“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

Posts tagged “INDUSTRI

QUALITY ASSURANCE (QA) vs QUALITY CONTROL (QC)

QUALITY ASSURANCE (QA) vs QUALITY CONTROL (QC)

QUALITY
Beberapa tokoh mendefinisikan Quality, yaitu:
  • Juran     : fitness to use, kecocokan penggunaan produk
  • Crosby   : conformance to requirement, sesuai dengan yang dipersyaratkan
  • Deming   : kesesuaian dengan market demand
  • Feigenbaum         : total customer satisfaction
  • Garvin & Davis    : suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia, proses, environment yang memenuhi atau melebihi harapan customer.

Banyak perusahaan yang memakai Quality Assurance (QA) dan Quality Control ( QC) dalam satu Divisi, jadi QA itu ya QC. Quality Assurance dianggap Quality Control, walaupun mungkin kalau dari pengertian mungkin berbeda,tapi dalam faktanya QA adalah QC, jadi jarang ada Divisi Quality Assurance dipisah dengan Divisi Quality Control, karena sebenarnya acuan keduanya pada kualitas mutu, termasuk reliabilitinya.

Quality Control (QC)

Suatu perusahaan dapat  menentukan standar kualitas, proses dan prosedur internal masing-masing dan mengembangkannya dari waktu ke waktu, kemudian pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder) tersebut diminta untuk mengikutinya. Proses untuk memastikan semua pihak yang berkepentingan tersebut mengikuti dan mematuhi standar dan prosedur yang ditentukan inilah disebut dengan proses pengendalian kualitas atau Quality Control.

Quality control bertugas untuk menjamin mutu selama penerimaan bahan baku hingga pengendalian mutu pada bagian produksi (Muhandri dan Kardarisman, 2008). Citra mutu bahan maupun produk dari suatu industri yang sesuai dengan standar mutu dapat ditegakkan melalui pengawasan atau pemeriksaan mutu yaitu dengan memeriksa apakah segala sesuatu telah berjalan sesuai dengan rencana, intruksi-instruksi yang dikeluarkan dan prinsip yang dianut (Mukodingsih et al., 2015).

Pengawasan dan pengendalian mutu harus dilakukan sejak awal proses produksi sampai saluran distribusi untuk meningkatkan kepercayaan konsumen, meningkatkan jaminan keamanan produk, mencegah banyaknya produk yang rusak dan mencegah pemborosan biaya akibat kerugian yang dapat ditimbulkan (Junais et al., 2010). Program pengawasan mutu yang baik adalah mencakup pengawasan terhadap empat aspek, yaitu pengawasan kualitas bahan baku (ingredient quality), kualitas produk akhir (finished feed quality), kandungan zat anti nutrisi atau racun (control of toxic substances), dan kontrol terhadap proses produksi (process control) (Khalil dan Suryahadi, 1997).

Setiap organisasi yang menerapkan Quality Control (QC) harus memiliki Pedoman Kualitas yang biasanya disebut dengan Quality Manual. Quality Manual tersebut akan memberikan panduan kualitas ke berbagai unit kerja dan departemen. Dengan demikian, setiap individu dalam organisasi menyadari apa yang menjadi wewenang dan tanggung jawabnya sesuai dengan yang disebutkan dalam Quality Manual.

Pada dasarnya, Quality Control ini berkaitan dengan kegiatan operasional dan teknik yang digunakan untuk memenuhi persyaratan kualitas. Tujuan utama Pengendalian Kualitas atau Quality Control adalah memastikan bahwa produk yang akan dikirimkan ke pelanggan adalah bebas dari cacat dan dapat diterima sesuai dengan persyaratan kualitas yang ditentukan. Jika ditemukan produk yang cacat maka diperlukan tindakan perbaikan yang sesuai.

Mutu bahan baku sangat mempengaruhi hasil akhir dari produk yang dibuat. Pengendalian mutu bahan baku harus dilakukan sejak penerimaan bahan baku di gudang, selama penyimpan dan waktu bahan baku akan dimasukkan dalam proses produksi, sehingga perlu diamati sejak rencana pembelian bahan baku, penerimaan bahan baku di gudang, penyimpanan bahan baku di gudang, sampai dengan saat bahan baku tersebut akan digunakan (Prawirosentono, 2004).

Kontrol kualitas bahan baku bertujuan untuk memberikan informasi yang tepat tentang kandungan zat makanan dan antikualitas yang terkandung di dalamnya atau racun dari bahan baku, sehingga nilai nutrisi yang diinginkan dari ransum sebagai produk akhir akan didapat dengan baik dan tepat. Mutu bahan baku sangat mempengaruhi hasil akhir dari produk yang dibuat. Bahan baku dengan mutu yang baik akan menghasilkan produk akhir yang baik dan sebaliknya jika mutu bahan baku buruk akan menghasilkan produk buruk (Kurniawati, 2005). Pemilihan dan pemeliharaan kualitas bahan baku menjadi tahap penting dalam menghasilkan ransum yang berkualitas tinggi. Kualitas ransum yang dihasilkan tidak akan lebih baik dari bahan baku penyusunnya (Fairfield, 2003). Oleh karena itu, diperlukan bahan baku yang berkualitas bagus untuk digunakan dalam proses produksi. Bahan baku yang digunakan untuk produksi seharusnya keberadaannya harus bersifat kontinyu, sehingga dapat digunakan saat musim paceklik maupun musiM penghujan (Mukodiningsih et al., 2015). Pengadaan bahan baku perlu diawasi agar mengontrol kualitas setiap bahan yang diterima pada suatu pabrik. Sebelum bahan dibeli terlebih dahulu diambil sedikit sampel  untuk dianalis di laboratorium, hasil analisis tersebut kemudian dibandingkan dengan kandungan nutrisi standar. Selain itu sampel bisa diambil di beberapa tempat dan dicium, bila sampel tersebut berbau tengik atau tidak sedap lagi dan terdapat jamur pada bahan, itu menandakan bahwa bahan tersebut sudah tidak bagus lagi atau tidak berkualitas dijadikan suatu bahan (Kuswandi, 2011). Tahapan penerimaan bahan baku dimulai dari pemeriksaan bahan baku, kemudian penyerahan bahan sampel untuk diuji, proses pendistribusian yang sesuai, penyimpanan sampel dan penolakan bahan baku jika kualitas yang diberikan dari supplier tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan (Suparjo, 2010).

Bahan baku yang telah diterima gudang, selanjutnya diproses dalam mesin-mesin produksi untuk diolah menjadi konsentrat. Dalam hal ini, selain cara kerja peralatan produksi yang mengolah bahan baku dipantau, juga hasil kerja mesin-mesin tersebut dipantau dengan cara statistik agar menghasilkan barang sesuai yang direncanakan (Prawirosentono, 2004).

Pengendalian mutu selama proses produksi dilakukan dengan cara mengambil contoh (sampel) pada selang waktu yang sama. Sampel tersebut dianalisis, bila tidak sesuai berarti proses produksinya salah dan harus diperbaiki (Baedhowie dan Pranggonowati, 2005). Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum proses pengolahan adalah pemeriksaan dan perawatan alat secara periodik, pemeriksaan fungsi operasi sebelum pemakaian, pembersihan alat dari sisa proses produksi, pemeriksaan dan pengawasan akurasi fungsi alat dan bahan yang diolah pada setiap tahapan proses, serta pengendalian dan pengawasan lingkungan pabrik yang akan berpengaruh terhadap mutu  produk yang dihasilkan (Mukodiningsih et al., 2015).

Tiap tahap proses produksi harus diawasi sehingga kesalahan atau penyimpangan yang terjadi dalam proses produksi dapat diketahui, untuk segera dilakukan perbaikan atau koreksi (Attahmid, 2009). Pengawasan mutu saat proses penimbangan bahan baku perlu dilakukan dengan cara yang tepat sesuai dengan hasil formula. Akurasi timbangan harus sangat diperhatikan karena penting untuk mendapatkan mutu produk yang berkualitas dengan komposisi yang tepat sesuai dengan formula yang dikehendaki. Proses pencampuran atau mixing merupakan salah satu cara untuk mengolah bahan menjadi produk yang mempunyai sifat yang berbeda dari bahan asal (Mukodiningsih et al., 2002).

Pengendalian mutu produk akhir perlu dilakukan sebagai upaya untuk mempertahankan mutu agar tidak mengalami penurunan mutu selama proses penyimpanan dan distribusi. Produk akhir harus diawasi mutunya sejak awal proses produksi hingga tahap pengemasan, penyimpanan dan pengiriman kepada konsumen, hal ini bertujuan agar produk cacat atau rusak tidak sampai ke konsumen (Arpah, 1993). Hal-hal yang dapat dilakukan dalam rangka pengendalian mutu produk adalah pengawasan mutu atau pemeriksaan mutu produk akhir dan pemeriksaan serta pengawasan sistem pelabelan dan pengemasan, oleh karena itu pemeriksaan mutu produk akhir diperlukan untuk mendapatkan kepastian atas kesesuaian hasil dengan formulasi dan tujuan proses yang telah ditetapkan mencakup homogenitas campuran, performans fisik, kandungan nutrisi dan lain-lain (Mukodiningsih et al., 2015). Apabila produk atau produk setengah jadi sesuai dengan bentuk, ukuran dan standar mutu yang direncanakan, maka produk-produk tersebut dapat digudangkan dan dipasarkan (didistribusikan), namun apabila terdapat yang cacat, maka barang tersebut harus dibuang atau remade dan mesin perlu disetel kembali agar beroperasi secara akurat (Prawirosentono, 2004).

Sistem pelabelan dan pengemasan perlu diperhatikan karena bertujuan untuk menghindari kesalahan atau kekeliruan yang mungkin terjadi selama proses produksi, serta berfungsi sebagai dasar informasi dan penjaminan mutu pabrik atas produk yang dipasarkan. Informasi yang terdapat pada label meliputi
informasi tentang nama produk dan komposisi produk, produsen, catatan lain terkait dengan optimalisasi fungsi dan manfaat produk  (Mukodiningsih et al., 2015). Pemberian merk pada bagian luar kemasan sangat perlu dilakukan, seperti dengan mencantumkan nama atau alamat dari perusahan pembuat, jenis, nama barang, tanggal kadaluwarsa, selain itu lampiran cara penggunaan, komposisi zat dan penyimpanan sebaiknya diperhatikan (Murtidjo, 2002). Pengemasan dapat mencegah kerusakan produk akibat pengaruh
lingkungan luar yaitu kerusakan mekanis, perubahan kadar air, penyerapan air dan interaksi oksigen, selain itu pengemasan bahan maupun produknya serta pengelompokan selama penyimpanan akan mempermudah pengawasan terhadap hama selama penyimpanan. Bahan yang mudah rusak harus dikemas
dengan bahan pengemas yang tahan terhadap serangga dan pengemasan dilakukan rapat atau kedap udara (Mukodiningsih et al., 2015)

Standar pengsian yang ditetapkan yaitu standar berat produk ideal yang dikemas, jika berat produk yang dikemas kurang atau lebih besar maka kemasan dinyatakan tidak ideal dan untuk itu operator kemasan
perlu memeriksa setting mesin dan mengurangi atau menambah berat secara manual (Trisyulianti et al., 2005). Produk akhir yang telah jadi, kemudian akan dikemas dan dilakukan penyimpanan di gudang (Krisnan, 2008).

Pergudangan sangat penting untuk menyimpan bahan maupun produk sebelum didistribusikan, gudang yang baik harus menyediakan tempat penerimaan dan pemeriksaan barang yang baru datang, menyediakan tempat barang yang segera diperlukan dengan praktis dan mudah dalam pengambilan (Mukodiningsih et al., 2015). Apabila sistem pergudangan tidak ditangani dengan baik, maka akan mempengaruhi pada bahan dalam gudang. Penyusutan ini erat kaitannya dengan lama waktu penyimpanan. Proses penyimpanan ini terjadi perubahan komposisi bahan makanan yang akan menurunkan kualitas yang disimpan (Krisnan, 2008). Proses penyimpanan akan berpengaruh pada mutu  yang dihasilkan. Penyimpanan yang terlalu lama atau dalam kondisi yang kurang baik akan menurunkan mutu bahan makanan. Lama penyimpanan yang tidak sesuai dan cara menyimpan yang keliru dapat menjadi penyebab utama menjadi keras dan
menjamur serta semakin lama penyimpanan akan mengakibatkan kadar air yang semakin meningkat karena kadar air menentukan daya simpan. Bahan yang berkadar air tinggi daya simpannya lebih singkat dibandingkan ransum berkadar air lebih rendah (Yulianti, 2001).  Apabila jangka penyimpanan pendek (kurang 4 bulan) kemasan dapat disimpan dalam kemasan masal dengan memperhatikan kualiatas serta kadar air suatu bahan  (Komandoko, 2002).

Syarat gudang yang baik adalah kerangka utama kuat terdiri dari kerangka logam, dinding terbuat dari semen atau beton agar bahan-bahan yang disimpan dapat awet, ventilasi dibuat dengan memanjang di bawah atap, diberi kawat atau kasa dan saling berhadapan serta lantai gedung terbuat dari semen dan harus ada lampu penerang (Mukodiningsih et al., 2015). Lingkungan gudang juga perlu diperhatikan dalam penyimpanan, salah faktor yang mempengaruhi yaitu kelembaban gudang pabrik . Kelembapan ruang penyimpanan mempengaruhi kualitas bahan yaitu dengan semakin tingginya kelembaban udara ruang penyimpanan, maka akan terjadi absorpsi uap air dari udara ke ransum sehingga menyebabkan kadar air bahan meningkat, begitu juga sebaliknya (Yulianti, 2001). Pencegahan kerusakan bahan oleh serangga dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida dengan cara disemprotkan atau melalui pengeringan, pencampuran dengan bahan yang tajam dan menyimpan pada wadah kedap udara (Mukodiningsih et al., 2015).

Sistem penyimpanan bahan  maupun konsentrat yang baik didalam gudang dapat dilakukan dua sistem yaitu sistem First In First Out (FIFO) dan sistem Last In First Out (LIFO), Sistem FIFO diterapkan pada penyimpanan produk yang waktu pembuatannya tidak sama (Mukodiningsih et al., 2015), sedangkan sistem LIFO diterapkan untuk penyimpanan produk  di dalam gudang dengan kapasitas terbatas dan disimpan umumnya dibuat untuk jangka waktu sama (Kartadisastra, 1994).

Cara penyimpanan yang baik yaitu tidak mencampur bahan, tidak saling mencemari, bebas dari bahan yang rusak, terdapat jarak antara bahan yang disimpan dengan dinding serta barang yang disimpan dikemas dan disusun dengan baik menyerupai susunan batu bata (Mukodiningsih et al., 2015). Penyimpanan bahan  dan konsentrat dapat diberi alas berupa pallet. Pallet memiliki peranan yang cukup penting dalam penyimpanan, karena pallet mempunyai fungsi untuk melindungi bahan dari kontak langsung dengan lantai dan memperlancar sirkulasi udara serta memudahkan pengangkutan dan pemindahan produk (Harsono, 1984).

Selama proses pengangkutan dan distibusi selalu ada kemungkinan akan terjadinya kerusakan sehingga mengakibatkan penurunan mutu, oleh karena itu diperlukan pengandalian mutu selama distribusi dan transportasi untuk mencegah adanya kerusakan. Pencegahan adanya kerusakan selama proses distribusi dapat dilakukan dengan mengusahakan barang yang dikirim tidak lecet, ataupun terhimpit serta memilih alat yang sesuai dengan sifat barang yang dikirim sehingga diperlukan kontrol bahan  atau konsentrat yang akan dikirim ke konsumen (Arpah, 1993). Pengendalian mutu yang terjadi jika terdapat kerusakan akibat benturan antar pengemas maupun kemasan dengan dinding alat pengangkut yaitu dengan memberikan bantalan-bantalan pada pinggir-pinggir alat pengangkut atau dengan penggunaan wadah atau kemasan yang tahan terhadap tekanan (Mukodiningsih et al., 2015).

Teknik dan Alat yang digunakan Quality Control (QC)

Terdapat tiga teknik Quality Control yang umum digunakan oleh sebuah perusahaan manufakturing yaitu Inspeksi (Inspection), pengambilan sample secara statistik (Statistical Sampling) dan Tujuh alat pengendalian kualitas (QC Seven Tools).

Inspeksi atau Inspection adalah menguji produk-produk yang akan dikirim ke pelanggan untuk memastikan tidak ada yang cacat dan sesuai dengan persyaratan kualitas yang telah ditentukan.

Statistical Sampling adalah memilih sejumlah unit/produk secara acak dari suatu batch atau lot untuk diperiksa kembali dengan tujuan untuk memastikan produk yang akan dikirimkan tersebut tidak terdapat produk cacat dan sesuai dengan persyaratan kualitas yang ditentukan.

QC Seven Tools atau Tujuh alat pengendalian kualitas terdiri dari Histogram, Scatter Diagram, Control Chart, Check Sheet, Pareta Diagram, Cause and Effect Diagram dan Flow Chart. Alat-alat tersebut digunakan untuk membantu menemukan ketidaksesuai dan kecacatan pada produk.

Quality Assurance (QA)

Quality Assurance (QA) atau jika diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Indonesia adalah “Penjaminan Kualitas”. Istilah “Assurance” atau “Jaminan” menyatakan suatu kepastian ataupun kepercayaan terhadap produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Quality Assurance (QA) menjamin kualitas produk yang dihasilkan dan memastikan proses pembuatan produk tersebut sesuai dengan standar dan persyaratan yang telah ditentukan.

Quality Assurance merupakan suatu pendekatan yang berbasis PROSES (process base approach) yang tujuan utamanya adalah mencegah produk cacat mulai dari tahap perencanaan (planning) hingga tahap pengiriman produk ke pelanggan sehingga menghindari terjadi pengerjaan ulang (rework) dan keluhan pelanggan yang akan merugikan reputasi perusahaan serta pengeluaran biaya-biaya akibat kualitas yang buruk.

Quality Assurance adalah proses yang pro-aktif yaitu melakukan penekanan terhadap perencanaan, dokumentasi dan  penentuan panduan kualitas pada awal proyek dimulai untuk memahami persyaratan dan standar kualitas yang diharapkan. Setelah semua persyaratan dan standar kualitas yang diinginkan tersebut di-identifikasikan, maka diperlukan pengembangan perencanaan untuk memenuhi persyaratan dan standar kualitas yang diinginkan tersebut.

Teknik dan Alat Quality Assurance

Terdapat tiga teknik ataupun alat yang digunakan untuk menjamin kualitas suatu produk yaitu Quality Audit, Process Analysis, Quality Management and Control Tools.

Dalam Quality Audit, suatu tim ahli yang berasal dari pihak ketiga eksternal (bukan dari internal perusahaan) akan melakukan peninjauan proses dan prosedur yang telah ditentukan oleh perusahaan. Apabila ditemukan perbedaan antara apa yang dilakukan dengan apa yang dinyatakan dalam prosedur atau proses maka perusahaan yang bersangkutan (perusahaan yang diaudit) diminta untuk melakukan tindakan perbaikan (Corrective Action). Pihak ketiga dari eksternal tersebut juga akan memberikan saran-saran untuk perbaikan pada proses-prosesnya. Quality Audit ini memastikan proses dan prosedur yang telah disetujui dan yang telah ditentukan tersebut telah dilaksanakan dengan baik dan diikuti oleh pihak yang bersangkutan.

Process Analysis adalah menganalisis setiap proses untuk menemukan kemungkinan (potensi) terjadinya produk cacat ataupun proses-proses yang tidak memiliki nilai tambah kemudian carikan akar penyebabnya dan lakukan tindakan perbaikannya.

Quality Management dan Control Tools mencakup berbagai teknik diagram yang membantu untuk menemukan permasalahan, ide perbaikan, pengambilan keputusan dan prioritas permasalahan yang harus diselesaikan. Contoh alat-alat Quality Management and Control Tools ini diantaranya seperti Diagram Pohon, Diagram Afinitas, Diagram Jaringan dan lain-lainnya.

Perbedaan Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA)

Meskipun sasaran sama tentang kualitas tetapi QA dan QC adalah dua pekerjaan bidang yang berbeda, dimana QA itu adalah prosedur untuk pencapaian mutu. Misalnya Quality plan beserta dokumen pendukungnya. Dan QC adalah aktifitasnya (pelaksanaa dari prosedur tsb) yang dibuktikan dengan record-record.

Menurut definisi pada ISO 9000:2000 (QMS-Fundamentals and Vocabulary), adalah sbb:

Quality control (lihat section 3.2.10); part of quality management focused on fulfilling quality requirements.

Quality assurance (lihat section 3.2.11); part of quality management focused on providing confidence that quality requirements will be fulfilled.

Jadi kalau coba diterjemahkan, secara singkat QC terfokus pada pemenuhan persyaratan mutu (produk/service) sedangkan QA terfokus pada pemberian jaminan/keyakinan bahwa persyaratan mutu akan dapat dipenuhi. Atau dengan kata lain, QA membuat sistem pemastian mutu sedangkan QC memastikan output dari sistem itu memang benar-benar memenuhi persyaratan mutu.

Kalau dari definisi ini, kegiatan-kegiatan inspeksi dan uji (in-comingin-processoutgoing) akan masuk kategori QC, sedangkan hal-hal seperti perencanaan mutu, sertifikasi ISO, audit sistem manajemen, dsb tentu masuk kategori QA.

Beberapa perusahaan, saat ini tidak lagi membedakan antara QA dan QC di dalam operasional quality management-nya. Cukup disebut departemen Quality, di dalamnya ada kegiatan merancang jaminan bahwa persyaratan mutu akan dipenuhi dan sekaligus bagaimana memenuhi persyaratan mutu tersebut.

QA = Quality Assurance , to lead and operated by assure of an organization successfully, it is necessary to direct and control it in a systematic and transparent manner. Maksudnya adalah meyakinkan/menjamin secara kualitas dengan suatu sistematis kerja dan keterbukaan untuk keberhasilan suatu pekerjaan secara keseluruhan organisasi di setiap lini dengan melalui sistem control.

QC = Quality Control, to take control of quality by procedural and applicable reference that implemented direct to process system in good and full fill of minimum requirement as finally results. Maksudnya adalah pengendalian mutu dengan prosedur kerja berdasarkan referensi yang dapat diterapkan dan diimplementasikan langsung di proses pekerjaan tersebut untuk memenuhi persyaratan minimum sebagai hasil akhir pekerjaan.

Hubungan pendeknya adalah bahwa QA yang meyakinkan / menjamin QC.

QC adalah sistem kendali yang terintregrasi didalam proses, dia berfungsi mencegah terjadinya defect/ non corformity output, salah satu cara yang sudah kita kenal antara lain right from begining atau benar sejak awal. metode ini terbukti mampu mengeliminir non corformity(ketidaksesuaian) pada output dengan pencegahan.

Sedangkan QA lebih tinggi letaknya dalam struktur organisasi, dia memberi terhadap arahan yang keputusan akhirnya adalah layak atau tidaknya produk dikeluarkan. Proses ini tentunya melibatkan proses-proses lainnya seperti produksi, inventorymaintenance. QA lebih menjaga corporate image dengan mencegah defect ke konsumen. parameternya hanyalah hitam-putih dengan nilai yang telah dirumuskan dalam fungsi yang kita sebut kualitas.

QC sering membuat suatu organisasi menjadi menggelembung dan gemuk, jika kita tidak memahami konsep produktifitas. karena man power planning-nya akan menggelembung atas nama azas independent, sebenarnya orang-orang yang terlibat dalam proses tersebut itulah fungsi QC. orang Jepang sangat paham akan hal ini dan melahirkan suatu model management yang disebut TQC dengan produknya yang kita kenal sebagai GKM (Gugus Kendali Mutu). kesadaran mereka untuk memperbaiki aktifitas yang tidak perlu dan mengefisienkan langkah proses diluar jam dan lokasi kerja (walaupun sambil minum di kedai minuman atau makanan). Sesungguhnya proses PDCA sedang berjalan lewat diskusi non formal.

ini bukan hal yang mudah sebab “Management is no Sains

contohnya : Total Quality Management berasal dari Mike Robson, seorang inggris, berdasarkan prinsip bahwa setiap pekerja secara individu mempunyai tanggung jawab terhadap kualitas pekerjaannya dan pemikiran ini dikembangkan juga kepada para pemasok supaya perusahaan dapat memproduksi barang dan atau jasa yang berkualitas.

Prinsip ini dikembangkan dari Total Quality Circle yang berasal dari Jepang, dimana para pekerja berkumpul dalam gugus kendali mutu untuk mendiskusikan dan memecahkan masalah dan apa yang dapat dilakukan untuk perbaikan dan peningkatan kualitas. Hingga “poke yoke” dari Shigeo Shingo yang menjadi dasar pengembangan SIX SIGMA.

Secara fungsi QC merupakan orang operasional yang langsung melakukan aktivitas checking atau inspeksi terhadap produk, kalau di lini produksi biasanya ada seoarang yang berfungsi sebagai pengontrol kualitas produk seperti sampling dan aktifitas lainnya.

Sedangkan untuk QA, dia lebih berperan sebagai analyst untuk memperbaiki mutu produk, dan datanya bisa diperoleh dari data sampling orang QC atau feedback dari internal perusahaan ataupun adanya quality complain dari luar perusahaan yaitu customer. Dan QA biasanya juga berperan sebagai sertifikasi dari produk tersebut…

Jadi intinya QC adalah seorang executor/operator dan QA adalah conceptor.

QA : Penjamin Mutu …

QC : Pengendali Mutu…

Kembali ke perbedaan QC dan QA. Quality control (pengendalian mutu) adalah kegiatan untuk memantau, mengevaluasi dan menindaklanjuti agar persyaratan mutu yang ditetapkan tercapai (Productprocessserviceinspectiontestingsamplingmeasurement dan calibration).

Sedangkan Quality Assurance (penjaminan mutu) adalah semua tindakan terencana, sistematis dan didemonstrasikan untuk meyakinkan pelanggan bahwa persyaratan yang ditetapkan “akan dijamin” tercapai. Salah satu elemen dari QA adalah QC. Elemen yang lain yaitu: Planningorganization for qualityEstablished ProcedureSupplier SelectionCorrective ActionDocument controltrainingAudit dan Management review.

QA (Quality Assurance) : tugasnya memahami specification customer dan standard yang berhubungan dengan produk, kemudian membuat / menentukan cara inspectionnya (berupa prosedur) dan mendokumentasi hasil inspectionnya (manufacturing data report). QA lebih banyak paper work, umumnya memiliki skill inspection yang baik dan skill menulis procedure dan familiar dengan engineering & industrial standards.

QC (Quality Control) : tugasnya melakukan inspection berdasarkan prosedur yang dibuat dan disahkan oleh QA. QC lebih banyak melakukan inspection pada process manufacturing dan membuat laporannya

Dalam perusahaan besar, biasanya QA dan QC dipisah dan memiliki pimpinan masing-masing. Sedang dalam perusahaan menengah / kecil kebanyakan digabung.

QA ada di dalam suatu perusahaan yg sudah establish/ memiliki sertifikasi ISO. Dan ruang lingkupnya lebih besar dalam menjamin kualitas produk dan juga berhak mereview suatu standart/metode analisa demi menjaminan mutu. Sedangkan QC ruang lingkupnya hanya pengontrol tidak seperti QA.

Jika terdapat QA pd suatu perusahaan, maka bisa dipastikan terdapat QC di dalamnya.

Berikut ini adalah beberapa perbedaan antara Quality Control dan Quality Assurance.

  1. Quality Assurance (QA) fokus pada pencegahan cacat sedangkan Quality Control (QC) fokus pada identifikasi atau menemukan cacat.
  2. Di Quality Assurance (QA), kita mencari cara yang paling efektif untuk menghindari cacat sedangkan di Quality Control (QC) kita untuk berusaha untuk mendeteksi kecacatan dan kemudian mencari cara perbaikan untuk membuat kualitas produk menjadi lebih baik.
  3. Quality Assurance (QA) adalah proses pro-aktif sedangkan Quality Control (QC) adalah proses reaktif.
  4. Quality Assurance (QA) merupakan pendekatan berdasarkan proses (process base approach) sedangkan Quality Control (QC) merupakan pendekatan berdasarkan produk (product base approach).
  5. Quality Assurance (QA) melibatkan proses dalam menangani masalah kualitas sedangkan Quality Control (QC) melakukan verifikasi terhadap kualitas produk itu sendiri (pada produknya).
  6. Kualitas Audit (Quality Audit) merupakan salah satu contoh proses pada Quality Assurance (QA) sedangkan Inspeksi dan Pengujian (testing) terhadap produk merupakan contoh proses pada Quality Control (QC).

Manfaat Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA)

Berikut ini adalah beberapa manfaat adanya Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA) di industri manufakturing.

  1. Menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.
  2. Menghindari pemborosan (waste).
  3. Meningkatkan efisiensi operasional.
  4. Memberikan kepuasan pada pelanggan.
  5. Mengurangi pekerjaan ulang yang merugikan perusahaan dalam segi finansial maupun waktu.
  6. Memotivasi tim dalam bekerja lebih baik dengan kualitas yang tinggi.
  7. Meningkatkan kepercayaan pelanggan.

Reference:

https://jakfarsegaf.wordpress.com/2009/08/13/perbedaan-antara-quality-assurance-qa-dan-quality-control-qc/

https://ilmumanajemenindustri.com/perbedaan-pengertian-quality-control-qc-quality-assurance-qa/

Dewi A.K., Utama C.S., Mukodiningsih S., 2014. Kandungan Total Fungi Serta Jenis Kapang dan Khamir Pada Limbah Pabrik Pakan Yang Difermentasi Dengan Berbagai Arns Startex ‘Starfung’. Agripet, 14(2):102-106.

Iklan

MENGENAL LEBIH DEKAT : DESINFEKTAN PARACETIC ACID / ASAM PARASETAT ( PAA )

MENGENAL LEBIH DEKAT : DESINFEKTAN PARACETIC ACID

Posted by Widiantoko, R.K

Nama Kimia : Peroxyacetic Acid, Ethaneperoxic Acid

Nama Lain : Per Acid, Periacetic Acid, PAA

Rumus Molekul : C2H4O3

Peracetic acid adalah komponen organik dengan rumus molekul CH3CO3H. senyawa peroksida organik ini tidak berwarna dengan karakteristik berbau tajam mirip seperti asam asetat. Ini bersifat sangat korosif. Asam paraasetat mengandung asam diatas asam asetat dengan pKa sebesar 8,2.

KARAKTERISTIK 
Komposisi:
Asam perasetat adalah campuran asam asetat (CH3COOH) dan hidrogen peroksida (H2O2) dalam larutan berair. Asam asetat merupakan komponen prinsip cuka.

Sifat:
Peracetic acid adalah oksidator yang sangat kuat dan memiliki potensi oksidasi kuat dari klorin atau klorin dioksida. Berbentuk cairan, jelas, dan bening tidak berbuih. Peracetic acid memiliki bau menyengat sperti asam asetat, dan pH asam (2.8). Rapat massanya adalah 1.114 dan beratnya 9.28 lb per galon. PAA terbentuk oleh reaksi dari asam asetat dan hidrogen peroksida. Reaksi ini dianjurkan untuk berlangsung selama 10 hari untuk mencapai PAA yang tinggi sesuai ddengan persamaan berikut :

CH3COOH + H2O2 ↔ CH3COOOH + H2O

Karena keterbatasan reaksi, PAA dapat mencapai 15% dengan residu hidrogen peroksida (hingga 25%) dan asam asetat hingga 35% serta air mencapai 25%. Metode tambahan dari persiapan oksidasi asetal halid atau alternatf sebagai  produk akhir dari anhidrida asetat, hydrogen peroksida dan asam sulfat (budavari, 1996). Metode lain yaitu reaksi tetra asetil etilen diamin (TAED) dengaan adanya larutan basa hydrogen peroksida (davies and deary,1991). Beberapa sumber nampaknya sering menggunakannya dalam pembuatan pulp, kertas, dan tekstil (Pan, Spencer, and Leary, 1999).

Penggunaan utama asam perasetat dalam pengolahan makanan adalah sebagai pembersih pada permukaan makanan dan sebagai disinfektan untuk buah-buahan, sayuran, daging, dan telur (Evans, 2000). PAA juga dapat digunakan untuk disinfeksi diresirkulasi air flume (Lokkesmoe dan Olson, 1993). Kegunaan lain dari PAA termasuk menghilangkan deposito, bau menyengat, dan pengupasan  biofil dari permukaan kontak makanan (Blok, 1991; Mosteller dan Uskup 1993;. Marriot, 1999; Fatemi dan Frank 1999). Hal ini juga digunakan untuk memodifikasi pati makanan oleh oksidasi ringan dan digunakan sebagai pemutih (Food Chemicals Codex, 1996).

PAA / Paracetic acid merupakan desinfektan dengan range yang cukup lebar karena memiliki penghambatan terhadap gram + maupun gram -. mould maupun yeast serta aktif terhadap spora dan virus pada suhu ruang.

PAA dapat larut dalam lemak dan air, tidak terpengaruh pelemahan oleh sel enzim maupun bakteri sehingga sangat efektif sebagai microbicidal.

Saat dibandingkan dengan desinfektan lain seperti klorin karena tidak terpengaruh oleh keberadaan material / zat organik serta tidak membentuk hasil samping reaksi atau zat yang beracun kecuali dalam konsentrasi sangat rendah hingga bisa diabaikan.

Asam perasetat memiliki kemampuan oksidasi  yang efektif pada nilai pH asam meskipun desinfeksi sering dilakukan pada nilai pH netral, oleh karena itu diperlukan konsentrasi desinfektan yang semakin tinggi untuk menjamin efektivitas asam perasetat. Keefektifannya terhadap bakteri
pada konsentrasi  lebih rendah dari 100 mg / l dengan waktu kontak 5 menit; konsentrasi yang jauh lebih tinggi diperlukan untuk mendapatkan inaktivasi spora mulai dari 500 hingga 30,000 ppm untuk waktu kontak mulai dari 15 menit hingga 15 detik pada suhu lingkungan (Baldry., 1983). Untuk virucidal belum sepenuhnya dipelajari, tetapi tampaknya membutuhkan konsentrasi lebih tinggi dan dengan waktu kontak yang lebih lama bila dibandingkan untuk inaktivasi bakteri. Untuk inaktivasi virus dalam air demineralisasi dibutuhkan konsentrasi750 hingga 1500 ppm diperlukan dengan waktu kontak minimum 15 menit (Baldry et al., 1991).

Penggunaan secara luas dalam  disinfeksi CIP menggunakan 0,1-0,5% asam perasetat juga digunakan untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi pembentukan dari bakteri pada umumnya. Asam perasetat juga dapat digunakan untuk pengolahan limbah tersier hingga mengurangi atau benar-benar menonaktifkan bakteri kontaminasi feses (coliform total dan feses dan streptokokus fekal).

Kombinasi:
Asam perasetat biasanya terjadi dengan hidrogen peroksida dan asam asetat dalam larutan aqueous. Persiapan komersial mengandung stabilizer sintetis seperti 1- hydroxyethylidene-1,1-diphosphonic acid (HEDP) atau 2,6 – pyridinedicarboxylic (dipicolinic) asam untuk memperlambat laju oksidasi atau  dekomposisi (Kurschner dan Diken, 1997)

Menurut peraturan di dalam FDA, HEDP dapat digunakan dengan PAA pada tingkat yang tidak melebihi 4,8 ppm dalam air yang digunakan untuk mencuci  buah-buahan segar dan sayuran (21 CFR 173,315 (a) (5)).

Asam perasetat adalah salah satu microbiocides paling kuat yang tersedia dan aktif terhadap spektrum yang luas dari mikro-organisme termasuk bakteri aerobik dan anaerobik, spora bakteri, jamur, jamur khamir lainnya, dan juga ganggang.
• Cepat bereaksi
• tidak berbuih
• tidak menmbulkan polusi terhadap lingkungan
• Tidak perlu bilas setelah digunakan karena asam parasetat akan terdegradasi menjadi asam asetat, air dan oksigen.

Penggunaan Sterilisasi Basah PAA :

Sterilisasi adalah proses mematikan semua mikroorganisme termasuk bakteri, spora bakteri,kapang dan virus. Sterilisasi yang tidak baik dapat menghasilkan penyebaran infeksi bakteri dan virus seperti hepatitis dan HIV.

Perebusan bukanlah metode sterilisasi. Sterilisasi umumnya dilakukan menggunakan autoklaf untuk yang menggunakan panas bertekanan. Cara lain yang kini dikembangkan adalah sterilisasi basah untuk produk-produk yang tidak tahan panas.

Teknologi pengemasan aseptik untuk minuman yang sensitif terhadap asam kini telah dikembangkan. Konsep aseptis ini menggunakan larutan PAA (peracetic acid) sebagai medium sterilisasi, isolator mikrobial untuk pengendali lingkungan, Sistem aseptik ini digunakan dalam sterilisasi botol PET yang sat ini banyak digunakan dalam industri minuman.

Dasar sterilisasi basah dengan PAA

  • Botol disterilkan dengan penyemprotan larutan PAA dengan botol menghadap ke bawah, PAA dan tampung untuk dapat digunakan kembali.
  • Botol dicuci dengan menyemprotkan air steil (botol menghadap ke bawah), air cucian ditampung untuk dapat digunakan kembali.
  • Kendalikam laju aliran semprotan, konsentrasi PAA, suhu dan tekanan.
  • Pengurangan mikroorganisme yang dilakukan dapat mencapai 6 log penurunan (6D)

Penggunaan PAA lebih baik daripada hidrogen peroksida karena lebih efektif terhadap kontaminan. Suhu yang umum digunakana dalah 65 C atau kurang jika produknya asam. Larutan PAA tidak bermigrasi ke dalam molekul PET selama sterilisasi sehingga digunakan sebagai alternatif pengganti hidrogen peroksida yang dapat bermigrasi ke dalam matrik PET.

PENYIMPANAN DAN DAYA TAHAN
∞ Simpan dalam kondisi dingin, jauh dari sinar matahari
∞ Simpan dalam wadah tertutup ketika tidak digunakan
∞ Simpan jauh dari bahan yang bersifat tidak kompatibel
∞ Bahaya dekomposisi jika produk tersebut dalam wadah tertutup atau sistem unvented
∞ suhu penyimpanan maksimum – 30 ° C
∞ suhu penyimpanan Rekomendasi – 15 ° C
∞  bahan yang tidak termasuk asam, basa, (zat pengoksidasi dan pereduksi) dan bahan mudah terbakar
∞ Kontak dengan kuningan, perunggu, tembaga, besi, timah, mangan, nikel, perak, seng dan logam katalitik lainnya mempercepat dekomposisi oksigen, gas dan panas. Oleh karena itu, bahan-bahan ini harus absen
dalam pompa transfer dan pipa. Kontak dari bahan terkonsentrasi dengan karet alam dan sintetis harus dihindari
∞ Salah satu bahan konstruksi direkomendasikan untuk stainless steel 304L, 316L, PTFE, PVDF dan kaca. PVC lunak dan polythene cocok untuk  jangka pendek
∞ daya tahan adalah selama 6 bulan dalam kondisi penyimpanan yang direkomendasikan. penyimpanan yang lama dapat mengakibatkan hilangnya kandungan asam perasetat

UPAYA PERTOLONGAN PERTAMA
Kontak Mata:
Periksa dan lepaskan contact lenses. segera basuh mata dengan air yang banyak minimal selama 15 menit. Air dingin dapat digunakan. Segera dapatkan perhatian medis.

Kontak pada Kulit:
Segera basuh kulit dengan air yang banyak minimal selama 15 menit sambil melepaskan pakaian yang terkontaminasi dan sepatu. Tutupi kulit yang teriritasi. Air dingin dapat digunakan. Cuci pakaian sebelum digunakan kembali. Bersihkan sepatu sebelum digunakan kembali. Dapatkan perhatian medis segera.

Penaganan serius : Cuci dengan sabun desinfektan dan tutupi kulit terkontaminasi dengan krim anti-bakteri. Carilah perhatian medis segera.

Terhirup:
Jika terhirup, segera cari udara segar. Jika kesulitan bernapas, berikan pernapasan buatan atau berikan oksigen. Dapatkan perhatian medis segera.

Penanganan serius:
Evakuasi korban ke daerah yang aman sesegera mungkin. Longgarkan pakaian yang ketat seperti kerah, dasi, ikat pinggang atau pinggang. Jika kesulitan  bernapas, berikan oksigen. Jika korban masih kritis, sadarkan dengan member  pernapasan buatan darii mulut ke mulut. PERINGATAN: Ini berbahaya bagi orang yang memberikan bantuan untuk memberikan mulut ke mulut ketika dihirup bahan beracun, infeksi atau korosif. Carilah perhatian medis segera.

Tertelan:
Jangan memaksakan muntah kecuali diarahkan oleh tenaga medis. Jangan pernah memberikan apapun melalui mulut kepada orang yang pingsan. Jika bahan ini tertelan dalam jumlah banyak, segera hubungi dokter. Longgarkan pakaian yang ketat seperti kerah, dasi, ikat pinggang atau pinggang.

TINDAKAN SEDERHANA
Tumpahan Kecil:
Encerkan dengan air dan mengepel, atau diserap dengan bahan kering bersifat inert dan tempatkan dalam wadah pembuangan limbah yang tepat. Jika perlu: Menetralisir residu dengan larutan encer natrium karbonat.

Tumpahan Banyak :
Cairan mudah terbakar. Pengoksidasi materi. Organik peroksida. Jauhkan dari panas. Jauhkan dari sumber api. Hentikan kebocoran jika tanpa risiko. Menyerap dengan pasir atau non-materi mudah terbakar. Hindari kontak dengan bahan yang mudah terbakar (kayu, kertas, minyak, pakaian …). Jauhkan lembab substansi
menggunakan semprotan air. Jangan gunakan alat logam atau peralatan. Jangan menyentuh bahan yang tumpah. Gunakan semprotan air untuk mengurangi uap.

Mencegah pemasukan ke selokan, ruang bawah tanah atau area yang terbatas, tanggul jika diperlukan. Meminta bantuan mengenai pembuangan. Menetralisir residu dengan larutan encer natrium karbonat. Hati-hati bahwa produk tidak hadir pada tingkat konsentrasi di atas NAB. Periksa NAB pada MSDS dan dengan pemerintah setempat.

 

Pustaka :

Anna McElhatton and Richard J. Marshall. 2006. FOOD SAFETY: A Practical and Case Study Approach.  University of Iceland.  Reykjavík, Iceland.