“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

SAMPEAN MUSLIM ??? (MEMAKNAI KEBERAGAMAN UMAT)

SAMPEAN MUSLIM ??? (MEMAKNAI KEBERAGAMAN UMAT)


Dalam diskusi publik atau media sosial seperti Twitter, saya kerap mendapatkan pertanyaan, “Anda agamanya apa?” atau “Anda Muslim bukan?” Gara-garanya adalah karena saya mengajukan pemahaman tentang Islam yang berbeda dengan yang dipahami oleh si penanya. Pertanyaan yang menjengkelkan semacam ini juga kerap dialami oleh orang-orang lain. Saya akan mengulas gejala ini, apa asumsi-asumsi yang melatarinya, dan bagaimana menyikapinya secara tepat.

Pertanyaan semacam itu jelas tak bisa lain kecuali pertanyaan yang menghakimi (judgemental). Si penanya ingin meragukan keislaman lawan bicara. Asumsi yang ada di balik pertanyaan semacam ini adalah bahwa si penanya berada pada posisi yang benar, sementara lawan bicaranya berada pada posisi yang salah, atau diragukan kebenarannya (dhi. keislamannya).

Si penanya juga punya asumsi lain yang tentu harus dipersoalkan dan diinterogasi. Asumsi itu ialah bahwa Islam seolah-olah hanya bisa dipahami dengan satu cara saja, sementara pemahaman-pemahaman lain yang tak sesuai dengan cara yang satu dan benar itu dianggap menyimpang atau sesat. Bahkan pemahaman yang tak sesuai dengan cara yang satu itu akan menempatkan seseorang berada di luar lingkaran Islam, alias kafir. Dengan kata lain, pertanyaan semacam itu merupakan tindakan mengkafirkan pihak lain secara tersembunyi.

Asumsi-asumsi semacam itu jelas tidak tepat, dan bahkan berbahaya jika tak dikoreksi. Asumsi bahwa Islam hanya bisa dipahami dengan satu cara saja, jelas asumsi yang tak benar. Dalam sejarah Islam yang terbentang lebih dari seribu tahun, kita menyaksikan perbedaan pandangan yang luar biasa kaya dalam memahami ajaran Islam. Masing-masing golongan dalam Islam mempunyai “lensa epistemologis” yang berbeda-beda untuk memandang, membaca, dan memahami teks-teks dalam Islam, terutama dua teks utama: Quran dan sunna.

Gejala takfir (pengkafiran/mempertanyakan keimanan) sebetulnya mencerminkan sebuah pertarungan internal dalam tubuh umat Islam. Sebagaimana kita tahu, meskipun pada pokok-pokok keyakinannya, umat Islam kurang lebih bersatu, tetapi dalam masalah-masalah yang bersifat cabang atau ranting, termasuk dalam cara menafsirkan pokok-pokok keyakinan (aqida), mereka sebetulnya berbeda-beda sejak lebih dari seribu tahun yang lalu. Pandangan sebagian kalangan Islam saat ini yang mengatakan bahwa Islam hanya satu, yaitu Islam sebagaimana diajarkan oleh Quran dan sunnah, bisa benar, tetapi juga tidak seluruhnya benar.

Benar, karena memang Islam pada dasarnya memang satu, yakni Islam seperti diajarkan oleh Nabi Muhammad dantertuang dalam dua teks utama, yaitu Quran dan sunnah. Tetapi, sebagaimana layaknya setiap teks, dua teks utama dalam Islam itu dipahami secara berbeda-beda oleh banyak kalangan dalam Islam sendiri. Inilah yang menjelaskan kenapa dalam sejarah Islam yang panjang itu kita jumpai berbagai bentuk sekte (firqah) atau mazhab (school of thought).

Ya, benar, Islam memang satu, tetapi manifestasinya dalam sejarah yang kongkret bisa bermacam-macam. Sementara itu, keragaman tersebut pada akhirnya juga bermuara pada mata air yang sama. Kalau boleh dibuat semacam analogi, Islam adalah seperti mata air besar yang menimbulkan berbagai aliran air atau sungai kecil yang begitu banyak. Mata airnya Islam memang satu, tetapi mata air yang satu itu melahirkan sungai-sungai kecil yang banyak. Sebaliknya, sungai-sungai itu memang banyak, tetapi pada akhirnya bermuara pada mata air yang sama. Kalau anda mau, boleh juga memakai istilah yang sudah populer, unity in diversity, kesatuan dalam keragaman; atau diversity in unity, keragaman dalam kesatuan.

Keragaman internal dalam tubuh umat Islam itu, sebagaimana kita lihat dalam sejarahnya yang panjang, kadang menimbulkan pertengkaran di dalam “rumah” umat Islam sendiri. Satu golongan merasa bahwa pemahamannyalah yang paling benar, sementara pemahaman golongan lain adalah sesat. Dalam beberapa kasus, golongan yang satu bisa saja menganggap bahwa golongan yang lain itu bukan saja sesat, tetapi juga kafir. Masing-masing golongan membawa semacam truth claim, atau kleim tentang kebenaran. Kleim inilah yang menjadi dasar bagi golongan tertentu untuk menyesatkan atau mengkafirkan golongan yang lain.

Apakah semua pemahaman itu benar, ataukah hanya satu yang benar? Kalau kita tengok khazanah pemikiran Islam sendiri, ada dua pendapat dalam menjawab pertanyaan ini. Mazhab pertama adalah mazhab mukhattia yang berpandangan bahwa hanya ada satu tafsiran dalam Islam yang benar, sementara yang lain salah. Mazhab ini juga terpecah dalam dua kelompok atau sub-mazhab: ada yang berpandangan bahwa tafsir satu yang benar itu dapat dicapai dan diketahui oleh manusia; ada yang berpandangan bahwa hanya Tuhan lah yang tahu mana tafsir satu yang benar secara mutlak itu. Mazhab kedua adalah mushawwiba yang berpandangan semua pemahaman dan tafsir itu benar.

Saya menganggap bahwa mazhab mushawwiba lebih demokratis dan sesuai dengan tujuan untuk menciptakan lingkungan dialog yang sehat dalam tubuh umat Islam. Gejala yang mudah menganggap sesat atau kafir golongan lain yang berbeda tafsir jelas kurang sehat, sebab hanya akan menimbulkan perpecahan dan polarisasi dalam tubuh umat. Dengan mengembangkan pandangan yang dikemukakan oleh mazhab mushawwiba itu, kita berharap golongan-golongan dalam Islam bisa menolerir perbedaan pandangan dan tafsir dalam soal keislaman, bukan mudah mengkafirkan atau meragukan keislaman pihak lain yang berbeda itu.

Kerapkali asumsi yang melandasi pertanyaan di atas itu disebabkan pula oleh lemahnya pemahaman historis di kalangan sebagian umat Islam. Mereka, terutama yang baru saja “asyik kembali” menjadi Muslim (born-again Muslim), tak pernah atau jarang mempelajari sejarah perbedaan penafsiran dan pemahaman dalam umat Islam sepanjang sejarahnya yang membentang lebih dari seribu tahun itu. Mereka tak pernah belajar bahwa ada banyak golongan, sekte, firqa, dan mazbah dalam Islam. Mereka mengira bahwa Islam dalam sejarahnya hanya bisa dipahami dan ditafsir dengan satu cara atau lensa saja. Lemahnya kesadaran historis ini menyebabkan orang rabun (myopic) terhadap sejarah intelektual Islam sendiri. Pertanyaan di atas itu adalah gambaran saja dari gejala ahistorisisme dalam tubuh umat Islam.

Apa solusi untuk keadaan seperti ini? Salah satunya, dan yang paling penting, adalah mendorong umat untuk mempelajari sejarah keragaman dalam Islam sendiri sejak dahulu hingga sekarang. Sementara itu sikap yang tepat terhadap sejarah keragaman itu juga harus dikembangkan, yakni sikap seperti yang diusulkan oleh mazhab mushawwiba di atas: sikap menerima perbedaan secara lapang dada. Almarhum Prof. Nurcholish Madjid aka Cak Nur dulu pernah menyebut hal ini sebagai “toleransi internal”.

Sumber Tulisan: disadur dari “seseorang”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 139 pengikut lainnya

Tulisan Terakhir

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.
%d blogger menyukai ini: