“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

DARI OPJH UNTUK MASA DEPAN HIMALOGISTA

(hasil evaluasi personal dari screening SC OPJH THP 2013-

16/03/13)

Sejarah, suatu hal yang sering dianggap remeh sehingga dengan mudahnya dilupakan. Sejarah merupakan sebuah kilas balik perjuangan anak manusia baik perorangan dan maupun kelompok yang besar. Apabila sejarah itu kelam, maka kelak dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi anak turun generasi selanjutnya agar tak mengulangi hal yang serupa. Akan tetapi bila sejarah itu baik, maka akan menjadi sebuah kebanggaan bagi generasi selanjutnya bahkan menjadi sebuah tanggung jawab agar masa keemasan itu tetap dikenang dan menjadi generasi penerus masa itu.

Saat membangun sebuah pondasi sejarah, generasi pendahulu kita pasti meletakkan suatu dasar tujuan dan mind map sehingga layak diperjuangkan oleh mereka agar tujuan tersebut dapat tercapai. Seharusnya generasi saat ini tetap berjuang dengan mindmap dan tujuan yang sama meskipun dengan cara yang berbeda agar mengikuti kondisi dan kultur perkembangan jaman. Merubah tujuan entah karena ketidaktahuan atau dengan sengaja merupakan sebuah keputusan dan tindakan yang fatal sebab selain tidak menghargai perjuangan pendahulunya tetapi juga meruntuhkan pondasi yang telah dibuat.

Masalah sejarah ini akan saya coba korelasikan dengan OPJH (orientasi pengenalan jurusan dan himpunan) yang dikenal sebagai Graphista di Teknologi Hasil Pertanian-UB. Berdasarkan pengamatan dan analisa yang saya lakukan selama screening SC (steering comitee) OPJH pada sabtu, 16 maret 2013, cukup membuat prihatin dengan apa yang terjadi saat ini. Keprihatinan ini saya dasarkan bukan secara subjektif yang cuma menyoal suka-tidak suka atau kenal-tidak kenal atau benci-menyuport, melainkan lebih besar dari itu yakni objektifitas pemikiran saya atas apa yag telah terjadi, bukan pula euforia kebanggaan dengan membangga-banggakan masa lalu.

Kredibilitas anggota SC mendatang yang sebenarnya ingin pertama kali saya pertanyakan berdasar evaluasi OPJH yang saya dapatkan berdasar screening SC. Kenapa hal tersebut yang saya pertanyakan? Ada beberapa alasan yang mendasarinya antara lain,

  • Sepertinya saat ini “tingkatan/grade” antara screening OC dan SC tidak ada bedanya. Sama-sama “newbiers” yang belum tahu kompetensinya dan untung-untungan dalam mendaftar. Lho kok bisa? Coba bandingkan saat screening OC ditanyai mengenai motivasi alasan mendaftar menjadi OC, pasti jawabannya adalah ingin belajar dan mencari pengalaman. Kalau ditingkatan OC mungkin hal ini dapat diterima dengan wajar atau dalam kisaran dapat dipahami khususnya bagi mahasiswa baru atau yang belum pernah berorganisasi/turut dalam kepanitiaan. Akan tetapi kalau dalam tingkatan SC dengan pertanyaan yang sama didapatkan jawaban yang sama maka hal itu sangat mengenaskan dikarenakan SC menjalankan fungsi layaknya supervisor yang harusnya berkompeten dalam hal pengawasan, pembimbingan, kontrol dan evaluasi. Dengan kata lain SC seharusnya adalah orang yang tahu banyak tentang bidang yang digelutinya, dalam hal ini adalah OPJH. Orang yang pernah ikut OC OPJH bukan berarti dengan sendirinya layak menjadi SC OPJH. Hal itu dapat saya analogikan dalam hal yang lebih nyata dalam dunia pekerjaan, apakah seorang Office Boy (OB) dari sebuah industri pangan bisa secara tiba-tiba menjadi seorang anggota TQM (Total Quality Management) atau supervisor, walaupun sama-sama berkecimpung dalam industri yang sama, kecuali kalau OB tersebut mau sekolah/mencari tahu lagi tentang bidang TQM atau supervisi hingga dia layak dikatakan kompeten di bidang itu. Dan Coba dibayangkan apa jadinya apabila OB yang tak paham apa itu industri pangan, apa itu managemen, apa tugas TQM, apa saja lingkup bidang yang dia handle, tidak tahu dimana strukturnya atau dengan kata lain tidak tahu kepada siapa dia bertanggung jawab dan dia haru mengayomi siapa saja secara tiba-tiba menjadi TQM. Pilihan dari jawaban pertanyaan tersebut cukup mudah, hasilnya kalau tidak ngawur pastilah hancur.

Entah kurang tahu apa penyebabnya kenapa “grade” antara peserta screening OC dan screening SC bisa sama. Hal yang unik adalah saat ditanya tentang seberapa besar tingkat pemahaman tentang OPJH sebagian besar menjawab 50%, namun ketika diberi pertanyaan yang paling dasar diantara paling dasar seperti: apa sih OPJH graphista? pasti jawabannya adalah orientasi pengenalan jurusan dan himpunan (maba juga tahu kalau itu kepanjangan OPJH, bukan definisi OPJH), kalau ditanya lebih spesifik definisi OPJH pasti luar biasa lama berpikirnya dan menghasilkan jawaban yang “ngalor-ngidul” tapi jauh dari sasaran.

  • Untuk mendapatkan output yang bagus mestinya juga dilakukan proses input yang baik dalam proses screening (pengelompokan berdasarkan minat dan kemampuan) maupun fit and proper test (pengujian tentang hal-hal dasar yang wajib dimiliki oleh leader). Selama ini yang terjadi adalah kesemrawutan sistem screening maupun fit and proper test  suatu open recruitment termasuk sistem screening kemarin. Seharusnya kemarin bukan dilakukan screening, melainkan sistem fit and proper test dimana sudah seharusnya tim PH telah menentukan standard yang jelas kriteria yang dibutuhkan. Misalkan saja dalam  sebuah tim SC ditentukan tipe-tipe orang seperti leaderhip berapa orang? Komunikatif  berapa orang? Inovatif berapa orang? Konseptor berapa orang? dan kriteria lain. Sehingga dalam sebuah tim jelas kebutuhan masing-masingnya bukan bermain frontal pemilihan yang terbaik berdasar kuota sehingga memungkinkan hanya ada 1 jenis tipe dalam tim sehigga kondisi tidak kondusif dan tidak sesuai kebutuhan. Sistem Fit and proper test juga layaknya dilakukan saat penentuan QC, tentunya dengan standard kriteria yang berbeda dengan penentuan SC  pula.

Penentuan OC baiknya menggunakan sistem fit n proper test pula baru dilakukan proses screening berdasarkan kemampuan dan minatnya masing-masing. Terkecuali kalau sistem OR pada OPJH yang mewajibkan 1 angkatan menjadi panitia, cukup menggunakan sistem screening berdasar minat dan kemampuan saja. Hanya saja yang cukup menggelikan adalah tim screening pada tahun lalu menggunakan sistem yang sangat “acakawut” khususnya yang perlu disoroti adalah tim screening QC dimana dilakukan proses penyaringan 1 orang oleh 1 orang yang kemudian di fase akhir tiap orang tim screener mengajukan calonnya hingga terjadi perdebatan yang panas, penyaringan ini sifatnya lebih “subjektif” sekali dan tidak memiliki indikator pasti sehingga seorang screener yang vokal dan determinatif dapat memasukkan seseorang yang sebenarnya tidak masuk kriteria.

Entah kenapa penyebabnya masih sering digunakan cara screening yang sama di himalogista meskipun kriteria acaranya berbeda sehingga masih ada saja orang-orang yang tidak cocok dalam divisinya sehingga “ngambek” tidak mau bekerja dan merusak kondusifitas kerja.

Sistem rekruitmen yang baik juga memberikan dampak manfaat yang baik juga bagi pengembangan anggota himalogista (non pengurus). Dalam screening SC saya dapatkan fakta dari “Syam 2011” bahwa event kepanitiaan himalogista cenderung pilih kasih dimana anggota non pengurus sering di-anaktirikan karena kepanitiaan dimonopoli oleh pengurus sendiri, kalaupun jadi panitia maka tidak akan pernah menjadi koordinator meskipun sekompeten apapun dia. Di lain pihak saat RUMJ, menurut Eka 2010, HGE 7 mengalami carut marut karena saat itu banyak even berlangsung seperti PK2, OPJH dan event LKM lainnya sehingga banyak anggota kepanitiaanya tidak bisa berkonsetrasi fokus menyukseskan acara. Kedua hal yang bertolak belakang tersebut sebenarnya dapat diselesaikan dengan bijak apabila sistem rekruitment berjalan dengan sistematis dan terencana dengan baik.

Dengan didapatkan sumberdaya yang punya skill dan pengalaman yang merata akan mempermudah divisi kaderisasi dalam membentuk kader-kader pemimpin himalogista yang berkualitas dan loyal sehingga di tiap pemilihan kahim tidak akan bingung karena minimalis atau uncompetent nya para calon disebabkan generasi terbaiknya lebih memilih untuk menjadi leader LKM lain.

  • “Ingin menjadi harimau tapi tidak tahu wujud harimau”, mungkin itu adalah analogi yang ingin saya berikan kepada 80% peserta screening. Bagaimana tidak? Seseorang yang ingin menjadi SC bahkan tidak tahu secara keseluruhan tugas SC itu apa. Ada yang bilang membimbing, ada yang bilang mengonsep, ada yang bilang mengayomi, ada yang bilang memberikan solusi kepada OC. Kalau tidak tahu wujud, fungsi dan tanggung jawabnya lalu bagaimana seseorang yang menjadi SC mampu secara sadar menjalankan tugasnya? Olehkarena itu sungguh saya sangat bertanya-tanya apa “motivasi” sebenarnya kenapa mereka ingin menjadi SC, sedang tugas dan fungsi sebagai SC pun tidak tahu. Untuk kesekian kalinya dalam kasus ini saya mengusir seseorang karena “ketidaktahuannya”, sebut saja namanya “Fadlurahman-bukan nama sebenarnya-red”, mungkin dapat saya analogikan seperti ini ketika sidang ujian kumpre si mahasiswa memaparkan teori hasil penelitiannya, namun oleh sang dosen penguji yang berjumlah beberapa orang menyatakan dasar alasan dari dasar teorinya salah dan coba diarahkan untuk menuju jalan yang benar meskipun tidak diberikan jawabannya secara langsung. Akan tetapi si mahasiswa tetap pada pendiriannya bahwa dialah yang paling benar. Oleh karena itu wajar bila sang dosen tidak meluluskannya. Kembali dalam screening SC, saya adalah orang yang bertanggung jawab atas menyuruh keluarnya dari ruangan karena sikap ngotot atas ketidaktahuannya tidak dapat dikompromi lagi dimana tugas SC yang luas dan berat dia persempit hanya sebatas wilayah “membimbing” saja, ketika kami ingin mencoba memperluas pandangannya yang sempit malah terjadi penolakan. Kemudian fanatisme yang berlebihan bahwa elemen yang ada di dalam OPJH hanya antara OC-maba (akan saya bahas dalam point selanjutnya)
  • Elemen-elemen yang harus ada dalam OPJH adalah Mahasiswa baru, Himpunan (OC-SC-PH), kakak tingkat/alumni & Jurusan (karyawan-dosen). Pengelolaannya diserahkan kepada himpunan yang kemudian ditindaklanjuti dengan pembentukan OC & SC sebagai “kepanitiaan” yang fokus dalam pelaksanaan di lapangan. Adanya keempat elemen inilah yang sebenarnya memberikan warna perbedaan kenapa setelah PK2 harus diadakan OPJH, sebab OPJH merupakan upaya seluruh keluarga besar Teknologi Hasil Pertanian UB untuk menyambut anggota keluarga termudanya sebagai saudara, itulah mengapa jargon yang diambil dalam pestaflogista pertama dahulu adalah “Sekecil-kecilnya kita adalah saudara dan sebesar-besarnya kita adalah keluarga” yang kemudian menjadi trademark dari Himpunan Mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian-UB. Namun di era kekinian tampaknya terjadi perubahan mindside dimana OPJH hanya menjadi monopoli interaksi antara OC dengan Maba saja sehingga menyebabkan pergeseran esensi tujuan yang dibangun sejak era makragista dahulu. Elemen yang tersisihkan ini sebenarnya telah menjadi fakta, misal turunnya respek kakak tingkat terhadap himpunan dan khususnya terhadap acara OPJH. Bahkan dari beberapa statement peserta screening kemarin, ada judgement yang buruk “kemana saja kakak tingkat kok tidak berkontribusi?” dan “kakak tingkat itu datang untuk marah-marah saja”. Ini sebenarnya adalah missed yang terjadi karena putusnya jembatan penghubung (SC) antara kakak tingkat dengan OC. Mari kita lihat secara seksama kakak tingkat tidak akan tahu baik konsep ataupun teknis jika SC/OC tidak menjabarkannya ataupun melakukan komunikasi dengan kakak tingkat, kakak tingkat tidak berwenang secara langsung turut campur dalam OPJH sehingga hanya dapat memberikan kontribusi berupa saran kritik, dan siapapun akan marah kalau yang mulanya tidak dilibatkan dan tidak terjadi komunikasi apa-apa secara tiba-tiba dimintai saran & solusi atas suatu masalah pelik disaat-saat akhir dengan waktu yang sangat terbatas bahkan seorang dosenpun pernah berkata “lha kamu kira saya ini dinas pertanian,,ujug-ujug datang minta dana, minta solusi tanpa pernah berkomunikasi selama ini”. Sebaiknya agar semua elemen ini dapat terangkul dengan baik, SC mampu menyerap aspirasi keseluruhan pihak, bukan hanya dari sudut pandang OC maupun SC saja, baik maba pun berhak memberikan aspirasinya. Pihak kakak tingkat, dosen dan karyawan pun baiknya diajak urun rembug bahkan disetujui sebelum konsep yang dibuat SC itu diputuskan turun ke OC untuk diterjemahkan dalam bentuk teknis.

Bahkan diakui sendiri oleh Rifqy P sebagai kapel OPJH 2012, OC bingung menenpatkan fungsi & proporsi kakak tingkat dalam OPJH sehingga mereka berpikiran tidak ada fungsi selain pemberi materi (selain bertujuan mengirit dana pemateri), pengisi acara games dan sharing yang secara jujur dia akui bahwa tidak bertujuan secara eksplisit tentang pengenalan keluarga besar THP seperti kakak tingkat bahkan dosen atau karyawan melainkan pengisi acara. Sehingga mengingatkan statement eks kahim sandymas,”mas, aku kok ditepuk tangani yah, dikira guest star apa yah?”

  • Keseluruhan Peserta Screening tidak berani & tidak tahu bagaimana memberikan indikator secara kuantitatif sebagai indeks keberhasilan sehingga indikator yang ada adalah apabila acara mampu berlangsung mulai dari pembukaan sampai inagurasi penutupan indeksnya adalah “BERHASIL”, padahal untuk dikatakan berhasil atau tidak adalah secara tersampaikan tema kepada maba tidak memiliki indikator secara kuantitatif. Semua indikatornya secara kualitatif, padahal menurut salah satu peserta screening “Zakiy” indikator secara kualitatif itu berdasar kepada feel personal, dan itu nilainya subjektif bukan objektif sehingga tidak bisa dipertanggungjawabkan.
  • Di FTP hanya ada 3 pembantu dekan dan 1 dekan sebagai pihak yang melakukan supervisi terhadap ratusan dosen dan karyawan serta ribuan mahasiswa. Tapi dalam penentuan SC sungguh sangat bertolak belakang karena tahun lalu ada 9 orang SC untuk 9 sie (kalau tidak salah) yang berjumlah 200an orang dan 200an maba. Saat screening kemarin (kalau belum berubah pendengaran saya) dibutuhkan 12 orang karena jumlah panitia yang semakin banyak dan jumlah pesertanya semakin banyak. Dalam proses screening terhadap para calon SC ketika ditanya berapa jumlah yang ideal, jawabannya cuma berinti 1 yakni semakin banyak semakin baik.  Saya secara pribadi maupun menurut Rozak (penutur teori semakin banyak panitia&maba) belum mampu mendapatkan penjelasan yang logis antara korelasi kebutuhan SC dengan orang dihandle atas hal ini. Hal ini secara tidak langsung maupun langsung menuturkan bahwa ketidakpedean terhadap sistem manajemen yang diterapkan dalam kepanitian OPJH yang dikatakan buruk, ketidak percayaan akan kemampuan leadership diri sendiri dari masing-masing calon SC, manajemen waktu yang buruk dari beberapa calon SC seperti diungkapkan radit, herwin dll sehingga dapat lebih mudah absen saat berhalangan hadir mendampingi OC. Menurut teori manajemen “Marc Antonius” dalam sebuah tim kalau 10% saja tidak menjalankan kinerjanya pastilah akan menimbulkan disfungsi sistem secara keseluruhan.

Dengan ini saya sejujurnya, berdasarkan screening hanya berani bertanggung jawab dengan merekomendasikan terhadap 3 orang yang saja (aldo,rifqi p & alissa) untuk menjadi SC meskipun belum mencapai 80% dari kriteria yg saya tetapkan yakni inovatif, konseptor, indiependent, punya leadership dan kemampuan komunikasi yang baik. Mungkin hal terbaik yang bisa diambil dari mereka bertiga adalah pengalaman & tahu kelemahan di tahun lalu. Selebihnya merupakan penentuan dan tanggung jawab PH, termasuk calon SC dari 2010 dimana salah satunya juga tidak lulus dalam SC tahun lalu sehingga bagaimana kapabilitynya saat ini karena tidak menjalani proses screening.

  • Peserta Screening tidak mampu menawarkan inovasi konsep yang baru, padahal mereka tahu bahwa OPJH itu menjenuhkan, kecuali saat QC keluar karena memberikan surprise peningkatan adrenalin bagi mereka. Mereka juga berpikiran sebaiknya membuat acara OPJH ini menjadi lebih fun dan tidak borring dengan materi yang membosankan, akan tetapi ide yang ditawarkan oleh hampir semua peserta screening adalah sama, klasik alias dari tahun ke tahun hal itulah yang memang ditawarkan dan terbukti tidak berhasil. Misal solusinya adalah saat materi sering-sering dikasih icebreaking, maka dengan mudah akan saya bantah dengan logika saja yakni saat materi berlangsung maka peserta akan borring kemudian diisi icebreaking (tidak termasuk kalau icebreakernya ga jelas) dengan kondisi yg borring otomatis icebreaking (yang sebagian besar tidak dijelaskan manfaat faedahnya selain mengusir kantuk dan menggerakkan bokong/leher yang pegal) akan diikuti oleh peserta dengan perasaan geje dan kurang bersemangat, hasil endingnya pun setelah dievaluasi akan tetap secara keseluruhan menjemukan. Namun ada juga yang berpikiran out of the box walaupun masih absurd tapi sudah cukup luar biasa bagi saya, seperti yang diutarakan oleh Alissa yang mengajukan konsep gadgeting dalam OPJH, semisal jadi penyampaian tugas bisa dipublish by youtube bukan lagi ditempel di tembok lalu di timing sampai waktunya habis.
  • Problem solving yang masih rendah, misal saja pertanyaan yang ada berdasarkan kasus yang terjadi tahun lalu adalah bagaimana menghadirkan OC 100% diwaktu persiapan hingga acara hari-H dan bagaimana kalau ada yang ngambek dalam 1 divisi. Hampir semua menawarkan solusi konvensional dengan pendekatan personal tapi tidak ada satupun yang menawarkan pendekatan sistematis. Coba bayangkan saja kalau ada 200an panitia dan 30 diantaranya ngambek dengan masalah yang berbeda apa tidak akan pecah kepala SC yang melakukan pendekatan personal. Salah seorang ex TQM “Herwin” yang dalam pengalamannya menyampaikan bahwa dia pernah menghandle 20 orang dalam 1 sie, dia mengeluh cukup pusing menerapkan metode problem solving secara personal dan akhirnya hanya mampu menghandle 3 orang saja sehingga dengan kata lain menyampahkan 17 orang lain menjadi tidak berguna. Sebaiknya sebagai seorang SC dan bukannya seorang OC, SC mampu memberikan penawaran solusi secara sistematis agar mampu diterapkan oleh OC ataupun tridharma dalam mengambil tindakan, bukannya malah secara individual turun langsung kebawah mengambil tindakan sendiri dan menyalahi wewenang dari tridharma. Manajemen pak jokowi dapat diambil sebagai aplikasi contoh, beliau memang benar langsung turun ke bawah, tapi untuk mengambil aspirasi dari lapisan rakyat paling bawah semisal masalah kesehatan rakyat miskin kemudian aspirasi itu beliau godok hingga muncul sistem solusi KJS yang kemudian pelaksanaanya dilakukan oleh kepala dinkes, dengan kata lain beliau tidak melakukan pengambilan aspirasi, pembuatan kebijakan sampai pelaksana kebijakan sendirian.
  • Sebagian besar calon SC tidak tahu kedudukan secara strukturalnya antar PH-SC-OC sehingga kebanyakan malah tumpang tindih antara tugas PH & SC maupun SC yang terlalu campur tangan dalam teknis OC. Sebaiknya perlu ada penjernihan tugas dan wewenangnya masing-masing sehingga tidak terjadi tumpang tindih dan tahu harus memberikan report & pertanggungjawaban rutin kepada siapa. Bahkan menurut mrs x (lupa namanya ex co graphista) sebenarnya PH pada tahun lalu tidak banyak melakukan hal karena sepertinya tugasnya diambil alih oleh SC secara keseluruhan sehingga PH hanya bisa bertindak netral, dimana kata netral itu tidak dapat diterjemahkan secara positif melainkan diterjemahkan tidak bertindak apa-apa.
  • Sebanyak 85% peserta screening tidak tahu sejarah OPJH, hal inilah yang membuat banyak unsur tradisi yang sakral menjadi hilang saat OPJH 2012 kemarin. Misal pembaiatan/pelantikan sebagai keluarga besar dengan mengucap sumpah sambil mencium  bendera himalogista. Acara makan tumpeng bersama (keseluruhan, disaksikan oleh maba-OC-SC-PH-kakak tingkat/alumni-Dosen-karyawan) di akhir acara juga dihilangkan digantikan dengan acara makan sepiring berdua antara maba-OC sehingga sangat tampak pencarian eksistensi berlebihan. Untuk hal ini sendiri diakui sendiri oleh eks kapel bahwa soal pembaiatan tidak mengetahui tatalaksananya & soal tumpengan yang bertujuan sebagai syukuran dan pengakraban semua elemen keluarga besar THP merupakan improvisasi salah jalur yang sebenarnya tidak dia harapkan juga karena alasan terbatasnya dana, meskipun kalau dikalkulasi pembelian tumpeng yang bisa dimakan 15-20 orang lebih murah daripada sepiring berdua. Namun sekali lagi esensi yang diharapkan bukan soal makan tapi soal simbolik penyatuan semua elemen yang “wellcome” terhadap anggota keluarga baru.

Mungkin sebatas ini analisis,evaluasi, saran dan kritik yang bisa saya berikan untuk kemajuan dan keeratan “seduluran” bersama seluruh keluarga besar THP-UB secara umum dan perkembangan Himalogista-UB. Tidak semua poin diatas berisikan kebaikan sebab kebaikan hanya penilaian kualitatif berdasar hati nurani perorangan. Semoga hasil evaluasi ini membawa hasil yang lebih baik. untuk genesai mendatang  (Typer/writer: RKW)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 139 pengikut lainnya

Tulisan Terakhir

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.
%d blogger menyukai ini: