesulitan dalam belajar.
  • Meningkatkat kekerabatan dengan kakak tingkat.
  • Menjadi sarana pembelajaran yang murah dan efisien
  • Meningkatkan kualitas nilai akademik dari mahasiswa.

    Mekanisme

  • Proses belajar kelompok atau belajar bersama yang lebih rileks dengan kakak tingkat yang berkompeten sebagai tentor. Mata pelajaran yang dipelajari pun dapat fleksibel sesuai permintaan. Bahkan dapat dilakukan pembahasan tugas secara bersama-sama dengan bimbingan kakak tingkat. Diharapkan dengan tentor kakak tingkat dapat meminimalisir rasa malu bertanya dalam diri mahasiswa, selain itu juga dapat memberikan masukan-masukan yang bermanfaat dalam segala bidang.

    HIMALOGISTA IS NOT GAPTEK

    Tujuan:

  • Memperkuat jaringan komunikasi internal maupun eksternal himalogista.
  • Mempublikasikan prestasi, informasi jual beli, pengumuman seminar atau lomba, ilmu ke-THP an, seminar proposal/hasil dan segala informasi yang berkaitan dengan keluarga besar THP agar dapat bermanfaat.
  • Meningkatkan image himalogista yang aktif, kreatif, inovatif dan professional di lingkup eksternal.
  • Meningkatkan profesionalisme pengurus.

    Mekanisme:

  • Mempromosikan milist thpbrawijaya@yahoogroups.com, dengan milis yg jadi moderator 5 orang (dari jurusan, himpunan, dan perwakilan angkatan). Moderator harus meng-add alamat YM ke semua member. Moderator harus sering2 online. jika ada at least 10 member yang lg online dapat sekali-kali dibuat yahoo conference dan langsung dilontarkan bahan diskusi yg menarik.
  • Setelah milist traffic-nya berjalan, lanjut dengan pembuatan blog yang informatif sebagai tahap awal. Dalam blog dibagi jadi 3 kategori (thp,himalogista,dan alumni). info-info yang menarik dapat posting disini (di-milist juga tetap harus diposting),contoh: format praktikum tidak perlu ditempel (kuno), job info, kegiatan himalog dan info jurusan, ataupun, saran, kritik dan opini bwt semua elemen THP dapat diposting dalam blog. Jika dikelola secara baik pasti blog seperti ini akan ramai dikunjungi dan menjadi alat publikasi yang efektif.
  • Pengelolaan akun di tweeter dan facebook. Masing2 divisi membuat group internal di facebook sebagai alat komunikasi dan diskusi santai.
  • Pengadaan pelatihan rutin khusus untuk pengurus IT guna meningkatkan kemampuan di bidang teknologi informasi. Diharapkan 90% anggota departemen IT dapat mengikuti keseluruhan rangkaian training. Setiap anggota IT dapat menghasilkan sebuah hasil karya yang berhubungan dengan materi training.

    HIMALOGISTA DELEGATION

    Tujuan:

  • Meningkatkan wawasan pengetahuan dari anggota kepengurusan.
  • Sarana untuk memperkuat jaringan ekternal dengan organisasi lain.

    Mekanisme:

  • Himalogista mengakomodir dan mengirimkan delegasi dari anggota kepengurusan yang berkompeten di bidangnya ke seminar, lomba, acara debat, kuliah tamu dan sebagainya. Kemudian delegasi tersebut membuat sebuah jurnal atau report tertulis untuk membagikan ilmu atau info yang didapatkan melalui blog.

    HIMALOGISTA GET THE MONEY

    Tujuan:

  • Menanamkan jiwa berwirausaha dalam diri mahasiswa THP.
  • Mengaplikasikan ilmu ke-THPan dengan pembuatan produk berdaya jual.
  • Pembelajaran sistem manajerial keuangan.
  • Menumbuhkan dan meningkatkan serta menyalurkan kemampuan seluruh komponen himalogista dalam memproduksi atau membuat produk pangan bermutu
  • Menjalin kerjasama dengan pihak luar dalam hal kewirausahaan
  • Membangun mental kerjasama dan jiwa kewirausahaan dalam himalogista

    Mekanisme:

  • Pembuatan produk berdasar hasil skripsi mahasiswa THP ataupun produk PKM yang dinilai bernilai jual tinggi kemudian dilakukan proses pemasaran. Hasil keuntungannya akan masuk kas dan sebagian lagi akan dibagikan ke anggota sesuai proporsi. Dengan prinsip pembagian keuntungan diharapkan anggota dapat belajar dan bekerja secara profesional. Selain itu juga turut aktif dalam aneka bazar, pameran serta berbagai event berbasis kewirausahaan seperti malang tempo dulu dan bazar menjelang buka puasa di sekitar kampus.
  • Aktif dalam berbagai kompetisi kewirausahaan seperti Wirausaha Muda Mandiri, BSA SHELL, PKM, PMW dan lain sebagainya dengan mewakilkan delegasinya.
  • Menjual produk non pangan mandiri himalogista.
  • Menjual produk pangan dan non pangan milik pihak luar dengan asas kerjasama.

    JASA PRINT KOMPUTER

    Tujuan:

  • Memanfaatkan fasilitas Himalogista yang ada untuk dapat dikembangkan menjadi suatu kegiatan kewirausahaan.
  • Membangun mental kerjasama dan jiwa kewirausahaan dalam Himitepa.
  • Memberikan kontribusi positif kepada Himitepa (materiil dan spirituil).
  • Memanfaatkan fasilitas Himalogista yang ada untuk dapat dikembangkan menjadi suatu kegiatan kewirausahaan.

    Mekanisme:

  • Menyediakan jasa print komputer bagi mahasiswa pada umumnya dan mahasiswa FTP pada khususnya.

    STADIUM GENERAL ANTAR ALUMNI DAN MAHASISWA (PESTAFLOGISTA)

    Tujuan:

  • Memberikan informasi kepada mahasiswa THP seputar gambaran dunia kerja dan memberikan motivasi

    Mekanisme:

  • Mengundang alumni THP, akademisi, dan professional yang telah sukses untuk berbagi pengalaman dengan mahasiswa THP.

    ACARA KEAKRABAN DAN SENI

    Tujuan:

  • Mempererat tali silaturahmi dan meningkatkan keakraban seluruh mahasiswa THP

    Mekanisme:

  • Kegiatan keakraban yang diisi dengan acara2 menarik yang untuk mengakrabkan seluruh mahasiswa THP. For Mahasiswa From Mahasiswa.

    BULETIN

    Tujuan:

  • Memberikan informasi seputar teknologi di lingkungan THP.
  • Mengetahui perkembangan teknologi terkini dan pengaplikasikan dalam kehidupan.
  • Media “propaganda” himalogista untuk mengkritik berbagai kebijakan birokratif yang tak memihak mahasiswa.

    Mekanisme:

  • Membagikan bulletin berisi tentang teknologi kepada mahasiswa THP paling tidak 200 lembar.

    DIKLAT DAN UPGRADING PENGURUS BARU

Tujuan:

  • Meningkatkan profesionalisme pengurus HIMALOGISTA
  • Membangun
    Komitmen yang tinggi akan membuat pengurus HIMALOGISTA tetap semangat dalam menjalankan tugas

    Mekanisme:

  • Kegiatan yang dilakukan pada awal kepengurusan himalogista berupa outbound dan pemberian materi seputar keorganisasian dengan bantuan kakat tingkat kepengurusan sebelumnya supaya dapat berbagi pengalaman dan pemberian petunjuk pelaksanaan job desc dari masing divisi agar tidak lepas dari prinsip dan cita-cita dasar HIMALOGISTA.

    COOKING COMPETITION

    Tujuan:

  • Mengasah kreatifitas dan menguji kekompakan angkatan
  • Tercipta suasana akrab dan harmonis antara mahasiswa

    Mekanisme:

  • Seluruh mahasiswa THP per angkatan diadu dan diuji untuk memasak suatu makanan tradisional dan berbasis sumber daya lokal.

    SEMINAR DAN PELATIHAN PANGAN HALAL

    Tujuan:

  • Memberikan pengetahuan seputar pangan halal.

    Mekanisme:

  • Mengadakan seminar seputar pangan halal yang mengundang pakar yang berkompeten misal dari MUI, badan sertifikasi pangan halal, produsen dan akademisi.

    DIKLAT KEPEMIMPINAN DAN KEWIRAUSAHAAN

    Tujuan:

  • Membentuk jiwa pemimpin yang kokoh dalam setiap diri mahasiswa THP.
  • Menumbuhkan semangat berwirausaha dalam diri mahasiswa THP

    Mekanisme:

  • Pembinaan dilakukan dengan mengundang tentor ESQ dan para pengusaha sukses agar dapat memotivasi para mahasiswa pada umumnya dan pengurus himalogista pada khususnya.

 


 


MENJADI MAHASISWA PEMBELAJAR YANG MAMPU MENGABDI

Mahasiswa sebagai salah satu kesatuan dari manusia muda pembelajar yang ditugaskan oleh orang tuanya masing-masing untuk belajar. Namun sebagian kita seringlah menyalah artikan dengan memaknai tugas belajar ini dengan hanya menjalani kuliah dan memaksimalkan nilai indeks prestasi dengan melupakan  domain- domain nilai lain yang lebih nyata sebagai fakta bekal hidup yang akan kita bawa setelah lulus.

Menjadi mahasiswa adalah kesempatan tergantung bagaimana kemampuan finansial dan kemauan yang kita miliki. Sedang masuk organisasi adalah pilihan. Mengapa menjadi sebuah pilihan? Ya, dari sekian anak negeri ini yang lulus dari Sekolah Menengah Atas hanya sebagian kecil yang meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi karena kuota yang memang terbatas dan kesadaran beberapa orang tua tentang pentingnya pendidikan yang terbentur oleh masalah finansial. Oleh karena itu, besar harapan masyarakat terhadap kaum muda yang berjumlah kecil ini bergelut dengan dunia intelektual ini, walaupun faktanya malah banyak mahasiswa yang memperburuk angka pengangguran kita.

Fenomena mahalnya biaya pendidikan, menuntut mahasiswa untuk menyelesaikan studi tepat waktu. Sehingga segala energi dikerahkan untuk mengondol gelar sarjana/diploma sesegera mungkin. Tak ayal lagi tren study oriented mewabah di kalangan mahasiswa dan banyak sekali melewatkan hal-hal menarik yang berhubungan dengan pembelajaran social responsibility dan problem solving dimana pemikiran kritik yang sangat dibutuhkan oleh dunia intelektual pasca lulus nantinya sering terabaikan.

Tapi apakah cukup dengan hanya mengandalkan ilmu dari perkuliahan dan indeks prestasi yang tinggi untuk mengarungi kehidupan pasca wisuda? Ternyata tidak. Dunia kerja yang akan digeluti oleh alumnus perguruan tinggi tidak bisa diarungi dengan dua modal itu saja. Ada elemen yang lebih penting, yakni kemampuan soft skill. Kemampuan ini terkait dengan kemampuan berkomunikasi dan bahasa, bekerja dalam satu team, serta kemampuan memimpin dan dipimpin sehingga kita mampu menjadi intelektual yang beretika.

Kapabilitas soft skill ini tidak diajarkan didalam bangku kuliah oleh bapak dan ibu dosen. Hal yang ingin saya tegaskan di sini adalah keberadaan organisasi mahasiswa menjadi penting karena kemanfaatannya terpulang kepada mahasiswa itu sendiri. Mungkin ada yang takut ketika masuk organisasi waktunya untuk belajar akan terganggu yang pada akhirnya berpengaruh kepada lamanya studi. Penulis katakan memang ada sebagian kecil mahasiswa yang lalai kuliah akibat terlalu sibuk mengurus organisasi. Tapi kenyataan juga membuktikan, betapa banyak penggiat organisasi yang berhasil lulus tepat waktu, dan dengan indeks prestasi yang sangat memuaskan. Jadi ini hanyalah masalah manajemen waktu. Jangan juga mengikuti saya yang punya masa study hampir 6,5 tahun, walaupun pada keadaan realnya mengatakan bahwa sebagian besar penggiat organisasi lebih banyak berperan dalam segala aspek bidang kemasyarakatan dibanding dengan mahasiswa cumlaude tanpa berorganisasi.

Selain berfungsi sebagai pembelajaran diri, organisasi mahasiswa merupakan wahana bagi mahasiswa berempati dengan situasi yang terjadi di masyarakat. Negara berkembang layaknya Indonesia, banyak dihadapkan masalah-masalah sosial terutama menyangkut kesenjangan ekonomi, kecurangan, ketidakadilan, dan ketidakstabilan politik. Organisasi mahasiswa membawa para anggotanya bersinggungan langsung dengan persoalan-persoalan ini, sekaligus mengugah rasa kritis untuk mencari solusi atas apa yang terjadi.

Organisasi mahasiswa menjembatani domain kampus yang elitis, eksklusif dan money oriented dengan ruang masyarakat. Sehingga, ketika terbiasa menghadapi problem kehidupan, mahasiswa tidak lagi canggung bergumul dengan ruang baru, baik di masyarakat maupun di dunia kerja selepas lulus dari perguruan tinggi. Selain berfungsi sebagai pembelajaran diri, organisasi merupakan wahana bagi kita berempati dengan situasi yang terjadi di masyarakat. Negara berkembang layaknya Indonesia, banyak dihadapkan masalah-masalah sosial terutama menyangkut kesenjangan ekonomi, kecurangan, ketidakadilan, dan ketidakstabilan politik. Organisasi membawa para anggotanya bersinggungan langsung dengan persoalan-persoalan ini, sekaligus mengugah rasa kritis untuk mencari solusi atas apa yang terjadi dengan dasar-dasar keilmuan yang kita peroleh dari bangku (baca saja kursi karena sekarang kuliah tidak pakai bangku) perkuliahan.


REFERENSI WARUNG MAKAN DAN JAJANAN DI KOTA MALANG

REFERENSI WARUNG MAKAN DAN JAJANAN DI KOTA MALANG

Maen ke Malang bingung nyari tempat makan? Mudah saja, ini saya cantumkan tempat makan atau tempat nongkrong atau tempat nyemil-nyemil buat yang suka jajan dengan harga terjangkau dan menu yang unik-unik tapi enak…siapin aja isi dompet ma stok kaplingan perut…

  • Warung Kopi dan Ketan Menu utama : ketan, bubuk kacang, gula jawa cair, kopi, teh, jahe. Lokasi : Pojokan perempatan Rampal – SKI, perempatan Kauman depan RSB Muhammadiyah, Talun Gang sebelah bilyard
  • Sego Campur Buk Disebut Buk karena yang jualan Ibu2 yang dalam bahasa Arodam dipanggil Buk. Menu utama : nasi sayur lodeh, paru goreng, jeroan, ayam, empal Lokasi : Sebelah Pom Bensin Brantas, Pertokoan Stasiun Kota, Kidul Dalem depan Saguanto, Pasar Kebalen dan di Pasar Besar
  • Sego Goreng dan Mie Jowo, Sego Resek Menu Utama : nasi goreng putih / mawut, mie goreng / rebus. Lokasi : Pojokan perempatan Kasin sebelah bengkel Vespa, Pojokan perempatan Merapi – Buring (RRI Lama), Gang dekat perempatan Pattimura dan gedung WISH / BTC, Gang depan Soto Lonceng Wetan Pasar, Pak Wulan Klampok Kasri, Nasi Goreng Kambing Pedes dalam kampung Klampok Kasri
  • Martabak dan Terang Bulan Lokal Menu utama : martabak telor, terang bulan, tahu petis, menjes. Lokasi : Pasar Senggol, Kelud, Martabak Dinoyo depan Soto Kudus, Bang Sohel Tongan, Kairo pertigaan Kauman, Agung pertokoaan depan Mitra
  • Jajan Gorengan Disetiap pojok gang maupun di pasar2 dijumpai penjual gorengan. Menu utama : singkong, ketela, tempe menjes, tahu brontak, weci, tape, bakwan, kokam, gandoz, ketan jadah, tape ketan hitam dll. Lokasi : Jalan Gajayana gang sebelah Salon Didiet, Kaliurang, Perempatan rel kereta Ciliwung
  • Jajan Pasar Disebut jajan pasar karena hampir tiap pasar ada penjual jajanan ini. Sangat khas Jawa yang full legit, kelapa parut, wangi pandan en manis gula jawa cair Menu Utama : putu, lopis, cenil, klepon, gatot, sawut, horok2, ketan Lokasi : Gang Depan Dunkin Donat Celaket, pasar pagi dan malam
  • Orem-orem Menu Utama : sayur tempe orem2 (sayur kunir), krupuk, lontong atau nasi. Lokasi : depan pasar Kebalen, rel kereta Boldi, Pertukangan depan Bioskop Jaya, adayang jualan didorong di daerah Dinoyo, Gajayana dan Veteran
  • Sego Campur Korak dan Nasi Bebek Dijuluki korak karena menunya sangat urakan dan murah harganya. Menu utama : sayur lodeh, bening, sop, kecambah, lauk tempe atau tahu plus krupuk ditambah teh pait atau air putih bisa tambah bonus rokok sebatang. Sedang nasi (pakan) bebek adalah nasi lauk pecel dan gorengan weci Lokasi : pojokan pertigaan jalan turun Bendungan Sutami ke IKIP lewat Ambarawa, gang2 kecil disekitar IKIP jalan Surabaya dan Jombang, gang Kerto2an di wilayah IAIN dan Unibraw, depan Kelud, depan Pasar Bareng, pertigaan jalan Jakarta – Ijen (nasi bebek khusus buka malam hari)
  • Dok-dok Makanan ala cina yang beredar dengan menu nyaris sama antara ratusan pedagang khas keliling sembari menabuh kentongan (dok dok). Menu utama : ala chinese food nasi goreng, mie rebus ato goreng, pu yung hai, cap jay, tami goreng, ayam mentega, nasi mawut, mihun dll. Lokasi : biasa bergerombol di depan Bank Bali jalan Semeru, gerbang UNMER, pertigaan jalan Jakarta – Ijen atau di setiap pelosok perumahan dan kost2an
  • Soto Dok Soto daging Lamongan, dijual dengan gaya khas membanting botol kecap dengan keras ‘DOK’ bunyinya sehingga dijuluki murah meriah + kaget ! Menu utama : soto daging, jeroan sapi, perkedel kentang dan teh manis legit. Lokasi : Dulu merupakan ciri khas daerah Bioskop President Jl. Sarangan sekarang sudah kegusur pindah pojokan depan gedung Pulosari dan di kios Pasar Tawangmangu
  • Soto Babon Khas soto ayam betina gemuk Lokasi : Pasar besi tua Bentoel Lama
  • Soto Ayam lamongan Oro2 Dowo dan di Tlogomas, Khas Jalan Lombok dan cabangnya di dekat STIA Tlogomas spesial pake koyah (bubuk kedele)
  • Soto Kambing (Ngelo) Khas soto daging dan jeroan kambing dengan koyah serta lontong banyak gajih (lemak). Lokasi : sekitar Kampus III Unmuh Tlogomas (Terminal Landungsari)
  • Soto Shampo Khas mirip Soto Lombok tapi lebih terasa bumbunya (spicy). Lokasi : perempatan Lapangan Shampo (Angkatan Laut dekat SMAN 5) dengan warung yantg sederhana (awas suka antri dan habis sebelum jam 11 malem)
  • Bakso Ciri khas Kota Malang, tahu, gorengan dan bakso yang besar2, bakso kasar, goreng, tahu, mie, jeroan sapi, mihun dll. Lokasi : Bantaran, Glintung, Kemirahan depan Gang, belakang Mitra II, pertigaan pasar Halmahera, Gajayana dll. plus rombong2 yang didorong di pemukiman
  • Sego Pecel Dalam berbagai versi Blitar, Madiun, Ponorogo ataupun lokalan. Dapat dijumpai di Jalan Gede (Dempo), Jalan Rajekwesi, Jalan Kawi dengan cabang di Letjen S. Parman dekat Wijaya Kusuma dan Dinoyo depan pasar, Jalan Bendungan Sutami depan Pom Bensin / Unmuh Kampus II, Pasar Mergan – pas buat sarapan !
  • Ronde minuman khas dengan kacang, jahe pedas dan sejenis klepon disajikan panas dan Angsle berisi roti tawar dengan kuah santan penuh bumbu. Lokasi : hampir di tiap perkampungan ada yang jualan saat malam hari
  • Tahu Petis dan Telor Tahu dipotong kecil (dicampur telor dadar), digoreng dan disajikan dengan petis legit, bumbu kacang, lontong, kecambah, atau nasi dan krupuk kecil2. Lokasi : sekitar SMAN 5 malam hari, perempatan Kasin depan Sego Resek dan gang sebelah Sinar Brawijaya (depan Kapal Teknik Unibraw)
  • Tahu Campur Walaupun disebut tahu tapi justru unsur tahunya sedikit, campurannya banyak : singkong, sayur slada, kecambah, tahu, suun, bumbu petis plus kuah dan daging sapi
  • Mie Pangsit Lokasi : Belakang SMA Dempo, Pujasera Pulosari, jalan naik Tanjung – Mergan, Isor Uwit depan Pasar Oro2 Dowo, Mie Gloria depan Plasa Malang, Mie Gajah Mada Pecinan sebelah Rahman Sports
  • ITB, STMJ Khas minuman serba panas susu, telor, madu, jahe ada yang tambah ginseng dan ramuan jamu plus telur ayam kampung 1/2 matang. Lokasi : Malam hari bertebaran di setiap sudut kota, Jalan Kawi, Bareng dekat Jalan Semangka, Jalan Surabaya, Pujasera Pulosari biasanya dilengkapi dengan Roti dan Jagung Bakar
  • Rujak Petis (Cingur) Lokasi : hampir tiap kampung ada, Jalan Amprong, Jalan Lawu (pindah Sawojajar) Tenes Stadion Rujak Manis dan Es Degan Stadion dan Primagama Jalan Semeru, Stasiun Kota, Warung Pojok depan BTC Pajajaran
  • Sego Trancam Nasi dengan lauk sayur lodeh tahu, urap2, lamtoro khas disebut seglo slametan atau sego kuburan (orang mati). Lokasi : di pasar2, Kasin sebelah Sego Resek
  • Pecel Lele Warung Citra Kawi dan Soekarno Hatta, Kampung Klaseman (pagi), Depan Perbankan Unmer (malam) dan sejumlah tempat lain. Gurami Goreng dan Bakar di Pujasera2 dan Resto Alami seperti di kebon Agung
  • Sate Ayam ARODAM hampir di setiap sudut kota tersedia
  • Tempe Penyet Kuburan Kasin, warung2 lain Tempe Sanan dan Kripik Tempe
  • Ayam Bakar Pak No Pom Bensin Kasin Sawahan dan sejumlah tempat lainnya
  • Ayam Goreng dan Fried Chicken Depan Perbankan Unmer, Jalan Galunggung depan Gading Pesantren dan di Pujasera2
  • Rawon Jahat Kawi Atas masuk Bareng, Nguling, Warung Perempatan Muharto
  • Warung Bu Haji AREMA Menu Jawa istilah AREMA, perempatan Kidul Dalem
  • Bang Sohel Tongan Sate Gule dan Etas Mbik diberbagai pelosok kota
  • Sea Food di tiap Pujasera, jomplangan Ciliwung
  • Pujasera DEMPO, Bondowoso, Pulosari, Soekarno Hatta, Kawi, Bengawan Solo (Sanan / Purwantoro jalan logam2)
  • Warung Aneka Menu Minggu di Stadion pake Moko (Mobil Toko)
  • Warung Top : Marhaen, Nyik Sun, Warung Lama H. Ridwan, Panglima Sudirman, Lesehan Stadion, Citra, Hok Lay, Toko Oen, Ayam Tenes, Ayam Pemuda, Ayam Prambanan, Ringin Asri

ISRA MI’RAJ SEBAGAI LANDASAN SPIRIT KEPEMIMPINAN KAUM MUDA

ISRA MI’RAJ SEBAGAI LANDASAN SPIRIT KEPEMIMPINAN KAUM MUDA

Created by RIZKY KURNIA W

Pemuda dan Kepemimpinan

Dalam riwayat hadits Rasulullah SAW, yakni dikatakan: Rebutlah lima perkara sebelum lima perkara. Masa muda sebelum tiba masa tua. Masa sehat sebelum tiba masa sakit. Masa kaya sebelum datang masa miskin. Masa lapang sebelum masa sempit. Masa lapang sebelum tiba masa sibuk dan masa hidup sebelum datang masa kematian. Betapa pentingnya peluang dan potensi masa muda sebagai sebuah aset yang jelas tergambar pada hadits tersebut.

Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya untuk menjadi aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. “The founding leaders” Indonesia telah meletakkan dasar-dasar dan tujuan kebangsaan sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945.

Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad menjadi momen strategis bagi refleksi bagi pemuda untuk memperbaiki nilai-nilai kepemimpinan bangsa kita. Saat ini bangunan kepemimpinan kita berada di ambang kehancuran. Terungkapnya skandal suap sejumlah pejabat negara, baik di tingkatan eksekutif, legislatif, maupun yudikatif menjadi bukti nyata betapa kian memprihatinkannya pemimpin bangsa ini. Fenomena tersebut merupakan event of experience yang menyedihkan dan kian meneguhkan citra negatif pemimpin bangsa ini, yang dalam istilah William Change dikatakan telah terjadi “demoralisasi“.

Para pemimpin kita saat ini telah kehilangan identitas. Kualitas kepemimpinan tertutup kepentingan-kepentingan individu dan kelompoknya semata. Tidak lagi mewarisi nilai-nilai ketulusan, kebenaran, dan keadilan, sebagaimana pernah diperkenalkan dan diimpikan oleh para pemimpin ideal, sejak Rasulullah hingga sekurang-kurangnya khalifah yang yang empat. Pemimpin kita sedang berada dalam situasi krisis spiritualitas dan kehilangan fondasi keagamaan.

Penting bagi kita semua, terutama kaum muda Indonesia, membiasakan diri yaitu untuk mengerjakan apa saja yang semestinya kita kerjakan guna memperbaiki keadaan dan meningkatkan produktifitas kita sebagai bangsa dan negara. Setiap anak bangsa perlu bertekad melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing melebihi apa yang seharusnya dikerjakan, dengan hanya mengambil hak tidak melebihi hak yang memang seharusnya diterima.

Kepemimpinan (Leadership)
Menurut Kenneth Boulding (1997) dalam buku The Image: Knowledge in Life and Society dikatakan mengenai konsepsi seorang pemimpin, sebagaimana berikut : Good leaders develop through a never ending process of self-study, education, training, and experience. This guide will help you through that process. Good leaders are continually working and studying to improve their leadership skills; they are NOT resting on their laurels. Sementara itu tujuan kepemimpinan (Purpose of Leadership) dikemukakan sebagai berikut, yakni : Leadership is a way of focusing and motivating a group to enable them to achieve their aims. It also involves being accountable and responsible for the group as a whole. (ME96 Leadership Pages) Berikut ini adalah penjelasan mengenai aspek dalam praktek mengarahkan tim (Practical Aspect in Directing Teams). When directing a small team it is important to structure the tasks to be performed. Goals should be easily understood by everyone and tasks broken down so that they appear achievable (ME96 Leadership Pages). Jadi pada intinya terdapat 2 komponen penting sebagai aspek dalam praktek mengarahkan tim (yang dipimpin) yakni :

1. Merumuskan wacana (breaking down the task)

2. Melakukan analisis sasaran (goal analysis)

Dari uraian mengenai pengertian pemimpin yang baik, ditekankan mengenai aspek proses belajar (improvement) di dalamnya. Jadi proses perbaikan kualitas diri selalu diperlukan untuk menghasilkan pribadi yang memiliki kualitas pemimpin, selanjutnya seorang pemimpinpun harus memiliki kearifan untuk mau terus belajar. Kemudian pada uraian mengenai tujuan kepemimpinan, ditekankan mengenai membuat tim menjadi memiliki motivasi dan memiliki kemampuan dalam meraih tujuan yang utuh. Terakhir ditegaskan lagi bahwa terdapat 2 komponen sebagai aspek dalam praktek mengarahkan tim (yang dipimpin), yakni merumuskan wacana (breaking down the task) dan melakukan analisis sasaran (goal analysis).

Pemuda (Youth), secara harfiah, kamus Websters, Princeton mengartikan bahwa youth yang diterjemahkan sebagai pemuda memiliki definisi : (1) a young person, (2) the time of life between childhood and maturity, (3) early maturity. Sedangkan dalam kerangka usia, WHO menggolongkan usia 10 – 24 tahun sebagai young people.

Definisi yang berbeda ditunjukkan oleh Alquran. Dalam kaidah bahasa Qurani pemuda atau yang disebut “asy-syabab”didefinisikan dalam ungkapan sifat dan sikap seperti:

1. berani merombak dan bertindak revolusioner terhadap tatanan sistem yang rusak. Seperti kisah pemuda (Nabi) Ibrahim. “Mereka berkata: ‘Siapakah yang (berani) melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya dia termasuk orang orang yang zalim, Mereka berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang (berani) mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” (QS.Al-Anbiya, 21:59-60).

2. memiliki standar moralitas (iman), berwawasan, bersatu, optimis dan teguh dalam pendirian serta konsisten dalam dengan perkataan. Seperti tergambar pada kisah Ash-habul Kahfi (para pemuda penghuni gua).”Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda.pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka mengatakan: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran” (QS.18: 13-14).

3. seorang yang tidak berputus-asa, pantang mundur sebelum cita-citanya tercapai. Seperti digambarkan pada pribadi pemuda (Nabi) Musa. “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai kepertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun” (QS. Al-Kahfi,18 : 60).

Jadi pemuda identik dengan sebagai sosok individu yang berusia produktif dan mempunyai karakter khas yang spesifik yaitu revolusioner, optimis, berpikiran maju, memiliki moralitas, dsb. Kelemahan mecolok dari seorang pemuda adalah kontrol diri dalam artian mudah emosional, sedangkan kelebihan pemuda yang paling menonjol adalah mau menghadapi perubahan, baik berupa perubahan sosial maupun kultural dengan menjadi pelopor perubahan itu sendiri.

Nilai Isra’ Mi’raj dalam Kepemimpinan

Di sinilah pentingnya mendalami makna Isra’ Mi’raj, yakni untuk merefleksikan spirit kepemimpinan Nabi Muhammad selama hidupnya bagi kaum muda yang diharapkan menjadi pemimpin yang lebih baik. Sudah bukan waktunya lagi kita memaknai Isra’ Mi’raj hanya semata perjalanan Muhammad di malam hari untuk menerima perintah shalat. Kita mesti menyeret makna peristiwa itu pada konteks yang lebih rill. Sebab, Isra’ Mi’raj penuh labirin dan makna simbolik, baik pada tatanan kemanusiaan atau pun teologi kepemimpinan yang akan dihadapi oleh generasi muda.

Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan spiritualitas terpenting yang menjadi salah satu tonggak sejarah perjuangan Nabi Muhammad dalam membangun peradaban, keadilan, dan kemakmuran bagi seluruh umatnya. Proyeksi awal dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah menciptakan jalan pencerahan untuk membebaskan diri dari sisi gelap (dark side) pengamalan dan sejarah kemanusiaan. Shalat lima waktu yang diprintahkan Tuhan dalam peristiwa Isra’ Mi’raj tidak semata-mata ditafsiri sebagai kewajiban yang sifatnya ritual an sich, melainkan wahana untuk menegakkan kebenaran dan merobohkan bangunan-bangunan kemungkaran di muka bumi.

Jika dicermati, ada banyak hal yang dapat kita jadikan motivasi untuk lebih bersungguh-sungguh memaknai peristiwa agung ini sebagai spirit kepemimpinan. Pertama, spirit penyucian hati. Telah diriwayatkan, bahwa sebelum Nabi Muhammad dibawa Malaikat Jibril, beliau dibaringkan, kemudian dibelah dadanya; hatinya dibersihkan dengan air zamzam. Penyucian hati Rasulullah ini bermakna bahwa setiap manusia tidak akan pernah lepas dari kekhilafan. Setiap kali melakukan kekhilafan, setiap kali pula hatinya ternoda hingga menjadikannya hitam pekat, karena itu penting di sucikan.

Dalam konteks kekinian, jika seorang pemimpin melakukan tindakan yang dapat menyebabkan hati kotor, semisal melakukan suap-menyuap, maka penting juga disucikan, bahkan kalau perlu direndam (dalam penjara). Pemimpin yang hatinya kotor mustahil memiliki keinginan untuk memperjuangkan nasib rakyat. Alih-alih mereka hanya mementingkan kepentingan pribadinya.

Kedua, spirit keteladanan. Ketika di Baital Maqdis, misalnya, Nabi Muhammad ditawari dua gelas minuman yang berisi susu dan khamar, beliau memilih susu. Hal ini mengindikasikan bahwa pemimpin harus mampu memberikan yang terbaik dan bernilai positif bagi dirinya dan umatnya. Spirit keteladanan nabi Muhammad itu bisa dipraktekkan dengan menjauhi tindakan korupsi, skandal suap dan sek yang akhir-akhir ini kian merebak di kalangan wakil rakyat. Karena tindakan-tindakan tersebut lebih parah dari pada sekedar minum khamar.

Ketiga, prinsip keadilan. Proses negosiasi yang dilakukan nabi Muhammad dalam menerima kewajiban shalat juga menjadi cerminan bahwa esensi seorang pemimpin adalah berusaha meringankan beban yang dihadapi umatnya. Al-Ghazali mengungkapkan bahwa seluruh ajaran ibadah yang diwajibkan kepada umat Islam merupakan fondasi yang wajib dilaksanakan untuk menemukan saripati dan esensi agama, yakni agama sebagai rahmat bagi semua bangsa.

Keempat, spirit dan etos membangun peradaban yang kuat. Sejarah mencatat, tidak lama setelah Isra’ Mi’raj, Rasulullah dengan para pengikutnya hijrah ke Madinah. Dengan spirit dan etos yang lahir dari Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad SAW berhasil menyampaikan risalah kenabian di Madinah. Lebih dari itu, Beliau juga berhasil membangun sebuah negara kota yang disebut Al Farabi sebagai negara yang adil, makmur, sejahtera, aman, dan damai. Negara seperti itu adalah sebuah negeri ideal sebagaimana dicita-citakan para ahli dari Yunani, seperti Plato dan Aristoteles. Kepemimpinan Nabi di Madinah dinilai sebagai kesuksesan memadukan antara nilai-nilai keislaman dengan spirit demokrasi, yang dalam bahasa Robert N. Bellah disebut sebagai masyarakat madani (civil society). Menurut Gus Dur, ada lima hal yang diperjuangkan Islam untuk membangun civil society, yaitu pertama, melindungi keselamatan fisik warga masyarakat dari tindakan badani di luar ketentuan hukum, kedua, melindungi keselamatan keyakinan agama masing-masing, tanpa adanya paksaan untuk berpindah agama, ketiga, menjaga keselamatan keluarga dan keturunan, keempat, memberikan jaminan keselamatan harta benda dan milik pribadi di luar prosedur hukum, dan kelima, menjamin keselamatan profesi. Lima hal itulah yang diperjuangkan Nabi selama memimpin Madinah. Kesuksesan nabi Muhammad dalam memimpin Madinah mendapat apresiasi serius di kemudian hari. Filsuf George Bernand Show berkeyakinan seandainya Muhammad diserahi untuk memimpin dunia modern, tentu berhasil menyelesaikan persoalan dengan cara yang dapat membawa dunia yang dapat membawa dunia ke dalam kesejahteraan dan kebahagiaan. Bernand juga meramalkan, akidah yang dibawa Muhammad akan diterima dengan baik oleh Eropa di kemudian hari. Maka tak heran, jika salah seorang sejarawan barat, Michael H. Hart, menempatkan Muhammad sebagai tokoh nomor wahid yang paling berpengaruh sepanjang sejarah umat manusia.

Spirit kepemimpinan nabi Muhammad menemukan momentum untuk diinternalisasikan dalam calon jiwa-jiwa pemimpin yang berada di pundak pemuda bangsa kita saat ini. Momentum Isra’ Mi’raj dapat menggugah bangsa Indonesia dalam menegakkan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, kesejahteraan, dan keimanan, yang pada titik klimaksnya akan lahir sosok pemimpin yang memiliki integritas kebangsaan dan spirit religiusitas yang agung.

Penutup

Pemuda adalah harapan bagi masa depan bangsa. Tugas kita semua adalah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk mengambil peran dalam proses pembangunan untuk kemajuan bangsa kita di masa depan dengan spirit isra mi’raj yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Estafet kepemimpinan di semua lapisan, baik di lingkungan supra struktur negara maupun di lingkup infra struktur masyarakat, terbuka luas bagi kaum muda Indonesia masa kini untuk memberikan pengabdian yang sebaik-baiknya guna mewujudkan cita-cita bangsa yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, serta guna mencapai empat tujuan nasional kita, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Referensi :

Anonymous, 2012. http://east-crew-daru.blogspot.com/2011/10/definisi-pemuda.html.

Anonymous, 2012. http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,9-id,38138-lang,id-c,khotbah-t,Hikmah+Isra++Mi+raj+dan+Pembersihan+Hati+Rasulullah+SAW-.phpx

Anonymous, 2012. http://www.walisongo.ac.id/view/?p=news&id=pesan_sosial_isra%E2%80%99_mi%E2%80%99raj

Anonymous, 2012. http://heavenslights.blogspot.com/2006/04/george-bernard-shaw-and-genuine-islam.html

Bellah, Robert. 2012. Civil Religion in America. http://www.robertbellah.com/articles_5.htm

Boulding, Kenneth. The Image: Knowledge in Life and Society. Ann Arbor, MI: University of Michigan Press, 1997, 175 pp.

Hart, Michael H. The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History. New York: Carol Publishing Group/Citadel Press; first published in 1978, reprinted with minor revisions 1992.

Hefner, Robert W. 2000. Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia. Princeton University Press.

Subairi. 2009. Islam Dan Pemberdayaan Civil Society; Refleksi Pemikiran Abdurrahman Wahid. http://rontalsuber.wordpress.com/2009/08/02/islam-dan-pemberdayaan-civil-society-refleksi-pemikiran-abdurrahman-wahid/

 


 


Mengapa (Mereka Pikir) Jurusan IPA Lebih Baik?

 Mengapa (Mereka Pikir) Jurusan IPA Lebih Baik?

Apakah anda pernah mengalami hal yang serupa?

Sebenarnya sistem pendidikan di Indonesia sudah mengelompokkan program studi di SMA menjadi tiga klasifikasi : Kelas IPA, Kelas IPS dan Kelas Bahasa. Hal ini dilakukan pada awalnya untuk memfasilitasi minat siswa yang berbeda-beda, namun karena penerapan yang TOTOL, hal ini kemudian malah berubah menjadi suatu bentuk baru dari education ‘racism’. Menempatkan siswa IPA sebagai ras unggul dunia akademis that give IPA students a privilege to force IPS and Language students to SHIT themselves.

Berikut adalah alasan yang menempatkan kelas IPA sebagai jurusan primadona bagi para orang tua (dan tentunya anak-anak mereka yang ‘penurut’):

1. (Mereka pikir) Pelajaran IPA itu lebih SULIT

Dan yang lebih sulit, yang lebih bikin BANGGA!

Memasuki kelas 2 SMA semester akhir memang saatnya untuk sport jantung. Bukan apa-apa, masalahnya syarat untuk bisa masuk kelas IPA minimal nilai pelajaran matematika, fisika, kimia, dan biologi (MAFIKIBI) semua harus diatas 6.

Orang tua pun sibuk cari tempat bimbingan belajar untuk anaknya. Kemudian sepulang dari bimbel, masih juga ada guru privat yang sudah menunggu di rumah. Les tambahan dengan guru di sekolah pun tidak lupa diikuti, yah siapa tau aja bisa dapet bocoran soal ulangan.

Ya ampuun, kenapa sih pelajaran IPA sulit semua?!!

Faktanya:

Belajar ilmu pasti sebenarnya tidak sesulit itu (yeah right, TALK TO MY HAND!!), karena seluruh variable-nya teridentifikasi dengan jelas. Objek-objek yang dipelajari kebanyakan benda mati, atau kalaupun tidak, perilakunya mudah diprediksi. Pokoknya pasti-pasti semua deh…

Berbeda dengan pemodelan sosial yang banyak memperhitungkan aspek pola perilaku manusia, dimana variabelnya lebih banyak, lebih rumit, dan tidak dapat diprediksi dengan jelas. Menurut para ahli, justru studi sosial perlu dilakukan dengan analisa yang membutuhkan kemampuan logis yang kuat. Dan tidak ada rumus jempol untuk pelajaran sosial yang dapat dibuat, bahkan oleh seseorang sekelas Einstein sekalipun.

Lagipula setiap orang itu kan dilahirkan dengan bakat yang berbeda-beda. Tidak adil rasanya bila kita mengatakan pelajaran IPA lebih sulit dari pelajaran lainnya. Karena dengan bakat orang yang berbeda-beda, parameter ‘sulit’ pun seharusnya menjadi berbeda-beda. Adalah suatu hal yang wajar apabila seorang matematikawan dapat menguasai deret fourier tanpa kesulitan, sebab bisa jadi parameter sulit menurutnya adalah memainkan Donkey Kong hingga mendapatkan kill screen. Sementara di tempat lain ada lho orang-orang yang bisa melakukannya, menjadi legenda, bahkan di-film-kan!

Dan kalau pun ada orang yang bisa melakukan semua hal tanpa pernah merasa kesulitan, mungkin dia inilah orangnya:

2. (Mereka pikir) Anak IPA itu super PINTAR

Dan yang lebih pintar, yang lebih bikin BANGGA!

Selamat anda kini diterima dikelas IPA! Suka atau tidak, anda lah kini strata tertinggi dalam piramida dunia pendidikan. Pakai lah kacamata, tenteng buku fisika kemana-mana, dan masuk perpustakaan sekali-kali. Orang-orang akan tahu bahwa anda PINTAR. Untuk lebih meyakinkan lagi, bolehlah diskusikan tentang rumus-rumus trigonometri atau reaksi hidrolisis di tempat publik. Maka orang-orang pun akan memandang anda dengan kagum dan berkata lirih: This is the man who is gonna change the world…

Biarkan semua orang tahu, bahwa siswa IPA adalah produk akademis PALING PINTAR sejagad raya. Yang lainnya?? NOTHING!

Faktanya:

Sejak tahun 1983, seorang psikolog dan peneliti Harvard University bernama Howard Garner telah mengatakan bahwa kecerdasan dasar manusia itu dapat terbagi atas beberapa macam, diantaranya:

1. Kecerdasan Visual-Spatial, berhubungan dengan kemampuan mengingat gambar dan visualisasi objek di dalam pikiran.

Contoh karir: peserta kuis tebak gambar

2. Kecerdasan Linguistik, berhubungan dengan kemampuan berbahasa dan mengolah kata.

Contoh karir: playboy, penipu

3. Kecerdasan Logika-Matematika, berhubungan kemampuan berlogika, menghubungkan sebab-akibat, bermain angka-angka. Memiliki korelasi yang erat dengan konsep kecerdasan tradisional atau yang dulu dikenal dengan istilah ‘IQ’.

Contoh karir: Rocket Scientist (ck, boring!)

4. Kecerdasan Fisik-Kinestetik, berhubungan dengan ketangkasan, kontrol tubuh, dan kemampuan meng-handle benda dengan terampil.

Contoh karir: God of gambler

5. Kecerdasan Musikal, berhubungan dengan kemampuan mengenali dan mengolah suara, nada, ritme dan musik baik hanya dengan vokal maupun menggunakan alat.

Contoh karir: personel soneta group

6. Kecerdasan Interpersonal, berhubungan dengan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain.

Contoh karir: politikus, pejabat, koruptor, business-man, mafia

7. Kecerdasan Intrapersonal, berhubungan dengan kemampuan untuk mengenali diri, introspeksi dan pengembangan diri.

Contoh karir: psikolog, motivator, pengangguran (yang punya cukup banyak waktu untuk merenungi nasibnya yang sial)

Dan pada tahun 1999, ia menambahkan satu kecerdasan dasar lagi kedalam daftarnya.

8. Kecerdasan Naturalis, berhubungan dengan alam, merawat dan menjaga ekosistem lingkungan.

Contoh karir: penjaga kebun binatang

Lalu dimana posisi kecerdasan anak IPA yang katanya paling pintar sejagad raya tadi? Kalau diperhatikan, ternyata pelajaran IPA hanya berkisar di urusan utak-atik angka dan perkara reproduksi kodok. Ini berarti hanya kecerdasan logika-matematik dan kecerdasan naturalis yang digunakan. Atau dengan kata lain, anak IPA belajar di kelas hanya dengan menggunakan ¼ (seperempat) potensi kecerdasannya.

Jadi gimana one-quarter-brained man? Masih menganggap yang lain NOTHING? F*CK YEAH!!

3. (Mereka pikir) Masuk IPA adalah rumus pasti untuk SUKSES di masa depan

Dan yang lebih sukses, yang lebih bikin BANGGA!

Berada di kelas IPA, berarti anda kelak akan menjadi Insinyur, ilmuwan atau dokter. Yang mana (mereka & kita pikir) pasti akan mendapatkan pekerjaan tetap yang mapan, menghasilkan banyak uang, punya rumah mewah, mobil bagus, istri cantik dan mati masuk surga. Lupakan cita-cita masa kecil ingin jadi pelukis, designer pakaian atau guru bahasa inggris. Karena anda tinggal di Indonesia, dimana semua itu (mereka & kita pikir) tidak ada masa depannya.

Kini tujuan anda adalah jurusan-jurusan unggulan di bangku universitas. Pilih salah satu jurusan dari Science, Technology, Engineering, atau Mathematic (STEM), maka anda (kalau beruntung) akan sukses dikemudian hari.

Well done, you’re now already in the right path!

Faktanya:

Memang harus diakui, STEM subjects begitu digemari bukan tanpa alasan. Sumber penghasilan 6 dari 10 orang terkaya versi Forbes berasal dari bidang ini, kecuali Warren Buffet (Berkshire Hathaway), Bernard Arnault (Luis Vitton), Amancio Ortega (Zara), dan Crishty Walton (Walmart).

WAIT A MINUTE!!!!

Are we telling you that the rest of four are not STEM-oriented person and still they get so FREAKIN’ RICH??? Actually, yes we are.

Dan lagi, coba pikir dengan jernih, apa mungkin 10 orang terkaya tadi dapat sedemikian SUKSES tanpa kemampuan bisnis dan interpersonal skill yang luar biasa (which are very very IPS)?? Non-sense!

Tapi mungkin kemudian kalian berpikir:

“Hey.. hey.. Tuan penulis tunggu dulu! Kami ini orang ASIA, kami tidak seambisius itu, kami cuma sekedar ingin hidup normal, menikmati gaji besar dengan anak dan istri-istri kami kelak… “

Ok, then check this out! Dalam sebuah survey yang mengelompokkan 171 bidang studi dalam 15 kategori di Amerika sana, para responden diminta menyebutkan gelar s1-nya dan menyebutkan penghasilannya. Ternyata dari 15 kategori tadi, penghasilan orang Asia mendominasi di 3 kategori yaitu: Hukum dan kebijakan publik, psikologi dan pekerjaan sosial, serta biologi dan ilmu hayati. Well, hanya ilmu tentang reproduksi kodok that works with Asian. Lalu sekarang coba tebak, responden Asia sebagian besar berasal dari lulusan mana? Yes indeed, COMPUTER SCIENCE AND MATHEMATICS. FREAK!!

Dan kalaupun memang you can earn a lot of freakin’ money from this sh*t, lantas BISAKAH harta yang melimpah itu menjamin kebahagiaan hidup seseorang?

4. (Mereka pikir) Tidak perlu bersusah payah menciptakan lapangan kerja karena banyak lapangan kerja untuk anak IPA

Dan yang ‘kerja’, yang lebih bikin BANGGA!

Selamat, kini ijazah kuliah sudah ditangan. Kalau orang gedongan bilang: sudah memiliki daya saing di dunia kerja. Ahaayy! Thanks to kelas IPA dulu semasa SMA. Nah, sekarang saatnya mulai cari kerja. Voila!!

Faktanya:

Eh.. eh.. tapi kok ternyata susah sih cari kerja? Eh.. eh.. tapi kok ternyata gak enak ya jadi bawahan? Eh.. eh.. tapi kok hidupnya jadi tergantung sama gaji bulanan gini sih? Eh.. eh.. tapi kok kena PHK sih? Dan masih banyak “tapi” yang lainnya lagi. Yah, resiko Bung! Namanya juga jadi kacungnya orang lain, siap-siap aja banyak gigit jari.

Tapi mau gimana lagi, bahkan ternyata pendidikan Indonesia memang sama sekali tidak berharap agar penduduknya mandiri lewat pendidikan. Coba saja tengok Poin terakhir misi pendidikan Indonesia yang penulis kutip di bawah ini :

“Menjamin kepastian memperoleh layanan pendidikan. Adanya jaminan bagi lulusan sekolah untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya atau mendapatkan lapangan kerja sesuai kompetensi.”

Dan akibatnya, kurikulum pendidikan Indonesia pun mau tidak mau harus rela dikangkangi oleh para kapitalis, didikte dengan dalih tuntutan dunia kerja (poin #6 acuan penyusunan kurikulum pendidikan Indonesia).

Jadi kawan, demi suksesnya pendidikan nasional, masuk lah kelas IPA! J

Maka tidak perlu heran jika jumlah entrepreneurship di Indonesia hanya berkisar di angka 0.18%. Sungguh angka yang sangat kecil bila dibandingkan dengan Negara-negara tetangga kita di Asia Tenggara, apalagi Amerika Serikat (11.5%). Padahal, menurut sosiolog David McClelland: ”Suatu negara bisa menjadi makmur bila ada entrepreneur (pengusaha) sedikitnya 2% dari jumlah penduduknya”

Sekarang seandainya saja minimum requirement yang 2% ini terpenuhi, berarti seharusnya akan ada tambahan pengusaha di Indonesia sebanyak (2% – 0.18%) x 238 jt jiwa = 4.3316 juta jiwa. Dan apabila 1 orang pengusaha paling tidak punya 1 orang pekerja, maka jumlah orang yang tidak menganggur meningkat hingga menjadi 4.3316 x 2 = 8.6632 juta jiwa. Coba saja bandingkan dengan tingkat pengangguran di Indonesia yang di awal 2011 lalu mencapai 9.25 juta jiwa

Maka selamat, dengan ini anda telah berhasil mengurangi 93.65% tingkat pengangguran di Indonesia. Wow!! Anda layak dapat nobel!

Gimana, berminat jadi pengusaha? Kalau anda memang berminat, ada satu pertanyaan mendasar untuk anda jawab: apakah pernah diajarkan caranya berwirausaha di kelas IPA?

Mohon dipahami, tulisan ini bukannya tulisan anti IPA, karena kenyataannya penulis pun dulu memilih masuk di kelas IPA. The thing that I’m trying to say is no matter what your class is, KICK RACISM OUT OF EDUCATION! Setiap manusia berhak untuk menentukan jalan hidupnya, sesuai dengan passion dan cita-cita yang ingin diraihnya. Boleh pilih jurusan manapun, entah IPA, IPS atau Bahasa. Namun yang penting jangan pernah memilih hanya agar hidup ‘aman’. To hell with mainstream we create our own opportunity!

Thank God, our distorted education still teach us how to read, so you can waste your time and read this junk. Enjoy!

sumber:

theposkamling.com

andiweb3.wordpress.com


RASIALISME DUNIA DAN RASIALISME TERSELUBUNG

RASIALISME DUNIA DAN RASIALISME TERSELUBUNG


Evra Vs Suarez, menjadi headline beberapa media untuk menyambut pertandingan mahabesar antara 2 klub penuh tradisi di liga Inggris antara Man. United melawan Liverpool, namun bukan hanya pertarungan permainan dan tradisi yang akan disuguhkan, melainkan sorotan pertarungan 2 pemain yang akan menjadi titik poin karena adanya kasus rasialisme yang dilontarkan oleh Suarez terhadap Evra yang menyebabkan dihukumnya Suarez sebanyak 8 pertandingan tidak boleh bertanding di semua ajang yang diikuti Liverpool.

Masalah Rasialisme telah muncul hampir sama tuanya dengan peradaban manusia dan tidaklah bertambah baik seiring kemajuan jaman. Kitab Suci telah mencatat peristiwa rasialis yang terjadi di Tanah Mesir ribuan tahun yang lalu ketika bangsa Yahudi diperbudak oleh bangsa Mesir, dimana Musa lantas memimpin bangsa Yahudi keluar dari tanah Mesir menuju Israel. Ketika orang mengira bahwa masalah rasialisme telah berkurang di jaman modern seperti sekarang ini, maka mata dunia dibuka oleh banyaknya korban jiwa yang jatuh, sehingga baru disadari bahwa masalah rasialisme belumlah selesai, pun sampai hari ini ketika kita telah menjalani sebuah milenium baru.

Dibawah ini hanya sekelumit peristiwa rasialis yang tercatat dalam sejarah.

Masa Romawi dan Yunani

Untuk mengetahui asal mula rasialisme, kita harus melihat jauh ke belakang. Pandangan merendahkan bangsa lain mulai tumbuh ketika sistem penghisapan ekonomi melalui perbudakan dimulai. Perbudakan berawal saat, pemerintah dan beberapa pihak mencari tenaga kerja yang murah. Berbagai cara ditempuh seperti menaklukan bangsa lain lalu menjadikan mereka sebagai budak atau membeli dari para pedagang budak. Bangsa yang kalah perang dianggap sebagai bangsa yang inferior (lebih rendah) dan sang pemenang dapat melakukan apa saja terhadap mereka, termasuk mengirim mereka ke arena Gladiator sebagai hiburan.

Konsep Rasialisme telah terlihat dalam cerita dari masa romawi dan Yunani, walaupun mereka belum mengenal konsep rasial dengan menggunakan perbedaan warna kulit, kebudayaan atau agama.

Perbudakan ras Afrika abad XVI

Konsep rasialisme yang ada sekarang, mulai muncul pada abad ke–XVI ketika perdagangan budak mulai berkembang. Budak-budak didatangkan dari Afrika menuju Eropa atau Amerika. Walaupun hal ini bertentangan dengan konsep kristianitas yang ada dimasyarakat Eropa dan Amerika, namun hal ini tetap terus berlangsung. Para pedagang budak menyebarkan paham bahwa masyarakat kulit hitam (ras Afrika) adalah ras yang terkuat namun inferior, sehingga cocok untuk mengerjakan pekerjaan kasar dan harus tunduk pada perintah. Pandangan inferioritas ini sama dengan yang terjadi pada masa Romawi dan Yunani. Diperkirakan 11,8 juta rakyat Afrika diperdagangkan selama masa Perdagangan Budak Atlantik, di mana sekitar 10 sampai 20% nya tewas dalam perjalanan menyeberangi samudra Atlantik. Pada abad 19, tercatat bahwa 90% budak belian adalah anak- anak. Beberapa negeri telah menjadi kaya raya karena perdagangan budak ini. Perbudakan Afrika adalah saudara kembar kolonialisme di benua itu. Tahun 1884 di Berlin, beberapa negara yaitu Inggris Raya, Perancis, Spanyol, Jerman, Belgia, Belanda dan Portugal bertemu untuk membagi- bagi wilayah Afrika di antara mereka. Masyarakat adat Afrika yang selama ini menjadi satu kesatuan menjadi terbelah mengikuti garis kepemilikan yang digambar di atas peta oleh bangsa Eropa, menjadi negara-negara yang berbeda. Inilah sebabnya mengapa banyak suku etnik Afrika misalnya suku Somalia dapat ditemukan tersebar di lima atau enam negara yang berbeda. Hal ini pula yang menjadi benih konflik antar suku di Afrika, seperti antara suku Tutsi dan Hutu yang kebetulan disatukan oleh garis batas negara Rwanda.

Pembantaian ras Armenia

Pembantaian yang terjadi terhadap ras Armenia dimulai tahun 1915 sampai dengan 1918, pada saat perang dunia I sedang berlangsung. Pembantaian ini direncanakan dan dilakukan oleh pemerintahan Turki terhadap seluruh populasi Armenia yang ada di negara itu. Ras Armenia menjadi korban deportasi, pengusiran, penyiksaan, pembantaian dan kelaparan. Sejumlah besar populasi Armenia diusir menuju ke Siria dan padang pasir dimana mereka menjadi korban kelaparan dan kehausan. Keputusan pembantaian ini muncul dari partai Ittihad ve Terakki Jemiyeti atau populer disebut sebagai partai Pemuda Turki yang memerintahkan pihak militer untuk melaksanakannya. Selain itu, pemerintah Turki juga membentuk pasukan khusus, Teshkilati Mahsusa yang tugas utamanya melakukan pembantaian massal. Pembasmian ras ini didukung pula oleh propaganda- propaganda ideologis melalui media tentang ide pembentukan kekaisaran Turki baru yang disebut Pan- Turanism, yang terbentang dari Anatolia hingga Asia Tengah dan rencananya hanya akan dihuni oleh orang Turki asli saja. Propaganda ideologis inilah yang menjadi pembenaran pembunuhan besar- besaran tersebut. Setelah PD I mulai berakhir, pembantain sempat mereda, namun mulai terjadi kembali tahun 1920 sampai dengan 1923, kini dilakukan oleh partai Nasionalis Turki yang merupakan oposisi dari Pemuda Turki, namun memiliki pandangan kemurnian ras yang sama. Total diperkirakan satu setengah juta orang Armenia terbunuh selama periode 1915- 1923 tersebut. Pada akhir PD I, pelaku- pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan ini dituntut atas pebuatan mereka. Sebagian besar lari meninggalkan Turki untuk menghindari pengadilan, namun mereka diadili secara inabsentia dan dinyatakan bersalah.

Nazi dan anti Yahudi

Bahaya rasialisme baru disadari oleh dunia saat terjadi pembantaian secara sistematis yang dilakukan oleh Nazi terhadap etnis yahudi-eropa. Momen perang dunia II yang meminta korban bangsa Yahudi yang sangat besar. Pembantaian secara besar-besaran oleh Hitler dan Nazi dilakukan dengan cara membangun kamp-kamp konsentrasi. Kamp Konsentrasi tersebut menjadi tempat pembantaian para bangsa Yahudi. Kebencian Nazi terhadap keturunan Yahudi muncul karena keturunan Yahudi dianggap sebagai penyebab kekalahan Jerman pada Perang Dunia I, dan sementara ekonomi Jerman mengalami kesulitan, para keturunan Yahudi tetap sukses memegang peranan ekonomi yang besar di Jerman. Namun alasan ini patut dipertanyakan kembali jika melihat kenyataan bahwa bukan hanya 6 juta orang Yahudi yang mati di tangan Nazi, melainkan juga 5 juta etnik non Aria lainnya seperti Gipsi, kaum Homo seksual, keturunan Asia dan lainnya. Dalam propagandanya Nazi memang kental mengusung isu rasialisme dengan memberi fokus pada keunggulan ras mereka, yaitu ras Aria.

Bila dilihat lebih kebelakang lagi, pada abad ke-XIV, masa inkuisisi di Eropa juga terjadi pembantaian dan pengusiran terhadap bangsa Yahudi. Tomas de Torguemeda (1420-1498), kepala pengadilan inkuisisi Spanyol telah membantai kurang lebih 2.000 orang dengan siksaan dan mengusir sekitar 200.000 orang bangsa yahudi.

Perbedaan antara Hitler dan Tomas de Torguemeda adalah Hitler melakukan pengejaran yang dilanjutkan dengan pembantaian secara sistematis dan meluas.

Diskriminasi terhadap bangsa Indian di benua Amerika

Kedatangan bangsa kulit putih ke benua Amerika ternyata menimbulkan sebuah masalah terhadap bangsa asli benua Amerika, Bangsa Indian. Perebutan tanah oleh para pendatang menimbulkan peperangan kecil dengan bangsa indian di berbagai pelosok benua Amerika.

Pada tahun 1830 lahir Indian Removal Act, peraturan yang memungkinkan pengusiran terhadap bangsa indian demi kepentingan para pendatang yang didominasi oleh kulit putih. Akibatnya, lebih dari 70.000 orang indian di usir dari tanahnya sehingga mengakibatkan ribuan orang meninggal.

Pada pertengahan abad ke-XIX, peperangan antara bangsa indian dengan tentara kavaleri terus terjadi. Kaum pendatang terus berusaha mempersempit lahan yang dimiliki oleh indian. Hal ini dikarenakan banyaknya penemuan tambang-tambang emas di wilayah barat, terutama California. Keberpihakan pemerintah kepada kaum kulit putih tergambar dari dikeluarkannya Dawes Act pada tahun 1887. Peraturan tersebut mempersempit lahan yang dimiliki oleh bangsa indian dengan cara menjatah tanah per kepala keluarga.


Perjuangan untuk memperbaiki kehidupan bangsa indian memang sangat panjang. Bangsa indian akhirnya mendaptkan status kewarga negaraan Amerika pada tahun 1934 dengan disahkannya Reorganization Act. Peraturan ini juga menghentikan semua bentuk pengusiran terhadap bangsa indian. Walau demikian, bangsa indian tetap diberi tempat yang diberi nama reservation area yang berfungsi seperti ghetto (penampungan) bagi kaum indian

Diskriminasi terhadap bangsa Aborigin dan bangsa lainnya di Australia.

Sebagai negara jajahan, Australia mempunyai sejarah yang diwarisi oleh rasisme yang sangat kental. Baik terhadap bangsa Aborigin atau kepada imigran (kaum pendatang) ke Australia. Populasi mayoritas di Australia berlatar belakang Anglo-celtic (Inggris atau Irlandia). Mayoritas yang menjadi korbannya adalah masyarakat Aborigin, Asia, Arab dan Yahudi. Hal ini juga termasuk orang yang karena agama dan kepercayaannya, seperti; perempuan muslim yang mengenakan jilbab dan pria yahudi yang mengenakan yarmulka (topi Yahudi).

Kebijakan White Australia Policy, yang dicabut pada tahun 1972 memberikan sedikit harapan terhadap para Aborigin dan imigran lainnya. Namun demikian, kebijakan untuk pembauran atau asimilasi tidak berhasil dan tidak adil. Pemerintah Australia menyadari hal tersebut sehingga pada tahun 1989 dikeluarkan kebijakan Multikulturalisme.

Apartheid di Afrika Selatan

Banyak yang menilai bahwa apartheid adalah reinkarnasi politik diskriminasi rasial Nazi. Politik Apartheid mulai diterapkan di Afrika Selatan pada tahun 1948 ketika sebuah partai ultra nasionalis memenangkan pemilu. Sejak saat itu pula muncul undang- undang yang tidak berpihak kepada kaum kulit hitam. Hal ini berpuncak saat, Partai Nasional berkuasa dan kemudian meresmikan undang-undang yang sangat kental dengan diskriminasi rasial.

Population Regestration Act (1949) merupakan awal berdirinya struktur apartheid. Penduduk Afrika Selatan diharuskan mendaftarkan diri berdasarkan rasnya. Kemudian berlanjut dengan munculnya Bantu Self Govement Act (1959), dibangun ghetto bagi kaum kulit hitam. Sistem ini ditujukan agar kaum kulit hitam kehilangan hak poltiknya dalam politik Afrika selatan. Kaum kulit hitam hanya boleh mempelajari tentnag kebudayaan masing-masing, harus memiliki surat jalan jika ingin keluar dari wilayahnya, dan dilarang melakukan perkawinan antar ras.

Sistem Apartheid yang dirasa sangat mengekang menimbulkan semangat perlawanan dari kaum kulit hitam. African National Congres (ANC), South Africa Communist Party (SACP), dan Pan Africa Congress membentuk aliansi untuk melawan sistem Apartheid. Aksi di parlemen, aksi boikot hingga pembentukan Umkhonto We Sizwe (Lembing Bangsa) sebagai sayap bersenjata mereka adalah sebagian kecil dari aksi yang mereka lakukan. Setelah mengorbankan banyak jiwa, akhirnya perjuangan mereka berhasil pada penghujung dekade 1980-an. Afrika Selatan lantas menjadi model dari suatu proses rekonsiliasi antara kekuatan lama dan kekuatan baru yang mencoba untuk menerapkan suatu proses ‘kebenaran dan rekonsiliasi’ yang bukan didasari atas dendam kesumat.

Masih sekian banyak kasus rasial di belahan dunia yang terjadi seperti pembantaian yang terjadi di Kosovo dan juga di Rwanda yang telah membuka mata dunia bahwa bahaya rasialisme belum selesai. Di Rwanda kurang lebih 800.000 suku Tutsi menjadi korban pembantaian terencana oleh tokoh- tokoh militan suku Hutu, bahkan sebagian suku Hutu sendiri yang beraliran moderat, dalam arti tidak memusuhi suku Tutsi, juga menjadi korban pembantaian tersebut. Jatuhnya ribuan bahkan ratusan ribu korban jiwa dari berbagai peristiwa tersebut merupakan pelajaran dunia. Sebagai tambahan, berbagai kasus ras juga terjadi di Indonesia, misalnya antara warga suku Dayak dan Madura, patut mendapat perhatian kita.

Rasialisme dalam Iklan Produk Pemutih Kulit

Seorang gadis muda tampak sangat tidak percaya diri lantaran kulitnya tidak seputih temannya. Lalu sang teman “membuka rahasia,” menyerahkan salah satu produk pemutih kulit. Dalam beberapa hari saja si gadis tampak kinclong dan dikagumi lelaki.

Begitulah cara produsen produk pemutih wajah mengampanyekan dagangannya. Dibuatnya iklan yang mengesankan bahwa hanya kulit putih yang layak disebut cantik. Dimunculkan kesan bahwa perempuan berkulit coklat (apa lagi hitam) tidak akan “laku di pasaran” dan tidak akan dilirik laki-laki.

Astaga. Bukankah ini sangat rasialistis? Kita pun diam saja dan membiarkan rasialisme kurang ajar ini merajalela memasuki ruang pribadi kita melalui televisi dan media cetak.

Lihatlah bagaimana produk-produk pemutih kulit itu secara sangat intensif dan masif mengampanyekan bahwa kulit gelap sangat memalukan. Bahwa perempuan cantik hanyalah mereka yang berkulit putih. Bahwa mereka yang berkulit coklat, sawo matang, dan hitam hanya pantas melongo menyaksikan si kulit putih melenggang anggun di bawah tatapan kagum kaum lelaki.

Tidaklah boleh sama sekali menyalahkan keinginan orang untuk memutihkan kulit. Silakan saja. Persoalannya menjadi sangat mengganggu ketika persaingan di pasar kosmetika pemutih kulit diisi dengan iklan-iklan yang dengan sengaja memberi kesan bahwa kecantikan sangat ditentukan oleh keputihan kulit. Kian putih kulitmu, kian cantik pula engkau. Kian kagum pulalah kaum lelaki.

Padahal kita tahu, saudara-saudara kita dari Maluku, NTT, dan Papua tak kalah cantik. Perempuan-perempuan berkulit hitam dari daerah timur itu tidak membutuhkan peralihan warna kulit untuk disebut manis, cantik, dan menarik. Mereka memiliki daya tarik khas yang tidak dimiliki perempuan berkulit kuning atau putih.

Semua ini bermula dari “keterjajahan” kita. Kita silau oleh apa saja yang datang dari Barat, termasuk silau oleh keputihan kulit. Otak kita tercuci dengan sangat intensif untuk beranggapan bahwa segala hal yang datang dari barat selalu lebih baik dari apa yang kita miliki.

Dalam banyak kesempatan saya sering bertanya, “Perempuan seperti apakah yang menurut Anda cantik itu?” Serbagian besar menunjuk artis atau pesohor yang berwajah keindo-indoan atau bahkan merujuk langsung pada sosok yang datang dari AS atau Eropa. Mereka beranggapan, perempuan cantik adalah sosok tinggi langsing, berwajah tirus, berambut blonde, bermata coklat atau biru, berpipi tipis dengan tulang pipi menonjol. Tentu berkulit putih. Sangat khas Eropa. Atau, paling tidak, berkulit kuning seperti artis-artis Korea.

Padahal, tokoh kecantikan asli Indonesia, sebutlah Ken Dedes, memiliki tubuh yang berisi (semok, menurut istilah Jawa). Padahal sangat jarang literatur kita menceritakan warna kulit sebagai referensi kecantikan. Pramudya Ananta Toer, bahkan, dalam buku “Gadis Pantai” menceritakan sosok gadis berkulit kelam sebagai tokoh utama yang digandrungi banyak lelaki yang juga digilai pejabat setempat.

Pendek kata, kulit Indonesia memang beragam. Ada yang kuning langsat, ada coklat, ada sawo matang, dan ada pula yang hitam. Tapi tidak ada yang putih.

Kampanye “memutihkan kulit” yang dilakukan produsen kosmetika pemutih kulit dengan cara menanamkan pikiran bahwa hanya orang yang berkulit putih saja yang pantas disebut cantik dan tampan sangat berbahaya. Kampanye ini sangat mungkin mendatangkan perasaan rendah diri bagi mereka yang berkulit tidak putih. Kampanye ini menghadirkan pula efek yang lebih luas. Beberapa perusahaan yang mengutamakan “penampilan” karyawan dan karyawatinya sangat mungkin akan enggan menerima orang-orang berkulit coklat, sawo matang, atau hitam. Paling tidak, lihatlah kecenderungan televisi kita. Sangat sedikit, kalau tidak bisa dibilang tidak ada, presenter berkulit sawo matang, coklat, atau hitam.

Saya yakin kecenderungan ini disebabkan oleh pikiran “white is beautiful” yang melanda masyarakat kita. Salah satu yang mendorong pikiran itu adalah kampanye produk pemutih kulit. “Berapa persen sih rakyat Indonesia yang sejak lahir berkulit putih?”


Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 139 pengikut lainnya

Tulisan Terakhir

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.