“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

GURIHNYA AYAM GORENG TEPUNG (LALAPAN)

GURIHNYA AYAM GORENG TEPUNG (LALAPAN)


Hampir semua orang mengenal dan pernah menikmati yang namanya ayam goreng tepung. Penggemarnya pun tidak sedikit. Tebukti dengan menjamurnya gerai ayam goreng dan tepung, baik berupa usaha mandiri ataupun usaha waralaba. Setiap skala usaha ini menjanjikan peluang yang cukup besar karena masing-masing memiliki pangsa pasar sendiri. Ayam goreng tepung tersebut hanya satu dari sekian aneka olahan yang berbahan dasar daging ayam. Karena kita ketahui bersama selama ini, banyak sekali makanan yang dihasilkan dari bahan utamanya berupa daging ayam.

Produk

Untuk faktor kelezatan, ayam goreng tepung ditentukan oleh kualitas daging ayam yang digunakan, racikan bumbu, dan kerenyahan tepungnya. Sebaiknya Anda menggunakan ayam potong yang segar dengan membeli langsung di tempat pemotongan ayam karena kualitasnya lebih terjamin. Bahkan di tempat tersebut juga bisa memilih ayam yang masih hidup.

Untuk racikan bumbunya, penjual ayam goreng tepung umumnya membuat sendiri atau mencampurnya dengan tepung bumbu siap pakai. Keuntungannya, selain biayanya lebih murah juga dapat menyesuaikan dengan selera pembeli. Untuk kemasan jualannya, biasanya ayam goreng tepung dijual per potong atau per bagain. Pelengkapnya adalah saus dalam bentuk sachet.

Cara memulai usaha

Sebelum memulai usaha ini, tentukan lokasi yang akan digunakan untuk memulai usaha. Lokasi yang kebanyakan diambil atau digunakan oleh para penjual ayam goreng tepung adalah di pinggir jalan raya yang ramai. Bahkan jika memungkinkan Anda sebaiknya membukanya berdekatan dengan kumpulan pedagang makanan lain seperti nasi goreng, sate ayam, atau martabak. Lokasi seperti itu tidak diragukan lagi keramaiannya, sehingga lebih berpeluang mendapatkan pembeli dalam jumlah yang besar. Harga sewa untuk tempat usaha ayam goreng tepung tersebut bervariasi antara Rp. 100.000- Rp. 300.000/ bulan.

Perlengkapan usaha yang diperlukan untuk menjual ayam goreng tepung antara lain gerobak atau etalase sederhana, kompor gas, tabung gas, wajan, sutil, saringan minyak, baskom plastik untuk wadah campuran bumbu dan tepung, penjepit makanan, dan kantong kertas. Kelengkapan usaha yang lainnya adalah tenda sederhana bila berjualan di tempat terbuka dan beberapa kursi untuk kenyamanan pembeli yang sedang menunggu. Dalam menjalankan operasionalnya juga cukup mudah sehingga cukup mempekerjakan satu orang tenaga kerja di satu gerai, untuk potongan daging ayam dan campuran tepung, bumbu bisa dipersiapkan dari rumah. Sehingga ketika berjualan, pegawai dapat langsung melumuri ayam dengan campuran tepung dan bumbu kemudian menggorengnya.

Pemasaran

Untuk media pemasaran, penjual dapat memberikan promosi dengan diskon di awal usahanya. Informasi juga bisa melalui pamflet yang ditempel di sekitar tempat usaha atau brosur yang disebar. Setelah usaha berjalan diharapkan dapat “mempromosikan” dirinya sendiri. Maksudnya, pelanggan atau konsumen secara “sukarela” menginformasikan dan merekomendasikan produk kita dari mulut ke mulut. Promosi semacam ini efektif bila produk Anda unggul dalam rasa, kualitas, dan harga.

Harga dihitung berdasarkan harga beli bahan dan keuntungan yang ingin diraih. Satu potong ayam goreng tepung dapat dijual Rp 3.500 – Rp 5.000, tergantung dari ukuran dan lokasi berjulan. Harga jual dapat sedikit dinaikkan di lokasi yang diperkirakan memiliki daya beli lebih tinggi.

Kendala usaha

Selama ini yang menjadi resiko atau kendala dalam membuka usaha ayam goreng tepung adalah persaingan dan isu penggunaan ayam tiren (mati kemarin) maupun penggunaan formalin pada daging ayam. Persaingan semakin ketat karena semakin banyak usaha baik pribadi maupun waralaba yang menjual jenis makanan ini. Menjual ayam goreng tepung dengan kualitas daging yang terjaga dan racikan bumbu yang konsisten dapat menjadi senjata menghadapi persaingan yang ada. Isu ayam tiren dan penggunaan formalin pada pengawetan daging ayam dapat disiasati dengan memasang brosur cara mengenal daging ayam yang baik dan ciri daging ayam (bentuk, ukuran, dan rasa) yang telah digoreng tepung sehingga pembeli merasa lebih yakin dengan produk yang dijual.

Contoh resep ayam goreng tepung

Bahan:

Satu ekor ayam broiler, potong 12 bagian, cuci bersih

Minyak goreng secukupnya

Tepung bumbu:

1 kg tepung terigu

1 sdm tepung bumbu siap pakai

2 sdm penyedap rasa

1 sdm garam

1 sdt baking powder

1 sdt merica bubuk

1 sdt ketumbar bubuk

Cabai kering bubuk secukupnya

Cara membuat

Rendam potongan ayam dalam air dingin, angkat dan tiriskan

Campurkan tepung terigu, tepung bumbu, penyedap rasa, garam, baking powder, merica, ketumbar, dan cabai kering. Aduk rata.

Lumuri potongan daging ayam menggunakan campuran tepung bumbu hingga seluruhnya tertutupi.

Panaskan minyak goreng dalam jumlah cukup banyak sehingga dapat merendam potongan ayam. Goreng potongan ayam yang telah dilumuri campuran tepung bumbu hingga berwarna keemasan. Angkat kemudian tiriskan.

Analias ekonominya

Asumsi

  • Masa pakai etalase sederhana 5 tahun
  • Masa pakai peralatan masak 4 tahun
  • Masa pakai peralatan lain-lain 2 tahun
  • Satu ekor ayam dipotong menjadi 12 bagian
  • Usaha dijalankan sendiri tanpa karyawa

a. Modal Awal

Etalase sederhana             Rp 1.500.000,00

Peralatan masak (kompor gas, wajan, dan sutil)     Rp 600.000,00

Peralatan lain-lain (baskom plastik, saringan minyak,

dan penjepit makanan)             Rp 100.000,00+

Total investasi             Rp 2.200.000,00

b. Biaya operasional/bulan

1. Biaya tetap

Penyusutan etalase sederhana 1/60 x Rp. 1.500.000      Rp 25.000,00

Penyusutan peralatan masak 1/48 x Rp. 600.000      Rp 12.500,00

Penyusutan perlatan lain-lain 1/24 x Rp. 100.000      Rp 4.200,00

Sewa tempat                             Rp 150.000,00+

Total biaya tetap              Rp 191.700,00

2. Biaya variabel

Ayam (6 ekor x Rp 25.000/ekor x 30 hari)         Rp 4.500.000,00

Tepung terigu dan bumbu (Rp 60.000/hari x 30 hari)     Rp 1.800.000,00

Kantong kertas dan plastik pembungkus

(Rp 5.000/hari x 30 hari)             Rp 150.000,00+

Total biaya variabel             Rp 6.450.000,00

Total biaya operasional (Rp 191.700 + Rp 6.450.000 )     Rp 6.641.700,00

c. Omset per bulan

Penjualan ayam goreng tepung

(72 potong x Rp 4.500/ potong x 30 hari)         Rp 9.720.000,00

d. Keuntungan per bulan

Keuntungan = Total Omset – Total biaya operasional

= Rp 9.720.000,00 – Rp 6.641.700,00

= Rp 3.078.300,00

e. Revenue Cost Ratio (R/C)

R/C = Total penerimaan:Total biaya operasional

= Rp 9.720.000,00 : Rp 6.641.700,00

= 1, 46

f. Pay Back Period

Pay back period=(total biaya investasi:keuntungan)x1 bulan

= (Rp 2.200.000,00 : Rp 3.078.300,00)x1 bulan

= 0,7 bulan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 140 pengikut lainnya

Tulisan Terakhir

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.
%d blogger menyukai ini: