“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

MENDALAMI BAHAYANYA PENYAKIT KRITIS NYINYIR

“MENDALAMI BAHAYANYA PENYAKIT KRITIS NYINYIR”

Posted by Widiantoko, R.K

Hasil gambar untuk nyinyir

Penyakit nyinyir. Penyakit ini memang tidak mematikan. Tapi sangat mewabah, terjadi di banyak sosial media. Dan biasanya mengidap pada orang-orang yang gak bisa move on, Doyan memelihara kebencian, bahkan menyebarluaskannya. Penyakit yang tidak menular, tapi berusaha ditularkan oleh pemiliknya. Kerjaannya mengejek atau menganggap rendah orang lain. Penyakit yang tidak mampu melihat kebaikan apapun dan selalu meragukan sifat baik yang ada pada diri orang lain. Agak susah penyakit ini disembuhkan karena kebencian yang mengeras dan membatu. Apapun yang dilakukan orang yang dibencinya pasti jelek di pikirannya. Pemimpinnya melakukan hal yang baik dianggap pencitraan atau riya. Pemimpinnya salah atau melakukan hal yang kurang baik, bukannya diingatkan, malah dihujat dan disebarluaskan kemana-mana. Ngerinya lagi, terkadang dalam berdoa saja nadanya nyinyir dan malah kadang doa pun dinyinyirin.

“Denger musik dangdut nyinyir. Nonton lawakan yang gak lucu, nyinyir. Ada orang dandan, nyinyir. Ada Gubernur ngomel-ngomel nyinyir. Presidennya lagi kerja masih nyinyir juga. Kayak gitulah kira-kira penyakit situsinis; penyakit nyinyir tiada akhir. Nyirr, nyirr, nyirr …”

Ada yang bilang, nyinyir itu tanda nggak mampu. Tapi buat yang melakukan, nyinyir itu adalah obat mujarab mengusir kepenatan di kepala. Studi gabungan dari University of Ottawa dan McMaster University di Kanada berkata lain. Dalam temuannya, mereka berpendapat bahwa nyinyir atau cibiran adalah bentuk ‘pemberontakan’ seseorang yang terancam oleh orang lain yang memiliki keunggulan lebih. Reaksi yang ditampilkan bisa bermacam-macam, ada yang muncul dengan muka sebal hingga konfrontasi  verbal maupun fisik. Reaksi tersebut seakan mencermimkan apa yang tengah terjadi di dunia maya. Menariknya, nyinyir merupakan insting primitif tiap manusia untuk coba bertahan hidup dengan menindas para kompetitor, khususnya yang memiliki keunggulan lebih.

Buat yang ngaku penyinyir profesional, ia tahu bahwa nyinyir adalah usaha untuk mengangkat derajat atau martabat dirinya sendiri. Caranya dengan membuat orang disekitar terlihat lebih rendah dari dirinya lewat serangan verbal. Tracy Vaillancort dalam bukunya pada 2013 lalu berpendapat bahwa nyinyir adalah bentuk proteksi. Di mana, sikap agresif yang muncul nggak cuma bikin kita merasa aman, tetapi juga membuat para kompetitor tunduk. Saat media sosial tumbuh pesat, proteksi itu nggak lagi dilakukan dengan kontak fisik. Melainkan adu cepat mencibir nggak cuma di kehidupan nyata, tetapi juga di media sosial.

Menanggapi permasalahan nyinyir sangatlah sulit disebabkan pelaku nyinyir selalu berkedok kritikan. Namun, sungguh disayangkan bangsa kita yang telah terbiasa adat budaya musyawarah mufakat yang mampu mendengar maupun menyampaikan pendapat dengan unggah-ungguh sopan santun yang baik telah kehilangan jati dirinya. Kalimat-kalimat kritis berupa kritikan yang seharusnya membangun malah menjelma menjadi kalimat perusak.

 Saat mengkritisi sesuatu, sudahkah dipikirkan sebelumnya apakah tindakan kritik ini adalah murni sebuah tindakan korektif atau sekedar memenuhi ego. Dari berbagai literatur, hampir semua mengatakan bahwa tak seorang pun suka dikritik. Apalagi kritik tersebut dilontarkan hanya untuk memenuhi ego diri. Banyak dari kita yang terkadang tanpa sadar karena tidak menyukai seseorang atau sesuatu hal, kritik kita sesungguhnya bukanlah sebuah tindakan korektif namun sebuah pelampiasan kekesalan atau amarah.

Dalam kritik yang seperti ini bisa bermacam-macam kandungannya, ada yang mengandung perintah, peringatan, bahkan merupakan sebuah hukuman. Kritik yang seperti ini juga terkadang adalah sebuah upaya memaksakan ide atau keinginan pada pihak lain. Sungguh sebuah tindakan yang hanya melahirkan kepuasan ego belaka.

Lalu pertanyaannya, kalau memang ada yang harus dikritik bagaimana? Ya sampaikan saja, namun pastikan dulu niat kita benar-benar sebuah tindak korektif.

Les Giblin di bukunya yang berjudul Skill with People diuraikan bahwa :

  1. Jangan Pernah Mengkritik di Depan Umum. Mengkritik seseorang di depan umum sama saja dengan mempermalukan seseorang. Lakukanlah kritik secara pribadi langsung ke orangnya tanpa perlu orang banyak tahu.
  2. Mulailah Kritik dengan Kata dan Pujian yang Baik. Menciptakan suasana yang bersahabat akan membuat kritik kita lebih mudah diterima. Ingat bahwa bagaimanapun kritik itu tidak menyenangkan bagi yang dikritik, lakukan sehalus mungkin agar “cubitan” anda tidak terlalu menyakitkan.
  3. Kritik Perbuatannya, Bukan Orangnya. Ini paling sering terjadi dalam persoalan mengkritik. Sering ditemukan kasus kita tidak dapat membedakan apakah yang kita kritik itu perbuatannya atau orangnya. Ingat bahwa setiap orang adalah unik, dan punya cara yang berbeda dalam setiap perilakunya. Ada beda yang jelas di antara dua kalimat ini. “Kamu tuh harusnya begini bukan begitu” dengan “menurutku, sepertinya hal ini bisa dilakukan dengan cara begini, bagaimana menurutmu?”
  4. Beri Solusi atau Jawaban. Mengkritik tanpa memberi solusi sungguh adalah perbuatan yang tidak bijaksana dan tidak berganggungjawab. Pikir dua kali sebelum mengkritik, apakah kita bisa melakukan lebih baik, apakah kita punya cara yang lebih baik. Kalau iya, silahkan sampaikan kritik lengkap dengan solusi dan jawaban yang benar.
  5. Tidak Menuntut, Mari Bekerja Sama. Dalam sebuah tim atau sekelompok orang, sikap seperti ini mutlak diperlukan. Seorang good team player tidak akan menuntut orang lain melakukan apa yang ia inginkan. Sebagaimana pada poin 4 di atas, seorang good team player yang baik sudah siap dengan solusi dan jawaban saat mengkritik dan siap melakukan perbaikan atau tindaka  korektif bersama-sama. Bukan hanya membebankan permasalahan pada pihak lain dan menuntut orang lain yang melakukan tindakan korektif.
  6. Satu Kritikan untuk Satu Pelanggaran. Cukup sekali saja melakukan kritik. Kalau kritik anda tidak menghasilkan perubahan atau tidak dapat ditangkap inti permasalahannya, coba koreksi diri apakah kita sudah melakukan kritik dengan cara yang benar. Mungkin ada cara kita yang salah dalam mengkritik.
  7. Akhiri Kritikan dengan kalimat yang bersahabat. Bagaimanapun, membina hubungan yang baik dengan lebih banyak orang secara berkesinambungan itu penting. Biasakan setelah mengkritik, akhiri dengan kalimat yang bersahabat dan menyenangkan. Ingat bahwa kritikan yang telah anda lakukan mungkin telah menyentuh harga diri seseorang. Kalau perlu tepuk pundaknya, atau bersalaman bahkan kalau hubungan anda dekat, peluklah agar yang dikritik merasa lebih nyaman.

Selama yang orang lain lakukan itu soal selera, dengan karakter yang memang ia punya, tidak merugikan orang lain, tidak menimbulkan bahaya apalagi menyebabkan kematian, biarkan sajalah. Berbeda itu adalah sebuah keniscayaan, kita tidak harus punya cara yang sama dalam banyak hal atau tindakan dengan orang lain.

Pengalaman dari perilaku akan membantu seseorang untuk bertumbuh, seleksi alam akan bekerja. Begitu pula kita. Lakukan saja yang terbaik sebagai pribadi sesuai dengan karakter masing-masing. Jangan buru-buru mengkritik seseorang meski menurut anda ada yang patut dikritik. Beri ruang untuk seseorang bertumbuh dan belajar dari pengalamannya sendiri.

Daripada mengubah seseorang dengan kritik, lebih baik miliki kredibilitas dan kemampuan yang layak dicontoh, menyentuh hidup orang lain dengan tindakan nyata, menginspirasi orang lain dengan prestasi dan dari situ seringkali terjadi, begitu banyak hidup orang lain yang menjadi lebih baik dan berubah karenanya tanpa perlu dikritik.

Manusia diciptakan dengan berbagai macam sifat, baik ataupun buruk. Dan salah satu contoh sifat buruk manusia adalah berasal dari lisannya. Lidah manusia dapat diibaratkan seperti pisau yang memiliki dua fungsi, yaitu akan bermanfaat bagi orang lain apabila tujuannya baik, namun dapat menjadi berbahaya dan menyakiti orang lain apabila tujuannya buruk. Dan bahaya lidah dalam agama Islam adalah ketika digunakan untuk mencemooh atau mengolok-olok orang lain atau nyinyir. Nyinyir adalah suatu perbuatan yang menurut Islam adalah perbuatan tercela dan dosa.

Allah telah memerintahkan umatnya untuk senantiasa berbuat baik dalam perbuatan maupun lisan. Dan Allah telah memberikan teladan yang baik melalui Rasulullah SAW. pada semasa hidupnya Rasulullah tidak pernah menyindir dan mencela makanan yang tidak disukai. Seperti yang diriwayatkan oleh Aisyah ra., beliau berkata :

“Rasulullah SAW sama sekali tidak pernah mencela makanan yang tidak disukainya. Jika beliau menyukai, maka beliau akan memakannya, jika tidak maka beliau akan meninggalkannya.”

Kritikan yang halus dan membangun sering kita sebut sebagai nasehat adalah cinta. Saling menasehati itu tanda cinta karena nasehat berarti menginginkan kebaikan pada orang lain. Kita ingin saudara kita itu jadi baik, BUKAN ingin mereka direndahkan atau disalahkan. Inilah dasarnya.

Dihadits lain, beliau mengatakan :
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
(Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45).

Ingat, kita melakukan nasehat itu krn kita inginkan kebaikan bagi orang lain. Bukan malah ada sifat NYINYIR bin KETUS dibalik nasehat. “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Kata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.

“Nasehat adalah engkau suka jika saudaramu memiliki apa yang kau miliki. Engkau bahagia sebagaimana engkau ingin yang lain pun bahagia. Engkau juga merasa sakit ketika mereka disakiti. Engkau bermuamalah (BERSIKAP BAIK) dengan mereka sebagaimana engkau pun suka DIPERLAKUKAN seperti itu.”
(Syarh Riyadhis Sholihin, 2: 400).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالاَ فَعَلَى الْبَادِئِ مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُوْمُ

“Dua orang yang saling mencela maka dosanya ditanggung oleh yang pertama kali memulai. Selama orang yang terdzhalimi tidak melampaui batas…” (HR. Muslim: 2587)

Kita tidak perlu membalas orang yang mencela kita, karena Nabi Muhammad SAW makhluk termulia ketika dicela juga tidak membalas. Dan itulah ajaran beliau.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيْكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيْهِ، فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ

“Apabila ada seseorang mencaci dan mencela dengan apa yang terdapat padamu, maka janganlah engkau membalas cela dengan mengumbar aib dirinya. Karena dosanya akan ia tanggung…”
(Hasan, HR. Abu Dawud)

Lalu nyinyir yang seperti apa yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan menurut Islam?

Perbuatan nyinyir hampir sama dengan menyindir, mencemooh atau mencela, maka dapat disimpulkan hukumnya tidak jauh berbeda dengan hukum menyindir orang dalam Islam. Nyinyir tidak diperbolehkan dan akan menjadi dosa apabila tujuannya buruk dan menyakiti orang lain, misalnya nyinyir dengan tujuan untuk menghina, balas dendam dan untuk riya dalam Islam. Dan sedangkan hukum menyakiti hati orang lain dalam Islam adalah dosa dan akan ada balasan menyakiti hati orang lain dengan balasan yang setimpal. Namun, nyinyir menjadi diperbolehkan apabila bertujuan baik, seperti untuk membuat perilaku dan sifat seseorang agar menjadi lebih baik, namun hal tersebut haruslah tetap memakai aturan dan berdasarkan pada sumber syariat Islam serta dasar hukum Islam.

Sebagai seorang muslim yang baik, alangkah lebih baik lagi jika kita tidak melakukan perbuatan nyinyir, Allah telah memperingatkan hambanya untuk tidak mencela ataupun mencemooh orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Seperti firman Allah dalam (QS. Al-Hujurat[11] :

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang (yang diolok-olokkan lebih baik dari mereka yang (mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-ololk perempuan yang lain, karena boleh jadi perempuan (yang diolok-olok) lebih baik daripada yang mengolok-olok. Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (paggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Dari ayat tersebut, dapat disimpulkan bahwa Allah SWT. telah melarang hambanya untuk mengolok-olok ataupun mencela orang lain, karena bisa jadi orang yang di perolok lebih baik dari yang mengolok. Dan dalam ayat tersebut, Allah SWT menegaskan janganlah para perempuan memperolok perempuan yang lain. Mengapa hanya perempuan? Karena seperti yang telah diketahui bahwa perempuan lebih banyak bicara dibandingkan laki-laki dan biasanya kaum perempuan yang lebih sering membicarakan orang ketimbang kaum laki-laki. Maka dari itu kenapa Allah menegaskan janganlah perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan yang lain, agar para perempuan lebih menjaga lisannya dan akhlaknya.

Dalam sebuah hadist, dari Imran bin Husain ra. Rasulullah SAW. bersabda :

“Aku diperlihatkan di surga. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum fakir. Lalu aku diperlihatkan neraka. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah para wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadits tersebut sebagai muslimah yang baik seharusnya dapat direnungkan dan dipikirkan alasan mengapa wanita menjadi penghuni neraka terbanyak. Dan dengan adanya hadist tersebut diharapkan kaum hawa lebih lebih memperbaiki diri agar tidak termasuk kedalam golongan penghuni neraka.

Sebagai muslim memang sudah seharusnya dan sepantasnya agar kita menjaga lisan, menghilangkan segala macam penyakit hati menurut Islam, senantiasa memperbaiki akhlak serta tidak menyakiti hati orang lain dengan lisan ataupun perbuatan kita. Maka dari itu mulailah untuk tidak melakukan perbuatan nyinyir yang mana seringkali dapat melukai hati orang lain. Hidup didunia ini hanyalah fana, jadi alangkah lebih baik jika kita menjadikan kehidupan didunia sebagai ladang untuk mencari pahala dan ridha Allah SWT supaya kelak kita dapat menempati surganya Allah SWT.

 

Reference:

http://winda174.blogspot.co.id/2014/09/menasehati-gak-perlu-nyinyir-ketus-dan.html

https://dalamislam.com/hukum-islam/hukum-nyinyir-dalam-islam

http://donnaimelda.com/kritik-kepuasan-pribadi-atau-tindakan-korektif/

https://www.hipwee.com/opini/situsinis-penyakit-nyinyir-tiada-akhir/

https://www.pegipegi.com/travel/suka-nyinyir-itu-tandanya-kalau-kamu-masih-primitif/

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s