“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

HOW TO BUSSINESS: MELAWAN PASAR ATAU MENGIKUTI ARUS PASAR? HANYA DISINI ALASANNYA!

HOW TO BUSSINESS: MELAWAN PASAR ATAU MENGIKUTI ARUS PASAR? HANYA DISINI ALASANNYA!

Tadi sore saya makan sendirian disebuah restoran cepat saji Amerika yang sangat ramai, Mc..kebetulan saat itu sedang pelajaran marketing dan dosennya mengajarkan 1 teori yaitu “Bisnis jangan melawan Pasar”
Saat itu juga ada seorang mahasiswa yang angkat tangan dan protes, dia mengambil contoh McDonald yang jelas2 makanan barat dari budaya barat tapi bisa sukses di Indonesia, inikan artinya McD berhasil melawan Pasar.Dosennya bingung dan memuji si mahasiswa yg kritis tersebut tanpa ada jawaban.

Padahal dalam hati saya tahu jelas bahwa McD sama sekali TIDAK melawan Pasar.
Betul bahwa Hamburger adalah makanan barat, tapi ingat bahwa orang2 Muda di Asia sedang mengikuti arus budaya Barat. Itu sebabnya anak2 muda kita mendengarkan lagu2 barat, berpakaian gaya barat dan mencari makanan barat.
Maka saat McD masuk ke Indonesia, dia sedang menunggangi Pasar, bukan melawan Pasar.
Ia mengakomodasi keinginan anak2 muda terhadap makanan barat, makanan cepat saji dan tempat makan yang enak untuk nongkrong bareng teman.

Dan McD tidak kaku terhadap budaya, itu sebabnya McD Indonesia menyediakan Nasi dan Sambal.

Juga McD sama sekali tidak berusaha menarik kaum tua seperti bapak saya yang sama sekali tidak mau menyentuh Hamburger atau seperti Koh Achiap (Pemilik Kwetiaw Achiap di Mangga Besar) yang sama sekali tidak mau makan ayam negri, McD tidak mau bersusah payah memaksa pangsa pasar yang bukan miliknya.

Nah kalau kasus diatas kita ambil hikmahnya, maka intinya adalah :
1. Cari tahu apa kemauan pasar
2. Penuhi

Jangan mengambil jalan yang ini:
1. Buat sebuah produk
2. Paksa pasar untuk menyukainya

Contoh kasarnya begini, kita membuat warung makanan rumahan diperumahan, masakan kita sama dengan masakan para ibu2 atau para pembantu dirumah2, maka bisa dibilang bahwa pasar disana tidak banyak yang membutuhkan pelayanan kita.
Atau kita membuat restaurant mewah (seporsi masakan diatas Rp 50rb) diwilayah perumahan murah (harga rumah rata2 Rp 250jt).
Atau contoh lain kita membuat restaurant non-halal diwilayah pemukiman yang mayoritasnya muslim.

Jadi yang harus kita lakukan adalah : Analisa kebutuhan masyarakat sekitar dan penuhi.

Contohnya kalau kita lihat bahwa banyak orang yang bangun kesiangan dan harus buru2 pergi ke kantor tanpa sempat menyiapkan makanan, kita buat makanan cepat saji di pagi hari.
Atau banyak ibu2 di perumahan yang tidak sempat masak dan tidak bisa keluar karena tidak punya kendaraan, maka kita buat layanan makanan delivery yang baik.
dst…

Semakin jago kita menganalisa kebutuhan masyarakat, semakin banyak uang mengalir ke kantung kita.

Jadi jangan mulai bisnis dengan angan2 yang indah2 yang belum tentu dibutuhkan oleh masyarakat, lebih baik mulai dengan ide2 yang berorientasi kepada market.

“Barang siapa ingin menjadi besar, ia harus berorientasi melayani kebutuhan orang lain”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 139 pengikut lainnya

Tulisan Terakhir

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.
%d blogger menyukai ini: