“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

Blue campus or hot campus…

Aktivitas pembangunan infrastruktur di Universitas Brawijaya menandai komitmen Brawijaya untuk meningkatkan kualitasnya. Namun disisi yang lain aktivitas pembangunan infrastruktur ini berdampak pada degradasi lingkungan karena berakibat pada pemangkasan lahan hijau dan daerah resapan air. Universitas Brawijaya turut andil menjadi penyebab degradasi lingkungan di Kota Malang.

Kota Malang memang bukan daerah rawan bencana, dengan ketinggian lebih yang tinggi dari permukaan laut, banjir diperkirakan tidak mudah terjadi di Malang. Namun beberapa tahun terakhir sering kita jumpai genangan air yang menggenangi sejumlah ruas jalan kota Malang. Mulai dari jalan sekitar Sumbersari dan kampus ITN dan beberapa jalan di sekitar alun-alun kota. Tidak hanya itu, Malang yang dulu dikenal dengan kota berudara sejuk pelan-pelan mulai jadi kota yang panas. Berkurangnya lahan hijau yang fungsinya sebagai daerah resapan air adalah salah satu penyebab degradasi lingkungan di kota Malang. Bayangkan saja tempat tempat yang menjadi “ledokan” atau berada dalam posisi mangkuk yang biasanya digunakan sebagai resapan air ataupun situ banyak yang telah berubah menjadi tanah urukan untuk pondasi bangunan lalu airpun akan lari entah kemana saja hingga bermuara dalam suatu komunitas pemukiman.

Peran Brawijaya university

Di saat penduduk dunia mulai sadar akan pentingnya kelestarian lingkungan demi kehidupan yang lebih baik Universitas Brawijaya justru semakin mempersempit lahan terbuka hijau yang ada di lingkungan kampus. Pembangunan Sport Center di lahan yang membentang dari belakang Samantha Krida hingga Kopma. Ditambah lagi dengan pembangunan pendopo di atas hutan MIPA dan hutan THP. Hutan MIPA dan THP yang nota bene berperan besar sebagai paru-paru dan daerah resapan air di Brawijaya akan rusak dan kehilangan fungsi. Proyek mercusuar yang tidak hanya akan menghabiskan banyak biaya namun juga memangkas lahan hijau yang ada di kampus Brawijaya. Dampak panas yang menyengat telah dapat dirasakan di bundaran tugu rektorat yang dulunya merupakan rindang hijauan dan area track jogging “refleksi massage” yang telah digusur.

Kalau kita perhatikan konvensi dunia mensyaratkan ketersediaan lahan hijau di lingkungan kampus minimal adalah 21 % dari total lahan yang ada. Sedangkan konvensi yang ada di Indonesia mensyaratkan setidaknya ada 11 % lahan hijau dari total lahan yang ada di lingkungan kampus. Dalam salah satu keterangannya pada mahasiswa Program Bahasa dan Sastra Ainur Rasyid mengungkapkan bahwa lahan hijau yang ada di Brawijaya masih sekitar 8 % dari total lahan di kampus. Dengan adanya penambahan infrastruktur yang dilakukan Universitas Brawijaya dipastikan lahan hijau yang ada di Brawijaya akan kurang dari 8 %.

Dampak negatif yang akan kita rasakan ketika musim hujan seperti ini adalah banyaknya genangan air di Brawijaya. Coba lihat dan dating saja saat hujan deras datang, pasti akan terjadi sutu pemandangan yang sangat ironis untuk kampus ternama seperti Brawijaya dimana jalanan aspal yang seharusnya dilalui untuk kendaraan darat tiba-tiba berubah menjadi sebuah sungai dengan suatu aliran yang cukup deras. Hal ini dapat disebabkan kapasitas daya tampung dari saluran got tidak optimal, aliran air yang mengalir bukannya kea rah sungai melainkan kea rah perempatan ITN dimana daerahnya lebih rendah dan memiliki kawasan padat penduduk dengan minim resapan air serta dapat dimungkinkan sedikitnya daerah resapan air dalam kampus. Belum lagi meningkatnya suhu udara yang membuat siang hari begitu menyengat. Dengan kata lain Brawiajaya juga turut jadi terdakwa sebagai penyebab degradasi lingkungan di kota Malang.

Kampus Entrrepreneur atau Kampus Pariwisata atau Kampus Zaman Sejarah???

Pengembangan konsep Brawijaya sebagai Entrepeneurship University sampai sekarang belum kita lihat hasilnya. Tapi sekarang telah ditambah lagi dengan keinginan Brawijaya untuk jadi kampus pariwisata. Alasan utama yang dikemukakan Rektorat adalah demi kenyamanan mahasiswa dalam proses akademik. Dengan konsep kampus pariwisata, suasana kampus akan memberikan suasana asri bagi penghuninya. Salah satu faktornya adalah hijau. Namun sangat disayangkan, konsep hijau malah semakin jauh ditinggalkan.

Adanya konsep kampus pariwisata ini akan menarik calon-calon mahasiswa menjadi mahasiswa Brawijaya. Selama ini Brawijaya sering dikunjungi oleh calon-calon mahasiswa sebagai salah satu tujuan wisata atau studi banding SMA-SMA baik dari Jawa maupun dari luar Jawa.

Kontradiktif memang jika kita lihat misi Universitas Brawijaya yang hendak disetting sebagai kampus wisata namun mengorban lahan terbuka hijau yang berakibat pada degradasi lingkungan. Berkurangnya lahan hijau di Brawijaya tentu akan banyak menimbulkan masalah mulai dari meningkatnya suhu udara hingga ancaman banjir. Jika kita analisis dari lingkungan sekitar Brawijaya misalnya, semakin sedikit daerah resapan air yang ada. Hal ini mengakibatkan banjir di sejumlah ruas jalan di sekitar kampus Brawijaya. Balum lagi arogansi Fakultas untuk menambah infrastruktur dengan mendirikan bangunan yang memakai lahan baru. Fakultas Kedokteran, Ekonomi, FIS, FIA adalah bukti dari semua itu dimana semakin megah dan menjulang tinggi seluruh areal bangunannya dengan paving parkiran dimana-mana sehingga menghancurleburkan areal lahan yang seharusnya layak dihuni tanaman-tanaman rindang.

Mungkin selayaknya konsep kampus pariwisata diubah menjadi konsep kampus humaniora dengan focus sebagai layaknya candi-candi dimana kini telah megah berdiri gapura-gapura layaknya kerajaan majapahit. Selain itu seyogyanya dibuka pula jurusan sejarah di dalam kampus untuk mendukung optimasi hali ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 141 pengikut lainnya

Tulisan Terakhir

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.
%d blogger menyukai ini: