“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

“BERJUAL BELI AGAMA”  ATAU BERJUAL BELI DENGAN DASAR AGAMA

“BERJUAL BELI AGAMA”  ATAU BERJUAL BELI DENGAN DASAR AGAMA

Posted by Widiantoko, R.K.

Gambar terkait

Bila sedikit mau berepot ria, sebenarnya ibadah haji sudah sejak lama, sejak masa kolonial bahkan, telah dijadikan lahan bisnis di mana mekanismenya melibatkan sedemikian banyak pihak, yang merasa harus ikut mengatur. Dulu Snouck Hourgronje, seorang orientalis yang kerap disebut “Bapak Devide et Empire”, justru yang merekomendasikan Pemerintah Kolonial Belanda untuk ikut mengakomodasi perjalanan haji. Hal ini untuk mencari simpati kelompok Islam dan meredakan kemungkinan pemberontakan.

Modus ini diteruskan oleh Pemerintah Indonesia dari masa ke masa. Akibatnya adalah minat haji menjadi sangat tinggi, bahkan tertinggi di dunia. Contoh pada 1921 sebanyak 28.795 jamaah Indonesia menunaikan ibadah haji dari 60.786 jamaah seluruh dunia.

Saat resesi ekonomi yang disebut zaman Malaise) pada 1928 jamaah Indonesia ke Tanah Suci justru meningkat menjadi 52.412 orang, dari 123.052 jamaah seluruh dunia. Artinya minat haji orang Indonesia itu memang tinggi sejak dulu, jadi bukan tren akhir-akhir ini saja.

Biaya untuk naik haji saat itu terbilang sangat mahal, rerata 225 gulden per orang. Perbandingan gaji seorang guru atau pegawai mapan hanya 18 gulden per bulan. Nilai ini setara dengan harga satu buah rumah tembok layak huni. Bahkan saking besarnya biaya haji, dana yang disisihkan dari para jemaah itu bisa dibelikan kapal khusus pada masa pasca kemerdekaan, dengan mendirikan perusahaan pelayaran PT Arafah.

Program haji swakelola ini, kemudian justru dirusak sendiri oleh pemerintah dengan memberikan lebih kemudahan melalui angkutan udara, yang menyebabkan manajemen PT Arafah mulai kesulitan dan akhirnya gulung tikar. Artinya apa?

Pemerintahlah di awal 1970-an yang gagal mentransformasi dana umat itu, ke dalam kebijakan yang lebih kontinyu. Dana-dana haji yang mengendap dan makin besar dari waktu ke waktu inilah, yang kemudian dincar oleh pemerintah saat ini untuk digunakan secra lebih baik. Karena bukan rahasia lagi, bahwa sumbangan dari para mukminin ini dari waktu ke waktu tidak pernah jelas penggunaannya.

Kasus First Travel, Abu Tours dan sebagainya saat ini sebenarnya menunjukkan bahwa biaya umrah, saat ini sudah sangat murah dibandingkan masa lalu. Biaya yang sudah relatif terjangkau, itu dibikin makin murah lagi dan sebenarnya tidak masuk akal oleh para “penjahat travel”.

Bayangkan biaya 14,3 juta yang bisa dicicil, tentu memberi mimpi bagi nyaris semua orang. Hanya dengan menabung 50 ribu rupiah sehari dalam setahun, semua orang bisa pergi ke tanah suci. Dan kalau pasangan first travel itu, bisa menipu 70 ribu orang, ia sama sekali tidak cerdas. Keduanya adalah typical pebisnis hedonis hari ini, yang jeli “maling” peluang.

Bisnis menurut islam adalah suatu yang dihalalkan bahkan sangat dianjurkan oleh islam. Bisnis bahkan dilakukan oleh Nabi dan Sahabat Rasulullah di zaman dahulu. Sangat banyak sekali sahabt-sahabat Nabi yang merupakan para pembisnis dan dari hartanya tersebut dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi perkembangan islam.

Islam memperbolehkan bisnis asalkan bukan hal hal yang mengarah kepada riba, judi, penyediaan produk atau layanan yang mengandung barang-barang haram. Untuk itu di balik bisnis menurut islam yang dihalalkan ini tentu saja ada etika dan manfaat yang dapat diperoleh. Berikut adalah penjelasan mengenai Etika dan Manfaat dari Bisnis menurut Islam.

Islam pun mengharapkan agar bisnis ang dilakukan oleh seorang muslim tidak hanya memiliki keuntungan untuk diri sendiri melainkan juga dapat memberikan manfaat yang banyak kepada banyak orang. Hal ini sesuai dengan prinsip islam yang rahmatan lil alamin.

Orientasi Bisnis Menurut Islam

Orientasi bisnis menurut islam sejatinya tidak bertentangan dengan Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama . Tentu saja bisnis islam juga berorientasi pada :

  • Keuntungan Penjual dan Pembeli
  • Kemasalahatan Masyarakat
  • Terperdayakannya sosial
  • Hilangnya pengangguran dan bertambahnya lahan pekerjaan
  • Mengoptimalkan sumber daya alam yang telah Allah berikan

Orientasi dari bisis islam bukan hanya sekedar menguntungkan satu orang saja apalagi pihak yang memiliki bisnis melainkan kepada orang-orang lain yang juga terlbat dalam bisnis baik secara langsung atau tidak. Tentu saja bisnis islam harus sesuai dengan prinsip dalam Transaksi Ekonomi dalam Islam, Ekonomi Dalam Islam,dan Hukum Ekonomi Syariah Menurut Islam.

Selain itu, untuk dapat menjalankan bisnis sesuai orientasi islam,  juga harus mengetahui tentang Macam-macam Riba, Hak dan Kewajiban dalam Islam, Fiqih Muamalah Jual Beli, dan Jual Beli Kredit Dalam Islam agar orientasi bisnis halal tetap terjaga.

Etika Bisnis Islam

Bisnis islam tentu saja mengedapankan kepada keadilan dan kompetisi yang fair. Bisnis islam bukanlah hal yang sekedar mendapatkan keuntungan namun juga mengedepankan nilai-nilai yang dimiliki oleh syariah. Tanpa ada etika berbisnis tentu saja

  1. Menjauhi Hal yang Samar

Dalam berbisnis menurut islam, maka manusia harus menghindari hal-hal yang samar. Hal samar ini adalah hal yang masih belum jelas kelak ketika di jual. Misalnya saja membeli buah yang masih dalam pohon. Padahal bisa jadi buah tersebut belum jelas beratnya, rasanya, dan hasil akhirnya. Untuk itu, hal-hal yang samar dan berdampak kepada konflik atau kerugian di kemudian hari hendaknya dijauhi.

  1. Menghindari Judi

Judi adalah hal yang jelas diharamkan oleh Allah. Judi juga dapat berakibat kepada terkurasnya harta dan kerugian yang besar. Dalam judi juga dipertaruhkan hal-hal yang tidak jelas dan juga tidak ada usaha untuk mengoptimalkan lahan dan modal alam yang Allah titipkan. Jika banyak yang berjudi justru tidak akan ada kemajuan ekonomi karena harta yang digunakan adalah harta yang berputar itu-itu saja.

  1. Menghindari Penindasan

Penindasan berarti membuat seorang menjadi lemah dan tidak berdaya. Bisnis yang kita lakukan tentu saja tidak boleh membuat seseorang menjadi tertindas. Bisnis yang kita lakukan haruslah dapat memberikan manfaat yang besar bukan malah menjadikan orang semakin miskin dan lemah atau berdampak buruk kepada sekitar kita. Islam mengajarkan manusia harus dapat memberikan rahmat bagi semesta alam, bukan justru merusaknya atau membuatnya menjadi lemah.

Hal ini disampaikan dalam Al-Quran,

Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (QS Al Baqarah : 188)

  1. Menjauhi Riba

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan tinggalkankan sisa-sisa (yang belum dipungut) dari riba, jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS AL Baqarah : 278)

Di dalam ayat di atas dijelaskan bahwa islam melarang umat islam untuk melakukan bisnis atau memakan harta yang mengandung riba. Riba sendiri juga bisa termasuk kepada penindasan. Dengan riba, seseorang telah mencekik orang yang berhutang padahal bisa jadi mereka juga kesulitan untuk membayar dan menafkahi diri dengan harta yang ada.

  1. Menjauhi Penipuan

Pelaksanaan bisnis menurut islam adalah dengan etika harus berdasarkan kepada suka sama suka. Untuk itu membuak diri dan menjelaskan produk atau jasa dalam bisnis dengan apa adanya adalah hal yang harus dilakukan. Melakukan penipuan tentu saja dapat merugikan di kemudian hari baik penjual ataupun pembeli. Untuk itu Allah menjelaskan dalam Al-Quran,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (QS An Nisa : 29)

  1. Menjauhi Barang atau Produk Haram

Menjauhi barang atau produk haram adalah hal yang harus dilakukan. Produk haram seperti narkoba, alkohol, daging babi, jasa judi, dan lain sebagainya adalah hal yang haram untuk dikonsumsikan. Untuk itu, sebelum manusia berbisnis hal tersebut tentu saja perlu diwaspadai apakah hal tersebut haram atau halalnya. Barang haram bukan hanya merugikan bagi pembeli, namun juga merugikan masyarakat secara luas. Barang haram dapat membuat seseorang rusak secara fisik dan mental. Tentu saja hal ini tidak pernah diharapkan oleh siapapun.

  1. Menghindari Monopoli Bisnis

Bisnis yang baik hendaknya bisnis yang dapat mengembangkan dan memberikan lahan pekerjaan bagi manusia yang lain. Islam melarang untuk manusia melakukan monopoli seperti melakukan penimbunan barang yang membuat orang lain mengalami kelangkaan atau kekurangan.

Itulah mengenai bisnis menurut islam. Semoga umat islam dapat melaksanakan bisnisnya sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, ketentuan islam dan sunnah Rasulullah. Bisnis yang tidak diorientasikan kepada kemasalahatan tentu saja akan mendapatkan kemudharatan. Keuntungan adalah hal yang penting diraih manusia untuk dapat menjalankan hidup. Akan tetapi, menjalankannya untuk mendapatkan barokah dan kemaslahatan adalah hal yang perlu diprioritaskan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s