“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

Pemanfaatan Komersialisasi Retorika Rasa Kemanusiaan Bangsa Indonesia

Pemanfaatan Komersialisasi Retorika Rasa Kemanusiaan Bangsa Indonesia

Bangsa Indonesia telah dikenal sebagai bangsa dengan budaya ketimuran yang beradab dan memiliki adat istiadat kekeluargaan dan rasa tenggang rasa yang tinggi, bahkan warga negara asing yang berkunjung sebagai wisatawan mengakui hal itu dikarenakan setiap berjumpa akan selalu muncul sebuah kesederhanaan sapa dan senyum yang terkembang dengan mudahnnya, padahal hal seperti itu sangat mahal harganya untuk ditemui di negara-negara barat sana. Selain itu budaya tolong-menolong pun telah menjadi identitas bangsa ini, karena tingginya rasa kemanusiaan yang telah banyak diajarkan dari lahir oleh para orang tua kepada anaknya (bahkan pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan diajarkan dari SD sampai tingkat mahasiswa). Nah,,, tampaknya budaya yang baik ini dapat dimanfaatkan oleh beberapa kalangan yang tidak bertanggung jawab sebagai komoditas mencari keuntungan. Tapi,,, apakah pemberian yang diberikan itu sebagai sumbangan itu juga benar-benar diberikan dengan rasa yang ikhlas, tanpa “tedeng aling-aling” atau “udang di balik batu” yang dapat merusak makna rasa kemanusiaan itu.

Manusia, makhluk yang diciptakan Tuhan dengan disertai dengan akal sehingga dapat memiliki “Rasa”, hal inilah yang menciptakan manusia memiliki suatu sikap tolong-menolong terhadap sesama yang disebut rasa kemanusiaan yang dibentuk oleh suatu adat budaya yang membimbingnya agar rasa kemanusiaan yang mencitrakan keberadaan akal manusia itu jangan sampai hilang. Bangsa Indonesia pun telah dikenal memiliki adat budaya seperti itu sehingga sering disebut sebagai bangsa beradab. Akan tetapi, di era yang telah berkembang pesat ini, nilai kebudayaan seperti ini, seiring waktu akan berubah nilai dan maknanya, meskipun wujud fisik kenampakannya tetap sama.

Rasa kemanusiaan dalam suatu pengertian sempit yang skeptis, sering diartikan suatu wujud kegiatan “pemberian-diberi”. Lalu kenapa,,,? Bukankah “take n give” itu baik? Lalu mengapa harus dipermasalahkan. Bukan, “take n give” -nya yang dipermasalahkan melainkan penyempitan makna sikap tolong-menolong yang merupakan bagian yang lebih besar dari rasa kemanusiaan yang sangat bermakna itu hanya sekadar dibatasi oleh sebuah kata yaitu “materi”. Kalau dulu “yang punya memberi yang tidak punya”, kemudian berubah menjadi “yang kaya memberi yang miskin” dengan kata lain orang miskin pun jangan sok memberi, lalu seiring waktu berubah lagi “yang miskin kalau mau diberi harus meminta yang kaya” dan pada akhirnya adalah “yang kaya pun pura-pura miskin agar tidak diminta dan bisa diberi meskipun harus meminta-minta juga.” Itulah yang disebut retorika rasa kemanusiaan yang dimiliki bangsa Indonesia saat ini, sangat kacau balau makna dan penerapannya. Lalu apa yang di komersialisasi?

Pemanfaatan dan komersialisasi secara kasat, sering dimaknakan sebagai hal yang sama, yaitu sama-sama mendapatkan keuntungan. Namun kedua hal itu dari segi positif dan negatif dalam pemaknaan masyarakat lebih sering dianggap berbeda, dimana pemanfaatan itu sering dimaknai secara positif, sedang komersialisasi sering dianggap negatif. Akan tetapi bukan hal itu yang ingin saya bahas, saya hanya ingin menunjukkan bahwa kerancuan positif negatif untuk hal yang hampir sama itulah yang sebenarnya ingin saya bahas.

Memberi merupakan suatu hal yang baik, tetapi akan lebih sempurna jika pemberian itu dilandasi rasa kasihan yang ujung-ujungnya adalah keikhlasan di dalam hati. Akan tetapi saat ini proses memberi ini telah banyak tendensi yang menyertai entah itu berupa “prestige” ingin menunjukkan jati dirinya sebagai orang kaya yang layak dihormati atau bahkan tendensi lain seperti “money politic” yang bertujuan untuk memuluskan tujuan guna memperoleh jabatan sebagai perwakilan rakyat di DPR. Pemberian pun seharusnya dilakukan sebelum ada orang yang membutuhkan datang dengan meminta-minta untuk menjaga martabat sesama manusia walaupun statusnya sebagai orang miskin atau membutuhkan. Dengan demikian kasus pembagian zakat yang brutal dan menimbulkan banyak korban tidak akan terjadi lagi, semua itu tergantung bagaimana kita memaknai sebuah arti kemanusian sebagai makhluk berakal yang mempunyai sensitifitas lingkungan “sosial” yang tinggi dan mampu mengingat bahwa manusia hidup saling membutuhkan karena roda nasib tak selalu berada di atas.

Meminta pun bukan sebuah perbuatan hina, namun alangkah baiknya bila kita bisa menahan semampunya sebab tangan dibawah tak lebih baik daripada tangan diatas. Kadang, dalam keadaan terjepit oleh kesulitan ekonomi, manusia sebagai makhluk berakal melupakan martabatnya dan bertindak hina selayaknya binatang, misalnya dengan meminta-minta dengan cara berebut, bahkan tua muda saling berdesak-desakan hingga ada yang terinjak-injak seperti ayam yang berebut makan hanya untuk mendapatkan uang yang jumlahnya puluhan ribu saja.

Komersialisasi atasnama agama juga banyak beredar dengan cara meminta-minta sumbangan. Dengan hanya berbekal sebuah map proposal yang kertasnya telah “lecek”, dengan pakaian lengan panjang yang “lusuh”, ditambah aksesoris peci “kumal”, dan menenteng amplop kosong atau kotak celengan amal yang bertuliskan “yayasan ponpes…” atau “yayasan yatim piatu…” atau “bantuan bencana gunung…”, mereka pun berseliweran di jalanan raya, keluar masuk kampung, lalu lalang di lampu merah dan bahkan tak segan nodong amplop di depan pintu ATM. Lalu apa salahnya? Mari kita gunakan pikiran yang logis, apakah seseorang akan rela bersusah payah mencari uang dengan cara seharian penuh berdiri di depan sebuah pintu ATM, seharian kepanasan di lampu merah, dan berjalan terseok-seok berpuluh-puluh kilometer, hanya untuk mencari sumbangan uang yang nantinya akan diserahkan seluruhnya untuk kepentingan sosial atas nama agama yang hendak bangun masjid atau bahkan untuk anak yatim piatu tanpa suatu tendensi apapun. Alam logika berpikir akan berkata “bullshit” alias sulit dipercaya, namun itulah adanya komersialisasi agama ataupun sosial seperti yatim piatu merupakan makanan empuk untuk mencari uang dengan memanfaatkan rasa kemanusiaan yang tersisa dengan “sumbangan fiktif”. Memakan hak anak yatim itu diharamkan oleh agama dan merupakan sebuah dosa besar, apalagi menghinakan agama dengan mencari uang dengan menipu atas nama agama.

NB: kalau menganggap tulisan saya “bullshit”, mohon ditelusuri dengan survey sederhana di lapangan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 139 pengikut lainnya

Tulisan Terakhir

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.
%d blogger menyukai ini: