“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

Accelerated Shelf Life Testing (ASLT)

Accelerated Shelf Life Testing (ASLT)

created by Lukman Hakim ITP-FTP UB 2006

ASLT diterapkan untuk produk yang mempunyai umur simpan yang panjang paling sedikit satu tahun. Asumsi dasar penggunaan ASLT adalah prinsip kinetika kimia yang diaplikasikan untuk mengukur efek faktor ekstrinsik sepereti: suhu, kelembapan, gas atmosfer dan cahaya yang dapat mempercepat reaksi kerusakan produk. Faktor ekstrinsik dibuat lebih tinggi dari keadaan normal, sehingga reaksi kerusakan dapat lebih cepat berlangsung dibandingkan pada kondisi normal. Karena pengaruh faktor ekstrinsik dapat dikuantifikasi dan besarnya percepatan dapat dihitung, maka umur simpan dapat ditentukan (Robetson, 1993).

Sedangkan menurut Donohoe and Spiro (1998) Accelerated Shelf Life Testing (ALST) merupakan metode yang dapat digunakan untuk memprediksi umur simpan dan kecepatan reaksi penurunan mutu pada beberapa kisaran suhu. Untuk produk makanan yang penyimpananya dalam suhu normal maka rentang suhu pengamatannaya yaitu 850F sampai 1300F dan minimal harus menggunakan tiga kondisi suhu pengamatan. Semakin tinggi suhu pengamatan semakin pendek selang waktu pengamatannya dan semakin pendek dan semakin rendah suhu pengamatannya maka semakin panjang pula selang waktu pengamatannya, namun demikian paling sedikit harus enam kali titik pengamatan (Kuntz, 1996).

Adapun langkah-langkah metode ASLT menurut Labuza and Riboh (1982), yaitu:

  1. Mengevaluasi komponen penyusun produk
  2. 2. Memilih parameter kunci reaksi penurunan mutu yang akan meyebabkan quality loss dan consumer acceptability dan menentukan test apa (sensorik/ instrument) seharusnya dilakukan pada produk selama pemeriksaan.
  3. 3. Memilih faktor ekstrinsik seperti temperatur atau RH ruangan yang mempercepat reaksi penurunan mutu.
  4. 4. Memilih pengemas yang digunakan, lebih baik memilih pengemas yang biasanya efektif dan dapat memperpanjang umur simpan produk.
  5. 5. Menentukan karakteristik mutu produk pada kondisi kritis dengan cara penyimpanan produk pada suhu yang paling tinggi supaya karakteristik produk tersebut lebih cepat melampaui masa simpannya. Selanjutnya dilakukan uji indera/ uji penerimaan konsumen untuk mengetahui apakah produk tersebut masih diterima secara organoleptik. Pada saat produk tidak disukai/ ditolak oleh konsumen segera dianalisa parameter mutu yang merupakan kunci reaksi penurunan mutu. Nilai ini merupakan nilai parameter mutu pada kondisi kritis atau disebut juga mutu produk akhir.
  6. 6. Laju reaksi penurunan mutu ditentukan dengan membuat plot antara penyimpanan (hari) dengan nilai parameter mutu yang dianalisa. Dari sini diperoleh beberapa persamaan regresi (tergantung berapa jumlah suhu penyimpanan) Y = a + bx, dimana Y = nilai karakter produk, x = waktu penyimpanan (hari), a = nilai karakteristik bahan pada awal penyimpanan, b = laju reaksi penurunan mutu.
  7. 7. Nilai slope b yang merupakan laju reaksi penurunan mutu disebut juga dengan k yaitu konstanta laju reaksi penurunan mutu. Nilai ln k dan 1/T yang merupakan parameter persamaan Arhenius ditabulasikan, selanjutnya nilai ln k diplotkan terhadap nilai 1/T (K-1) dan didapatkan nilai intersep dan slope dari persamaan regresi linier ln k = ln k0 – (E/R)(1/T). Dimana ln k0 = intersep, E/R = slope, E = energi aktivasi dan R = konstanta gas ideal = 1,986 kal/mol  K.
  8. 8. Dengan persamaan yang diperoleh pada tahap 7 diperoleh nilai konstanta k yang merupakan faktor pre-eksponensial dan nilai energi aktivasi reaksi perubahan karakteristik bahan (Ea =E). Lebih lanjut ditentukan model persamaan kecepatan reaksi (k) perubahan parameter produk k = k0.eE/RT. Persamaan ini yang disebut sebagai persamaan Arhenius.
  9. 9. Penentuan umur simpan produk dipilih dari parameter yang mempunyai nilai energi aktivasi terendah. Kemudian dihitung dengan menggunakan persamaan kinetika reaksi ordo nol At = A0 + kt. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan data (nilai) parameter mutu awal bahan (kondisi bahan pada waktu t = 0 atau A0) dan nilai parameter mutu akhir bahan (kondisi bahan pada waktu t = t atau At) atau nilai kritis.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 139 pengikut lainnya

Tulisan Terakhir

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.
%d blogger menyukai ini: