“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

FILM INSPIRATIF

Hichki: There are no bad students, only bad teachers

Hichki: There are no bad students, only bad teachers

Hasil gambar untuk ulasan film hichki

Mekanisme penerimaan peserta didik baru tahun 2018/2019 di Indonesia cukup memberi efek kejut. Salah satunya adalah dengan memberikan kuota sebanyak 20% untuk siswa yang berasal dari keluarga miskin. Kesakralan nilai hasil ujian akhir menjadi berkurang.

Asal membawa bukti berupa surat keterangan tidak mampu, peluang untuk diterima di sekolah “favorit” lumayan besar. Tentu hal ini juga memiliki dampak sistemik dan menimbulkan kekecewaan yang cukup besar terutama di kalangan orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah idaman.

Menurut para pakar, dengan dikeluarkannya kebijakan tersebut diharapkan tidak ada lagi kesenjangan prestasi antar sekolah yang terlalu menonjol. Sekaligus juga menjadi ajang pembuktian kualitas para guru; apakah guru itu benar-benar memiliki kompetensi mengajar yang layak. Beberapa guru harus rela dipindah ke sekolah lain dengan alasan yang sama.

Bicara tentang pendidikan khususnya kualitas guru, saya teringat sebuah film India yang rilis awal tahun 2018 ini dan dibintangi oleh Rani Mukerji. Siapa yang tak tahu Rani Mukerji? Terutama bagi penikmat film India, tentu nama aktris cantik satu ini tidak begitu asing.

Namanya mulai semakin dikenal ketika beradu akting dengan Shah Rukh Khan dan Kajol dalam film Kuch Kuch Hota Hai (1998). Dari film itu pula Rani Mukerji mendapat dua penghargaan, Filmfare dan Zee Cine Awards sebagai Aktris Pendukung Terbaik.

Adalah Hichki judul film teranyar Rani Mukerji itu. Film ini memiliki dua fokus utama yang sama pentingnya. Pertama, penggambaran kondisi dunia pendidikan di sebuah sekolah menengah di sebuah kota pelabuhan di India. Yang kedua, tentang apa itu sindrom Tourette. Singkatnya, sindrom Tourette adalah sindrom berupa ucapan atau gerakan yang te rjadi secara spontan dan berulang-ulang disebabkan kondisi syaraf yang tidak biasa.

Iya, benar sekali. Film ini merupakan adaptasi dari buku Front of The Class karya Brad Cohen dan Lisa Wysocky yang menceritakan perjuangan seorang pengidap sindrom Tourette untuk mendapatkan hak yang sama dalam dunia pendidikan. Baik sebagai siswa maupun sebagai guru. Buku Front of The Class juga pernah difilmkan di Amerika dengan judul yang sama pada tahun 2008.

Dikisahkan di awal film, seorang perempuan bernama Naina Mathur memiliki keinginan menjadi guru sejak kecil. Namun, kendala besarnya adalah sindrom Tourette yang diidapnya. Sindrom itu berupa cegukan yang datang tiba-tiba dan tidak bisa dicegah.

Tersebutlah seorang perempuan yang mati-matian mewujudkan impiannya menjadi guru. Namanya Naina Mathur (Rani Mukerji). Ia adalah penyandang Tourette Syndrome, sebuah sindrom saraf yang menyebabkan seseorang seperti terkena kejutan listrik kepada otak secara mendadak. Akibatnya terdapat tindakan-tindakan tanpa sadar yang dilakukan seperti; cegukan, gerakan kepala tiba-tiba, hingga teriak-teriak tanpa sebab.

Sejak sekolah hingga dewasa perlakuan diskriminatif sering ia terima. Dikucilkan, ditertawakan bahkan dianggap kerasukan sudah tak terhitung jumlahnya. Sekarang, ia ingin jadi guru. Dasar tekad keras itu karena ia pernah diperkenalkan kepada publik oleh gurunya. Gurunya berujar, ”Ini sekolah. Semua datang untuk belajar. Hari ini kamu mengajarkan satu hal kepada kita semua tentang Sindrom Tourette. Mulai sekarang kamu berhak mendapat pendidikan seperti anak lain.”

Penolakan demi penolakan dialaminya dengan alasan bahwa sindrom yang dideritanya akan sangat mengganggu proses belajar mengajar. Keterbatasan itu tidak membuat Naina patah arang. Semangatnya begitu besar untuk menjadi seorang guru. Bahwa kesetaraan hak patut untuk diperjuangkan.

Dengan berbekal gelar sarjana pendidikan dan magister sains, Naina mencoba peruntungannya melamar di sekolah menengah swasta terkemuka bernama St. Notker. Naina berhasil mendapatkan kesempatan itu, untuk menjadi guru di sekolah yang selama dua tahun berturut-turut menjuarai Pekan Sains Nasional di India.

Tentu hal ini membuat Naina bergembira. Ini sekaligus menjadi ajang pembuktian kepada ayahnya yang menceraikan ibunya sebab tidak kuat menanggung malu karena anaknya memiliki keterbatasan.

Sudah puluhan sekolah ia sambangi. Sampai pada satu titik ia akhirnya diminta bantuan mengajar di sekolah almamaternya, St. Nockers. Ia diminta mengajar satu semester kelas terakhir yakni kelas 9-F. F disini mungkin saja pertanda Failure (gagal). Pasalnya kelas 9-F adalah kelas bantuan untuk masyarakat kelas bawah dalam program pemerintah “Right to Education Act”. Sebutlah seperti tanggung jawab sosial St. Nockers pada lingkungan sekitar. Isinya adalah anak-anak yang berada di bawah garis kemiskinan. Bekerja setelah jam sekolah, kenakalan-kenakalan remaja dan sifat minder pada penghuni sekolah lain adalah keseharian mereka.

Namun, ada tantangan baru yang harus dihadapi Naina. Dia ditugaskan mengampu satu kelas khusus, kelas 9F. Sebuah kelas yang hanya diisi oleh 14 siswa yang terpinggirkan. Iya, semacam kelas buangan bagi para siswa yang dianggap mencemari nama besar St. Notker. Siswa-siswa yang dianggap bodoh, nakal, tidak berguna, semua dikumpulkan di sini. Dan sialnya, tidak ada satu guru pun yang mau memegang kelas underdog ini.

Hari pertama, Naina berusaha menjelaskan apa itu Sindrom Tourette. Banyak yang tertawa. Wajar. Berkali-kali perundungan dialami oleh Naina. Menciptakan suasana kelas yang terbuka dan aspiratif bagi semua adalah yang coba dihadirkan Naina. Kaya akan karakter pada siswa 9-F. Berbeda, alami dan kontekstual. Ada seorang penjudi jalanan, montir bengkel, penjual sayur, dan sebagainya. Kisah ini klop dipadukan dengan kondisi ‘cegukan’ Naina Mathur. Bersama mereka mengalami diskriminasi dan berusaha membuktikan pada dunia kecil mereka apa itu harga diri sesungguhnya. Demi menancapkan status siswa mereka mesti lulus ujian. Naina menargetkan lebih. Mengincar pin kehormatan di sekolah. Ia tahu potensi siswa-siswanya sendiri.  Bagaimana fisika dihadirkan melalui medium olahraga adalah satu contoh.

Seperti jamak ditemui dalam film-film bertema pendidikan lainnya, adanya pemisahan kelas seperti ini adalah sebagai upaya untuk mengidentifikasi tingkat kecerdasan siswa. Bisa saja memang realitanya seperti itu. Sebagaimana yang juga bisa ditemukan dalam sistem pendidikan di Indonesia berupa terciptanya jurang pemisah yang cukup curam antara anak-anak kelas IPS dan IPA. Ada yang mengalami sendiri?

Yang menarik dalam film ini adalah upaya-upaya menyajikan perspektif lain dalam dunia pendidikan dengan gamblang. Sejenak mengingatkan kita pada film 3 Idiots (2009).

Kembali ke Naina, dia bersedia menerima tantangan tersebut dengan lapang dada. Meski pada awal mengajar dia harus menerima kejahilan-kejahilan serta ejekan dari siswa-siswanya akibat sindrom Tourette yang dideritanya. Tanpa kenal menyerah, Naina mencoba menerapkan metode-metode yang sesuai dengan cara belajar dan karakter personal siswa 9F.

“Belajar tidak harus di kelas. Kalian bisa belajar di mana pun dan kapan pun.”

Begitu Naina memotivasi siswa-siswanya. Suatu kali, Naina mengajak mereka belajar di luar kelas. Menata kursi dan papan tulis di halaman sekolah. Lalu mempresensi mereka dengan cara melemparkan telur yang sudah direbus kepada setiap siswa yang dipanggil namanya.

Dengan metode itu, Naina ingin sekaligus menjelaskan berbagai teori dalam Fisika. Naina meyakinkan siswa-siswanya bahwa mereka sebenarnya secara praktik keseharian sudah melakukan pejalaran yang diajarkan di sekolah. Itu pun menunjukkan kalau sebenarnya mereka cerdas.

Melalui film ini, kita juga diajak untuk menyaksikan potret kemiskinan yang masih banyak ditemui di India. Para siswa 9F ini tadinya belajar di sekolah negeri yang lokasinya tidak jauh dari St. Noker.

Berdasarkan peraturan pemerintah tentang hak mengenyam pendidikan, dan agar tetap bisa bersekolah, mereka terpaksa pindah karena sekolah negeri yang lama itu berada di atas tanah sengketa.

Mereka adalah anak-anak yang berasal dari kawasan yang padat penduduk. Yang harus rela mengantre sepanjang 50 meter setiap hari hanya untuk mendapatkan seember air. Jadi, sebenarnya konsentrasi mereka sama sekali bukan untuk sekolah melainkan membantu perekonomian keluarga.

Maka tak heran jika di sekolah, mereka mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan karena tidak bisa fokus mengikuti pelajaran, baik dari siswa yang lain maupun dari pihak sekolah sendiri.

Tapi, yang membuat film ini jadi semakin menarik, kondisi kesenjangan ini justru digambarkan dengan asyik melalui iringan sebuah lagu berjudul Madam Jy Go Easy di pertengahan film. Memang sudah menjadi karakteristik kuat film India dengan selalu konsisten menghadirkan lagu-lagu energik yang mampu memperkuat bangunan emosi dalam film.

Lagu Madam Jy Go Easy berirama riang. Berisi ajakan untuk menikmati dengan santai apa pun dan bagaimanapun kondisi yang sedang terjadi pada diri kita saat ini.

Madam Jy Go Easy, Sab Wi-fi Hum 3G!”  artinya “Santai saja, Bu, mereka wi-fi, kita 3G!”

Penonton pun sejenak diajak untuk larut menikmati lagu itu dan menebak-nebak kejutan apa lagi yang akan muncul. Film besutan Sidarth P. Maholtra ini kembali menghadirkan konflik ketika Naina punya keinginan mengikutsertakan siswa 9F dalam kompetisi Pekan Sains Nasional.

Selama mengajar dan mengamati kehidupan siswa 9F di luar sekolah, Naina semakin yakin bahwa tidak ada siswanya yang bodoh. Yang ada hanyalah guru dan sekolah yang tidak mengetahui potensi mereka.

Pak Wadia selaku wakil kepala sekolah sekaligus tokoh ‘antagonis’—sesungguhnya tidak ada yang benar-benar berperan seabagai tokoh jahat dalam film berlatar dunia pendidikan—memberikan syarat yang cukup sulit. Kelas 9F boleh mengikuti Pekan Sains Nasional asalkan siswanya dinyatakan lulus dalam ujian dan mendapatkan lencana perfect.

Ya, mungkin ini klise, tetapi alur film-film motivasi pendidikan mudah sekali ditebak. Masalah yang muncul selalu bisa diselesaikan dengan penuh kebanggaan. Mimpi-mimpi pun diraih penuh haru dengan sedikit bumbu derai air mata karena emosi yang diaduk-aduk sepanjang film. Semua itu menjadi semakin sempurna dengan dukungan akting Rani Mukerji yang memukau sepanjang film.

Menjadi guru yang berkualitas dengan kondisi fisik yang serba berkekurangan dan terbatas adalah impian Naina. Mungkin tidak hanya Naina. Para guru di belahan bumi mana saja pasti juga menginginkan hal yang serupa. Termasuk para guru di Indonesia.

Menjadi guru yang peka akan kondisi siswa-siswanya, punya kepekaan yang akurat dalam membaca potensi anak didiknya, tajam penglihatan ke depannnya tentu menjadi cita-cita luhur para guru. Di tengah tuntutan penyelesaian administrasi kelas yang ribet dan berbelit dan perubahan kurikulum demi kurikulum yang membingungkan, mereka tetap akan terus berusaha menghasilkan generasi mada depan yang cerdas, sukses, dan berkualitas.

Memangnya sesulit itu, ya, menjadi guru?

“Ada yang lebih sulit dari menjadi guru, yaitu menjadi siswa. Salah belajar, siswa akan mendapat nilai jelek. Salah mengajar, guru tidak akan mendapat nilai jelek karena mengajar itu mudah, belajarlah yang sulit. Tidak ada siswa yang buruk. Yang ada guru yang buruk,pungkas Pak Wadia, si wakil kepala sekolah, saat menutup acara.

“Tak ada murid yang buruk, hanya guru yang buruk”

Preseden tersebut terdengar diskriminatif dan terkesan blaming the victim dalam persoalan pendidikan kita hari-hari ini. Guru sebagai subyek juga sebagai obyek adalah epos tak tuntas soal definisi dan perannya sejak awal kemerdekaan Indonesia. Pada akhirnya guru adalah manusia. Bekal ‘kemanusiaan’ itulah yang mesti dicontohkan kepada para murid. Pada akhirnya menunjukkan bahwa “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” mungkin ini istilah yang tepat untuk menyimpulkan intisari dari film ini.

Iklan

I AM SAM (Lucy In the Sky with Diamonds)

Picture yourself in a boat on a river,
With tangerine trees and marmalade skies
Somebody calls you, you answer quite slowly,
A girl with kaleidoscope eyes.
Cellophane flowers of yellow and green,
Towering over your head.
Look for the girl with the sun in her eyes,
And she’s gone.

Lucy in the sky with diamonds
.

Follow her down to a bridge by a fountain
Where rocking horse people eat marshmellow pies,
Everyone smiles as you drift past the flowers,
That grow so incredibly high.
Newspaper taxis appear on the shore,
Waiting to take you away.
Climb in the back with your head in the clouds,
And you’re gone.

Lucy in the sky with diamonds,

Picture yourself on a train in a station,
With plasticine porters with looking glass ties,
Suddenly someone is there at the turnstyle,
The girl with the kaleidoscope eyes.

I am sam

Film ini bercerita tentang Sam Dawson, seorang single father penyandang developmental disability dengan kecerdasan setara anak usia 7 tahun, dalam perjuangannya demi memperoleh hak asuh putrinya, Lucy. Sebuah film yang amat sederhana, tanpa intrik, tanpa bom, bahkan bisa dibilang tanpa seorang tokoh antagonis pun. Akan tetapi, di balik kesederhanaannya itulah saya menemukan sejumlah keistimewaan…

Film ini bisa jadi film pertama, dan masih satu-satunya yang membuat saya begitu terharu hingga menitikkan air mata. Agak aneh juga karena sebenarnya scene nangis bombay di film ini tidaklah sebanyak film India atau Setantron™ Indonesia. Tapi setiap kali Lucy mengatakan “other daddy never brings his child to the park”, atau saat Sam mengajari Lucy membaca “I want you to read the word because it makes me happy”, tiga kali saya menonton film ini, tiga kali juga saya tidak kuasa untuk berlinang air mata.

Sean Penn, sebagai Sam Dawson, berperan sangat cemerlang sebagai penyandang cacat mental, ia menangkap setiap emosi dengan sempurna, bisa dilihat dari tatapan matanya, cara dia berjalan hingga gaya bicaranya, penjiwaan yang mendekati sempurna. Kabarnya ia melakukan riset ke L.A. Goal, sebuah panti rehabilitasi bagi penderita keterbelakangan mental, di mana dua dari empat aktor yang memerankan kawan-kawan Sam juga berasal dari panti ini.

Michelle Pfeiffer, sebagai Rita Harrison, di satu sisi juga bermain amat bagus, sebagai seorang pengacara cerdas, cantik, dan selalu memenangkan perkaranya, namun sekaligus merasakan kekosongan hidup, di tengah harta yang melimpah dan kesuksesan dari her so called city life.

Akan tetapi daya tarik utama film ini adalah Dakota Fanning!!! Di usianya yang baru 7 tahun ia memperlihatkan kualitas akting yang Joshua atau Dea Imut tidak bisa perlihatkan. Ia tidak kelihatan canggung menghadapi kesenioran Sean Penn, dan menggambarkan karakter Lucy dengan sangat kuat.

I am Sam bagi saya sebuah masterpiece, sebuah cerita yang menyentuh, dan terasa sangat dekat dengan kehidupan kita. Saya tidak tahu apakah ada pengaruh dari sentuhan seorang perempuan (Director/co-writer Jessie Nelson) dalam menghasilkan film yang mengharuskan pemirsanya menggunakan hati kecil mereka dalam menyaksikan film ini.

Sinematografi film ini sendiri sungguh “tidak biasa” bahkan bisa dikatakan “luar biasa”. Kameranya goyang-goyang, muter-muter ndak jelas, zoomingnya motong, dan editingnya terkesan ‘seenaknya’. Tapi justru kena dan masuk ke karakter dan mood Sam. Teknik kamera gendong, tanpa crane atau alat penopang mekanis apapun di film ini justru jadi daya tarik tersendiri.

Lagu-lagu The Beatles mengiringi di setiap suasana, mengarahkan mood cerita. Meskipun yang diputar di film ini hanya Cover Version yang dibawakan musisi-musisi lain, berhubung budget film ini tidak mencukupi untuk membeli lisensi lagu yang kabarnya mencapai 300.000 dolar per lagu itu. Mungkin tidaklah cukup untuk menggantikan nuansa Beatle yang asli, tapi cukup memberi warna tersendiri dalam film ini. Yang jelas kita bisa merasakan betapa dahsyatnya makna dari lirik-lirik lagu The Beatles di film ini.

Pesan yang dibawa film ini cukup jelas, dan banyak. Kita, sebagai penonton, bisa menjadi siapa saja di film ini,
bisa jadi seorang pengacara yang sukses dan kaya raya tapi gagal menjadi seorang ibu bagi anaknya,
bisa jadi seorang yang pernah punya pengalaman buruk dengan ayahnya sendiri, namun tetap berusaha sebisanya membantu seorang ayah yang sedang kesusahan,
bisa jadi seorang teman yang siap membela dengan cara apapun jua,
bisa jadi seorang anak yang membuat kesalahan, karena pernah merasa malu dengan keadaan ayahnya, menyesal, dan akhirnya menyadari arti kasih sayang,
bisa jadi seorang di luar sana, yang dengan piciknya merendahkan dan mempertanyakan kemampuan orang tua lain,
dan tentunya bisa jadi Sam…

And who am I? In this case I am Sam. I want to be a good father for my daughter, a worthy father, a proper father… I may not be a perfect father, in which I have so many flaws. However at least I will, I have to, I must do whatever necessary to be a good father, with a decent values not to be doctrinated, but to be modelled. Hopefully.


RANG DE BASANTI

RANG DE BASANTI


Tanggal Rilis :26 January 2006

Jenis Film :Action | Comedy | Drama

Diperankan Oleh :Aamir Khan

Ringkasan Cerita FILM RANG DE BASANTI :

Seorang pembuat film asal Inggris Sue McKinley (Alice Patten) secara tidak sengaja menemukan buku harian milik sang kakek yang sempat bekerja sebagai petugas penjara Inggris di masa gerakan kemerdekaan India.

Di buku harian tersebut, Sue mendapatkan lima tokoh pejuang kemerdekaan yang membuatnya tertarik. Ia memutuskan untuk menuangkan kisah kelimanya dalam sebuah film, dan langsung bertolak ke India. Berkat bantuan sahabatnya Sonia (Soha Ali Khan), Sue berhasil merekrut empat orang India.

Meski Daljit (Aamir Khan), Karan Singhania (Siddarth Narayan), Aslam (Kunal Kapoor), dan Sukhi (Sharman Joshi) tidak terlalu antusias, Sue berhasil meyakinkan mereka untuk ikut berpartisipasi. Belakangan, seorang politisi Laxman Pandey (Atul Kulkarni) yang anti-muslim ikut bergabung.

Setelah sempat terjadi konflik, kelimanya baru sadar bahwa kejadian yang dialami oleh tokoh yang mereka perankan ternyata masih terjadi hingga di masa sekarang. Puncaknya ketika Ajay Singh Rathod (R Madhavan) tunangan Sonia tewas saat pesawatnya mengalami kecelakaan.

Dengan cepat, pihak pemerintah menyebut kalau kejadian itu disebabkan oleh kelalaian pilot sehingga penyelidikan tidak perlu diperpanjang. Namun, Sonia dan kawan-kawan yang tahu kelihaian Rathod saat menerbangkan pesawat menolak klaim pemerintah.

Bahkan, dengan berani mereka menyebut Rathod mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan orang-orang di kota yang bisa terkena reruntuhan pesawat seandainya dirinya memilih untuk lebih menyelamatkan diri sendiri.

Pelan-pelan semuanya mulai terkuak, kecelakaan disebabkan oleh korupsi yang dilakukan Menteri Pertahanan (Mohan Agashe) yang menukar mesin pesawat dengan barang murah. Puncaknya terjadi ketika protes mereka ditanggapi secara keras oleh kepolisian.

[IMDb rating : 8.3/10]

[Awards : Nominated for BAFTA Film Award. Another 16 wins & 18 nominations ]

[Production Co : ROMP, UTV Motion Pictures]

[IMDb link : http://www.imdb.com/title/tt0405508/]


FILM TAARE ZAMEEN PAR (2007)

FILM TAARE ZAMEEN PAR (2007)


Tanggal Rilis : 21 December 2007 (Canada)

Jenis Film : Drama

Diperankan Oleh : Darsheel Safary, Aamir Khan and Tanay Chheda

Ringkasan Cerita FILM TAARE ZAMEEN PAR (2007) :Ini dia salah satu film karya negeri India. Taare Zameen Par [2007] merupakan film yang cocok untuk ditonton untuk anak-anak dan keluarga karena film ini mengajarkan moral yang baik. Untuk versi luarnya judul film ini adalah Like Stars on Earth. Seperti halnya film yang fenomenal kemarin, 3 Idiots, film ini juga menceritakan mengenai pendidikan. Bercerita mengenai nilai nilai pendidikan yang ada. Yang pasti film ini rekomendasi untuk ditonton.

Film Taare Zameen Par bercerita tentang seorang anak kelas 3 setingkat SD yang idiots, yang bernama Ishaan Nandkishore Awasthi susah menangkap perintah dan kata-kata orang lain dan setiap kata-kata dan tulisan yang dilihatnya seolah-olah tulisannya itu seperti menari-nari. Sekolah yang dirasakan terasa sangat sulit. susah untuk mengerjakan pelajaran.

Orang tuanya selalu menekan dia untuk selalu belajar sesuai dengan orang normal yang lainnya. Ketika dia salah orang tua selalu memarahinya. Orang tuanya tidak tahu kondisi yang terjadi kepadanya. Selama sekolah Ishaan juga menjadi bahan ejekan temen-temenya. Bahkan gurunya pun juga sering memarahinya karena dia mempunyai kekurangan tersebut. Mengetahui kondisi tersebut orang tuanya malah mendaftarkan anaknya untuk mengikuti program asrama.

Di Asrama, datang seorang guru kesenian pengganti sementara yang bernaman Ram Shankar Nikumbh (Aamir Khan). Guru baru ini mempunyai cara mendidik yang baru. tidak seperti guru lain yang mengikuti norma yang ada dalam mendidik anak-anak, Ram membuat mereka berpikir keluar dari buku-buku, di luar empat dinding kelas dan imajinasi mereka. Setiap anak di kelas merespon dengan antusiasme yang besar kecuali Ishaan. Ram menyadari bahwa Ishaan menderita penyakit penderitaan anak diseleksia.

Ram kemudian berusaha untuk memahami Ishaan dan masalah-masalahnya. Dia membuat orang tua dan guru Ishaan lainnya menyadari bahwa Ishaan bukan anak yang abnormal, tetapi anak yang sangat khusus dengan bakat sendiri. Dengan waktu, kesabaran dan perawatan Ram berhasil dalam mendorong tingkat kepercayaan Ishaan. Dia membantu Ishaan dalam mengatasi masalah pelajarannya dan kembali menemukan kepercayaan yang hilang.

Film ini disutradarai langsung oleh Aamir Khan. Pesan moral yang disampaikan dari film ini adalah selama proses pendidikan dan kehidupan, biarkan menjadi diri sendiri. Jangan menjadikan kesuksesan dan posisi dalam masyarakat menjadi patokan. Biarkan berkarya sesuai dengan dirinya sendiri karena bakat dan kemampuan seseorang itu berbeda-beda. Selain itu, orang tua harus tahu kondisi perkembangan anaknya. Jangan terlalu memaksakan kepada anaknya.

[IMDb rating : 8.3/10]

[Awards : 11 wins & 12 nominations]

[Production Co : Aamir Khan Productions, PVR Pictures]

[IMDb link : http://www.imdb.com/title/tt0986264]


FILM GOOD WILL HUNTING (1997)

FILM GOOD WILL HUNTING (1997)


Tanggal Rilis : 9 January 1998 (USA)

Jenis Film : Drama

Diperankan Oleh : Robin Williams, Matt Damon and Ben Affleck


Ringkasan Cerita FILM GOOD WILL HUNTING (1997) :

Will Hunting (Matt Damon) adalah seorang pemuda genius yang memiliki masa lalu kelam. Selama 20 tahun, Matt hidup dalam kondisi kesepian dan kesendirian. Dia memang memiliki tiga orang sahabat yang selalu menemaninya, namun dalam hatinya, dia menyimpan ketakutan masa lalu. Dia bekerja sebagai cleaning service di MIT, Amerika Serikat. Secara diam-diam, dia berhasil memecahkan sebuah soal tantangan Prof.Gerald yang sebetulnya diberikan kepada muridnya.

Kampus menjadi heboh ketika tahu-tahu soal super sulit tersebut berhasil dipecahkan. Namun tidak ada yang tahu siapa orang pintar itu. Hingga akhirnya secara tak sengaja, Prof.Gerald, memergoki Will tengah menyelesaikan soal lain di papan tulis koridor kampus. Will yang kepergok langsung memutuskan berhenti bekerja.

Karena masa lalu yang buruk, Will dewasa mudah sekali terpacu emosi (namun bukan brutal), bersama temannya dia memukuli, gerombolan yang baru saja mengganggu seorang wanita. Will semakin kesal ketika tahu bahwa ketua berandalan tsb adalah orang yang sejak kecil suka mengganggunya.

Will ditangkap polisi dan harus mengikuti sidang. Disini kecerdasan Will ditantang. Ternyata bukan sekali itu saja Will melakukan tindakan pemukulan. Dikarenakan argumentasinya yang cerdas, Will selalu bebas. Di tempat lain, dia sempat membuat malu pemuda sok pintar, ketika sahabatnya -Ben Affleck hendak mendekati seorang mahasiswi MIT. Ben yang terpojok, segera mendapat bantuan Will yang sepertinya tahu segala hal itu. Di sana pula ia berkenalan dengan Spy, cewek pintar yang lalu ia cintai.

Banyak sekali adegan-adegan yang menunjukkan betapa pintarnya Will Hunting. Misalnya saja ketika dia harus penghadapi beberapa psikiater yang ditunjuk oleh Prof.Gerald. Prof.gerald yang merasa kepintaran Will akan sangat berjasa bagi dunia, mencoba membujuk Will agar bekerja pada pemerintah. Namun bukan itu yang Will inginkan.

Ia mengerti banyak hal ketika bertemu Robin William, psikiater ke-6 yang direkomendasi Prof.Gerald. Pada awalnya hubungan mereka sudah terlihat menarik. Walau tetap terjadi konflik kecil. Robin berusaha membuat Will agar menumpahkan segala kesedihan masa lalunya. Dan itu sangat sulit sekali. Hingga akhirnya benteng pertahanan Will hancur. Adegan Will menangis dipelukan Robin sangat menyayat hati.

[IMDb rating : 8.1/10]

[Awards : Top 250 #186 | Won 2 Oscars. Another 16 wins & 35 nominations]

[Production Co : Be Gentlemen Limited Partnership, Lawrence Bender Productions]

[IMDb link : http://www.imdb.com/title/tt0119217]