“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

Saya Senior !!! Kamu Junior !!!

Saya Senior !!! Kamu Junior !!!


“Mas punya memory card?”, tanya seorang anak kecil dengan polos kepada saya.

“Oh Card Reader tah?”, Saya pun memberikan sebuah card reader kepadanya, karena tanpa dijelaskan lebih lanjut saya sudah paham apa sebenarnya yang dibutuhkan anak tersebut.

Selang beberapa menit kemudian si anak kecil tadi kembali menghampiri saya sambil membawa card reader

“Mas piye cara masange?”.

Saya pun membantu anak tersebut memasang memori card anak tersebut ke dalam card reader. Tak lupa pula saya mengingatkan agar card readernya nanti dicolokkan di belakang komputer tempat dia ngenet.

Tak seberapa lama kemudian lagi-lagi si anak kecil itu menghampiri saya, “Mas cara ngopy lagune gimana?”, tanya dia sambil garuk-garuk kepala.

Saya segera menghampiri bilik tempat anak kecil tersebut ngenet, yang kebetulan letaknya tidak begitu terlihat dari meja operator. Di sana saya melihat ternyata si anak kecil tersebut tidaklah sendirian. Ada dua orang anak seumuran SMA yang juga berada di bilik tersebut.

Akhirnya saya pun mengerti letak permasalahan dari anak kecil tersebut. Ternyata si anak tidak memperhatikan apa yang tadi saya sarankan agar card readernya dicolokkan di USB belakang komputernya.

“Piye bisa ngopy dik, lah wong memori kamu saja enggak terbaca di komputernya. tadi sudah saya bilang card readernya colokin di belakang kan?”, kata saya ngedumel.

“Makane dul didengerin orang ngomong”, kata salah satu teman anak kecil tersebut. Lucunya lagi salah satu teman anak tersebut nampak mendorong kepala si anak sebagai rasa kejengkelan karena mungkin anak tersebut dianggap melakukan kesalahan.

“Harusnya kan kamu mas yang tadi datang ke saya, bukan malah nyuruh temanmu yang enggak tahu apa-apa ini?”, pendelik saya ke pada dua anak tersebut.

Dulur blogger, perpaduan antara yang muda dan yang tua tentu saja dibutuhkan dalam sebuah interaksi di kehidupan bermasyarakat kita. Namun kadangkala ada seseorang yang menganggap jika kita telah menjadi seorang senior/tua, kita berhak untuk melakukan apapun kepada yang lebih muda/yunior. Banyaknya kasus perploncoan yang terjadi di lingkungan sekolah, kampus dan diklat-diklat organisasi, saya pikir semua terjadi karena kurangnya pemahaman tentang makna dari kata SENIOR. Senior diartikan sebagai sebuah status jika yang tua itu lebih tahu segala-galanya dari yang muda. Yang muda harus menuruti semua perintah yang tua atau kalau perlu yang muda harus mengalah meski tidak salah.

Demikian halnya yang terjadi pada si anak kecil dalam cerita di atas. Karena merasa lebih tua, dua orang anak SMA tersebut dengan seenaknya menyuruh seorang anak kecil tersebut. Sebaliknya si anak kecil dengan terpaksa menuruti kemauan temannya, karena mungkin saja si anak merasa takut kepada temannya yang lebih tua.

Senioritas mungkin tidak akan pernah terjadi manakala kita sadar dengan status senior/yunior yang saat ini kita sandang. Jika menjadi seorang senior jadilah seorang senior yang baik. Seorang senior yang bisa membingkai semua perintahnya kepada yang lebih muda dengan cara yang bijak. Yah, sebuah perintah yang bukan hanya sebatas bernilai kewajiban yang harus dijalankan oleh yang muda, tapi di dalam perintah itu ada sebuah pelajaran yang bisa didapatkan layaknya si anak kecil yang sekarang sudah mengenal arti dari benda bernama card reader. Dan di saat yang muda melakukan kesalahan ada baiknya pula kita mau berkaca, karena bisa jadi dibalik kesalahan yunior kita mungkin di situ ada kesalahan kita pula.

Dalam pencinta alam saya mengenal doktrin jika tidak ada senioritas di dalamnya. Jika saat ini kita menjadi orang yang lebih muda dibanding yang lain, semoga kita tidak mengartikan kalimat tersebut dengan dangkal. Meski adakalanya kita tak bisa nurut pasrah bongko’an begitu saja kepada yang lebih senior, tapi budaya unggah-ungguh (sopan santun) haruslah kita kedepankan kepada yang lebih senior dari kita.

Semoga saja kita tidak menjadi silap mata dengan status senior yang kita punya. Selalu mengayomi dan merangkul yang lebih muda layaknya adik-adik atau anak-anak kita sendiri, sebab pada hakikatnya kita adalah pribadi yang tak bisa berdiri sendiri. Mati pun kelak kita membutuhkan yang lebih muda untuk menguburkan jasad kita. Jadi kenapa kita harus terlalu membanggakan status senior yang saat ini kita sandang?.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 139 pengikut lainnya

Tulisan Terakhir

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.
%d blogger menyukai ini: