“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

KRITIS SOSIAL

Hichki: There are no bad students, only bad teachers

Hichki: There are no bad students, only bad teachers

Hasil gambar untuk ulasan film hichki

Mekanisme penerimaan peserta didik baru tahun 2018/2019 di Indonesia cukup memberi efek kejut. Salah satunya adalah dengan memberikan kuota sebanyak 20% untuk siswa yang berasal dari keluarga miskin. Kesakralan nilai hasil ujian akhir menjadi berkurang.

Asal membawa bukti berupa surat keterangan tidak mampu, peluang untuk diterima di sekolah “favorit” lumayan besar. Tentu hal ini juga memiliki dampak sistemik dan menimbulkan kekecewaan yang cukup besar terutama di kalangan orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah idaman.

Menurut para pakar, dengan dikeluarkannya kebijakan tersebut diharapkan tidak ada lagi kesenjangan prestasi antar sekolah yang terlalu menonjol. Sekaligus juga menjadi ajang pembuktian kualitas para guru; apakah guru itu benar-benar memiliki kompetensi mengajar yang layak. Beberapa guru harus rela dipindah ke sekolah lain dengan alasan yang sama.

Bicara tentang pendidikan khususnya kualitas guru, saya teringat sebuah film India yang rilis awal tahun 2018 ini dan dibintangi oleh Rani Mukerji. Siapa yang tak tahu Rani Mukerji? Terutama bagi penikmat film India, tentu nama aktris cantik satu ini tidak begitu asing.

Namanya mulai semakin dikenal ketika beradu akting dengan Shah Rukh Khan dan Kajol dalam film Kuch Kuch Hota Hai (1998). Dari film itu pula Rani Mukerji mendapat dua penghargaan, Filmfare dan Zee Cine Awards sebagai Aktris Pendukung Terbaik.

Adalah Hichki judul film teranyar Rani Mukerji itu. Film ini memiliki dua fokus utama yang sama pentingnya. Pertama, penggambaran kondisi dunia pendidikan di sebuah sekolah menengah di sebuah kota pelabuhan di India. Yang kedua, tentang apa itu sindrom Tourette. Singkatnya, sindrom Tourette adalah sindrom berupa ucapan atau gerakan yang te rjadi secara spontan dan berulang-ulang disebabkan kondisi syaraf yang tidak biasa.

Iya, benar sekali. Film ini merupakan adaptasi dari buku Front of The Class karya Brad Cohen dan Lisa Wysocky yang menceritakan perjuangan seorang pengidap sindrom Tourette untuk mendapatkan hak yang sama dalam dunia pendidikan. Baik sebagai siswa maupun sebagai guru. Buku Front of The Class juga pernah difilmkan di Amerika dengan judul yang sama pada tahun 2008.

Dikisahkan di awal film, seorang perempuan bernama Naina Mathur memiliki keinginan menjadi guru sejak kecil. Namun, kendala besarnya adalah sindrom Tourette yang diidapnya. Sindrom itu berupa cegukan yang datang tiba-tiba dan tidak bisa dicegah.

Tersebutlah seorang perempuan yang mati-matian mewujudkan impiannya menjadi guru. Namanya Naina Mathur (Rani Mukerji). Ia adalah penyandang Tourette Syndrome, sebuah sindrom saraf yang menyebabkan seseorang seperti terkena kejutan listrik kepada otak secara mendadak. Akibatnya terdapat tindakan-tindakan tanpa sadar yang dilakukan seperti; cegukan, gerakan kepala tiba-tiba, hingga teriak-teriak tanpa sebab.

Sejak sekolah hingga dewasa perlakuan diskriminatif sering ia terima. Dikucilkan, ditertawakan bahkan dianggap kerasukan sudah tak terhitung jumlahnya. Sekarang, ia ingin jadi guru. Dasar tekad keras itu karena ia pernah diperkenalkan kepada publik oleh gurunya. Gurunya berujar, ”Ini sekolah. Semua datang untuk belajar. Hari ini kamu mengajarkan satu hal kepada kita semua tentang Sindrom Tourette. Mulai sekarang kamu berhak mendapat pendidikan seperti anak lain.”

Penolakan demi penolakan dialaminya dengan alasan bahwa sindrom yang dideritanya akan sangat mengganggu proses belajar mengajar. Keterbatasan itu tidak membuat Naina patah arang. Semangatnya begitu besar untuk menjadi seorang guru. Bahwa kesetaraan hak patut untuk diperjuangkan.

Dengan berbekal gelar sarjana pendidikan dan magister sains, Naina mencoba peruntungannya melamar di sekolah menengah swasta terkemuka bernama St. Notker. Naina berhasil mendapatkan kesempatan itu, untuk menjadi guru di sekolah yang selama dua tahun berturut-turut menjuarai Pekan Sains Nasional di India.

Tentu hal ini membuat Naina bergembira. Ini sekaligus menjadi ajang pembuktian kepada ayahnya yang menceraikan ibunya sebab tidak kuat menanggung malu karena anaknya memiliki keterbatasan.

Sudah puluhan sekolah ia sambangi. Sampai pada satu titik ia akhirnya diminta bantuan mengajar di sekolah almamaternya, St. Nockers. Ia diminta mengajar satu semester kelas terakhir yakni kelas 9-F. F disini mungkin saja pertanda Failure (gagal). Pasalnya kelas 9-F adalah kelas bantuan untuk masyarakat kelas bawah dalam program pemerintah “Right to Education Act”. Sebutlah seperti tanggung jawab sosial St. Nockers pada lingkungan sekitar. Isinya adalah anak-anak yang berada di bawah garis kemiskinan. Bekerja setelah jam sekolah, kenakalan-kenakalan remaja dan sifat minder pada penghuni sekolah lain adalah keseharian mereka.

Namun, ada tantangan baru yang harus dihadapi Naina. Dia ditugaskan mengampu satu kelas khusus, kelas 9F. Sebuah kelas yang hanya diisi oleh 14 siswa yang terpinggirkan. Iya, semacam kelas buangan bagi para siswa yang dianggap mencemari nama besar St. Notker. Siswa-siswa yang dianggap bodoh, nakal, tidak berguna, semua dikumpulkan di sini. Dan sialnya, tidak ada satu guru pun yang mau memegang kelas underdog ini.

Hari pertama, Naina berusaha menjelaskan apa itu Sindrom Tourette. Banyak yang tertawa. Wajar. Berkali-kali perundungan dialami oleh Naina. Menciptakan suasana kelas yang terbuka dan aspiratif bagi semua adalah yang coba dihadirkan Naina. Kaya akan karakter pada siswa 9-F. Berbeda, alami dan kontekstual. Ada seorang penjudi jalanan, montir bengkel, penjual sayur, dan sebagainya. Kisah ini klop dipadukan dengan kondisi ‘cegukan’ Naina Mathur. Bersama mereka mengalami diskriminasi dan berusaha membuktikan pada dunia kecil mereka apa itu harga diri sesungguhnya. Demi menancapkan status siswa mereka mesti lulus ujian. Naina menargetkan lebih. Mengincar pin kehormatan di sekolah. Ia tahu potensi siswa-siswanya sendiri.  Bagaimana fisika dihadirkan melalui medium olahraga adalah satu contoh.

Seperti jamak ditemui dalam film-film bertema pendidikan lainnya, adanya pemisahan kelas seperti ini adalah sebagai upaya untuk mengidentifikasi tingkat kecerdasan siswa. Bisa saja memang realitanya seperti itu. Sebagaimana yang juga bisa ditemukan dalam sistem pendidikan di Indonesia berupa terciptanya jurang pemisah yang cukup curam antara anak-anak kelas IPS dan IPA. Ada yang mengalami sendiri?

Yang menarik dalam film ini adalah upaya-upaya menyajikan perspektif lain dalam dunia pendidikan dengan gamblang. Sejenak mengingatkan kita pada film 3 Idiots (2009).

Kembali ke Naina, dia bersedia menerima tantangan tersebut dengan lapang dada. Meski pada awal mengajar dia harus menerima kejahilan-kejahilan serta ejekan dari siswa-siswanya akibat sindrom Tourette yang dideritanya. Tanpa kenal menyerah, Naina mencoba menerapkan metode-metode yang sesuai dengan cara belajar dan karakter personal siswa 9F.

“Belajar tidak harus di kelas. Kalian bisa belajar di mana pun dan kapan pun.”

Begitu Naina memotivasi siswa-siswanya. Suatu kali, Naina mengajak mereka belajar di luar kelas. Menata kursi dan papan tulis di halaman sekolah. Lalu mempresensi mereka dengan cara melemparkan telur yang sudah direbus kepada setiap siswa yang dipanggil namanya.

Dengan metode itu, Naina ingin sekaligus menjelaskan berbagai teori dalam Fisika. Naina meyakinkan siswa-siswanya bahwa mereka sebenarnya secara praktik keseharian sudah melakukan pejalaran yang diajarkan di sekolah. Itu pun menunjukkan kalau sebenarnya mereka cerdas.

Melalui film ini, kita juga diajak untuk menyaksikan potret kemiskinan yang masih banyak ditemui di India. Para siswa 9F ini tadinya belajar di sekolah negeri yang lokasinya tidak jauh dari St. Noker.

Berdasarkan peraturan pemerintah tentang hak mengenyam pendidikan, dan agar tetap bisa bersekolah, mereka terpaksa pindah karena sekolah negeri yang lama itu berada di atas tanah sengketa.

Mereka adalah anak-anak yang berasal dari kawasan yang padat penduduk. Yang harus rela mengantre sepanjang 50 meter setiap hari hanya untuk mendapatkan seember air. Jadi, sebenarnya konsentrasi mereka sama sekali bukan untuk sekolah melainkan membantu perekonomian keluarga.

Maka tak heran jika di sekolah, mereka mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan karena tidak bisa fokus mengikuti pelajaran, baik dari siswa yang lain maupun dari pihak sekolah sendiri.

Tapi, yang membuat film ini jadi semakin menarik, kondisi kesenjangan ini justru digambarkan dengan asyik melalui iringan sebuah lagu berjudul Madam Jy Go Easy di pertengahan film. Memang sudah menjadi karakteristik kuat film India dengan selalu konsisten menghadirkan lagu-lagu energik yang mampu memperkuat bangunan emosi dalam film.

Lagu Madam Jy Go Easy berirama riang. Berisi ajakan untuk menikmati dengan santai apa pun dan bagaimanapun kondisi yang sedang terjadi pada diri kita saat ini.

Madam Jy Go Easy, Sab Wi-fi Hum 3G!”  artinya “Santai saja, Bu, mereka wi-fi, kita 3G!”

Penonton pun sejenak diajak untuk larut menikmati lagu itu dan menebak-nebak kejutan apa lagi yang akan muncul. Film besutan Sidarth P. Maholtra ini kembali menghadirkan konflik ketika Naina punya keinginan mengikutsertakan siswa 9F dalam kompetisi Pekan Sains Nasional.

Selama mengajar dan mengamati kehidupan siswa 9F di luar sekolah, Naina semakin yakin bahwa tidak ada siswanya yang bodoh. Yang ada hanyalah guru dan sekolah yang tidak mengetahui potensi mereka.

Pak Wadia selaku wakil kepala sekolah sekaligus tokoh ‘antagonis’—sesungguhnya tidak ada yang benar-benar berperan seabagai tokoh jahat dalam film berlatar dunia pendidikan—memberikan syarat yang cukup sulit. Kelas 9F boleh mengikuti Pekan Sains Nasional asalkan siswanya dinyatakan lulus dalam ujian dan mendapatkan lencana perfect.

Ya, mungkin ini klise, tetapi alur film-film motivasi pendidikan mudah sekali ditebak. Masalah yang muncul selalu bisa diselesaikan dengan penuh kebanggaan. Mimpi-mimpi pun diraih penuh haru dengan sedikit bumbu derai air mata karena emosi yang diaduk-aduk sepanjang film. Semua itu menjadi semakin sempurna dengan dukungan akting Rani Mukerji yang memukau sepanjang film.

Menjadi guru yang berkualitas dengan kondisi fisik yang serba berkekurangan dan terbatas adalah impian Naina. Mungkin tidak hanya Naina. Para guru di belahan bumi mana saja pasti juga menginginkan hal yang serupa. Termasuk para guru di Indonesia.

Menjadi guru yang peka akan kondisi siswa-siswanya, punya kepekaan yang akurat dalam membaca potensi anak didiknya, tajam penglihatan ke depannnya tentu menjadi cita-cita luhur para guru. Di tengah tuntutan penyelesaian administrasi kelas yang ribet dan berbelit dan perubahan kurikulum demi kurikulum yang membingungkan, mereka tetap akan terus berusaha menghasilkan generasi mada depan yang cerdas, sukses, dan berkualitas.

Memangnya sesulit itu, ya, menjadi guru?

“Ada yang lebih sulit dari menjadi guru, yaitu menjadi siswa. Salah belajar, siswa akan mendapat nilai jelek. Salah mengajar, guru tidak akan mendapat nilai jelek karena mengajar itu mudah, belajarlah yang sulit. Tidak ada siswa yang buruk. Yang ada guru yang buruk,pungkas Pak Wadia, si wakil kepala sekolah, saat menutup acara.

“Tak ada murid yang buruk, hanya guru yang buruk”

Preseden tersebut terdengar diskriminatif dan terkesan blaming the victim dalam persoalan pendidikan kita hari-hari ini. Guru sebagai subyek juga sebagai obyek adalah epos tak tuntas soal definisi dan perannya sejak awal kemerdekaan Indonesia. Pada akhirnya guru adalah manusia. Bekal ‘kemanusiaan’ itulah yang mesti dicontohkan kepada para murid. Pada akhirnya menunjukkan bahwa “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” mungkin ini istilah yang tepat untuk menyimpulkan intisari dari film ini.

Iklan

A’touna Et-Tufoole,  Beri Kami Masa Kecil

A’touna Et-Tufoole,  Beri Kami Masa Kecil

جينا نعيدكم… بالعيد منسألكم
Jeena N’ayedkon … Bel-Eid Mnes’alkon
Kami datang dengan Ucapan Selamat Berlibur …Dan selama liburan kami bertanya padamu

ليش ما في عنا… لا أعياد ولا زينة 
Lesh Ma Fee ‘Enna … La ‘Ayyad Wala Zeineh
Kenapa kami tidak punya Liburan ataupun Dekorasi ( Perhiasan )

 يا عالم
Ya ‘Alam
Wahai Dunia

أرضي محروقة 
Ardhi Mahroo’a 
Tanahku Habis terbakar

أرضي حرية مسروقة
Ardhi Huriyyeh Masroo’a
Tanahku dicuri kebebasannya

سمانا عم تحلم… عم تسأل الأيام 
Samana ‘Am Tehlam … ‘Am Tes’al El-Ayam
Langit kami Sedang bermimpi … bertanya kepada hari hari

وين الشمس الحلوة… ورفوف الحمام
Wein Esh-Shames El-Helwe … W-Rfouf El-Hamam
Dimana matahari yang indah … dan di mana kipasan sayap  burung merpati ?

يا عالم
Ya ‘Alam
Wahai Duniaa

أرضي محروقة
Ardhi Mahroo’a
Tanahku Habis terbakar

أرضي حرية مسروقة
Ardhi Huriyyeh Masroo’a
Tanahku dicuri kebebasannya

أرضي زغيرة… متلي زغيرة
Ardhi Zgheere … Metli Zgheere
Tanahku Kecil, seperti aku, itu kecil

ردولها السلام… اعطونا الطفولة
Redoulha Es-Salam …. ‘Atouna Et-Tufoole
Berikan kedamaian kembali padanya, beri kami masa kecil

اعطونا الطفولة
A’touna Et-Tufoole 
beri kami masa kecil

اعطونا الطفولة
A’touna Et-Tufoole
beri kami masa kecil

أعطونا الطفولة
A’touna Et-Tufoole
beri kami masa kecil

اعطونا… اعطونا… اعطونا السلام
A’touna … ‘Atouna … ‘Atouna Es-Salam
Beri Kami … Beri Kami … Beri kami Kedamaian .


MENDALAMI BAHAYANYA PENYAKIT KRITIS NYINYIR

“MENDALAMI BAHAYANYA PENYAKIT KRITIS NYINYIR”

Posted by Widiantoko, R.K

Hasil gambar untuk nyinyir

Penyakit nyinyir. Penyakit ini memang tidak mematikan. Tapi sangat mewabah, terjadi di banyak sosial media. Dan biasanya mengidap pada orang-orang yang gak bisa move on, Doyan memelihara kebencian, bahkan menyebarluaskannya. Penyakit yang tidak menular, tapi berusaha ditularkan oleh pemiliknya. Kerjaannya mengejek atau menganggap rendah orang lain. Penyakit yang tidak mampu melihat kebaikan apapun dan selalu meragukan sifat baik yang ada pada diri orang lain. Agak susah penyakit ini disembuhkan karena kebencian yang mengeras dan membatu. Apapun yang dilakukan orang yang dibencinya pasti jelek di pikirannya. Pemimpinnya melakukan hal yang baik dianggap pencitraan atau riya. Pemimpinnya salah atau melakukan hal yang kurang baik, bukannya diingatkan, malah dihujat dan disebarluaskan kemana-mana. Ngerinya lagi, terkadang dalam berdoa saja nadanya nyinyir dan malah kadang doa pun dinyinyirin.

“Denger musik dangdut nyinyir. Nonton lawakan yang gak lucu, nyinyir. Ada orang dandan, nyinyir. Ada Gubernur ngomel-ngomel nyinyir. Presidennya lagi kerja masih nyinyir juga. Kayak gitulah kira-kira penyakit situsinis; penyakit nyinyir tiada akhir. Nyirr, nyirr, nyirr …”

Ada yang bilang, nyinyir itu tanda nggak mampu. Tapi buat yang melakukan, nyinyir itu adalah obat mujarab mengusir kepenatan di kepala. Studi gabungan dari University of Ottawa dan McMaster University di Kanada berkata lain. Dalam temuannya, mereka berpendapat bahwa nyinyir atau cibiran adalah bentuk ‘pemberontakan’ seseorang yang terancam oleh orang lain yang memiliki keunggulan lebih. Reaksi yang ditampilkan bisa bermacam-macam, ada yang muncul dengan muka sebal hingga konfrontasi  verbal maupun fisik. Reaksi tersebut seakan mencermimkan apa yang tengah terjadi di dunia maya. Menariknya, nyinyir merupakan insting primitif tiap manusia untuk coba bertahan hidup dengan menindas para kompetitor, khususnya yang memiliki keunggulan lebih.

Buat yang ngaku penyinyir profesional, ia tahu bahwa nyinyir adalah usaha untuk mengangkat derajat atau martabat dirinya sendiri. Caranya dengan membuat orang disekitar terlihat lebih rendah dari dirinya lewat serangan verbal. Tracy Vaillancort dalam bukunya pada 2013 lalu berpendapat bahwa nyinyir adalah bentuk proteksi. Di mana, sikap agresif yang muncul nggak cuma bikin kita merasa aman, tetapi juga membuat para kompetitor tunduk. Saat media sosial tumbuh pesat, proteksi itu nggak lagi dilakukan dengan kontak fisik. Melainkan adu cepat mencibir nggak cuma di kehidupan nyata, tetapi juga di media sosial.

Menanggapi permasalahan nyinyir sangatlah sulit disebabkan pelaku nyinyir selalu berkedok kritikan. Namun, sungguh disayangkan bangsa kita yang telah terbiasa adat budaya musyawarah mufakat yang mampu mendengar maupun menyampaikan pendapat dengan unggah-ungguh sopan santun yang baik telah kehilangan jati dirinya. Kalimat-kalimat kritis berupa kritikan yang seharusnya membangun malah menjelma menjadi kalimat perusak.

 Saat mengkritisi sesuatu, sudahkah dipikirkan sebelumnya apakah tindakan kritik ini adalah murni sebuah tindakan korektif atau sekedar memenuhi ego. Dari berbagai literatur, hampir semua mengatakan bahwa tak seorang pun suka dikritik. Apalagi kritik tersebut dilontarkan hanya untuk memenuhi ego diri. Banyak dari kita yang terkadang tanpa sadar karena tidak menyukai seseorang atau sesuatu hal, kritik kita sesungguhnya bukanlah sebuah tindakan korektif namun sebuah pelampiasan kekesalan atau amarah.

Dalam kritik yang seperti ini bisa bermacam-macam kandungannya, ada yang mengandung perintah, peringatan, bahkan merupakan sebuah hukuman. Kritik yang seperti ini juga terkadang adalah sebuah upaya memaksakan ide atau keinginan pada pihak lain. Sungguh sebuah tindakan yang hanya melahirkan kepuasan ego belaka.

Lalu pertanyaannya, kalau memang ada yang harus dikritik bagaimana? Ya sampaikan saja, namun pastikan dulu niat kita benar-benar sebuah tindak korektif.

Les Giblin di bukunya yang berjudul Skill with People diuraikan bahwa :

  1. Jangan Pernah Mengkritik di Depan Umum. Mengkritik seseorang di depan umum sama saja dengan mempermalukan seseorang. Lakukanlah kritik secara pribadi langsung ke orangnya tanpa perlu orang banyak tahu.
  2. Mulailah Kritik dengan Kata dan Pujian yang Baik. Menciptakan suasana yang bersahabat akan membuat kritik kita lebih mudah diterima. Ingat bahwa bagaimanapun kritik itu tidak menyenangkan bagi yang dikritik, lakukan sehalus mungkin agar “cubitan” anda tidak terlalu menyakitkan.
  3. Kritik Perbuatannya, Bukan Orangnya. Ini paling sering terjadi dalam persoalan mengkritik. Sering ditemukan kasus kita tidak dapat membedakan apakah yang kita kritik itu perbuatannya atau orangnya. Ingat bahwa setiap orang adalah unik, dan punya cara yang berbeda dalam setiap perilakunya. Ada beda yang jelas di antara dua kalimat ini. “Kamu tuh harusnya begini bukan begitu” dengan “menurutku, sepertinya hal ini bisa dilakukan dengan cara begini, bagaimana menurutmu?”
  4. Beri Solusi atau Jawaban. Mengkritik tanpa memberi solusi sungguh adalah perbuatan yang tidak bijaksana dan tidak berganggungjawab. Pikir dua kali sebelum mengkritik, apakah kita bisa melakukan lebih baik, apakah kita punya cara yang lebih baik. Kalau iya, silahkan sampaikan kritik lengkap dengan solusi dan jawaban yang benar.
  5. Tidak Menuntut, Mari Bekerja Sama. Dalam sebuah tim atau sekelompok orang, sikap seperti ini mutlak diperlukan. Seorang good team player tidak akan menuntut orang lain melakukan apa yang ia inginkan. Sebagaimana pada poin 4 di atas, seorang good team player yang baik sudah siap dengan solusi dan jawaban saat mengkritik dan siap melakukan perbaikan atau tindaka  korektif bersama-sama. Bukan hanya membebankan permasalahan pada pihak lain dan menuntut orang lain yang melakukan tindakan korektif.
  6. Satu Kritikan untuk Satu Pelanggaran. Cukup sekali saja melakukan kritik. Kalau kritik anda tidak menghasilkan perubahan atau tidak dapat ditangkap inti permasalahannya, coba koreksi diri apakah kita sudah melakukan kritik dengan cara yang benar. Mungkin ada cara kita yang salah dalam mengkritik.
  7. Akhiri Kritikan dengan kalimat yang bersahabat. Bagaimanapun, membina hubungan yang baik dengan lebih banyak orang secara berkesinambungan itu penting. Biasakan setelah mengkritik, akhiri dengan kalimat yang bersahabat dan menyenangkan. Ingat bahwa kritikan yang telah anda lakukan mungkin telah menyentuh harga diri seseorang. Kalau perlu tepuk pundaknya, atau bersalaman bahkan kalau hubungan anda dekat, peluklah agar yang dikritik merasa lebih nyaman.

Selama yang orang lain lakukan itu soal selera, dengan karakter yang memang ia punya, tidak merugikan orang lain, tidak menimbulkan bahaya apalagi menyebabkan kematian, biarkan sajalah. Berbeda itu adalah sebuah keniscayaan, kita tidak harus punya cara yang sama dalam banyak hal atau tindakan dengan orang lain.

Pengalaman dari perilaku akan membantu seseorang untuk bertumbuh, seleksi alam akan bekerja. Begitu pula kita. Lakukan saja yang terbaik sebagai pribadi sesuai dengan karakter masing-masing. Jangan buru-buru mengkritik seseorang meski menurut anda ada yang patut dikritik. Beri ruang untuk seseorang bertumbuh dan belajar dari pengalamannya sendiri.

Daripada mengubah seseorang dengan kritik, lebih baik miliki kredibilitas dan kemampuan yang layak dicontoh, menyentuh hidup orang lain dengan tindakan nyata, menginspirasi orang lain dengan prestasi dan dari situ seringkali terjadi, begitu banyak hidup orang lain yang menjadi lebih baik dan berubah karenanya tanpa perlu dikritik.

Manusia diciptakan dengan berbagai macam sifat, baik ataupun buruk. Dan salah satu contoh sifat buruk manusia adalah berasal dari lisannya. Lidah manusia dapat diibaratkan seperti pisau yang memiliki dua fungsi, yaitu akan bermanfaat bagi orang lain apabila tujuannya baik, namun dapat menjadi berbahaya dan menyakiti orang lain apabila tujuannya buruk. Dan bahaya lidah dalam agama Islam adalah ketika digunakan untuk mencemooh atau mengolok-olok orang lain atau nyinyir. Nyinyir adalah suatu perbuatan yang menurut Islam adalah perbuatan tercela dan dosa.

Allah telah memerintahkan umatnya untuk senantiasa berbuat baik dalam perbuatan maupun lisan. Dan Allah telah memberikan teladan yang baik melalui Rasulullah SAW. pada semasa hidupnya Rasulullah tidak pernah menyindir dan mencela makanan yang tidak disukai. Seperti yang diriwayatkan oleh Aisyah ra., beliau berkata :

“Rasulullah SAW sama sekali tidak pernah mencela makanan yang tidak disukainya. Jika beliau menyukai, maka beliau akan memakannya, jika tidak maka beliau akan meninggalkannya.”

Kritikan yang halus dan membangun sering kita sebut sebagai nasehat adalah cinta. Saling menasehati itu tanda cinta karena nasehat berarti menginginkan kebaikan pada orang lain. Kita ingin saudara kita itu jadi baik, BUKAN ingin mereka direndahkan atau disalahkan. Inilah dasarnya.

Dihadits lain, beliau mengatakan :
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
(Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45).

Ingat, kita melakukan nasehat itu krn kita inginkan kebaikan bagi orang lain. Bukan malah ada sifat NYINYIR bin KETUS dibalik nasehat. “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Kata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.

“Nasehat adalah engkau suka jika saudaramu memiliki apa yang kau miliki. Engkau bahagia sebagaimana engkau ingin yang lain pun bahagia. Engkau juga merasa sakit ketika mereka disakiti. Engkau bermuamalah (BERSIKAP BAIK) dengan mereka sebagaimana engkau pun suka DIPERLAKUKAN seperti itu.”
(Syarh Riyadhis Sholihin, 2: 400).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالاَ فَعَلَى الْبَادِئِ مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُوْمُ

“Dua orang yang saling mencela maka dosanya ditanggung oleh yang pertama kali memulai. Selama orang yang terdzhalimi tidak melampaui batas…” (HR. Muslim: 2587)

Kita tidak perlu membalas orang yang mencela kita, karena Nabi Muhammad SAW makhluk termulia ketika dicela juga tidak membalas. Dan itulah ajaran beliau.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيْكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيْهِ، فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ

“Apabila ada seseorang mencaci dan mencela dengan apa yang terdapat padamu, maka janganlah engkau membalas cela dengan mengumbar aib dirinya. Karena dosanya akan ia tanggung…”
(Hasan, HR. Abu Dawud)

Lalu nyinyir yang seperti apa yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan menurut Islam?

Perbuatan nyinyir hampir sama dengan menyindir, mencemooh atau mencela, maka dapat disimpulkan hukumnya tidak jauh berbeda dengan hukum menyindir orang dalam Islam. Nyinyir tidak diperbolehkan dan akan menjadi dosa apabila tujuannya buruk dan menyakiti orang lain, misalnya nyinyir dengan tujuan untuk menghina, balas dendam dan untuk riya dalam Islam. Dan sedangkan hukum menyakiti hati orang lain dalam Islam adalah dosa dan akan ada balasan menyakiti hati orang lain dengan balasan yang setimpal. Namun, nyinyir menjadi diperbolehkan apabila bertujuan baik, seperti untuk membuat perilaku dan sifat seseorang agar menjadi lebih baik, namun hal tersebut haruslah tetap memakai aturan dan berdasarkan pada sumber syariat Islam serta dasar hukum Islam.

Sebagai seorang muslim yang baik, alangkah lebih baik lagi jika kita tidak melakukan perbuatan nyinyir, Allah telah memperingatkan hambanya untuk tidak mencela ataupun mencemooh orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Seperti firman Allah dalam (QS. Al-Hujurat[11] :

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang (yang diolok-olokkan lebih baik dari mereka yang (mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-ololk perempuan yang lain, karena boleh jadi perempuan (yang diolok-olok) lebih baik daripada yang mengolok-olok. Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (paggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Dari ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa Allah SWT. telah melarang hambanya untuk mengolok-olok ataupun mencela orang lain, karena bisa jadi orang yang di perolok lebih baik dari yang mengolok. Dan dalam ayat tersebut, Allah SWT menegaskan janganlah para perempuan memperolok perempuan yang lain. Mengapa hanya perempuan? Karena seperti yang telah diketahui bahwa perempuan lebih banyak bicara dibandingkan laki-laki dan biasanya kaum perempuan yang lebih sering membicarakan orang ketimbang kaum laki-laki. Maka dari itu kenapa Allah menegaskan janganlah perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan yang lain, agar para perempuan lebih menjaga lisannya dan akhlaknya.

Dalam sebuah hadist, dari Imran bin Husain ra. Rasulullah SAW. bersabda :

“Aku diperlihatkan di surga. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum fakir. Lalu aku diperlihatkan neraka. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah para wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadits tersebut sebagai muslimah yang baik seharusnya dapat direnungkan dan dipikirkan alasan mengapa wanita menjadi penghuni neraka terbanyak. Dan dengan adanya hadist tersebut diharapkan kaum hawa lebih lebih memperbaiki diri agar tidak termasuk kedalam golongan penghuni neraka.

Sebagai muslim memang sudah seharusnya dan sepantasnya agar kita menjaga lisan, menghilangkan segala macam penyakit hati menurut Islam, senantiasa memperbaiki akhlak serta tidak menyakiti hati orang lain dengan lisan ataupun perbuatan kita. Maka dari itu mulailah untuk tidak melakukan perbuatan nyinyir yang mana seringkali dapat melukai hati orang lain. Hidup didunia ini hanyalah fana, jadi alangkah lebih baik jika kita menjadikan kehidupan didunia sebagai ladang untuk mencari pahala dan ridha Allah SWT supaya kelak kita dapat menempati surganya Allah SWT.

 

Reference:

http://winda174.blogspot.co.id/2014/09/menasehati-gak-perlu-nyinyir-ketus-dan.html

https://dalamislam.com/hukum-islam/hukum-nyinyir-dalam-islam

http://donnaimelda.com/kritik-kepuasan-pribadi-atau-tindakan-korektif/

https://www.hipwee.com/opini/situsinis-penyakit-nyinyir-tiada-akhir/

https://www.pegipegi.com/travel/suka-nyinyir-itu-tandanya-kalau-kamu-masih-primitif/

 


MEROKOK SAMBIL BERKENDARA ITU TIDAK KEREN

Menjadi seorang pengendara baik pengendara Motor dan Juga Mobil di Jalan Raya harus mempunyai peraturan dan juga sikap yang disiplin, memang benar semua pengendara Ingin perjalanan yang nyaman, cepat dan Juga mudah, Namun juga perlu anda sadari bahwa jalanan bukan milik pribadi, banyak pasang mata yang juga menggunakan jalan sebagai jalur tujuan mereka.

Sayang beribu sayang, banyak diantara kita-kita yang sering melupakan bahwa kita berkendara layaknya jalanan adalah milik kita sendiri. Mungkin disebabkan perasaan kita yang bayar pajak STNK dan beli dari dealer dengan uang kita sendiri. Bukan hanya kasus sliyat-sliyut salip kanan-kiri di jalanan yang membahayakan, tetapi penggunaan handphone saat berkendara juga sangat berbahaya seperti kasus yang lagi ngetren akibat menggunakan HP maka mobil yang ditumpangi papa Setnov nyium tiang listrik. Selain penggunaan HP saat berkendara ada 1 hal lagi yang membahayakan yakni merokok saat berkendara.

Cerita Rendhy Maulana yang matanya terkena bara rokok saat mengendarai motor menjadi viral. Rendhy yang kala itu sedang mengendarai motor dalam perjalanan menuju rumahnya di Kampung Melayu merasa matanya perih dan memutuskan untuk pergi ke dokter. Pemeriksaan dokter menemukan ada bekas abu rokok pada mata Rendhy. Matanya mengalami iritasi parah namun masih bisa pulih.

“Terimakasih buat pengendara motor yg hobi ngerokok sambil bawa motor. bara api rokok lo bikin orang bahaya,” tulis Rendhy menyindir dalam sebuah postingan Facebook yang sudah dibagikan lebih dari tiga ribu kali ini.

Mari kita baca sama-sama Undang-Undang No 22 Tahun 2009 pasal 106 ayat 1. Ini sejatinya bukan hanya tentang penggunaan telepon seluler, tapi juga rokok

“Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan, wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi”

kekerenanmu nggak meningkat dengan begini

Kekerenanmu nggak meningkat dengan begini via www.yamahamotorjakarta.com

Berdasar ayat tersebut, menurut LSM Road Safety Association Indonesia (RSA Indonesia) juga, merokok dapat mengganggu konsentrasi dan sebenarnya tidak sedikit kecelakaan di jalan raya yang diakibatkan hilangnya konsentrasi akibat merokok. Kita main logika yuk. Abu rokok perokok itu nggak bisa dikontrol, bisa aja dong kena tangan mereka sendiri, kena baju, dan entah apalagi. Lalu, pengendara bisa kaget, dan malah nggak sadar kalau ada kendaraan lain di depannya. Kebayang dong apa yang terjadi selanjutnya? Makanya, ngerokok juga tahu waktu dan tempat. Mau kamu habis 20-50 batang per hari juga nggak apa-apa.

Bagi yang melanggar Undang-Undang No 22 Tahun 2009 pasal 106 ayat 1 tersebut akan dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp 750 ribu. Dan sangat memungkinkan, bahwa orang yang merokok saat berkendara dapat diganjar pasal tersebut. Belum lagi kalau sudah mengganggu pengendara lainnya dan dia kecelakaan karena bara atau abu rokokmu, kamu dituntut gimana? Kena pasal berlapis dong? Ati-ati di jalan..

Berkendara sambil merokok

Udah bagus mobil ber AC, ehhh malah milih buka jendela buat ngerokok. Ga keren banget.

Gangguan internal lain yang sudah sangat diakui dan diamini oleh semua kalangan ialah penggunaan telepon seluler alias HP ketika berkendara. Penelitian internasional pun pernah menyatakan bahwa menelepon sambil mengemudi menyumbang satu dari setiap empat kecelakaan mobil. Parahnya, terjadi sekitar 1,5 juta kecelakaan setiap tahunnya atau 4 ribu kecelakaan per hari akibat penggunaan ponsel. Nggak hanya ponsel dong, kalau ternyata merokok, makan, ataupun minum juga masuk dalam gangguan internal. Lebih baik, kamu berhenti atau mengemudi bergantian kalau memang sangat ingin melakukan hal-hal tersebut. Masih nggak pengen mati konyol di jalan kan?

Memang belum ada penelitiannya, dan mungkin tahun-tahun mendatang akan segera ada. Bagi yang mau ngajuin skripsi ide bagus banget nihhhh…..

Bagi yang sekolah hukum, harusnya mampu menegakkan hukum dan mengimplementasikan ilmunya, caranya bagaimana dan apa hubungannya dengan kasus merokok sambil berkendara ini??? Sederhana saja, kalaupun kita tahu pengendara sambil merokok, ambil jepretan fotonya dan buat delik aduan ke polisi terdekat atau minimal kirimkan ke facebook radio Suara Surabaya 🙂 . Bukan bermaksud mencari masalah namun tindakan tersebut sebagai wujud sikap non-plegmatis kita untuk menciptakan kondisi yang toleran di jalanan.

 


Apakah Sekolah Kita Sudah “Beradab”?

Apakah Sekolah Kita Sudah “Beradab”?

oleh : Irfan Amalee

poster pendidikan

Ada sebuah tulisan dari saudara Irfan Amalee yang mampu mengguncang hati saya, bagaimana lemahnya standarisasi dalam pendidikan dimana beberapa waktu terakhir ini yang selalu dipacu adalah nilai,,nilai,,dan nilai,,sehingga kita akan lebih terkejut bila mendengar ada anak yang tidak lulus UN lantas bertindak nekat mengakhiri hidupnya,,,karena kita telah melupakan aspek mental dan moral sebagai pokok tujuan utama yang harus dibangun dalam pendidikan selain keilmuan. Kita juga melupakan aspek pelayanan dan mutu pendidikan yang telah bergeser kepada aspek penilaian betapa megahnya bangunan sekolah, betapa banyaknya murid dari kalangan elit yang bersekolah disana dan berapa banyak pajangan dinding akan prestasi lomba-lomba para muridnya. Berikut kisah yang dapat kita petik dari tulisan artikel sudara Irfan Amalee di kompasiana.

Setahun terakhir ini saya terlibat membantu program Teaching Respect for All UNESCO. Saya juga membantu sejumlah sekolah agar menjadi sekolah welas asih (compassionte school). Dua hal di atas membawa saya betemu dengan sejumlah sekolah, pendidik, hingga aktivis revolusioner dalam menciptakan pendidikan alternatif. Di benak saya ada satu pertanyaan: sudah se-compassionate apa sekolah kita? Sejauh mana sekolah menumbuhkan sikap respect pada siswa dan guru, serta semua unsur di lingkungan sekolah? Karena compassion (welas asih) dan respect (sikap hormat dan emphaty) adalah bagian dari adab (akhlak) maka pertanyaannya bisa sedikit diubah dan terdengar kasar: sudah seber-adab apakah sekolah kita?

Rekan saya melakukan sebuah experimen yang menarik. Dia berkunjung ke Sekolah Ciputra, sekolah millik pengusaha Ciputra yang menekankan pada karakter, leadeship dan entrepreneurship serta memberi pengharagaan pada keragaman agama dan budaya. Pada kunjungan pertama rekan saya itu datang dengan baju necis menggunakan mobil pribadi. Di depan gerbang Pak Satpam langsung menyambut hangat, “Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” Rekan saya menjawab bahwa dia ingin bertemu dengan kepala sekolah, tetapi dia belum buat janji. Dengan sopan Pak Satpam berkata, “Baik, saya akan telepon pak kepala sekolah untuk memastikan apakah bisa ditemui, bapak silakan duduk, mau minum kopi atau teh?” Pelayanan yang begitu mengesankan!

Di waktu lain, rekan saya datang lagi, dengan penampilan yang berbeda. Baju kumal, dengan berjalan kaki. Satpam yang bertugas memberikan sambutan yang tak beda dengan sebelumnya, diperlihakan duduk dan diberi minuman. Saat berjalan menuju ruang kepala sekolah, satpam mengantarkan sambil terus bercerita menjelaskan tentang sekolah, bangunan, serta cerita lain seolah dia adalah seorang tour guide yang betul menguasai medan. Bertemu dengan kepala sekolah tak ada birokrasi rumit dan penuh suasana kehangatan. Padahal rekan saya itu bukan siapa-siapa, dan datang tanpa janjian sebelumnya.

Melatih satpam menjadi sigap dan waspada adalah hal biasa. Tetapi menciptakan satpam dengan perangai mengesankan pastilah bukan kerja semalaman. Pastilah sekolah ini punya komitmen besar untuk menerapkan karakter luhur bukan hanya di buku teks dan di kelas. Tapi semua wilayah sekolah, sehingga saat kita masuk ke gerbangnya, kita bisa merasakannya. Itulah hidden curricullum, culture.

Di kesempatan lain, saya bersama rekan saya itu berkunjung ke sebuah sekolah Islam yang lumayan elit di sebuah kota besar (saya tidak akan sebut namanya). Di halaman sekolah terpampang baliho besar bertuliskan, “The most innovative and creative elementary school” sebuah penghargaan dari media-media nasional. Dindinging-dinding sekolah dipenuhi foto-foto siswa yang menjuarai berbagai lomba. Ada dua lemari penuh dengan piala-piala. Pastilah sekolah ini sekolah luar biasa, gumam saya.

Kami berjalan menuju gerbang sekolah menemui satpam yang bertugas. Setelah kami mengutarakan tujuan kami ketemu kepala sekolah, satpam itu dengan posisi tetap duduk menunjuk posisi gerbang dengan hanya mengatakan satu kalimat, “lewat sana”.

Kami masuk ke sekolah tersebut. Di tangga menuju ruangan kepala sekolah, ada seorang ibu yang bertugas menjadi front office menghadang kami dengan pertanyaan, “mau kemana?” dengan wajah tanpa senyum. Saat tiba di ruangan kepala sekolah, kebetulan sat itu mereka sedang rapat. Sehingga kami harus menunggu sekitar 45 menit. Selama kami duduk, berseliweran guru datang dan pergi tanpa ada ada yang menghampiri dan bertanya, ” ada yang bisa saya bantu?”

Akhirnya kepala sekolah mempersilakan kami unutk masuk ke ruangannya. Baru ngobrol sebentar, tiba tiba seseorang di luar membuka pintu dan memasukkan kepalanya menanyakan sesuatu kepada kepala sekolah yang tengah mengobrol dengan kami. Tak lama dari itu tiba-tiba seorang guru masuk lagi langsung minta tanda tangan tanpa peduli bahwa kami sedang mengobrol. Karena kesal, akhirnya kepala sekolah itu mengunci pintu agar tak ada orang masuk. Dalam obrolan, saya sempat bertanya, apa kelebihan sekolah ini? Kepala sekolah terlihat berpikir keras selama beberapa menit sampai akhirnya menjawab,” ini seperti toko serba ada, semua ada”. Dari jawaban itu saya baru faham, pantas saja satpam sekolah ini tak punya sense of excelent service, kepala sekolahnya saja tak biss menjelaskan apa value preposition sekolahnya.

Kemegahan bangunan, serta berbagai prestasi yang telah diraih, rasanya menjadi tak ada apa-apanya. Karena bukan itu yagn membaut kita terkesan, melainkan atmosfir sekolah, hidden curricullum, culture.

Perjalanan kami lanjutkan ke sekolah Islam di tengah kampung. Bangunannya kecil sederhana. Pendiri sekolah ini seorang lulusan STM, tetapi mengabdikan separuh hidupnya untuk merumuskan dan menerapkan konsep  sekolah kreatif yang dapat memanusiakan manusia. Saat ditanya tentang sekolahnya, dengan lancar dia menjelaskan konsep sekolah kreatif yang memberikan keras besar pada kreativitas anak dan guru. Ruang kelas dibuat tanpa daun pintu. Hanya lubang lubang besar berbentuk kotak, lingkaran, bulan sabit, bintang. Sehingga ketika guru tidak menarik, siswa boleh keluar kapan saja. Tak ada seragam sekolah dan buku pelajaran.

Kami duduk di pelataran sekolah sambil menyaksikan keceriaan anak-anak yang tengah bermain. Selama kami duduk, ada tiga orang guru dalam waktu yang berbeda menghampiri menyambut kami dan bertanya, “ada yang bisa yang saya bantu?”. Saya menangkap semangat melayani para guru tersebut. Mereka ingin memastikan tak ada tamu yang tak dilayani dengan baik.

Saat mengamati anak-anak bermain, saya melihat ada seorang anak yang jatuh dan menangis. Saya menebak bahwa guru akan segera membantu. Tetapi tebakan saya salah, ternyata dua teman sekelasnya datang menghibur dan membantunya untuk berdiri dan memapahnya ke kelas. Saya cukup terkesan.

Di sekolah yang sederhana ini saya menangkap aura kebahagiaan dari siswa dan guru-gurunya. Saya tak perlu tahu kurikulum dan sistemnya, saya sudah bisa merasakannya. Konsep dan visi pendirinya, ternyata bukan hanya di kertas. Saya bisa melihat dalam praktik. Itulah hidden curricullum, culture.

Pada kesempatan lain rekan saya pernah juga terkesan oleh siswa sekolah internasiona yang kebanyakn siswanya berkebangsaan jepang. Saat itu rekan saya akan mengisi acara di depan siswa pukul 10 pagi. Setengah sepuluh aula masih kosong. Tak ada orang tak ada kursi. Lima belas menit sebelum acara para siswa datang, mengambil kursi lipat dan meletakkannya dalam posisi barisan yang rapi. Seusai acara, setiap siswa kembali melipat kursi dan meletakkannya di tempat penyimpanan, hingga ruangan kembali kosong dan bersih seperti semula. Itulah culture.

Dari cerita di atas, saya semakin tidak tertarik pada prestasi apa yang diraih sekolah, semegah apa sebuah sekolah. Saya lebih tertarik bagaimana budaya sekolah dibangun dan diterapkan? Banyak sekolah yang menginvestasikan begitu banyak waktu dan pikiran untuk menyabet berbagai penghargaan. Tapi tak banyak yang serius membuat sekolah menjadi berharga dengan karakter dan budi pekerti. Banyak guru dan pelatih didatangkan untuk memberikan pembinaan tambahan pada siswa agar dapat menang lomba. Tapi sedikit sekali pelatihan service excellence untuk satpam dan karyawan. Dinding sekolah dipenuhi foto-foto siswa yang juara ini juara itu, tapi jarang sekali foto sesorang siswa dipajang karena dia melakukan sebuah kebaikan. Kehebatan lebih dihargai daripada kebaikan. Prestasi lebih berharga dari budi pekerti.

Kita harus segera mengubah sistem pendidikan kita masih berorientasi pada ta’lim (mengajarkan) menjadi ta’dib (penanaman adab). Dalam konsep compassionate school, tadib harus diterapkan secara menyeluruh (wholse school approach) meliputi tiga area, pertama SDM yaitu guru, karyawan, orangtua, hingga satpam, kedua kurikulum, dan yang ketiga iklim atau hidden curricullum.

Sebuah sekolah bukanlah pabrik yang melahirkan siswa-siswa pintar. Tapi sebuah lingkungan yang membuat semua unsur di dalamnya menjadi lebih ber-adab. Untuk mengukur apakah sebuah sekolah sudah menjadi compassionate school tak serumit standar ISO. Cobalah berinteraksi dengan satpam sekolah, amatilah bagaimana guru beriteraksi, siswa bersikap. Rasakan atmosfirnya. Jika preastasi akademik bisa dilihat di selembar kertas, budi pekerti hanya bisa kita rasakan.


PENYEBAB MAHASISWA LAMBAT LULUS

PENYEBAB MAHASISWA LAMBAT LULUS

Disadur dari poskamling dengan revisi dari eks-mahasiswa 7 tahun

Semua mahasiswa pasti ingin lulus secepatnya, sengebut-ngebutnya sampai-sampai awal masuk kuliah masuk ke gigi persneleng 4 pake gas puooollll, dengan tujuan akhir Indeks Prestasi yang mentereng. Sayangnya, mewujudkan cita-cita luhur itu tidak semudah menghadapi kehidupan kampus yang kejam. Usut punya usut, Mereka (Para Mahasiswa Sulit Lulus) terhalang sebuah tembok besar. Sebuah tembok besar di ujung proses perkuliahan.

Sebuah tembok besar yang sulit dilalui….

Tembok besar itu bernama Skripsi. Mengapa menyusun skripsi yang gak sampai 100 halaman bisa memakan waktu yang begitu lama? Padahal Bandung Bandawasa saja bisa membangun 999 candi dalam semalam. Hey, tunggu..Bandawasa bisa melakukannya karena dibantu makhluk halus. Sayangnya, kampus melarang Mahasiswa minta tolong pada makhluk halus untuk menyusun skripsi. Itulah mengapa membuat skripsi jauh lebih lama dan sulit daripada membangun Candi Prambanan.

Mungkin kamu termasuk di dalamnya. Frustasi tak jua melepas status sebagai mahasiswa karena terbentur skripsi. Baiklah,,jangan panik,,,kami lakukan survey tanpa mengajak cak Lontong sehingga survey kami layak diakreditasi dengan nilai “memuaskan” J

1. Merasa Sudah Lulus


Ini adalah sindrom akut yang biasa terjadi pada para WTS (Wisuda Tuna Skripsi). Ya, ketika kamu mulai membuat skripsi, itu artinya mungkin kamu sudah menyelesaikan hampir atau malah semua mata kuliah dengan nilai yang cukup.

“Owyeaahh..selangkah lagi menuju wisuda. Semua kerja keras gue selama ini terbayar..!! Sebentar lagi tidak ada kuliah pagi!! Tidak ada quiz!! Tidak ada dosen killer!! Yayaiyyyy…!!!”
Oww…wait.. Celakanya, dalam situasi ini, beberapa orang merasa benar-benar sudah lulus.

lu sekarang jarang ke kampus. Trus setahu gue kerjaan lu tiap hari maen Sims City sampai pagi, trus tidur seharian. Emang lu gak kuliah..?!” Pemuda Harapan Bangsa bertanya.

The answer is “Santai… gue udah lulus kok. Tinggal skripsi aja..” sambil puk-puk bantal kesayangan.


Please..sampai toga itu melekat di kepalamu, you’re nothing but still Mahasiswa. Dan toga itu tidak akan melekat di kepalamu sampai kamu menyelesaikan skripsimu. Jadi, berhentilah berpikir kamu sudah lulus dan santai-santai main game negeri anta berantah. Mulailah kerjakan skripsimu itu dengan sepenuh hati dan setelah itu bangunlah bangsamu seperti kamu membangun gedung-gedung di “SIMS CITY”.

 

Kota idaman “Sims City” dari para teknokrat pejuang skripsi 😀

2. Terlalu banyak berpikir

Berpikir itu baik, sobat. Teori relativitas juga tidak muncul begitu saja tanpa pemikiran yang dalam. Tapi kalau kamu kebanyakan mikir tapi gak kunjung bergerak ya percuma. Kami gak asal ngomong, menurut penelitian dari tim University College London (UCL), terlalu banyak mikir itu gak baik.


Kebanyakan WTS Pemula (baru mau mulai menyusun skripsi) terkungkung dengan mindset bahwa “menyusun skripsi itu sulit”. Mereka jadi malas untuk memulai karena otaknya sudah penuh dengan ketakutan berlebihan akan skripsi. Skripsi menjadi semacam phobia.


Kalo otakmu sudah penuh dengan payudara Miyabi atau kecakepan Justin Bieber ya jangan dibebani lagi,,, it’s soo..soo..heavy friend…

Menurut paparan disini, pikiran negatif yang terus menerus diulang, bisa menjadi pemicu depresi. Padahal, hal-hal negatif yang ditakutkan itu baru ada di pikiran, belum menjadi kenyataan. Yes..You’ve created a problem that wasn’t even there in the first place. Well, skripsimu gak akan pernah selesai kalau begini terus. Jangan terus terbebani dengan pikiran-pikiran negatif. Depresi karena gagal menyusun skripsi, terdengar sangat payah.

Kamu harus mulai bergerak. Sekarang juga. Buang semua pikiran negatif. Buang semua anggapan bahwa menulis skripsi itu sulit. Tanamkan di pikiranmu, menulis skripsi itu mudah..!! Tenang saja,,, semudah nge-restart laptop kita,,,cukup klik…klik…klik…


Percayalah, Segala sesuatunya hanya sulit di awalnya saja, setelah itu, mengalir seperti banjir. Deras. Jangan takut melangkah, toh nanti kamu akan dibantu oleh Dosen Pembimbing yang siap untuk memberikan saran dan revisi. Dan sebagai nilai tambahnya, bimbingan skripsi itu gratis.

Jadi, Ketika kamu sudah sadar bahwa kamu belum lulus dan berniat untuk mulai mengerjakan skripsi, jangan kebanyakan mikir, just do it. Kata motivator bisnis,” nomor 1 adalah action, nomor 2 adalah action, nomor 3 adalah action,,yang nomor 4 kata ahli hadist baru ayahmu,,nah lhooo L“. Buka komputermu, dan mulailah mengetik, tapi jangan mampir ke sosmed atau game, cukup kunjungi miss.word atau miss.excell pasti dapat inspirasi dan hidayah.

3. Terlalu banyak membuang waktu


Menyusun skripsi itu sama saja dengan menjalani LDR (Long Distance Relationship). Niat saja tidak cukup kalau mau terus bertahan. Kamu harus punya komitmen. Komitmen kuat untuk benar-benar menjalaninya agar berujung pada akhir yang bahagia.

Kalau tidak.. yahh, sama seperti LDR, niatmu hanya akan tetap menjadi niat. Kandas di tengah jalan. Melanjutkan proses menyusun skripsi akan selalu ada di to-do-list mu setiap hari, tapi tetap saja tanpa progress yang berarti dari waktu ke waktu. Gak percaya..?!

Hai yang masih mahasiswa..!! Kami cukup yakin bahwa niat awal kamu menyalakan komputer/laptop tadi adalah untuk melanjutkan menulis skripsi yang masih sampai kata pengantar itu. Tapi ironisnya, kamu berakhir dengan membuka browser dan ujung-ujungnya membaca artikel konyol ini. Yang lebih menyedihkan, begitu menyadari kesalahan, kamu tetap melanjutkan membaca dan terus tertawa. Padahal yang kamu tertawakan adalah nasib seorang pemuda juara harapan bangsa alias diri kamu sendiri.

Apalagi kalau kamu kamu tiba-tiba berubah pikiran dan memutuskan untuk main farm ville atau Pro Evolution Soccer segera setelah selesai membaca artikel ini. Wew..you’re on a big trouble, pals.. Lakukanlah terus, dijamin skripsimu tidak akan selesai sampai teman seangkatanmu jadi rektor.


Beda Tipis..

Oke, kami sadar bahwa Pro Evolution Soccer memang terlalu keren untuk dilewatkan. Tapi, please, atur waktumu. Percayalah, PES masih keren saat kamu selesai mengetik satu bab, 3 jam yang akan datang. Seimbangkan waktu antara berkutat menyusun skripsi dan cari hiburan untuk menghilangkan penat. Waktu sangat berharga, terutama untuk para PSK (Penulis Skripsi Kelamaan). Lawan rasa malasmu, stop waste your time, dan mulailah menulis. Sekarang..!! Ya.. Sekarang..!!

4. Dosen Pembimbing yang menyebalkan


Well, bro and sist.. Kami masih tidak percaya kamu masih melanjutkan mambaca artikel konyol ini, padahal kami sudah menegaskan untuk menutup browser dan mulai melanjutkan menulis skripsi. Tapi, ya sudahlah.. kita lanjutkan saja pembahasan kita ke poin selanjutnya..

Sejatinya, kami tidak suka ngomongin orang lain. Apalagi orang terhormat dan budiman seperti dosen. Tapi ada kalanya, kita udah niat bikin skripsi sampai berdarah-darah, tapi dosen pembimbing-nya menyebalkan.

Sudah janjian besok mau ketemu di kampus untuk jadwal bimbingan. Kita udah lembur gak tidur semalaman menulis 3 bab, dan jreng..jreng..jreng.. keesokan harinya, ketika kita sudah sampai kampus dengan mata merah, badan pegel dan kepala pusing, ada SMS masuk : “Maaf. Saya ada urusan mendadak, jadi harus ke luar kota. Istri saya ngajak jalan-jalan ke Bali. Jadwal bimbingannya kita atur lagi untuk minggu depan yaa.. Eh, atau bulan depan aja deh. Minggu depan anak saya ngajak jalan-jalan ke Singapore. Atau kalau kamu punya duit, kita ketemunya di Singapore aja gimana?? Eh..tapi emang kamu punya duit buat ke Singapore? Gak punya kan..?! Yauda deh..bimbingannya bulan depan aja ya…”


Terserah kamu menyebutnya apa. Menyebalkan bukan? Jadi gimana skripsi mau selesai, kalau jadwal bimbingan aja tertunda terus. Dan yang lebih menyebalkan lagi, ketika akhirnya jadwal bimbingan terealisasi, 3 bab yang udah kita buat sampai berdarah-darah dicerca habis-habisan.

“Mbak, kamu ini nulis apa..??! Anak saya yang masih TK bisa nulis lebih bagus dari kamu. Saya udah periksa semua tulisan kamu, isinya kayaknya copy-paste dari Google semua ya..?! Hayoooo….ngaku aja dehhh… Dasar pemalas kamu…!!! Cuma 3 halaman aja yang menurut saya bagus. Lainnya buang aja. Bikin lagi..!!”


Hanya satu hal yang bisa kamu lakukan dalam situasi seperti ini, berdoalah kepada Yang Maha Kuasa agar dosen pembimbingmu diberi Hidayah. Amin.

5. Kurang Motivasi

Menulis skripsi itu berat. Beragam godaan dan cobaan datang silih berganti. Mulai dari malas, ajakan teman, pacar, siaran langsung Liga Champion, zynga poker, Pro Evolution Soccer, laptop ngadat, printer macet, mati listrik, sampai Dosen pembimbing yang menyebalkan. Meskipun berat, kalau kamu punya motivasi besar untuk segera lulus, dijamin kamu akan semangat untuk menyelesaikan skripsi sesegera mungkin. Jadi, tetapkan tujuan/target yang ingin kamu capai setelah lulus nanti, agar motivasi kamu dalam menyusun skripsi terlecut. Misalnya, setelah lulus, kamu ingin mulai membangun usaha, jadi pengusaha muda sukses kaya raya, membuka ribuan lapangan pekerjaan baru, memperoleh penghargaan dari Pemerintah, mengakusisi perusahaan-perusahaan Bakrie, kemudian menikahi Sandra Dewi, nyalon jadi anggota DPR, dan hidup bahagia sampai akhir hayat. Dijamin, kalau kamu punya tujuan/target jangka menengah/panjang seperti ini, kamu akan lebih termotivasi untuk segera menyelesaikan skripsi.


Yang penting, selesaikan dulu skripsimu.

===+==+===

Ya..kira-kira itulah hasil analisis kami mengenai penyebab mengapa skripsimu tak kunjung selesai. Jadi saran kami sih, setelah selesai baca artikel konyol ini, renungkanlah poin mana yang menjadi penghambat buat kamu, dan ikutilah saran dari kami untuk mengatasinya. Segera lakukan..!! Langsung setelah ini..!! Jangan menunda-nunda lagi..!!


Bahagiakanlah kedua orang tuamu dengan wisudamu…Percayalah, emakmu pasti mendoakanmu

Percayalah, Sandra Dewi gak mau nikah sama orang yang bahkan gak bisa menyelesaikan skripsinya kecuali kamu pakai jasa dari sarjana ilmu perdukunan dan perpeletan… Percayalah satu hal untuk dijadikan motivasi, Ijazah ditangan akan menentukan kemudahan Ijab Sah digenggaman saat esok hari…


Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau tetapi Sekaligus “Menakutkan”

Setiap acara wisuda di kampus ITB selalu ada pidato sambutan dari salah seorang wisudawan. Biasanya yang terpilih memberikan pidato sambutan adalah pribadi yang unik, tetapi tidak selalu yang mempunyai IPK terbaik. Sepanjang yang saya pernah ikuti, isi pidatonya kebanyakan tidak terlalu istimewa, paling-paling isinya kenangan memorabilia selama menimba ilmu di kampus ITB, kehidupan mahasiswa selama kuliah, pesan-pesan, dan ucapan terima kasih kepada dosen dan teman-teman civitas academica.

Namun, yang saya tulis dalam posting-an ini bukan pidato wisudawan ITB, tetapi wisudawan SMA di Amerika. Beberapa hari yang lalu saya menerima kiriman surel dari teman di milis dosen yang isinya cuplikan pidato Erica Goldson (siswi SMA) pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu. Isi pidatonya sangat menarik dan menurut saya sangat memukau. Namun, setelah saya membacanya, ada rasa keprihatinan yang muncul (nanti saya jelaskan).Cuplikan pidato ini dikutip dari tulisan di blog berikut: http://pohonbodhi.blogspot.com/2010/09/you-are-either-with-me-or-against-me.html

“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.

Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”

Hmmm… setelah membaca pidato wisudawan terbaik tadi, apa kesan anda? Menurut saya pidatonya adalah sebuah ungkapan yang jujur, tetapi menurut saya kejujuran yang “menakutkan”. Menakutkan karena selama sekolah dia hanya mengejar nilai tinggi, tetapi dia meninggalkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya dalam bidang lain, seperti hobi, ketrampilan, soft skill, dan lain-lain. Akibatnya, setelah dia lulus dia merasa gamang, merasa takut terjun ke dunia nyata, yaitu masyarakat. Bahkan yang lebih mengenaskan lagi, dia sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan di dalam hidup ini.

Saya sering menemukan mahasiswa yang hanya berkutat dengan urusan kuliah semata. Obsesinya adalah memperoleh nilai tinggi untuk semua mata kuliah. Dia tidak tertarik ikut kegiatan kemahasiswaan, baik di himpunan maupun di Unit Kegiatan Mahasiswa. Baginya hanya kuliah, kuliah, dan kuliah. Memang betul dia sangat rajin, selalu mengerjakan PR dan tugas dengan gemilang. Memang akhirnya IPK-nya tinggi, lulus cum-laude pula. Tidak ada yang salah dengan obsesinya mengejar nilai tinggi, sebab semua mahasiswa seharusnya seperti itu, yaitu mengejar nilai terbaik untuk setiap kuliah. Namun, untuk hidup di dunia nyata seorang mahasiswa tidak bisa hanya berbekal nilai kuliah, namun dia juga memerlukan ketrampilan hidup semacam soft skill yang hanya didapatkan dari pengembangan diri dalam bidang non-akademis.

Nah, kalau mahasiswa hanya berat dalam hard skill dan tidak membekali dirinya dengan ketrampilan hidup, bagaimana nanti dia siap menghadapi kehidupan dunia nyata yang memerlukan ketrampilan berkomunikasi, berdiplomasi, hubungan antar personal, dan lain-lain. Menurut saya, ini pulalah yang menjadi kelemahan alumni ITB yang disatu sisi sangat percaya diri dengan keahliannya, namun lemah dalam hubungan antar personal. Itulah makanya saya sering menyemangati dan menyuruh mahasiswa saya ikut kegiatan di Himpunan mahasiswa dan di Unit-Unit Kegiatan, agar mereka tidak menjadi orang yang kaku, namun menjadi orang yang menyenangkan dan disukai oleh lingkungan tempatnya bekerja dan bertempat tinggal. Orang yang terbaik belum tentu menjadi orang tersukses, sukses dalam hidup itu hal yang lain lagi.

Menurut saya, apa yang dirasakan wisudawan terbaik Amerika itu juga merupakan gambaran sistem pendidikan dasar di negara kita. Anak didik hanya ditargetkan mencapai nilai tinggi dalam pelajaran, karena itu sistem kejar nilai tinggi selalu ditekankan oleh guru-guru dan sekolah. Jangan heran lembaga Bimbel tumbuh subur karena murid dan orangtua membutuhkannya agar anak-anak mereka menjadi juara dan terbaik di sekolahnya. Belajar hanya untuk mengejar nilai semata, sementara kreativitas dan soft skill yang penting untuk bekal kehidupan terabaikan. Sistem pendidikan seperti ini membuat anak didik tumbuh menjadi anak “penurut” ketimbang anak kreatif.

Baiklah, pada bagian akhir tulisan ini saya kutipkan teks asli (dalam Bahasa Inggris) Erica Goldson di atas agar kita memahami pidato lengkapnya. Teks asli pidatonya dapat ditemukan di dalam laman web ini: Valedictorian Speaks Out Against Schooling in Graduation Speech .

Valedictorian Speaks Out Against Schooling in Graduation Speech

by Erica Goldson

Here I stand

There is a story of a young, but earnest Zen student who approached his teacher, and asked the Master, “If I work very hard and diligently, how long will it take for me to find Zen? The Master thought about this, then replied, “Ten years.” The student then said, “But what if I work very, very hard and really apply myself to learn fast – How long then?” Replied the Master, “Well, twenty years.” “But, if I really, really work at it, how long then?” asked the student. “Thirty years,” replied the Master. “But, I do not understand,” said the disappointed student. “At each time that I say I will work harder, you say it will take me longer. Why do you say that?” Replied the Master, “When you have one eye on the goal, you only have one eye on the path.”

This is the dilemma I’ve faced within the American education system. We are so focused on a goal, whether it be passing a test, or graduating as first in the class. However, in this way, we do not really learn. We do whatever it takes to achieve our original objective.

Some of you may be thinking, “Well, if you pass a test, or become valedictorian, didn’t you learn something? Well, yes, you learned something, but not all that you could have. Perhaps, you only learned how to memorize names, places, and dates to later on forget in order to clear your mind for the next test. School is not all that it can be. Right now, it is a place for most people to determine that their goal is to get out as soon as possible.

I am now accomplishing that goal. I am graduating. I should look at this as a positive experience, especially being at the top of my class. However, in retrospect, I cannot say that I am any more intelligent than my peers. I can attest that I am only the best at doing what I am told and working the system. Yet, here I stand, and I am supposed to be proud that I have completed this period of indoctrination. I will leave in the fall to go on to the next phase expected of me, in order to receive a paper document that certifies that I am capable of work. But I contend that I am a human being, a thinker, an adventurer – not a worker. A worker is someone who is trapped within repetition – a slave of the system set up before him. But now, I have successfully shown that I was the best slave. I did what I was told to the extreme. While others sat in class and doodled to later become great artists, I sat in class to take notes and become a great test-taker. While others would come to class without their homework done because they were reading about an interest of theirs, I never missed an assignment. While others were creating music and writing lyrics, I decided to do extra credit, even though I never needed it. So, I wonder, why did I even want this position? Sure, I earned it, but what will come of it? When I leave educational institutionalism, will I be successful or forever lost? I have no clue about what I want to do with my life; I have no interests because I saw every subject of study as work, and I excelled at every subject just for the purpose of excelling, not learning. And quite frankly, now I’m scared.

John Taylor Gatto, a retired school teacher and activist critical of compulsory schooling, asserts, “We could encourage the best qualities of youthfulness – curiosity, adventure, resilience, the capacity for surprising insight simply by being more flexible about time, texts, and tests, by introducing kids into truly competent adults, and by giving each student what autonomy he or she needs in order to take a risk every now and then. But we don’t do that.” Between these cinderblock walls, we are all expected to be the same. We are trained to ace every standardized test, and those who deviate and see light through a different lens are worthless to the scheme of public education, and therefore viewed with contempt.

H. L. Mencken wrote in The American Mercury for April 1924 that the aim of public education is not “to fill the young of the species with knowledge and awaken their intelligence. … Nothing could be further from the truth. The aim … is simply to reduce as many individuals as possible to the same safe level, to breed and train a standardized citizenry, to put down dissent and originality. That is its aim in the United States.”

To illustrate this idea, doesn’t it perturb you to learn about the idea of “critical thinking?” Is there really such a thing as “uncritically thinking?” To think is to process information in order to form an opinion. But if we are not critical when processing this information, are we really thinking? Or are we mindlessly accepting other opinions as truth?

This was happening to me, and if it wasn’t for the rare occurrence of an avant-garde tenth grade English teacher, Donna Bryan, who allowed me to open my mind and ask questions before accepting textbook doctrine, I would have been doomed. I am now enlightened, but my mind still feels disabled. I must retrain myself and constantly remember how insane this ostensibly sane place really is.

And now here I am in a world guided by fear, a world suppressing the uniqueness that lies inside each of us, a world where we can either acquiesce to the inhuman nonsense of corporatism and materialism or insist on change. We are not enlivened by an educational system that clandestinely sets us up for jobs that could be automated, for work that need not be done, for enslavement without fervency for meaningful achievement. We have no choices in life when money is our motivational force. Our motivational force ought to be passion, but this is lost from the moment we step into a system that trains us, rather than inspires us.

We are more than robotic bookshelves, conditioned to blurt out facts we were taught in school. We are all very special, every human on this planet is so special, so aren’t we all deserving of something better, of using our minds for innovation, rather than memorization, for creativity, rather than futile activity, for rumination rather than stagnation? We are not here to get a degree, to then get a job, so we can consume industry-approved placation after placation. There is more, and more still.

The saddest part is that the majority of students don’t have the opportunity to reflect as I did. The majority of students are put through the same brainwashing techniques in order to create a complacent labor force working in the interests of large corporations and secretive government, and worst of all, they are completely unaware of it. I will never be able to turn back these 18 years. I can’t run away to another country with an education system meant to enlighten rather than condition. This part of my life is over, and I want to make sure that no other child will have his or her potential suppressed by powers meant to exploit and control. We are human beings. We are thinkers, dreamers, explorers, artists, writers, engineers. We are anything we want to be – but only if we have an educational system that supports us rather than holds us down. A tree can grow, but only if its roots are given a healthy foundation.

For those of you out there that must continue to sit in desks and yield to the authoritarian ideologies of instructors, do not be disheartened. You still have the opportunity to stand up, ask questions, be critical, and create your own perspective. Demand a setting that will provide you with intellectual capabilities that allow you to expand your mind instead of directing it. Demand that you be interested in class. Demand that the excuse, “You have to learn this for the test” is not good enough for you. Education is an excellent tool, if used properly, but focus more on learning rather than getting good grades.

For those of you that work within the system that I am condemning, I do not mean to insult; I intend to motivate. You have the power to change the incompetencies of this system. I know that you did not become a teacher or administrator to see your students bored. You cannot accept the authority of the governing bodies that tell you what to teach, how to teach it, and that you will be punished if you do not comply. Our potential is at stake.

For those of you that are now leaving this establishment, I say, do not forget what went on in these classrooms. Do not abandon those that come after you. We are the new future and we are not going to let tradition stand. We will break down the walls of corruption to let a garden of knowledge grow throughout America. Once educated properly, we will have the power to do anything, and best of all, we will only use that power for good, for we will be cultivated and wise. We will not accept anything at face value. We will ask questions, and we will demand truth.

So, here I stand. I am not standing here as valedictorian by myself. I was molded by my environment, by all of my peers who are sitting here watching me. I couldn’t have accomplished this without all of you. It was all of you who truly made me the person I am today. It was all of you who were my competition, yet my backbone. In that way, we are all valedictorians.

I am now supposed to say farewell to this institution, those who maintain it, and those who stand with me and behind me, but I hope this farewell is more of a “see you later” when we are all working together to rear a pedagogic movement. But first, let’s go get those pieces of paper that tell us that we’re smart enough to do so!

~~~~~~~~~~

Pidato Erica tersebut juga dimuat di blog America dan mendapat tanggapan luas oleh publik di sana. Silakan baca di sini: http://americaviaerica.blogspot.com/2010/07/coxsackie-athens-valedictorian-speech.html

SUMBER : http://rinaldimunir.wordpress.com/2013/04/07/pidato-wisudawan-terbaik-memukau-tetapi-sekaligus-menakutkan/