“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

ISLAM, YANG MANAKAH ISLAM ITU?

 

ISLAM, YANG MANAKAH ISLAM ITU?

    Pagi-pagi ditivi sudah ada sebuah berita yang bikin terenyuh. Negara yang disetiap saat pelajaran PPKN dari SD sampai masa kuliah selalu dianggap sebagai negara berbhineka tunggal ika dengan mengutamakan tenggangrasa dan toleransi baik antar umat beragama maupun umat seagama ternyata hanya kiasan dalam buku lusuh saya dulu. Sekumpulan orang berbaju panjang putih dan penutup kepala putih dengan motor dan bendera kelompok mereka tiba-tiba mendatangi beberapa warung makan di sebuah kompleks pabrik. Dengan berteriak-teriak membawa nama Tuhan mereka mengobrak-abrik warung makan yang buka siang hari di bulan puasa itu, aroma kemarahan terlihat jelas dari pembuluh yang bersemburat dari wajah mereka. Buruh pabrik yang kebanyakan wanita yang sedang makan di warung makan pun lari pontang panting ke luar, mereka ketsayatan, ketsayatan dengan orang-orang yang dengan membawa nama Tuhan, menyebarkan amarah, kebencian dan ketakutan di warung makan tersebut, dan mereka mengsaya beragama Islam.

    Saya memang bukan ahli agama, cuman orang awam. Pendidikan Agama Islam yang saya dapat cuman sebatas pelajaran agama dan pesantren kilat waktu sekolah dulu, sama belajar ngaji di mesjid waktu kecil dulu, paling ditambah beberapa kuliah agama waktu kuliah. Saya juga bukan orang alim, beneran, walaupun kalo celana saya angkat semata kaki dan jenggot saya panjangin dikit saya sudah mirip relawan pejuang palestina, tapi sesungguhnya saya jauh dari sebutan alim. Bahkan, bakal ada sekitar 1000 orang di daftar teman facebook yang akan tertawa paling keras kalo sampai saya mengaku alim. Walaupun bukan ahli agama dan bukan orang alim, saya cukup bisa untuk mengerti, bahwa Islam itu bukan Islam seperti yang dipertontonkan LPWYBDBP (Laskar Perusak Warung Yang Buka Di Bulan Puasa) itu.

    Islam yang saya tahu itu lembut, selembut kasih sayang rasul menyuapi orang buta yang melempari beliau dengan kotoran setiap hari. Islam yang saya tau itu cerdas, secerdas ayat pertamanya yang menyuruh umat manusia untuk membaca, ya membaca, bukan merusak warung. Islam yang saya tau itu terbuka dan moderat, seterbuka perjanjian madinah yang bahkan menjamin hak umat nasrani, yahudi, dan pagan sama dan setara saat jaman Rasul memimpin dulu. Maafkan keterbatasan ilmuku, tapi setauku Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk mengintimidasi mereka yang berbeda dengan kita, Islam tidak pernah mengajarkan, wahai orang-orang yang beriman, bela agamamu dengan sorban putih beramai-ramai naik motor dan teriakan Allahuakbar sambil merusak tempat-tempat mereka yang kau pikir tidak menghormati agamamu.

    Masak iya, ada saudara-saudara saya sesama muslim yang lebih memilih untuk kembali ke masa kebodohan dengan selalu merusak dan mengintimidasi. Dengan menyebar kebencian ke penjuru negeri. Sementara di negara mayoritas Islam lain, umatnya sudah sampai level gimana caranya memberikan kontribusi pada peradaban, di negara kita levelnya masih di level barbar. Sementara di Mesir, Presiden Mursi yang ikhwanul muslimin, hafidz Quran, punya wakil orang kristen koptik, cewek pula, di negara kita masih banyak ustad yang ribut gara-gara seorang Ahok maju jadi wakil gubernur, bahkan raja dangdut yang beralih profesi menjadi penceramah pun ikut-ikutan andil bikin ribut SARA.

    Apa kemunduran Islam di Indonesia karena mayoritas muslim di Indonesia, termasuk saya, terlalu malas ya? Yang merasa pintar dan moderat lebih sibuk dengan blackberry, iphone, twitter dan beronani dengan pemikiran briliannya sendiri, dan malas berkontribusi kepada masyarakat luas. Yang merasa paling alim sibuk berfatwa dan menghakimi kekafiran orang lain, dan malas menggunakan akalnya sedikit saja untuk menyadari bahwa Islam itu adalah rahmat, bukan ancaman. Bahkan menurut Prof. Muhammad Adnan, arti kata Islam ialah:

a. Islam jika diambil dari urutan asal kata SALIMA, artinya selamat.

b. Islam jika diambil dari urutan asal kata SALI, artinya damai, rukun, bersatu.

c. Islam jika diambil dari urutan asal kata ISTASLAMA, artinya tunduk, dan taat kepada perintah Allah dengan memakai dasar petunjuk-petunjuk serta bimbingan ajaran Rasul Muhammad SAW.

d. Islam jika diambil dari urutan asal kata ISTLASAMA, artinya tulus dan ikhlas.

e. Islam jika diambil dari urutan asal kata SULLAMI, artinya tangga untuk mencapai keluhuran derajat lahir dan batin.

Sudahkah diamalkan artikata islam tersebut yang mengacu pada keselamatan, perdamaian, kerukunan dan persatuan dengan mengikuti petunjuk Allah yang diwahyukan kepada RasulNya.

    Ada gap dalam masyarakat kita, gap yang disebabkan oleh ketidakpedulian kita untuk maju secara kolektif sebagai sebuah bangsa yang satu. Gap antara yang pintar dan bodoh, antara yang liberal dan konservatif, gap yang lebih sering diisi dengan saling menyalahkan dan merasa benar sendiri. Sebuah gap yang akhirnya diisi oleh kebodohan dan nafsu manusia lainnya. Kita terlalu sibuk dengan kelompok kita sendiri. Sehingga mereka yang tersisihkan akhirnya mencari jalan termudah untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk eksistensi diri mereka, yaitu cara kebodohan.

    Tayangan berita di tivi itu mengingatkan saya kembali atas kemalasanku, malas bergerak untuk kemajuan bangsa saya, malas mengingatkan sesama untuk maju, dan lebih sibuk berwacana dan memuja ego dan kecerdasan sendiri, malas untuk menjadi satu sebagai bangsa, dan sibuk menjadi skeptis dan sinis dengan segala hal yang berhubungan dengan negara ini. Padahal Islam sendiri mengajarkan bahwa tidak akan berubah suatu bangsa menuju kebaikan kecuali dengan usaha dan perjuangan bangsa itu sendiri.

    Moga-moga kita selalu ingat untuk menyadari, bahwa beragama itu tidak bisa dengan kacamata nafsu, melainkan dengan kacamata akal dan nurani. Seperti saat akal dan nurani para cendekiawan Islam seperti Al Khawarizmi dengan matematika-nya, Ibnu Sina dengan filosofinya, Al Zahrawi dengan kitab pengobatannya, Al-Ghazali dengan idealismenya, Ibnu Batutta dan perjalannya serta cendekiawan Islam lainnya di masa keemasan Islam dulu, membebaskan dunia dari masa-masa kegelapan.

Takbir Yang Dirindukan Dan Takbir Yang Ditakuti

    Saya orang Islam dan dilahirkan dalam keluarga Islam, di sebuah kelurahan di Surabaya. Sudah sejak kecil saya mendengar suara itu, tapi saya senang dan gembira mendengar suara “Allahu Akbar”. Terlebih lagi saat Idul Fitri atau saat berbuka puasa, saya sering bersama teman-teman keliling saat takbir. Membawa oncor melantunkan “Allahu Akbar”. Wuah gembira dan bahagianya saya saat itu. Sesekali saya dan teman-teman menyulut mercon, dan “duer” lalu kembali melantunkan “Allahuakbar”.

    Bagi saya dulu, Allahu Akbar adalah lambang kegembiraan, lambang untuk

mengungkapkan rasa bersyukur setelah puasa. Rasa senang karena dapat sarung baru, peci baru. Kami saling memaafkan, saling berbagi kebahagiaan dan tentu saja saling berbagi: keciput, madu mongso, semprit, bolu, rengginang, jumputan hingga wafer, roti khonghuan, gudir dan seterusnya.

    Di pasar, pedagang-pedagang Tionghoa yang umumnya non muslim, juga ikut bahagia. Karena mereka habis untung banyak, jualan baju, makanan dst. sebagai bagian dari mayoritas, dan saat itu saya masih kecil. Allahuakbar itu kegembiraan.

    Tapi kini “Allahu Akbar” begitu menakutkan bagi saya. Benar, saya takut sekali mendengar Allahu Akbar. Begitu “dredeg” dan berkeringat. Mengapa Allahuakbar begitu menakutkan?

senyum itu baik

    Selesai solat subuh, dapat email baru dari teman. isinya video penyembelihan orang. sepertinya terkait dengan peristiwa-peristiwa politik terkini di timur tengah. Empat orang bersurban dengan cadar menutup wajahnya, mengucapkan “allahu akbar” lalu srett!! dengan pisau terhunus memotong leher seorang tawanan hingga putus. darah memancar kemana-mana. dilihat dari bentuk wajah dan posturnya, sang terbunuh itu bertampang timur tengah juga. mungkin dengan agama yang sama, etnis yang sama. hanya pandangan politik yang berbeda. mereka menyembah allah yang sama.

    Bertahun-tahun belakangan ini, kalimat “allahu akbar” makin sering terdengar dalam berbagai peristiwa yang biasanya berintikan perbedaan maksud/ tujuan/faham atau hanya sekadar menghalalkan sesuatu yang haram. ketika pasukan satpol menghalau demo mahasiswa, pun mereka teriakan allahu akbar. ketika kerusuhan berlangsung, Anehnya satpol pp berteriak Allahu Akbar, Mahasiswa pun berteriak Allahu Akbar. Demikian pula terjadi saat kerusuhan yang terjadi soal perebutan lahan di Sumatera, massa yang marah membakar rumah dan toko, pun mereka teriakan allahu akbar. Demo-demo menentang kebijakan politik pemerintah mutkahir, pun teriakkan allahu akbar. Saat peristiwa penjarahan koperasi langit biru yang sambil membobol pintu dan mengangkuti barang-barang juga ada teriakan Allahu Akbar. Saat perusakan warung di bulan puasa juga Allahu Akbar. Saat kampanye pilkada DKI pun terhambur-hambur teriakan Allahu Akbar dari semua pasangan, apakah takbir yang mulia ini kini menjadi sesuatu yang murahan tak bernilai hingga sangat mudah diucapkan hingga dapat menghalalkan banyak perbuatan yang menentang kaidah. Kalaupun dianalogikan mungkinkah kita memakan barang haram seperti babi panggang dengan mengucapkan bismillah maka makanan itu akan menjadi halal.

    Menurut Asep Usman Ismail, Dewan Pakar Pusat Studi Al-Qur’an), ungkapan Allahu akbar merupakan kalimat thayyibah, kalimat yang indah. Ungkapan ini merupakan ungkapan dzikir lisan. Pada waktu seorang Muslim berzikir dengan mengucapkan kalimat thayyibah, maka ia haikatnya sedang menghubungakan emosi (perasaan) dan spiritual (ruhiyyah-nya) dengan Allah sehingga menurut Al-Qur`an (Q.S. Ar-Ra’du/13: 28) bahwa dengan dzikir kepada Allah itu qalbu, emosi dan spiritual, orang-orang beriman menjadi tenang. Emosi dan spiritualnya (EQ dan SQ) menjadi cerdas, mentalnya sehat dan tindakannya terkontrol dengan baik. Jika ini yang menjadi esensi pengucapan kalimah thayyibah seperti ungkapan Allahu akbar, maka ada satu pertanyaan mendasar, apakah layak pengucapan Allahu akbar yang menghasilkan tindakan anarkis? Tentu ada pola pikir yang salah dalam memahami kalimah thayyibah. Ada kesalahan berat dalam penerapan kalimah thayyibah.

    Sudah saatnya kita meredesign kerangka berfikir kita yang selalu mengklaim kebenaran. Sungguh kerdil bila kita selalu merasa benar sementara orang ‘diluar sana’ selalu salah, sesat, sehingga harus ditumpas, dicincang, dan dimusnahkan dari muka bumi.

    Perbedaan adalah rahmat. Jika Tuhan Yang Maha Kuasa ingin membuat manusia di bumi ini hanya beragama satu, saya yakin Tuhan bisa. Tetapi, mengapa Tuhan tidak melakukannya? Lho kok manusia yang sangat lemah, dhoif, dan selalu salah justru mau melakukannya?

    Sekali lagi. Perbedaan (apapun itu, termasuk perbedaan pendapat) adalah rahmat. Jika Tuhan ingin menciptakan satu-kesatuan, niscaya Dia akan menciptakan manusia tanpa akal budi yang punya kemampuan memilah dan memilih. Mari kita kembalikan Islam dalam fitrahnya sebagai agama keselamatan dunia dan akhirat.

(referensi dari berbagai sumber)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 139 pengikut lainnya

Tulisan Terakhir

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.
%d blogger menyukai ini: