“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

Sirup Green Tea

Sirup Green Tea

Metode Pembuatan Sirup Green Tea

    Pada pembuatan sirup green tea ini dilakukan dengan menggunakan beberapa kajian proporsi bahan baku yang digunakan, yaitu komposisi antara teh hijau dan teh hitam. Perbandingan yang digunakan adalah proporsi teh hijau: teh hitam yaitu (1:0 dan 3:1). Bahan-bahan yang digunakan selain teh hitam dan teh hijau kering adalah gula (sukrosa), air, dan asam sitrat. Selain itu, alat-alat yang digunakan yaitu panci, kain saring, timbangan analitik, kompor, pengaduk kayu, sendok, blender, gelas ukur, botol kaca, dan penutup botol. Berikut adalah tahapan-tahapan dalam pembuatan sirup green tea. Pada dasarnya teknologi pengolahan sirup lemon green tea dibagi menjadi dua yaitu : a) tahap ekstraksi senyawa katekin dan b) tahap pemasakan sirup dengan melarutkan katekin tersebut ke dalam sirup gula kental (±80 dps).

    Pemanfaatan teh hijau tergantung pada senyawa katekin yang dikandungnya. Sehingga dibutuhkan perlakuan yang tepat agar tidak terjadi penurunan kadar antioksidan, yaitu katekin. Perlakuan yang digunakan adalah tapa blanching untuk menon-aktifkan enzim polifenol oksidase yang dapat mengoksidasi polifenol (katekin).

  1. Perbandingan teh hijau : teh hitam = 1 : 0 (J1H0)

    Berikut adalah diagram alir pembuatan sirup green tea dengan perbandingan 1:0 yang ditunjukkan pada Gambar 1dan 2.


 


Manfaat Sirup Green Tea

Salah satu zat antioksidan non-nutrien yang terkandung dalam teh, yaitu catechin (katekin) dapat menyimpan atau meningkatkan asam askorbat pada beberapa proses metabolisme.Studi epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau berbanding terbalik dengan kadar serum kolesterol total (TC) dan low density lipoprotein (LDL-C), tetapi tidak terhadap trigliserida (TG) dan high density lipoprotein (HDL-C). Teh efektif mencegah virus influensa A dan B selama masa kontak yang pendek. Selain itu diet fluorin yang terkandung dalam daun teh (Camellia sinensis) dapat berfungsi kariostatik pada tikus Wistar (Tuminah, 2004).

Penelitian menggunakan mencit dengan ekstrak teh hijau ternyata tidak hanya menurunkan jumlah tumor kulit, tetapi juga secara substansial memperkecil ukuran tumor. Beberapa penelitian lain menggunakan teh menunjukkan bahwa senyawa polifenol antioksidan (seperti katekin dan flavonol) yang terkandung dalam teh mempunyai sifat antikarsinogenik pada hewan dan manusia, termasuk pada wanita post menopause. Diperkirakan, flavonoid sebagai antioksidan berperan dalam mengurangi OH, O
2•−, dan radikal peroksil. Selain itu pada wanita post menopause, flavonoid dapat bersifat estrogenik yang menghambat oksidasi LDL, melindungi endotel dari berbagai luka yang disebabkan oleh radikal bebas serta mencegah aterosklerosis yang dapat menyumbat lumen arteri (Tuminah, 2004).

Dirghantara (1994) dalam Tuminah (2004) melakukan penelitian mengenai efek sari seduhan teh hijau terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur serta sukrosa. Ternyata sari seduhan teh hijau 10 kali dosis manusia (0,54 g /200 g.bb/hari) menghasilkan efek penurunan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, trigliserida dan berat badan yang bermakna dengan kontrol perlakuan (P< 0,05). Sedangkan Sutarmaji (1994) dalam Tuminah (2004) meneliti pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa. Hasilnya diketahui bahwa sari seduhan teh hijau 25 kali dosis manusia (1,35 g/200 g BB/hari) menunjukkan efek hipoglikemik pada tikus 30 dan 60 menit setelah perlakuan. Teh juga mencegah luka skorbut dan mengurangi plak aterosklerosis pada hewan yang diberi diet aterogenik. Selain itu, penelitian yang dilakukan di Prancis menyatakan bahwa bobot wanita gemuk yang mengkonsumsi teh hijau dalam dietnya akan dapat menurunkann berat badan 3 kali ebih banyak dibandingkan dengan yang tidak mengkonsumsi teh hijau.

    Apabila dibandingkan pada perlakuan antara J1H0, J1H3 dan J0H1, manfaat yang diberikan pada perlakuan J1H3 lebih banyak dibandingkan dengan J0H1 dan J1H0. Hal ini disebabkan karena pada perlakuan J1H3, selain memiliki kandungan katekin (C), epicatechin (EC), epigallocatechin (EGC), epicatechin galate (ECG), epigallocatechin gallate (EGCG) dan gallocatechin (GC) yang berasal dari teh hijau, tenyata terdapat pula kandungan thearubigin, theaflavin dan theofilin yang berasal dari teh hitam. Teh hitam menurut Rohdiana (2010) memiliki kandungan theaflavin yang berfungsi sebagai antioksidan dalam menghambat oksidasi LDL (Low Density Lipoprotein).

 

Kandungan Sirup Green Tea

Teh hijau dibuat dari pucuk dan daun muda tanaman teh Camellia sinensis yang telah diolah tanpa melalui proses fermentasi. Berbeda dengan teh hitam yang dibuat dari pucuk daun muda tanaman teh Camellia assamica, proses pengolahannya melalui proses fermentasi. Menurut Setiawati dan Nasikun (1991), secara botanis terdapat dua jenis teh, yaitu Thea sinensis dan Thea assamica. Thea sinensis disebut juga dengan teh jawa yang mempunyai ciri-ciri pertumbuhannya lambat, jarak cabang dengan tanah sangat dekat, daunnya kecil, pendek, ujungnya agak tumpul dan berwarna hijau tua. Produksinya tidak banyak namun kualitasnya baik. Sedangkan Thea assamica mempunyai ciri-ciri pertumbuhannya cepat, cabang agak jauh dari permukaan tanah, daunnya lebar, panjang dan ujungnya runcing, serta berwarna hijau mengkilat. Produksinya tinggi dan mempunyai kualitas yang baik. Kadar antioksidan pada kedua jenis tersebut, dapat berbeda, dimana kadar antioksidan pada jenis Thea assamica ± 16% dan jenis Thea sinensis ± 33%. Hal ini mengindikasikan jenis spesies teh berpengaruh pula terhadap kadar antioksidan yang dikandungnya. Komponen dari dua macam teh yang paling banyak digunakan (teh hijau dan teh hitam) adalah sebagai berikut (Tabel 1 dan 2).

Tabel 1. Komposisi teh hijau

 

 

 

 

 

 

Tabel 2. Komposisi Teh Hitam


Sumber: Tuminah (2004)

Septianingrum, Faradilla, Ekafitri, Murtini, dan Perwatasari (2010) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa secara umum teh hijau mengandung kadar fenol yang lebih banyak dibandingkan dengan kadar fenol teh hitam. Perbedaan kadar fenol pada kedua jenis teh ini disebabkan oleh perbedaan proses pengolahannya. Teh hijau dibuat dengan cara non-fermentasi. Pada proses pengolahan tersebut terjadi inaktifasi enzim oksidase atau fenolase yang ada dalam pucuk daun teh segar, sehingga oksidasi enzimatik terhadap katekin dapat dicegah. Sedangkan menurut Hartoyo (2003) dalam Septianingrum et al. (2010) menyatakan bahwa sebaliknya teh hitam dibuat dengan cara fermentasi dengan memanfaatkan terjadinya oksidasi enzimatik terhadap kandungan katekin teh.

Miyazawa and Nakagawa (2005) menyatakan bahwa senyawa mayor polifenol pada teh hijau adalah (-)-epigallocatechin-3-gallate (EGCG), (-)-epicatechin-3-gallate (ECG), (-)-gallocat-echin-3-gallate (GCG), (-)-epigallocatechin (EGC), (-)-epicatechin (EC), and (+)-catechin. Senyawa-senyawa tersebut terkandung dalam teh hijau lebih dari 30% dari berat kering daun. Apabila dalam satu cup the hijau, mengandung senyawa katekin 100-200 mg katekin, dimana 40-80 mg adalah EGCG. EGCG merupakan bioactive agent paling tinggi dibandingkan dengan senyawa katekin lainnya. Selain itu, katekin yang terdapat pada teh hijau diyakini merupakan scavenger yang baik dalam reaksi oksigen dan radikal bebas, baik pada lingkungan lipofilik maupun larutan (aqueous). Faktanya, katekin teh merupakan antioksidan yang paling kuat diantara tanaman-tanaman yang memiliki polifenol lain. Berdasarkan penelitian, EGCG 20 kali lebih aktif dibandingkan dengan vitamin C, 30 kali dibandingkan dengan vitamin E dan 2-4 kali lebih aktif dibandingkan dengan
butylated hydroxyanisole (BHA) atau butylated hydroxytoluene (BHT). Aktivitas antioksidan katekin akan meningkat seiring dengan banyaknya gugus o-dihydroxy. Selain itu, katekin dapat bertindak sebagai antioksidan yang bersinergi dengan tokoferol dan asam-asam organik.

Dalam masyarakat terdapat anggapan bahwa teh hijau lebih baik dikonsumsi daripada teh hitam. Hal tersebut berkaitan dengan ketersediaan dan kemampuan senyawa antioksidan dalam kedua jenis teh tersebut. Perbedaan yang terdapat pada kedua jenis teh tersebut menjadi pertimbangan masyarakat dalam hal pemilihan konsumsi teh. Teh hijau yang tidak mengalami fermentasi memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan dengan teh hitam. Menurut Daniells (2008) dalam Septianingrum et al. (2010), teh hijau mengandung 30-40% polifenol, sedangkan teh hitam hanya 3-10%.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Tuminah, S. 2004. Teh [Camellia sinensis O.K. var. Assamica (Mast)] sebagai Salah Satu Sumber Antioksidan. Cermin Dunia Kedokteran No. 144.

Maria, A. 2009. Pengaruh Pemberian Seduhan Teh Hitam (Camellia sinensis) Dosis Bertingkat terhadap Produksi NO Makrofag Mencit Balb/C yang Diinokulasi Salmonella typhimurium. Laporan Akhir Karya Ilmiah. FK Univesitas Diponegoro. Semarang.

Miyazawa, T. and Nakagawa, K. 2005. Asian Functional Food. Editor Shahidi, F et al. CRC Press: USA.

Rohdiana, D. 2010. Teh Hitam dan Antioksidan. Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung.

Septianingrum, E.R et al. 2010. Kadar Fenol dan Aktivitas Antioksidan pada Teh Hijau dan Teh Hitam Komersial.

One response

  1. hafidz

    wah mkasih bgt y gan…
    bisa bwad refrensi nie…

    ijin nyedot y…

    b^^

    25 Januari 2011 pukul 22:22

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 141 pengikut lainnya

Tulisan Terakhir

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.