“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

Residu Antibiotik dalam Makanan

Residu Antibiotik dalam Makanan

created by mahasiswa ITP-FTP UB 2006

I. Pendahuluan

Tidak sedikit keraguan bahwa residu antibiotic dan antimikroba akan terdapat dalam makanan yang berasal dari hewan asli. Hal ini tidak sekedar keberadaan residu, namun juga masalah frekuensi dan jumlahnya. Jumlah bahan kimia yang digunakan dalam peternakan tersebut jumlahnya sulit dipastikan. Animal Health Institute (AHI) memperkirakan bahwa jumlah keseluruhan antimikroba 17,8 juta pound baik penggunaan untuk terapi ataupun non-terapi pada semua hewan. Sebaliknya, the Union of Concerned Scientist (UCS) memperkirakan antibiotic/ antimikroba digunakan sebanyak 24,6 juta pound untuk tujuan nonterapi pada 3 spesies (unggas, babi, sapi) dan tidak ada perkiraan untuk penggunaan terapi pada hewan.

Jumlah antimikroba/antibiotic yang digunakan secara berlebihan pada hewan terkait dengan kegunaanya untuk nonterapi pendukung pertumbuhan, pencegahan penyakit, dan penyembuhan penyakit. Penggunaan untuk pencegahan penyakit dan pendukung pertumbuhan nampaknya saling melengkapi dan bervariasi jumlahnya dari beberapa gram hingga 200g/ton. Sedangkan level > 200g/ton digunakan untuk penyembuhan penyakit. Penggunaan berjuta-juta pound antibiotic/ antimikroba pada hewan yang diproduksi untuk konsumsi makanan manusia, maka akan ditemukan residu antibiotic/ antimikroba dalam produk makanan yang berasal dari hewan.

Residu ada 2 jenis, yaitu residu yang jumlahnya di bawah MRL (Maximum Residu Level), dan residu yang jmlahnya > MRL. Penandaan level aman secara umum digunakan untuk antibiotic/ antimikroba dalam susu, kemungkinan menjadi level toleransi pabrik. Level residu ini penting dengan kaitan adanya kasus alergi hebat akibat residu antibiotic/ antimikroba  sebanyak 76 juta kasus dan 5000 kasus kematian (Vogt,2000).

Pada makalah ini akan membahas masalah residu antibiotic dan antimokroba yang ditemukan pada makanan dalam skala luas berdasarkan data hasil analisa Food Safety Inspection Service (FSIS)/US. Sistem analisa yang digunakan adalah 1) The Sulfa-on-Site (SOS), mngetahui residu Sulfonamide dengan mengukur urine babi; 2) The Calf Antibiotic and Sulfonamide Test (CAST), menggunakan ginjal atau jaringan hati anak sapi (yang memiliki umur ❤ minggu); 3)The Fast Antrimicrobial Screen Test (FAST), untuk menganalisa residu sulfonamide dan Antibiotic dengan car menyekakan pada ginjal/hati sapid an anak sapi; 4) The Swab Test on Premise (STOP), menganalisa residu antibiotic dalam jaringan ginjal semua hean (cattle, swine,chicken, turkey,dan sheep).

II. Pembahasan
a. Data Penyimpangan Residu Antibiotik dan Antimikroba pada Hewan Tahun 1998

Slaugter Class Percentage Violative 95% Confidence Interval
Horses 4.5 2.8-6.9
Bulls 0 0.0-1.5
Beef Cows 0 0.0-0.8
Dairy Cows 0.4 0.0-1.5
Heifers 0.3 0.0-1.8
Steers 0.2 0.0-1.2
Bob Calves 0.5 0.1-1.8
Formula-fed calves 0.8 0.2-2.0
Nonformula-fed calves 1.2 0.2-3.4
Heavy Calves 1 0.2-3.0
Sheep 0 0.0-1.2
Lambs 0 0.0-1.1
Goats 0 0.0-1.1
Market Hogs 0 0.0-0.8
Boars/stags 0.5 0.0-2.5
Sows 0 0.0-0.7
Young chicken 0 0.0-0.9
Mature chicken 0 0.0-1.6
Young Turkeys 0 0.0-0.8
Mature Turkeys 0 0.0-2.3
Ducks 0 0.0-0.7

FSIS (buku data residu, 1998), melaporkan bahwa dari 7829 sampel yang dianalisa, hanya 38 sampel yang mengalami penyimpangan atau sekitar 0,48%.  Sampel yang mengalami penyimpangan jumlah residu terbesar adalah daging kuda. Namun, karena daging kuda jarang dikonsumsi, maka presentase pada daging kuda ditiadakan sehingga presentase penyimpangan residu yang terjadi adalah 0,21%.

Dengan system SOS, jumlah sampel yang dianalisa adalah 11.109 dan yang positive mengalami penyimpangan jumlah residu Sulfonamide adalah 0,25%. Apabila dibandingkan dengan data tahun 1997, prosentase penyimpangan residu yang dianalisa dengan system SOS adalah 0,09%.

Untuk system CAST jumlah sampel yang dianalisa adalah 8958, sampel yang positive mengalami penympangan jumlah residu antibiotic dan antimkroba sebanyak 0,92%. Jumlah penyimpangan yang terukur dengan system CAST jumlahnya relative kecil.

Dalam analisa dengan system STOP jumlah sampel yang digunakan adalah 37.633 terjadi penyimpangan pada frequensi 0,58%. Frequensi penyimpangan pada analisa ini juga relative kecil. Analisa dengan system FAST jumlah sampel yang dianalisa adalah 108.020 dan penyimpangan residu terjadi sebanyak 0,70%. Secara keseluruhan, penyimpangan residu antibiotic maupun antibakteri pada tahun 1998 dibandingkan dengan data tahun 1997 mengalami peningkatan. Frekwensi penyimpangan selalu lebih tinggi pada sampel yang berasal dari area yang memiliki sejarah masalah residu atau penyalahgunaan obat.

b. Data Residu Legal Antibiotik dan Antimikroba pada Hewan pada Tahun 1998

Yang dimaksud dengan residu legal ini adalah residu antibiotic/antimikoba pada bahan pangan yang tidak melebihi MRL (Maximum Residu Level) atau berada dalam level toleransi. Berdasarkan data FSIS, frekuensi residu legal pada analisa tersebut baik antibiotic maupun Sulfonomides rendah, karena < 5%.

Pada analisa residu legal ini, presentase residu paling besar terdapat pada daging babi. Residu antibiotic pada daging babi sebanyak 4,76% dan sulfonamide 0,78%. Meskipun kandungan residu terbesar ada pada daging babi, keamanan pangan tetap terjamin,karena batas maksimum residu sudah memenuhi spesifikasi. Hal ini berbeda dengan nilai residu yang menyimpang atau non-legal, sebab nilai residunya melebisi batas, sehingga bisa toxic bagi pengkonsumsi.

Antibiotik                                           Sulfonamides
Slaugters Classes Samples Positives Percentage Samples Positives Percentage
Horses 442 0 0.00 26 0 0.00
Cattle
Bulls 244 0 0.00 247 2 0.81
Beef Cows 464 1 0.22 306 0 0.00
Dairy Cows 479 0 0.00 310 0 0.00
Heifers 299 0 0.00 234 0 0.00
Steers 479 0 0.00 321 0 0.00
Calves
Bob 410 15 3.66 407 1 0.25
Formula-fed 510 35 6.86 372 2 0.54
Nonformula-fed 256 4 1.56 258 0 0.00
Heavy 286 4 1.39 223 1 0.45
Sheep 294 0 0.00 93 0 0.00
Lambs 348 1 0.29 103 0 0.00
Hogs
Market 463 34 7.34 485 4 0.82
Boars 220 0 0.00 217 2 0.92
Chickens
Young 429 1 0.23 278 1 0.36
Mature 234 0 0.00 233 2 0.86
Turkeys
Young 468 12 2.56 307 3 0.98
Ducks 525 4 0.76 268 0 0.00

c. Data Residu pada Hewan 1999

Dalam analisa residu antibiotic yang dianalisa adalah penicillin, streptomycin, tetracycline, tylosin, crythromycin, neomycin, oxytetracycline, neomycin, oxytetracycline, chlortetracycline, gentamycin, dan lincomycin. Organ yang dijadikan target analisa antibiotic adalah ginjal. Sedangkan  sulfonamides yang dianalisa adalah sulfamerazine, sulfaquinoxaline, S-bromomethazine, sulfamethiozole, sulfonamide, sulfapyridine, sulfadiazine, dan sulfa methoxazole.  Jaringan yang dijadikan target analisa adalah hati.

Untuk analisa antibiotic, sampel yang tingkat residu paling tinggi adalah calves yaitu 1,50% dengan jumlah sampel 1133 sampel, dan terendah sampel daging kalkun dengan presentase 0,17%. Untuk residu Sulfonamide residu tertinggi terdapat pada sampel daging anak sapi sebanyak 0,48% dalam 1040 sampel. Sedangkan residu terendah terdapat pada sampel kelompok sapi/lembu.

Berdasarkan data tahun 1998 dan 1999, residu yang ditemukan pada daging hewan-hewan tersebut secara konsisten masih rendah. Secara umum laju penyimpangan residu < 1%, kecuali untuk kelompok sampel anak sapi (calves).

d. Data Residu Legal pada Hewan Tahun 1999

Antibiotik                                           Sulfonamides
Slaugters Classes Samples Positives Percentage Samples Positives Percentage
Horses 446 0 0.00 285 0 0.00
Cattle
Bulls 276 0 0.00 275 0 0.00
Dairy Cows 460 2 0.43 303 0 0.00
Heifers 461 0 0.00 304 0 0.00
Steers 459 1 0.22 466 0 0.00
Calves
Bob 389 15 3.76 397 1 0.25
Formula-fed 316 51 16.14 316 0 0.00
Nonformula-fed 191 9 4.71 151 0 0.00
Heavy 228 2 0.88 176 1 0.57
Sheep
Mature 246 0 0.00
Lambs 312 3 0.96 308 0 0.00
Goats 305 0 0.00 235 0 0.00
Chickens
Young 408 5 1.23 410 0 0.00
Mature 293 3 1.02 225 0 0.00
Turkeys
Young 411 8 1.95 412 1 0.24
Mature 170 2 1.18 128 1 0.78
Ducks 327 3 0.92 249 0 0.00
Rabbit 204 90 44.18

Sama seperti data analisa penyimpangan residu tahun 1999, kelompok calves masih termasuk hot spot. Presentase keterdapatan residu antibiotik sebesar 6,67% dari 1133 sampel yang dianalisa dan residu sulfonamide sebesar 0,19%. Berbeda dengan data non-legal 1999, pada data analisa legal ini terdapat 1 sampel yang berbeda yaitu kelinci. Presentase residu antibiotic terbesar terdapat pada sampel kelinci sebesar 44,12%, namun residu sulfonamide bernilai negatif.

e. Residu pada Susu

Pada tahun 1989, sampel susu yang diambil dar 10 kota dilaporkan 36% dari sampel susu mengandung residu antibiotic dan sulfonamiida. Pada tahun 1990, CBS (stasiun TV New York) melaporkan bahwa 80% dari 50 sampel susu sebenarnya mengandung tetra cycline dan 26% mengandung sulfonamide. Namun pada tahun 1990, FDA melaporkan bahwa dari 70 sampel susu dari 14 kota, tidak mengandung residu antibiotic.  Namun 2 bulan kemudian the wall street Journal melaporkan bahwa 80% dari sampel susu tersebut sebenarnya mengandung obat-obatan.

Karena adanya insiden tersebut maka timbul kesadaran bahwa diperlukan system nasional yang melaporkan pemeriksaan obat pada susu. FDA bekerja sama dengan NCIMS untuk mengatur program untuk mengumpulkan hasil tes residu dan frekwensi deteksi residu.

Analisa residu pada susu ini terdiri dari 4 sampel, yaitu bulk susu yang berisi susu segar dari ertanian, susu cair pasteurisasi dan produk susu, sampel yang diambil dari peternakan , dan sumber lain termasuk susu dari Silo. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan Oktober 1997-September 1998 dari 154 juta pound susuv yang diproduksi ditemukan residu yang melebihi batas β-Lactam 0,11%, amynoglycosidase 0,028%, obat-obatan sulfonamide 0,078%, dan tidak ditemukan chlorraphenicol, macrolider, novobiocin,dan pirylaminyang melebihi batas.

Pada periode Oktober 1999-September 2000 dari 162 juta pound susu yang diproduksi, diambil sampel sebanyak 0,061% ditemukan  0,005% susu pasteurisasi mengandung residu yang melebihi batas.

f. Residu Pada Telur

Belum adanya perhatian pada aturan segi penerimaan komoditi telur. Seperti berbagai jenis obat hewan yang digunakan pada unggas baik untuk daging telur maupun produksi telur. Kendala terbesar untuk memonitoring program ini adalah kurangnya keabsahan dan standarisasi pada metodologi yang digunakan. Seperti ketiadaan system analisa ditempat, tidak adanya penegakan pada system monitoring, juga tidak adanya data nasional untuk residu antibiotic/antimikroba pada telur. Baru-baru ini CFIA (Canadian Food Inspection Agency) memonitoring telur baik dari domestic maupun impor (diproduksi Amerika) terhadap residu obat hewan. Studi screening pada telur dilakukan untuk melihat keberadaan chloramphenicol, β-lactams, fluroquinolones, macrolides, tetracyclines, decoquinate, holofugizone, dan coccidiostat.

Telur disurvei dari 3569 sampel, ditemukan 33 yang berpotensial positif, 18 dari 33 dinyatakan positif (55% berasal dari Amerika). Tidak ada perbedaan yang berarti pada telur dari Canada dan Amerika. Residu telur dari Amerika terkontaminasi tetracylines yang berasal dari Vermont, Michigan, dan Minnesota. Sulfonamides ada pada telur yang berasal dari Maine dan Maryland. Macrolides dan nitromide ada pada telur dari Maine dan Minnesota. Ethopabate dan clopidol dari Maryland. Adanya pola ekstra yang dihasilkan dari studi dan dihubungkan ke frekuensi residu telur yang ada dipasaran, maka Amerika adalah yang tersusah. Dengan kekurangan dari pengamatan residu di pasar Amerika, namun perkiraan frekuuensi dari antibiotic dan sulfonamide berkurang kurang dari 1 %. Menggunakan data dari Canada, 5 dari 18 telur yang positif residu yang mana diindikasikan bukan antibiotic maupun sulfonamide. Antibiotic dan sulfonamide berkontribusi pada total sampel sebanyak 0,36%. Tanpa penurunan dari porsi dari total sampel yang berasal dari Amerika, maka adakan susah sekali untuk diperkirakan.

Di Inggris, VMD (Veterinary Medicine Directorate) mengklaim 99,3% dari daging unggas  dan 97% dari telur bebas dari residu. The Soil Association, grup yang berdedikasi pada pangan organic mengklaim bahwa VMD menyediakan informasi yang salah dari akibat dari residu. Mereka mengklaim kemungkinan 2000% lebih tinggi (Young dan Craig, 2002). Adanya diskusi ini melibatkan perdebatan, maka diperlukan pendekatan logical pada data semua residu sebelum publiksi oleh peneliti.

Data dari Canada tidak jauh beda dengan Amerika.kesimpulan yang dapat diambil yaitu sesuatu yang kurang dari 1% dari ukuran residu produksi telur Amerika, 99% sisanya dinyatakan bebas antibiotic maupun sulfonamide. Sayangnya kesimpulan ini didapat dari data yang minimal untuk dinterpretasikan.

g. Residu Pada Ikan

Tidak adanya program untuk menentukan residu antibiotic dan antimikroba pada ikan dan komoditi laut lainnya di pasar Amerika. Dengan peningkatan konsumsi seafood, maka sangat masuk akal dimasukkan untuk dasar program HACCP, sama dengan yang digunakan oleh FSIS, untuk diterapkan untuk seafood. Waktu kemunduran (withdrawal) dari berbagai spesies tergantung dari perlakuan pada saat siklus pertumbuhan, level dari perlakuan, jenis spesies, temperature air, dll. Treatment yang biasa dilakukan melewati pakan yang berisi obat, yang mana dapat berakibat secara ekologis seperti lumpur yang mengandung obat yang terdiri dari pakan yang tidak termakan juga kotoran ikan yang dapat meningkatkan ketahanan bakteri pada antibiotic/ antimikroba dan juga pelepasan antibiotic/antimikroba secara perlahan pada ekosistem air dari pakan yang tidak termakan. Dilihat dari sudut pandang pangan MRL dapat diatur, tapi tidak berbeda jauh dari hasil residunya. Misalnya  dilihat dari Codex Alimentarius  mengeluarkan MRL untuk oxytetracycline 0.10mg/kg. level ini terasa cukup memadai untuk udang black tiger, Penaeus monodon, dengan waktu withdrawal selama 14 hari. Namun tidak cukup memadai untuk udang tawar, Makrobrachium rosenbergii, yang membutuhkan waktu 21 hari. Kebutuhan akan sistim peraturan sangat dibutuhkan untuk memastikan produk tidak, dan tidak  mengandung bahan residu yang berbahaya.

h. Antibiotik dan Antimikroba Pada Lingkungan Perairan

Perlu diingat bahwa belum tepatnya penempatan permasalahan antara residu dan persoalan ekologis yang ada pada lingkungan. Akibat dari kesalahan banyaknya penggunaan obat-obatan yang digunakan manusia, obat-obatan untuk hewan yang diekskresikan. Hasil ekskresi akan terlihat pada ekosistem air. Ada sedikit pengetahuan untuk kelanjutan obat ini di ekologi perairan, yaitu kemampuan rumput laut dan air hasil purifikasi untuk mendegradasi obat-obatan tersebut, dan kemampuan dari level obat untuk memilih untuk resisten terhadap antibiotic atau antimikroba. Pertama kali kepedulian terhadap kehidupan ekologis perairan yaitu pada tahun 1976 terdapat limbah kimia yang ditemukan di penanaman rumput laut di kota Kansas. Meskipun tidak ada obat yang ditemukan di air minum, namun direkomendasikan untuk mengevaluasi penyaring air.

Walaupun pada tahun 1985 sudah dilakukan pengukuran konsentrasi pada zat pharmaceuticals pada lingkungan perairan, namun ada juga yang memfokuskan pada kimia family dan konsentrasi yang ditemukan yang berakibat pada bakteri. Ada penelitian yang menitik beratkan penempatan level jumlah residu pada obat-oabatan untuk meningkatkan ketahanan terhadap antibiotic dan antimikroba.

USGS (United States of Geological Survey) menargetkan jumlah yang besar dari komponen yang terdiri dari obat-obatan hewan, antibiotik, coccidiostats. Penambahannya, ada banyak komponen preskripsi, komponen nonpreskripsi, insektisida, plastilizer, deterjen dan komponen yang berhubungan, antioksidan, polycylic aromatic, pemadam api, parfum/wangi-wangian, produk perawatan tubuh, hormon steroidal yang muncul di air. Hasil survey dari USGS yaitu untuk pengadaan penegakan nasional dari kejadian adanya obat-obatan pada sungai, maka total zat biologi signifikan harus ditetapkan. Obat-obatan dan komponen aktif biologi dengan produk perawatan tubuh akan memperpanjang penjelasan pada seluruh area yang tidak diketahui hubungannya kepada perkembangan ketahanan antibiotic pada bakteri

i. Efek Pemilihan Kombinasi dari Bahan Campuran di Tingkat Residu Pada Ketahanan Antibiotik di Bakteri

Dibalik dari arti pertanyaan banyaknya campuran yang ditemukan pada tingkat residu yang rendah dengan peningkatan ketahanan antibiotik di bakteri mengingatkan bagaimana jawaban yang tidak terjawab tersebut masih merupakan dugaan. Pertanyaan kedua berhubungan dengan metodologi yang diterapkan yang akan dapat memberi gambaran untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dalam perdebatan hebat pengukuran efek antibiotic pada usus pencernaan pada populasi manusia. Diluar dari untung dan tidak untung dari metodologi yang ditawarkan dan digunakan secara luas. Nyatanya pengujian pada manusia dan hewan, selama usus pencernaan hewan memiliki populasi bakteri hampir sama seperti manusia, maka akan memberi penampakan yang baik dan terukur dari pencernaan dari obat antibiotic/antimikroba. Kekurangan jika diujikan pada manusia yaitu diperlukan waktu yang lama, banyaknya subyek manusia, biaya, dan kurangnya kemampuan untuk mempelajari kombinasi dan permutasi populasi bakteri pecernaan. Penggunaan uji manusia yang dihubungkan dengan hewan yang mana hewan memiliki koloni bakteri manusia dinyatakan sangat sulit karena membutuhkan fasilitas gnotobiotic yang mahal, dan tidak dapat digunakan untuk studi interaksi pencampuran obat-obatan. Namun penggunaan dari kultur yang murni, sistem kultur yang berkelanjutan, kultur yang anaerobik dari bakteri pencernaan tidak dapat memperlihatkan populasi komplek yang ada pada usus.

Dengan segala pemikiran yang masih rancu, maka digunakan konsep organisme indikator  dan workhorse mikrobiologi klinik. Metodologi MIC (Minimum Inhibitory Concentration) untuk mengukur sensifitas atau ketahanan mikroba. Indikator organisme yang sudah digunakan di air dan analisa makanan sebagai pengganti untuk populasi dan kontaminasi pathogen yang masuk, antara lain bakteri, yeast, kultur sel sering digunakan untuk komponen indiaktor yang mutagen. Sistem analisa MIC mengukur sensitifitas dari mikroorganisme  yang spesifik terhadap antibiotik dan antimikroba demikian juga dengan obat yang lain. Tidak ada sistem yang ditujukan untuk mensimulasi atau menirukan populasi mikroba yang ada pada jalur usus. Pertanyaan sistem kultur murni yang dapat dijawab yaitu membuka kultur bakteri menjadi single atau mengkombinasikan komponen dapat mengubah sensitivitas dari antibakteri.

Penelitian menggunakan Staphylococcus aureus sebagai indikator organisme dan antibiotik dan pestisida pada level yang rendah sebagai komponen individul maupun kombinasi, berkemampuan meningkatkan MIC menjadi penanda antibiotik/antimikroba. Pestisida, yang bekerja sendiri maupun dikombinasikan dengan antibiotik juga menaikkan frekuensi peningkatan MIC terhadap penandaan antibiotik di tambahannya. Level dari semua komponen adalah 10 ppb atau kurang, maka dari itu diperlukan relevansi pada kenyataan yang ditemukan di lingkungan.

Dengan peningkatan kesadaran pada tersedianya bahan kimia bioaktif dengan jumlah yang besar di lingkungan perairan, Kleiner berhipotesa bahawa tingkatan yang rendah, 10 ppb atau kurang dari obat antibakteri, pestisida, obat hewan, secara individual maupun kombinasi dapat meningkatkan  MIC ( ketahanan bakteri) di bakteri indicator S. aureus yang mana Kleiner berpendapat bahwa hipotesisnya benar berdasarkan hasil percobaannya, namun hasil ini hanya berindikasi pada kombinasi zat kimia, tingkatan residu yang dapat meningkatkan ketahannya terhadap organism indicator.

j. Pemilihan Ketahanan Antibiotik dan Antimikroba  yang Disebabkan Oleh Zat Bahan Gizi / Nutraceuticals

Neutraceutical dideskripsikan sebagai kejadian alami dari banyaknya produksi makanan dan pembelian dengan keyakinan bahawa produk tersebut akan menaikkan kesehatan atau keuntungan di bidang kesehatan, termasuk pencegahan jangka pendek dan jangka panjang pada pengobatan penyakit mauapun pencegahan penyakit seagai khasiat yang diklaim oleh produk. Di Amerika hampir 60 juta orang memakai produk herbal dengan perkiraan nilai pasar sebesar 80 juta dolar Amerika. Namun masih juga terdapat kekurangan informasi yang terkait pada pengembangan dari ketahanan antibiotic/antimikroba dan bagaimana zat gizi memegang peran pada menghalangi mikroba dari jalur pencernaan. Sayangnya, pembuktian dari amannya zat pangan tidak dibutuhkan dalam persetujuan pasar dan berbagai bukti keamanan maupun kekurangannya ditempatkan ke pemerintahan. Banyak zat pangan mengandung zat-zat tersebut namun tidak terlalu penting untunk ditunjukkan ke label, anjuran ataupun klaim dari kepemilikian aktifitas antimikroba. Tanpa kecuali pembongkaran pada aktifitas antibiotic/antimikroba biasanya akan didapatkan hasil pada peningkatan ketahanan bakteri pada substansi.

Menggunakan konsep tersebut,maka digunakan teknik seperti diatas dengan pengecualian penggunaan bakteri gram positif S. aureus ATCC 29213 dan gram negative E. colo ATCC 25922. Walaupun kedua organism tidak memiliki kesamaan sensifitas halus yang luas untuk spectrum luas dari obat antibiotic/antimikroba seperti S. aureus ATCC 9144, kedua organisme indikator memperlihatkan kesamaan ketahanan/sensitifitas profil.  Mereka menentukan garis batas dari batasan aktifitas pada study zat pangan nutraceutical menggunakan MIC sama baiknya dengan metodologi difusi agar.  Pada penelitiannya pada studi zat pangan (aloe vera, chinacea, bawang putih, goldenseal, zinc, St. John’s wort). Merupakan hal yang umum dan teranalisa meningkat secara signifikan dengan MIC dari penanda ampicilin pada kedua organism indikator S. aureus dan E. coli. Mekanisme dari pengamatan tetap tidak dijelaskan dalam penulisan ini. Penulis berpendapat inti pokoknya pemilikan dari zat gizi tidak lama, ada batasan efektifitasnya, dan tidak berefek dalam jangka panjang.

III. Kesimpulan

Banyak sekali peningkatan pada residu yang dihasilkan pada binatang dan burung pada makanan. Timbulnya residu tergantung dari tiap spesies, tergantung pada saat di ruang penyembelihan yang berlangsung paling tidak 10 kurang lipatan yang kemudian ditemukan 12-14 tahun kemudian. Sama halnya dengan timbulnya residu pada susu yang turun yang hampir sama dari factor 10. Sayangnya, pada susu total residu, presentasi dari kandungan residu susu tidak tersedia. Juga pada telur dan seafood, sangat terbatas informasi yang ada. Akan sangat menguntungkan jika program untuk daging dan susu memberikan pengaturan  pada residu telur dan seafood. Kualitas dari air dan potensi pengaruh serius dari zat kimia pada air harus dievaluasi untuk memastikan kualitas dari penyediaan air. Baik untuk ketahanan antibiotic dan gangguan endoktrin ataupun dapat berpengaruh serius terhadap lingkungan juga berpengaruh pada problem kesehatan. Zat pangan nutraceutical harus dipelajari lebih seksama untuk efek lebih besar dan halusnya, dengan ketahanan antibiotic yangmenjadi satu-satunya potensi masalah.

4 responses

  1. This is really unbelivable. I cannot believe in this article.

    20 Juli 2010 pukul 14:22

  2. Supriyanto

    Materi yang disajikan dalam tulisan ini sangat baik dan bermanfaat bagi saya, khususnya dapat menambah ilmu pengetahuan dibidang analisis residu bahan makanan asal hewan dan kesehatan masyarakat veteriner (Kesmavet). Harapan saya apabila ada materi tulisan lainnya dapat dikirimkan ke alamat email saya : spvetcom_dispetjtm@yahoo.co.id.
    Trim’s ….. dan sukses selalu ….

    Amin …..

    (Supriyanto)

    8 Maret 2011 pukul 11:14

  3. unung

    saya butuh artikel yang lebih lengkap dan terbaru ( 2011) tentang residu dalam susu dalam susu. Trims saya tertarik dengan artikel tsb.

    13 April 2011 pukul 16:19

  4. Setuju.. Sekarang residu antibiotik sudah menumpuk di manusia sehingga manusia sekarang mudah sakit dan muncul resistensi antibiotik yang sangat berbahaya. Yuk mulai dari Makanan.

    3 Mei 2011 pukul 05:43

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 139 pengikut lainnya

Tulisan Terakhir

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.
%d blogger menyukai ini: