“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

IDE + NEKAD + KREASI = SUKSES

IDE + NEKAD + KREASI = SUKSES

Hidup ini seperti sebuah panggung sandiwara. Kalimat ini tentunya pernah kita dengar dari sebuah lagu bukan? Sandiwara merupakan salah satu dari jenis seni yang beraneka ragam.

Kalau kita berbicara tentang seni, sering kali orang membayangkan sebuah lukisan. Walaupun seni mempunyai beraneka ragam jenis. Baiklah sekalian saja kita membicarakan lukisan.

Jangan berprasangka dulu, walaupun tampaknya tidak berhubungan dan agak ngaco, yang pasti belajar saya kali inipun berhubungan dengan marketing.

Begini ceritanya, yang namanya seorang pelukis banyak sekali bukan? Tapi yang jelas tidak banyak pelukis yang terkenal. Kita ambil beberapa contoh, Van Goh, Picasso, Lenardo Da Vinci, Affandi, dan masih banyak lagi.

Cobalah kita perhatikan, mengapa mereka terkenal? Apakah karena namanya saja, penampilannya saja, karyanya saja atau ada sesuatu yang lain?

Ya ada sesuatu yang lain! Lihatlah lukisan Van Goh yang merupakan aliran tersendiri, Picasso yang terkenal dengan aliran kubisme (kalau tidak salah ya…), Affandi dengan cara melukisnya yang khas, langsung dengan tube saja (apa ya nama alirannya….lupa), Lenardo Da Vinci yang merupakan seorang seniman yang menguasai beberapa macam seni dan ilmu serta membuat karyanya serealistis mungkin, dan lainnya.

Kalau kita perhatikan mereka terkenal sekali selain karena kepiawaiannya juga karena mereka melukis lain dari yang lain. Mereka menuangkan idenya diatas kanvas sedemikian rupa. IDE, betul sekali! Mereka memiliki ide yang baru. Benar-benar baru cing.

Dari ide, mereka meujudkannya menjadi sebuah lukisan yang lain dari biasanya. Dan mereka terus berkreasi, berimprovisasi dan memiliki inovasi yang tiada henti, sehingga karya mereka menjadi terkenal, dikagumi dan diakui banyak orang. Begitu juga yang namanya Marketing.

Marketing juga ada seninya. Yang jelas seni marketing meliputi 3 hal penting:

  • Sebuah IDE.
  • Dari sebuah IDE, diwujudkanlah IDE tersebut.
  • Tidak hanya sampai disini saja, tapi terus BERKREASI, BERIMPROVISASI dan memiliki INOVASI yang tiada henti (seperti kalimat disebuah iklan saja ya….).

Sekali lagi ini menurut saya yang sedang belajar marketing lho….Lalu apa hubungannya semua hal ini dengan Marketing? Dan tampaknya 3 hal tersebut cuma sesuatu yang umum sajakan.

Jangan-jangan saya ini cuma ngelantur dan mengada ada saja ya. Kata pepatah sesuatu itu kalau dihubung-hubungkan pasti jadi terhubung, walau maksa kali ya (pepatah siapa lagi nih…).

Jadi ya terpaksa deh harus baca lagi sambungannya.

Studi Kasus: Proyek Coro Jagung Bakar!

Ceritanya nih si Coro mengalami kejadian yang menyedihkan. Karena sesuatu kondisi yang tidak memungkinkan lagi maka terpaksa sebuah perusahaan dimana Coro bekerja melakukan PHK terhadap Coro dan karyawan lainnya.

Coro memakluminya dan menerimanya. Sekarang Coro jadi seorang pengangguran. Pengangguran…man! Pusing juga nih Coro jadinya. Apalagi dengan kondisi sekarang ini yang tampaknya kesusahan pada merata dimana-mana, membuat seseorang tidaklah mudah untuk mendapatkan sebuah pekerjaan.

Pada suatu hari dari pada bete di kontrakannya, Coro jalan-jalan. Iseng-iseng Coro mampir membeli jagung bakar. Dipesannyalah sebuah jagung bakar.

Dengan semangat membara sang penjual segera membakar jagung pesanan Coro. Bakar bolak-balik dan kadang-kadang dikasih air garam. Sampai matang dan dikasihkan ke Coro. Setelah membayar, sambil berjalan Coro menikmati jagung bakar.

Terlintas oleh Coro, kok rasa jagung bakar ini kebanyakan cuma rasa khas jagung dan paling ditambah rasa asin. Bagaimana nih kalau ada jagung bakar yang mempunyai rasa vanilla, rasa manis, atau rasa asam-manis.

Nah ini dia pikir Coro. Ia mendapatkan sebuah IDE jagung bakar rasa lain dari biasanya. Coro jadi bersemangat. Setalah pulang ke kontrakannya, ia mulai mempersiapkan alat-alat untuk mencoba membuat rasa jagung bakar yang lain dari biasanya itu.

Setelah mempersiapkan jagung, bahan-bahan lain dan tempat pembakarannya, mulailah Coro mencoba-coba praktek membuatnya.

Singkat cerita setelah si Coro jungkir balik dan mencoba bermacam-macam bahan dan bermacam-macam cara, akhirnya Coro berhasil membuat jagung bakar rasa vanilla, rasa manis dan rasa asam-manis.

Dengan optimis besoknya Coro segera membuka stan kecil untuk jualan jagung bakar. Diberi tulisan sederhana, Sedia Jagung Bakar Rasa Vanilla, Rasa Manis dan Rasa Asam Manis. Sudah tentu banyak yang penasaran jadinya. Seperti apasih jagung bakar yang ditawarkan oleh si Coro.

Maka banyaklah orang membeli jagung bakar hasil karya si Coro. Laris manis nih jualan Coro. Coro jadi tambah semangat dan terus berjualan.

Pada suatu hari mampirlah si Jojon (bukan Jojon pelawak lho…. kebetulan saja namanya sama) ke stan si Coro. Si Jojon membeli jagung bakar Coro. Ia perhatikan bagaimana si Coro mengolah jagungnya sampai siap saji. Jojon pulang sambil menikmati jagung yang dibelinya. Ternyata cuma begitu saja membuatnya!

Pikir Jojon. Mudah amat, saya juga bisa. Besok mau jualan juga ah, rencana Jojon. Besoknya si Jojon juga membuka stan berjualan jagung bakar beraneka rasa seperti punya Coro.

Tidak hanya Jojon saja yang berpikir seperti ini. Asmuni, Gareng, Petruk, Wiro Sableng, Noni, Mak Lampir dan lainya (sekali lagi, nama yang ada ini cuma kebetuan saja sama lho!) setelah memperhatikan cara Coro mengolah jagung bakar akhirnya mereka tahu caranya. Serempak mereka berkata,

Ternyata cuma begitu saja membuatnya! Mudah amat, saya juga bisa! Tapi dibalik semua ini apakah sebelumnya mereka mempunyai IDE membuat jagung bakar rasa baru sebelum si Coro berjualan? Tidak! Terlintaspun juga tidak. Apalagi memikirkannya.

Mulailah hari-hari selanjutnya diramaikan oleh oarang-orang yang berjualan jagung rasa vanilla, rasa manis dan rasa asam-manis. Sampai pada suatu saat, selain banyaknya yang berjualan mengikuti seperti yang dilakukan Coro dan juga banyak orang yang sudah merasakan jagung bakar rasa baru tersebut akhirnya Coro merasakan omset penjualanya mulai menurun.

Kelangsungan Hidup Usaha si Coro

Coro tidak sirik dengan orang banyak yang mengikuti jejaknya. Bahkan dia bersukur bahwa setidaknya dia dapat membantu orang banyak walaupun secara tidak langsung. Coro ini benar-benar baek hatinya lho! Coro mulai berpikir bahwa ia harus membuat rasa yang baru lagi.

Dengan kreativitas, improvisasi dan inovasi yang ada, si Coro mendapat ide rasa baru. Coro mau membuat jagung bakar rasa ayam goreng, rasa soto dan rasa rawon. Nantinya dapat ditambah mau pedas atau tidak. Sekarang Coro sudah memiliki modal yang lumayan dari berjualan sebelumnya.

Kembali si Coro mencoba-coba berbagai resep dan cara sehingga dapat meujudkan apa yang merupakan idenya itu. Akhirnya dengan usaha yang tidak putus asa, sampai babak-belur kagak karuan, berhasillah Coro membuat jagung bakar dengan rasa yang baru ini.

Besoknya pada stan si Coro tertulis spanduk Sedia Jagung Bakar Rasa Ayam Goreng, Rasa Soto dan Rasa Rawon. Pedas atau Tidak. Kembali membuat banyak orang penasaran dengan jagung bakar yang ditawarkan oleh si Coro.

Wah gimana nih jagung bakar rasa ayam goreng atau rasa soto atau rasa rawon ya? Dan kembali lagi jualan si Coro laris manis. Pembeli pada antre mau merasakan bagaimana nikmatnya jagung bakar punya si Coro. Coro kembali berhasil membuat usahanya berjualan jagung bakar kembali meningkat pesat omsetnya.

Alkisah setelah jagung bakar produk si Coro telah menjadi pembicaraan banyak orang, dan lagi jualan si Jojon mengalami penurunan omset yang tajam, Jojon kembali membeli jagung bakar punya si Coro. Ia juga memperhatikan cara pengolahannya.

Tapi kali ini tampaknya tidak semudah yang pertama. Si Jojon dapat mereka-reka cara membuatnya dan tampaknya dia perlu coba-coba dulu. Dengan usaha keras, si Jojon juga berhasil membuat jagung bakar seperti punya Coro walau tidak sama persis.

Mulailah kembali si Jojon membuka usahanya. Omset penjualanya jadi meningkat. Jojon bisa tentu yang lain juga mengikutinya. Tetapi karena lebih rumit dari yang terdahulu maka tidak semua yang sebelumnya berhasil mengikuti jualan si Coro terdahulu sekali ini berhasil.

Asmuni dan Petruk tampaknya menyerah. Ada juga yang berhasil seperti Gareng, Noni, Mak Lampir dan lainnya. Jagung bakar kembali jadi primadona. Jagung Bakar rasa baru. Sekarang ini yang jualan tidaklah sebanyak yang sebelumnya. Karena untuk membuatnya diperlukan teknik yang semakin rumit.

Tapi diantara yang tidak berhasil membuat rasa baru ada saja yang mempunyai kreativitas. Si Wiro Sableng memasarkan produk jagung bakarnya dengan sistem multi level marketing. Pake 20 level lagi, benar-benar dahsyat kan! Lain si Wiro Sableng laen lagi dengan si Petruk.

Si Petruk menjual dengan system yang dibuatnya sendiri (seperti apa saya juga tidak tahu!). Wah pokoknya macam-macamlah!

Kembali pasar jagung bakar semakin semarak. Tapi tampaknya usaha yang dilakukan oleh si Wiro Sableng dan si Petruk tidak dapat berlangsung lama. Kebanyakan orang yang membeli karena cuma tertarik dengan sistemnya saja.

Bahkan ada yang begitu membeli jagung bakarnya langsung membuang ke tempat sampah! Sekali lagi yang di cari sistemnya saja, bukan produknya.

Singkat cerita sampai suatu saat kembali si Coro merasa omset penjualannya mulai kembali menurun. Orang-orang tampaknya sudah jadi biasa dengan jagung bakar rasa ayam goreng, rasa soto dan rasa rawon.

Si Coro Terus Berkreasi, Berimprovisasi dan Berinovasi Tiada Henti

Kembali si Coro beraksi. Dia cari ide yang baru. Jagung Bakar rasa pizza, rasa cola dan rasa donat. Karena modal si Coro udah tambah lagi, dia sekarang udah jadi bos, punya tempat jualan lebih besar, punya karyawan, ada yang melayani tamu, tenaga riset dan lainnya.

Tak lama jagung bakar rasa baru kembali di luncurkan. Kembali sukses berat man! Karena yang dipakai si Coro untuk menghasilkan rasa baru ini memakai teknologi yang lebih canggih, maka banyak yang puyeng untuk mau mengikuti apa yang dilakukan si Coro.

Tapi ada juga yang kreatif. Dia buat jagung bakar pake ginseng. Dipromosikan dapat buat tambah tenaga. Ada lagi yang buat jagung bakar pake jamu tolak miskin. Sekarang ini orang mulai berkreasi sendiri. Semakin semaraklah yang namanya usaha jagung bakar.

Si Coro berpikiran maju. Dia mau jagung bakar produknya lebih dikenal, maka ia mendaftarkan jagung bakar beraneka rasa yang telah dibuatanya beserta merek dagangnya, cap Coro Yahut ke depkes dan dia patenkan untuk rasa yang barunya.

Sekarang dipasaran tersedia jagung bakar cap Coro Yahut dengan berbagai macam rasa. Ada cap Coro Yahut, sudah tentu disusul dengan cap Boris Gombal, cap Noni Manis, dan cap-cap yang lainnya. Usaha Coro terus berkembang, tapi ia menyadari ia tidak sendirian sekarang ini di bisnis jagung bakar yang lagi tren.

Si Coro keluarkan jurus baru, ia mencari konsultan marketing. Selama ini sih baik yang menciptakan, menjual dan memasarkan lebih banyak peran si Coro seorang diri. Sekarang semakin besar, perlu lebih serius. Akhirnya si Coro menemukan seorang konsultan marketing yang kompeten.

Dengan saran-saran yang diberikan oleh konsultan tersebut akhirnya usaha jagung bakar si Coro dikenal secara nasional. Bahkan sudah mulai ekspor. Udah go internasional nih ceritanya. Tapi sekali lagi si Coro terus saja membuat jagung bakar — jagung bakar rasa yang baru lagi, bahkan bentuknyapun juga mulai beraneka macam. Akhir cerita usaha si Coro sukses berat. Si Coro udah jadi Kaya Raya!!!

Penutup

Membaca apa yang apa yang telah dilakukan si Coro dapat kita jadikan tiga poin penting.

  • IDE.
  • Dari sebuah IDE, diujudkanlah IDE tersebut.
  • Tidak hanya sampai disini saja, tapi terus BERKREASI, BERIMPROVISASI dan memiliki INOVASI yang tiada henti

Kembali lagi ke 3 hal yang umum ini . Tapi itulah yang terjadi. Seni Marketing memerlukan ketiga hal tersebut untuk menjadi sukses. Tampaknya 3 hal tersebut mudah ya? Tapi menurut saya ketiga hal tersebut sulitnya minta ampun. Ya, laen orang laen pendapatnya.

Iklan

One response

  1. thanks.. benar2 motivasi. dari hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya ternyata bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa..

    7 Juni 2011 pukul 23:04

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 140 pengikut lainnya

Tulisan Terakhir

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.
%d blogger menyukai ini: