“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

REMPAH KAPULAGA

Kapulaga


Kapulaga berasal dari hutan tropis di daerah India Selatan dan Srilanka. Kapulaga diperkenalkan ke negara Eropa oleh bangsa Arab sebagi bumbu. Tanaman ini juga dapat tumbuh di negara Thailand, Kamboja, Malaysia Barat, dan Filipina, terutama di wilayah berbukit yang dingin, di daerah lembah dan terlindung. Di Indonesia, tanaman kapulaga ditanam di daerah perbukitan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kapulaga lokal hanya bisa tumbuh baik dan berproduksi optimal jika ditanam pada ketinggian 0-700 m.dpl. sebaliknya, di luar Indonesia, kapulaga tumbuh baik pada ketinggian 700-1500 m.dpl (Anonymous, 2010b).

Kapulaga kaya kandungan kimia, antara lain terpinol dan alfaborneol, beta-kamper, protein, gula, lemak, dan silikat. Tanaman kapulaga memiliki rasa agak pahit dan hangat. Tumbuhan kapulaga berumbi akar dengan tinggi antara 2-3 cm. Daunnya lonjong berujung runcing dengan panjang sekitar 30 cm dan lebar 10 cm. Kapulaga yang diperdagangkan terdiri atas kapsul kering, berisi tiga, berbentuk lonjong atau bundar, berwarna abu-abu coklat. Biji-biji tersebut mempunyai rasa pedas, kamfer, berbau wangi, dan terasa dingin pada lidah jika dimamah. Buahnya berada dalam tandan berbentuk bulat kecil , kadang berbulu dan berwarna kuning kelabu. Bila masak, buahnya akan pecah dan membelah berdasarkan ruang-ruangnya. Di dalamnya terdapat biji yang berbentuk bulat telur memanjang. Buah lonjong sepanjang 1 cm yang bersisi tiga itu dipetik kalau sudah montok, padat berisi, setengah matang. Warna hijaunya sudah berubah hijau muda. Tadinya hijau tua. Ketika berubah warna itulah baunya sangat sedap (Anonymous, 2010b).

Kapulaga berbuah pada umur 3 tahun. Buah kapulaga muncul dari batang semu dekat tanah, dan merayap bersama tandannya yang sepanjang 1 m, ke tanah sekitarnya. Buah yang sudah kering menjadi keriput, bergaris-garis, berisi 4 – 7 butir biji kecil berwarna coklat kemerah-merahan. Rasanya agak pedas seperti jahe, tetapi baunya tidak. Di India, buah yang sudah dikeringkan, disortir menurut ukuran dan warnanya. Buah yang sudah berwarna kuning seperti warna jerami, dikemas sebagai buah yang siap jual, sedangkan yang belum berwarna kuning akan dipucatkan dulu dengan uap belerang. Penjagaan mutu inilah yang membuat India menjadi pengekspor kapulaga yang digemari oleh semua orang (Anonymous, 2010b).

Kapulaga disebut juga Elletria cardomomum. Kapulaga yang berupa buah, jika sudah kering akan dimanfaatkan sebagai bahan jamu, juga diambil minyak atsirinya untuk bahan penyedap atau pengharum makanan dan minuman. Kapulaga baru berbuah setelah berumur 2-3 tahun. Kapulaga bisa dipanen dengan syarat-syarat berikut ini (Warsana, S.P. 2000):

  • Buah harus dipanen sebelum benar-benar matang
  • Bila dipanen terlalu matang atau kering maka buah akan pecah dan warnanya kurang bagus.
  • Waktu panen yang tepat adalah saat buah sudah berwarna hijau kekuning-kuningan

Buah yang sudah dipanen kemudian dijemur sampai kering, sebaiknya kapulaga tidak dijemur di bawah sinar matahari langsung, sebaiknya dikering anginkan.

Di Indonesia ada berbagai macam kapulaga, yaitu kapulaga Jawa (Amomum compactum) dan kapulaga sabrang atau kapulaga India (Elettaria cardomomum); keduanya masuk dalam suku jahe-jahean atau Zingiberaceae. Kapulaga ditanam terutama untuk diambil buahnya, yang setelah dikeringkan akan diperdagangkan sebagai rempah atau bumbu. Pucuk (tunas) kapulaga digemari sebagai lalap, baik mentah, dikukus, atau direbus (Annonymous, 2010c).

Biji kapulaga yang dikeringkan mengandung 2-4% minyak essensial, yang terutama terdiri dari (Wollf, X.Y. and Hartutiningsih. 1999):

  • 1,8-cineol (hingga 70%)
  • β-pinen (16%)
  • α-terpineol (5%), dan
  • humulen (3%)

Rimpang dan akar segar mengandung minyak essensial sekitar 0,1% yang berisi 1,8-cineol.

Kapulaga juga memiliki aroma bau sedap sehingga orang Inggris menyanjungnya sebagai grains of paradise. Aroma sedap ini berasal dari kandungan minyak atsiri pada kapulaga. Minyak atsiri ini mengandung lima zat utama, yaitu (Hermawati, Retno, 2009):

  • borneol (suatu terpena) yang berbau kamper seperti yang tercium dalam getah pohon kamper
  • alfa-terpinilasetat yang harum seperti bau jeruk pettigrain
  • limonen yang juga harum seperti bau jeruk keprok
  • alfa terpinen yang harum seperti jeruk sitrun
  • cineol yang sedap agak pedas menghangatkan seperti minyak kayu putih.

     

Selain sebagai bahan rempah, kapulaga juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain seperti untuk pengobatan dan campuran pembuatan kue. Ekstrak kapulaga (kapulaga dimasak dengan air) digunakan sebagai obat terhadap flatulensi atau meteorismus (penimbunan gas dalam usus), kolik dan kelemahan. Sementara tanaman kapulaga yang ditumbuk halus bersama air dipakai sebagai obat gosok untuk penyakit encok. Ekstrak dari umbi akar kapulaga digunakan sebagai obat demam. Biji kapulaga dapat digunakan sebagai bahan pembuat kue dan untuk mengobati kesulitan bernapas, mulut berbau (futor exore), batuk serta gatal di tenggorokan (Annonymous, 2007).

Dalam biji kapulaga terdapat minyak kardamon yang mengandung terpineol, terpinylasetat, sineol, borneol dan sabinen, zat putih telur, kalsium okasalat dan silisium. Selain itu juga mengandung minyak atsiri (alfaborneol dan betakamfer) yang berkhasiat untuk mengencerkan dahak, memudahkan pengeluaran angin dari perut, menghangatkan, membersihkan darah, menghilangkan rasa sakit, dan mengharumkan (Annonymous, 2007).

Kapulaga adalah salah satu rempah yang paling banyak digunakan pada masakan negeri Timur Tengah dan India. Aromanya wangi dan sangat khas. Digunakan pada bumbu masakan gulai, kari dan lain-lain. Ada dua jenis Kapulaga yang paling banyak dikenal di negeri kita, yaitu Kapulaga Putih dan Kapulaga Hijau. Meskipun sesama Kapulaganya tapi kedua rempah ini memiliki aroma dan bentuk fisik berbeda. Sementara fungsinya tetap sama sebagai rempah bumbu gulai dan masakan lainnya (Annonymous, 2010f).

Kapulaga Putih, bentuk fisiknya agak bulat dan ringan. Bijinya berwarna hitam, kulitnya putih kecoklatan. Kapulaga Hijau, atau lebih popular dikenal dengan Kapol India, bentuknya panjang pipih segitiga. Aromanya lebih tajam dan wangi, dengan biji berwarna hitam dan kulit kehijauan. Di pasaran dunia, Kapulaga Hijau berharga jauh lebih mahal dibanding Kapulaga Putih (Annonymous, 2010f).


 

One response

  1. Terima kasih…

    Informasi yang sangat penting bagi petani yang akan berbisnis kapulaga, dan bagi rekan-rekan yang ingin melengkapi tentang teknik-teknik budidaya yang lebih lengkap silahkan kunjungi : http://abdul-sidik.blogspot.com.

    6 November 2010 pukul 21:33

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 139 pengikut lainnya

Pos-pos Terbaru

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.
%d blogger menyukai ini: