“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

DI MANAKAH HARUS KUMAINKAN BOLA SEPAK INI ?

DI MANAKAH HARUS KUMAINKAN BOLA SEPAK INI ?

Hampir setiap sore aku lihat anak-anak main bola kaki di gang kami yang kecil ini, paling lebarnya cuma sekitar 2-2,5 meter dengan cor beton sebagai alasnya dan diapit 2 tembok rumah yang tak terlalu tinggi. Biarpun alas dari beton tapi tak ada rasa takut dari wajah anak-anak ini saat bermain bola, mereka tak menghiraukan kaki mereka yang kecil tak beralas itu robek atau luka karena cor beton dan bahkan sekali waktu bola mereka lari sampai kejalan, tak ada rasa takut nyebrang begitu aja demi mengambil bolanya. Dulu semasa aku kecil juga bermain bola di gang ini, situasi pada waktu dulu malah lebih parah. Kami bermain ditanah yang banyak batu tak beraturan bahkan kami harus rela kaki kami luka terkena pecahan kaca, tapi itu bukan masalah asal kami bisa main bola.


Kok Main Bolanya di gang?

Kenapa anak-anak ini main bola di gang? sudah gak ada lagi kah lapangan yang layak untuk bermain? Ku tanya sama salah seorang anak yang kebetulan sedang istirahat, dan dia pun menjwab dengan polosnya “udah gak ada lagi lapangan tuk kami bang, kalau mau main harus bayar lah. kan banyak tuh lapangan futsal”.

Untuk anak-anak seperti mereka yang umurnya paling berkisar antara 8-11 tahun harus mengeluarkan uang banyak hanya untuk main bola itupun cuma 1 jam, dan mungkin hampir rata-rata pengelola lapangan tidak memberi izin anak-anak menyewa lapangan tanpa ada orang dewasa yang menemani. mungkin takut lapangannya disalah gunakan kali ya, atau takut lapangannya cepat rusak. Pengelola lapangan tidak bisa disalahkan.


Padahal tidak sedikit dari mereka yang memiliki kemampuan bermain bola yang bagus, mereka bibit yang bakal menggantikan Irvan Bachdim, Okto Maniani, dll. Seharusnya pemerintah memikirkan anak-anak seperti mereka walau dari kalangan pinggiran kota yang jauh dari hidup mewah. Kalau sepak bola negeri ini mau maju harus perhatikan bibit-bibit kecil dari sekarang, contohnya seperti anak-anak disekitar rumahku ini.

Lapangan Bola Disulap Menjadi Lapangan Bisnis

Pembangunan yang merajalela adalah biang dari hilangnya lahan kosong untuk bermain bola, yang tampak sekarang adalah bangunan bertingkat tinggi, megah dan cantik. Kasihan anak-anak kita nanti, disaat mereka lahir dan tumbuh besar (setidaknya usia sekolah dasar) mereka hanya bisa melihat sepak bola dari layar TV tanpa merasakan bagaimana rasanya bermain bola.

Setidaknya pemerintah itu menyediakan lahan khusus untuk anak bermain, agar anak-anak pinggiran kota dapat merasakan bermain bola dengan leluasa tanpa harus takut memecahkan jendela rumah tetangga. Tidak seperti anak-anak rumah gedungan yang dengan mudah dapat merasakan pendidikan sepak bola di sekolah sepak bola dengan segala fasilitasnya. Bagi anak-anak pinggiran kota boro-boro masuk disekolah sepak bola yang harus mengeluarkan dana banyak mulai dari perlengkapan pribadi sampai biaya bulanannya, untuk bermain bola di dalam gang sempit aja mereka terkadang susah untuk membeli bolanya. Dan tak jarang mereka harus rela berhenti main bola karena bola mereka nyangkut diatap rumah orang.

Adakah orang yang berbaik hati memberikan lahan kosong kepunyaannya untuk digunakan bebas bermain anak-anak? Kalaupun ada lahan kosong, kurasa sudah dijadikan bangunan rumah atau gedung ruko.

sumber:

https://dinneno.wordpress.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 140 pengikut lainnya

Tulisan Terakhir

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.
%d blogger menyukai ini: