“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

Posts tagged “pendidikan

Apakah Sekolah Kita Sudah “Beradab”?

Apakah Sekolah Kita Sudah “Beradab”?

oleh : Irfan Amalee

poster pendidikan

Ada sebuah tulisan dari saudara Irfan Amalee yang mampu mengguncang hati saya, bagaimana lemahnya standarisasi dalam pendidikan dimana beberapa waktu terakhir ini yang selalu dipacu adalah nilai,,nilai,,dan nilai,,sehingga kita akan lebih terkejut bila mendengar ada anak yang tidak lulus UN lantas bertindak nekat mengakhiri hidupnya,,,karena kita telah melupakan aspek mental dan moral sebagai pokok tujuan utama yang harus dibangun dalam pendidikan selain keilmuan. Kita juga melupakan aspek pelayanan dan mutu pendidikan yang telah bergeser kepada aspek penilaian betapa megahnya bangunan sekolah, betapa banyaknya murid dari kalangan elit yang bersekolah disana dan berapa banyak pajangan dinding akan prestasi lomba-lomba para muridnya. Berikut kisah yang dapat kita petik dari tulisan artikel sudara Irfan Amalee di kompasiana.

Setahun terakhir ini saya terlibat membantu program Teaching Respect for All UNESCO. Saya juga membantu sejumlah sekolah agar menjadi sekolah welas asih (compassionte school). Dua hal di atas membawa saya betemu dengan sejumlah sekolah, pendidik, hingga aktivis revolusioner dalam menciptakan pendidikan alternatif. Di benak saya ada satu pertanyaan: sudah se-compassionate apa sekolah kita? Sejauh mana sekolah menumbuhkan sikap respect pada siswa dan guru, serta semua unsur di lingkungan sekolah? Karena compassion (welas asih) dan respect (sikap hormat dan emphaty) adalah bagian dari adab (akhlak) maka pertanyaannya bisa sedikit diubah dan terdengar kasar: sudah seber-adab apakah sekolah kita?

Rekan saya melakukan sebuah experimen yang menarik. Dia berkunjung ke Sekolah Ciputra, sekolah millik pengusaha Ciputra yang menekankan pada karakter, leadeship dan entrepreneurship serta memberi pengharagaan pada keragaman agama dan budaya. Pada kunjungan pertama rekan saya itu datang dengan baju necis menggunakan mobil pribadi. Di depan gerbang Pak Satpam langsung menyambut hangat, “Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” Rekan saya menjawab bahwa dia ingin bertemu dengan kepala sekolah, tetapi dia belum buat janji. Dengan sopan Pak Satpam berkata, “Baik, saya akan telepon pak kepala sekolah untuk memastikan apakah bisa ditemui, bapak silakan duduk, mau minum kopi atau teh?” Pelayanan yang begitu mengesankan!

Di waktu lain, rekan saya datang lagi, dengan penampilan yang berbeda. Baju kumal, dengan berjalan kaki. Satpam yang bertugas memberikan sambutan yang tak beda dengan sebelumnya, diperlihakan duduk dan diberi minuman. Saat berjalan menuju ruang kepala sekolah, satpam mengantarkan sambil terus bercerita menjelaskan tentang sekolah, bangunan, serta cerita lain seolah dia adalah seorang tour guide yang betul menguasai medan. Bertemu dengan kepala sekolah tak ada birokrasi rumit dan penuh suasana kehangatan. Padahal rekan saya itu bukan siapa-siapa, dan datang tanpa janjian sebelumnya.

Melatih satpam menjadi sigap dan waspada adalah hal biasa. Tetapi menciptakan satpam dengan perangai mengesankan pastilah bukan kerja semalaman. Pastilah sekolah ini punya komitmen besar untuk menerapkan karakter luhur bukan hanya di buku teks dan di kelas. Tapi semua wilayah sekolah, sehingga saat kita masuk ke gerbangnya, kita bisa merasakannya. Itulah hidden curricullum, culture.

Di kesempatan lain, saya bersama rekan saya itu berkunjung ke sebuah sekolah Islam yang lumayan elit di sebuah kota besar (saya tidak akan sebut namanya). Di halaman sekolah terpampang baliho besar bertuliskan, “The most innovative and creative elementary school” sebuah penghargaan dari media-media nasional. Dindinging-dinding sekolah dipenuhi foto-foto siswa yang menjuarai berbagai lomba. Ada dua lemari penuh dengan piala-piala. Pastilah sekolah ini sekolah luar biasa, gumam saya.

Kami berjalan menuju gerbang sekolah menemui satpam yang bertugas. Setelah kami mengutarakan tujuan kami ketemu kepala sekolah, satpam itu dengan posisi tetap duduk menunjuk posisi gerbang dengan hanya mengatakan satu kalimat, “lewat sana”.

Kami masuk ke sekolah tersebut. Di tangga menuju ruangan kepala sekolah, ada seorang ibu yang bertugas menjadi front office menghadang kami dengan pertanyaan, “mau kemana?” dengan wajah tanpa senyum. Saat tiba di ruangan kepala sekolah, kebetulan sat itu mereka sedang rapat. Sehingga kami harus menunggu sekitar 45 menit. Selama kami duduk, berseliweran guru datang dan pergi tanpa ada ada yang menghampiri dan bertanya, ” ada yang bisa saya bantu?”

Akhirnya kepala sekolah mempersilakan kami unutk masuk ke ruangannya. Baru ngobrol sebentar, tiba tiba seseorang di luar membuka pintu dan memasukkan kepalanya menanyakan sesuatu kepada kepala sekolah yang tengah mengobrol dengan kami. Tak lama dari itu tiba-tiba seorang guru masuk lagi langsung minta tanda tangan tanpa peduli bahwa kami sedang mengobrol. Karena kesal, akhirnya kepala sekolah itu mengunci pintu agar tak ada orang masuk. Dalam obrolan, saya sempat bertanya, apa kelebihan sekolah ini? Kepala sekolah terlihat berpikir keras selama beberapa menit sampai akhirnya menjawab,” ini seperti toko serba ada, semua ada”. Dari jawaban itu saya baru faham, pantas saja satpam sekolah ini tak punya sense of excelent service, kepala sekolahnya saja tak biss menjelaskan apa value preposition sekolahnya.

Kemegahan bangunan, serta berbagai prestasi yang telah diraih, rasanya menjadi tak ada apa-apanya. Karena bukan itu yagn membaut kita terkesan, melainkan atmosfir sekolah, hidden curricullum, culture.

Perjalanan kami lanjutkan ke sekolah Islam di tengah kampung. Bangunannya kecil sederhana. Pendiri sekolah ini seorang lulusan STM, tetapi mengabdikan separuh hidupnya untuk merumuskan dan menerapkan konsep  sekolah kreatif yang dapat memanusiakan manusia. Saat ditanya tentang sekolahnya, dengan lancar dia menjelaskan konsep sekolah kreatif yang memberikan keras besar pada kreativitas anak dan guru. Ruang kelas dibuat tanpa daun pintu. Hanya lubang lubang besar berbentuk kotak, lingkaran, bulan sabit, bintang. Sehingga ketika guru tidak menarik, siswa boleh keluar kapan saja. Tak ada seragam sekolah dan buku pelajaran.

Kami duduk di pelataran sekolah sambil menyaksikan keceriaan anak-anak yang tengah bermain. Selama kami duduk, ada tiga orang guru dalam waktu yang berbeda menghampiri menyambut kami dan bertanya, “ada yang bisa yang saya bantu?”. Saya menangkap semangat melayani para guru tersebut. Mereka ingin memastikan tak ada tamu yang tak dilayani dengan baik.

Saat mengamati anak-anak bermain, saya melihat ada seorang anak yang jatuh dan menangis. Saya menebak bahwa guru akan segera membantu. Tetapi tebakan saya salah, ternyata dua teman sekelasnya datang menghibur dan membantunya untuk berdiri dan memapahnya ke kelas. Saya cukup terkesan.

Di sekolah yang sederhana ini saya menangkap aura kebahagiaan dari siswa dan guru-gurunya. Saya tak perlu tahu kurikulum dan sistemnya, saya sudah bisa merasakannya. Konsep dan visi pendirinya, ternyata bukan hanya di kertas. Saya bisa melihat dalam praktik. Itulah hidden curricullum, culture.

Pada kesempatan lain rekan saya pernah juga terkesan oleh siswa sekolah internasiona yang kebanyakn siswanya berkebangsaan jepang. Saat itu rekan saya akan mengisi acara di depan siswa pukul 10 pagi. Setengah sepuluh aula masih kosong. Tak ada orang tak ada kursi. Lima belas menit sebelum acara para siswa datang, mengambil kursi lipat dan meletakkannya dalam posisi barisan yang rapi. Seusai acara, setiap siswa kembali melipat kursi dan meletakkannya di tempat penyimpanan, hingga ruangan kembali kosong dan bersih seperti semula. Itulah culture.

Dari cerita di atas, saya semakin tidak tertarik pada prestasi apa yang diraih sekolah, semegah apa sebuah sekolah. Saya lebih tertarik bagaimana budaya sekolah dibangun dan diterapkan? Banyak sekolah yang menginvestasikan begitu banyak waktu dan pikiran untuk menyabet berbagai penghargaan. Tapi tak banyak yang serius membuat sekolah menjadi berharga dengan karakter dan budi pekerti. Banyak guru dan pelatih didatangkan untuk memberikan pembinaan tambahan pada siswa agar dapat menang lomba. Tapi sedikit sekali pelatihan service excellence untuk satpam dan karyawan. Dinding sekolah dipenuhi foto-foto siswa yang juara ini juara itu, tapi jarang sekali foto sesorang siswa dipajang karena dia melakukan sebuah kebaikan. Kehebatan lebih dihargai daripada kebaikan. Prestasi lebih berharga dari budi pekerti.

Kita harus segera mengubah sistem pendidikan kita masih berorientasi pada ta’lim (mengajarkan) menjadi ta’dib (penanaman adab). Dalam konsep compassionate school, tadib harus diterapkan secara menyeluruh (wholse school approach) meliputi tiga area, pertama SDM yaitu guru, karyawan, orangtua, hingga satpam, kedua kurikulum, dan yang ketiga iklim atau hidden curricullum.

Sebuah sekolah bukanlah pabrik yang melahirkan siswa-siswa pintar. Tapi sebuah lingkungan yang membuat semua unsur di dalamnya menjadi lebih ber-adab. Untuk mengukur apakah sebuah sekolah sudah menjadi compassionate school tak serumit standar ISO. Cobalah berinteraksi dengan satpam sekolah, amatilah bagaimana guru beriteraksi, siswa bersikap. Rasakan atmosfirnya. Jika preastasi akademik bisa dilihat di selembar kertas, budi pekerti hanya bisa kita rasakan.


Saya Senior !!! Kamu Junior !!!

Saya Senior !!! Kamu Junior !!!


“Mas punya memory card?”, tanya seorang anak kecil dengan polos kepada saya.

“Oh Card Reader tah?”, Saya pun memberikan sebuah card reader kepadanya, karena tanpa dijelaskan lebih lanjut saya sudah paham apa sebenarnya yang dibutuhkan anak tersebut.

Selang beberapa menit kemudian si anak kecil tadi kembali menghampiri saya sambil membawa card reader

“Mas piye cara masange?”.

Saya pun membantu anak tersebut memasang memori card anak tersebut ke dalam card reader. Tak lupa pula saya mengingatkan agar card readernya nanti dicolokkan di belakang komputer tempat dia ngenet.

Tak seberapa lama kemudian lagi-lagi si anak kecil itu menghampiri saya, “Mas cara ngopy lagune gimana?”, tanya dia sambil garuk-garuk kepala.

Saya segera menghampiri bilik tempat anak kecil tersebut ngenet, yang kebetulan letaknya tidak begitu terlihat dari meja operator. Di sana saya melihat ternyata si anak kecil tersebut tidaklah sendirian. Ada dua orang anak seumuran SMA yang juga berada di bilik tersebut.

Akhirnya saya pun mengerti letak permasalahan dari anak kecil tersebut. Ternyata si anak tidak memperhatikan apa yang tadi saya sarankan agar card readernya dicolokkan di USB belakang komputernya.

“Piye bisa ngopy dik, lah wong memori kamu saja enggak terbaca di komputernya. tadi sudah saya bilang card readernya colokin di belakang kan?”, kata saya ngedumel.

“Makane dul didengerin orang ngomong”, kata salah satu teman anak kecil tersebut. Lucunya lagi salah satu teman anak tersebut nampak mendorong kepala si anak sebagai rasa kejengkelan karena mungkin anak tersebut dianggap melakukan kesalahan.

“Harusnya kan kamu mas yang tadi datang ke saya, bukan malah nyuruh temanmu yang enggak tahu apa-apa ini?”, pendelik saya ke pada dua anak tersebut.

Dulur blogger, perpaduan antara yang muda dan yang tua tentu saja dibutuhkan dalam sebuah interaksi di kehidupan bermasyarakat kita. Namun kadangkala ada seseorang yang menganggap jika kita telah menjadi seorang senior/tua, kita berhak untuk melakukan apapun kepada yang lebih muda/yunior. Banyaknya kasus perploncoan yang terjadi di lingkungan sekolah, kampus dan diklat-diklat organisasi, saya pikir semua terjadi karena kurangnya pemahaman tentang makna dari kata SENIOR. Senior diartikan sebagai sebuah status jika yang tua itu lebih tahu segala-galanya dari yang muda. Yang muda harus menuruti semua perintah yang tua atau kalau perlu yang muda harus mengalah meski tidak salah.

Demikian halnya yang terjadi pada si anak kecil dalam cerita di atas. Karena merasa lebih tua, dua orang anak SMA tersebut dengan seenaknya menyuruh seorang anak kecil tersebut. Sebaliknya si anak kecil dengan terpaksa menuruti kemauan temannya, karena mungkin saja si anak merasa takut kepada temannya yang lebih tua.

Senioritas mungkin tidak akan pernah terjadi manakala kita sadar dengan status senior/yunior yang saat ini kita sandang. Jika menjadi seorang senior jadilah seorang senior yang baik. Seorang senior yang bisa membingkai semua perintahnya kepada yang lebih muda dengan cara yang bijak. Yah, sebuah perintah yang bukan hanya sebatas bernilai kewajiban yang harus dijalankan oleh yang muda, tapi di dalam perintah itu ada sebuah pelajaran yang bisa didapatkan layaknya si anak kecil yang sekarang sudah mengenal arti dari benda bernama card reader. Dan di saat yang muda melakukan kesalahan ada baiknya pula kita mau berkaca, karena bisa jadi dibalik kesalahan yunior kita mungkin di situ ada kesalahan kita pula.

Dalam pencinta alam saya mengenal doktrin jika tidak ada senioritas di dalamnya. Jika saat ini kita menjadi orang yang lebih muda dibanding yang lain, semoga kita tidak mengartikan kalimat tersebut dengan dangkal. Meski adakalanya kita tak bisa nurut pasrah bongko’an begitu saja kepada yang lebih senior, tapi budaya unggah-ungguh (sopan santun) haruslah kita kedepankan kepada yang lebih senior dari kita.

Semoga saja kita tidak menjadi silap mata dengan status senior yang kita punya. Selalu mengayomi dan merangkul yang lebih muda layaknya adik-adik atau anak-anak kita sendiri, sebab pada hakikatnya kita adalah pribadi yang tak bisa berdiri sendiri. Mati pun kelak kita membutuhkan yang lebih muda untuk menguburkan jasad kita. Jadi kenapa kita harus terlalu membanggakan status senior yang saat ini kita sandang?.


Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 139 pengikut lainnya

Pos-pos Terbaru

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.