“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

MENJADI MAHASISWA PEMBELAJAR YANG MAMPU MENGABDI

Mahasiswa sebagai salah satu kesatuan dari manusia muda pembelajar yang ditugaskan oleh orang tuanya masing-masing untuk belajar. Namun sebagian kita seringlah menyalah artikan dengan memaknai tugas belajar ini dengan hanya menjalani kuliah dan memaksimalkan nilai indeks prestasi dengan melupakan  domain- domain nilai lain yang lebih nyata sebagai fakta bekal hidup yang akan kita bawa setelah lulus.

Menjadi mahasiswa adalah kesempatan tergantung bagaimana kemampuan finansial dan kemauan yang kita miliki. Sedang masuk organisasi adalah pilihan. Mengapa menjadi sebuah pilihan? Ya, dari sekian anak negeri ini yang lulus dari Sekolah Menengah Atas hanya sebagian kecil yang meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi karena kuota yang memang terbatas dan kesadaran beberapa orang tua tentang pentingnya pendidikan yang terbentur oleh masalah finansial. Oleh karena itu, besar harapan masyarakat terhadap kaum muda yang berjumlah kecil ini bergelut dengan dunia intelektual ini, walaupun faktanya malah banyak mahasiswa yang memperburuk angka pengangguran kita.

Fenomena mahalnya biaya pendidikan, menuntut mahasiswa untuk menyelesaikan studi tepat waktu. Sehingga segala energi dikerahkan untuk mengondol gelar sarjana/diploma sesegera mungkin. Tak ayal lagi tren study oriented mewabah di kalangan mahasiswa dan banyak sekali melewatkan hal-hal menarik yang berhubungan dengan pembelajaran social responsibility dan problem solving dimana pemikiran kritik yang sangat dibutuhkan oleh dunia intelektual pasca lulus nantinya sering terabaikan.

Tapi apakah cukup dengan hanya mengandalkan ilmu dari perkuliahan dan indeks prestasi yang tinggi untuk mengarungi kehidupan pasca wisuda? Ternyata tidak. Dunia kerja yang akan digeluti oleh alumnus perguruan tinggi tidak bisa diarungi dengan dua modal itu saja. Ada elemen yang lebih penting, yakni kemampuan soft skill. Kemampuan ini terkait dengan kemampuan berkomunikasi dan bahasa, bekerja dalam satu team, serta kemampuan memimpin dan dipimpin sehingga kita mampu menjadi intelektual yang beretika.

Kapabilitas soft skill ini tidak diajarkan didalam bangku kuliah oleh bapak dan ibu dosen. Hal yang ingin saya tegaskan di sini adalah keberadaan organisasi mahasiswa menjadi penting karena kemanfaatannya terpulang kepada mahasiswa itu sendiri. Mungkin ada yang takut ketika masuk organisasi waktunya untuk belajar akan terganggu yang pada akhirnya berpengaruh kepada lamanya studi. Penulis katakan memang ada sebagian kecil mahasiswa yang lalai kuliah akibat terlalu sibuk mengurus organisasi. Tapi kenyataan juga membuktikan, betapa banyak penggiat organisasi yang berhasil lulus tepat waktu, dan dengan indeks prestasi yang sangat memuaskan. Jadi ini hanyalah masalah manajemen waktu. Jangan juga mengikuti saya yang punya masa study hampir 6,5 tahun, walaupun pada keadaan realnya mengatakan bahwa sebagian besar penggiat organisasi lebih banyak berperan dalam segala aspek bidang kemasyarakatan dibanding dengan mahasiswa cumlaude tanpa berorganisasi.

Selain berfungsi sebagai pembelajaran diri, organisasi mahasiswa merupakan wahana bagi mahasiswa berempati dengan situasi yang terjadi di masyarakat. Negara berkembang layaknya Indonesia, banyak dihadapkan masalah-masalah sosial terutama menyangkut kesenjangan ekonomi, kecurangan, ketidakadilan, dan ketidakstabilan politik. Organisasi mahasiswa membawa para anggotanya bersinggungan langsung dengan persoalan-persoalan ini, sekaligus mengugah rasa kritis untuk mencari solusi atas apa yang terjadi.

Organisasi mahasiswa menjembatani domain kampus yang elitis, eksklusif dan money oriented dengan ruang masyarakat. Sehingga, ketika terbiasa menghadapi problem kehidupan, mahasiswa tidak lagi canggung bergumul dengan ruang baru, baik di masyarakat maupun di dunia kerja selepas lulus dari perguruan tinggi. Selain berfungsi sebagai pembelajaran diri, organisasi merupakan wahana bagi kita berempati dengan situasi yang terjadi di masyarakat. Negara berkembang layaknya Indonesia, banyak dihadapkan masalah-masalah sosial terutama menyangkut kesenjangan ekonomi, kecurangan, ketidakadilan, dan ketidakstabilan politik. Organisasi membawa para anggotanya bersinggungan langsung dengan persoalan-persoalan ini, sekaligus mengugah rasa kritis untuk mencari solusi atas apa yang terjadi dengan dasar-dasar keilmuan yang kita peroleh dari bangku (baca saja kursi karena sekarang kuliah tidak pakai bangku) perkuliahan.

Iklan

One response

  1. leegundi

    benar ya , berorganisasi itu pentng banget soalnya dalam dunia kerja nanti skill kita dalam berorganisasi itu diperlukan banget ya … apalagi bisa belajar memanage waktu ..

    16 Oktober 2012 pukul 11:17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 139 pengikut lainnya

Tulisan Terakhir

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.
%d blogger menyukai ini: