“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

Posts tagged “ospek

ORIENTASI MAHASISWA BARU (OSPEK) : PEMBENTUKAN GENERASI INSTAN ???

ORIENTASI MAHASISWA BARU (OSPEK) : PEMBENTUKAN GENERASI INSTAN ???

Proud by Rizky Kurnia Widiantoko

Anak Belajar dari Kehidupannya (puisi Dorothy Law Nolthe )

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Orientasi Mahasiswa. Dua buah kata yang mungkin akan mengantarkan pikiran kita pada sebuah bayangan mengenai kegiatan dimana mahasiswa – mahasiwa baru “disambut” dengan berbagai cara “unik” oleh seniornya. Menjadi sebuah kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun hampir di setiap kampus yang ada di dunia membuat orientasi mahasiswa seakan ada sebagai sebuah gerbang awal untuk menyambut bibit – bibit baru yang akan berjuang di kampus tersebut.

Jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ada dua arti dari kata orientasi. Pertama orientasi diartikan sebagai peninjuan untuk menentukan sikap (arah, tempat, dsb) yang benar dan tepat. Sedangkan arti yang kedua adalah pandangan yg mendasari pikiran, perhatian atau kecenderungan. Berangkat dari dua definisi ini, kita tahu bahwa kegiatan orientasi mahasiswa dilaksanakan sebagai sebuah kegiatan yang memberikan pandangan bagi mahasiswa – mahasiswa baru yang mendasari pemikiran dan kecenderungan mereka dalam menjalankan kehidupan mereka di kehidupan kampus agar mereka memiliki sikap yang benar dan tepat. Bicara mengenai kehidupan mahasiswa di kampus, tentu benar dan tepat disini adalah sudut pandang entitas kampus. Benar dan tepat menurut peraturan yang berlaku di universitas maupun fakultas.

Proses OSPEK adalah proses kaderisasi yang dibutuhkan untuk organisasi kemahasiswaan, sehingga keberadaannya harus tetap dipertahankan dengan tingkat fleksibilitas terhadap perubahan zaman dan tidak terpasung oleh tradisi semu yang memakan korban. Proses represivitas terhadap OSPEK harus dijawab dengan sebuah transformasi proses kaderisasi yang tidak memakan korban. Transformasi tersebut menuntut sebuah kreativitas dalam menjawab perubahan paradigma masyarakat (Pikiran Rakyat, 28/08/2004).

Para senior di setiap kampus memiliki cara tersendiri untuk memahasiswakan siswanya melalui OSPEK. Di beberapa kampus, kegiatan ospek dominan dengan pembebanan-pembenan tugas saja, misalkan tugas membuat antribut, menulis esai, menulis karya ilmiah, dsb. Di kampus lainnya, ospek diisi oleh kegiatan yang lebih variatif, selain pembebanan tugas, ada pula kegiatan seperti simulasi aksi dan acara-acara games ringan. Namun, adapula kampus yang memberikan tekanan lebih terhadap para junior mereka dengan cara pelatihan mental atau fisik yang sifatnya masih cukup ringan. Di sisi lain, masih ada pula kampus-kampus yang menerapkan aksi kekerasan.

Tak dapat dimungkiri lagi,  ospek sebelum memasuki dunia kampus sangatlah dibutuhkan, apa pun metodenya. Di momen inilah perubahan-perubahan awal dari siswa menjadi mahasiswa dilakukan.  Apa jadinya jika di suatu kampus tidak ada kegiatan ospek sama sekali? Dari manakah para mahasiswa baru tahu akan kampusnya, tahu akan esensi dari gelar mahasiswa yang kini mereka sandang, tahu akan bagaimana gelar mahasiswa yang mereka sandang kali ini berperan? Mahasiswa dengan spesies apakah yang akan dilahirkan jika tidak ada proses ospek? Akan jadi apakah bangsa ini jika para kaum intelektualnya hanya mementingkan diri mereka sendiri? Mahasiswa datang hanya untuk belajar, mendapat nilai, lulus, serta mendapat gelar. Kontribusi apakah yang akan diberikan oleh mahasiswa jenis ini kepada rakyat Indonesia ? Padahal di sisi lain, pendidikan yang mereka nikmati juga berasal dari uang-uang rakyat.

Setuju atau tidak setuju, ospek tetap dibutuhkan oleh para mahasiswa baru untuk memahasiswakan mereka setelah melewati fase siswa. Namun yang menjadi pertanyaan ialah metode ospek apakah  yang ideal bagi para mahasiswa baru agar mereka dapat memahami makna dari status mahasiswa yang kini mereka sandang? Apa pun metodenya, yang terpenting ialah metode tersebut tidak menyimpang dari garis orbit ospek sebagai sarana memahasiswakan siswa. Setidaknya hal yang perlu ditanamkan para senior kepada para juniornya saat ospek ialah mengubah paradigma berpikir para mahasiswa baru agar dapat berpikir kritis dan global terhadap apa yang sedang dialami oleh bangsa ini. Nilai selanjutnya ialah memahami peran dari mahasiswa sebagai agent of change, iron stock dan moral of voice, dan yang tak kalah penting ialah cinta Tanah Air, bukan cinta terhadap jurusan atau almamater. Metode apa pun yang akan diterapkan juga sebaiknya tidak monoton dan menyesuaikan tekanan dengan kebutuhan.

Letak permasalahan selama ini adalah, sulitnya mengawasi mahasiswa senior oleh Panitia maupun pihak pihak terkait seperti Fakultas dan Universitas, karena mereka belum mengetahui paradigma baru dari kegitan tersebut. Mereka lebih mengenang masa lalu, dan diulang kepada adik-adiknya.

Di Indonesia, kegiatan orientasi mahasiswa dikenal dengan nama OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) atau istilah di Universitas Brawijaya dikenal PK2 (Pengenalan Kehidupan Kampus), dalam lingkup lebih kecil di jurusan ITP-UB dikenal sebagai Graphista/OPJH (Orientasi Pengenalan Jurusan dan Himpunan).

Perubahan Gaya dalam Orientasi Mahasiswa Baru

Singkatan OSPEK ini mencerminkan bahwa tujuan dari OSPEK adalah untuk membantu mahasiswa baru agar memiliki pandangan tentang arah belajar sebagai mahasiswa serta mengenali seluk beluk dari kampusnya. Arah belajar mahasiswa berkaitan erat dengan sistem akademik yang berlaku di kampus.  Misal jam belajar, mata kuliah, penggunaan website kampus, cara mengetahui nilai secara online, syarat Drop Out (D.O.), dsb. Sedangkan pengenalan kampus berarti pengenalan orang – orang yang terlibat dalam perkuliahan misal teman seangkatan, dosen, karyawan, dan lain – lain, fasilitas – fasilitas yang disediakan, denah kampus, pengenalan cara meminjam buku di perpustakaan, organisasi` – organisasi kampus, kepanitiaan, dan sebagainya. Minimal, hal – hal seperti yang telah disebutkan menjadi tujuan dari adanya kegiatan OSPEK agar mahasiswa tahu apa yang sepantasnya menjadi hak serta  apa yang harus mereka lakukan sebagai wujud pemenuhan tuntutan kewajiban mereka.  Namun kenyataannya, sering kali pelaksanaan OSPEK mengandung unsur kegiatan yang tidak relevan dalam upaya pencapaian  tujuan dari OSPEK itu sendiri.  Apa yang panitia OSPEK anggap sebagai rangkaian kegiatan, tak menjadikan hal tersebut sebagai upaya tersampainya tujuan dari OSPEK.

Bentuk ketidakrelevanan yang pertama adalah kekerasan. Beberapa tahun lalu, media informasi kita, baik cetak maupun elektronik sempat dipenuhi oleh berita dimana kegiatan OSPEK dilakasanakan dengan unsur kekerasan. Kekerasan disini adalah hukuman fisik yang diberikan jika mahasiswa baru melakukan suatu tindakan yang dianggap salah oleh panitia OSPEK misal kontak fisik dengan cara memukul, menendang, menginjak, dan sebagainya yang kegiatan itu tak ubahnya seperti sebuah penindasan. Tak sedikit dari mahasiswa – mahasiswa baru itu yang mengalami cedera fisik, bahkan sempat ada berita dimana seorang mahasiswa di sebuah institusi pendidikan kehilangan nyawa akibat kekerasan dari pihak panitia.

Saat ini, penerapan system “penindasan” fisik seperti itu dilarang keras oleh pemerintah. Larangan tersebut diwujudkan melalui wacana yang dikeluarkan Sekretaris Jendral Kementrian Pendidikan Nasional tahun 2011 lalu, Dodi Nandika, yaitu Peraturan Menteri Pendidikan Nasional yang mengatur mengenai pelaksanaan Masa Orientasi Siswa (MOS) serta OSPEK. Sebagian institusi pendidikan, mulai meninggalkan kekerasan fisik semacam ini dan mengubah cara pemberian hukuman melalui verbal yaitu melalui kata – kata untuk memperingatkan mahasiswa baru yang panitia OSPEK anggap melakukan kesalahan.

Jika kita melihat dari sudut pandang panitia OSPEK, tentu mereka memiliki alasan mengapa menerapkan sistem tekanan pada mahasiswa melalui verbal. Yang pertama, system ini tidak menyebabkan cedera fisik. Kedua, melalui system ini, diharapkan kegiatan OSPEK dapat dijadikan sebagai media untuk internalisasi nilai keberanian dari mahasiswa untuk berargumen melawan statement yang telah diucapkan oleh panitia OSPEK jika mahasiswa baru menganggap tidak benar. Dapat dikatakan bahwa saat OSPEK, adalah saat yang tepat untuk melakukan internalisasi nilai – nilai tertentu bagi mahasiswa seperti berani, setiakawan, jujur, dsb.

Namun, lagi – lagi pada pelaksaan. Peringatan secara verbal seakan hanya sekedar mentransformasi bentuk kekerasan fisik menjadi verbal sehingga melahirkan bentuk penindasan baru.  Peringatan yang digunakan  justru kebablasan sehingga harus menggunakan kata – kata kasar atau bahkan umpatan yang tak sepatutnya digunakan. Penanaman nilai seperti keberanian, kesetiakawanan, dsb berubah menjadi bentuk penanaman ketakutan. Jika melawan senior, mereka akan mendapatkan hukuman tertentu sehingga kadang sebagian besar dari peserta memilih untuk diam.

Berkaitan dengan kekerasan fisik dan verbal, Paulo Freire, seorang pemikir dan praktisi pendidikan pembebasan dari Brasil, dalam bukunya Pedagogi of The Oppressed (diindonesiakan dengan judul Pendidikan Kaum Tertindas, LP3ES, 1985) mengingatkan bahwa dalam situasi penindasan, kaum tertindas melakukan identifikasi secara kontradiktif. Mereka mengidentifikasi dirinya sebagai mahluk yang terbenam, terhina, terlepas dan tercerabut dari kemanusiaannya. Adapun di hadapan mereka adalah kaum penindas yang berkuasa dengan harkat kemanusian yang sempurna, “Tuan tanpa salah”.

Kaum tertindas dipaksa untuk memilih atau melakukan apa yang dipola oleh penindasnya. Kaum tertindas tentu akan berfikir seribu kali untuk melakukan perlawanan, karena hal itu akan memberatkan mereka sendiri. Lagi pula, belum tentu kawan-kawannya yang lain akan membantu. Kebanyakan kaum tertindas akan memilih diam dan patuh. Keadaan seperti ini membuat kaum tertindas akan larut dalam sikap masokhis. Begitu pun yang terjadi pada mahasiswa baru peserta OSPEK. Mereka melakukan banyak tindakan dan hukuman seperti yang diminta oleh para panitia OSPEK, tanpa banyak berani menentang walaupun tindakan-tindakan itu sama sekali tidak logis, tidak rasional dan tentunya tidak mereka inginkan. Hal semacam ini tentu akan membungkam kebebasan berpikir mahasiswa baru. Mereka seakan dicetak menjadi sosok yang patuh tanpa memberikan mereka ruang untuk berpikir menggunakan akal dan logika yang mereka miliki.

Selain kekerasan, bentuk ketidakrelevanan lainnya adalah pemberian tugas berlebih. Pemberian tugas berlebihan sebelum atau saat OSPEK membuat mahasiswa kelelahan dalam melaksanakan kegiatan OSPEK. Dikatakan berlebih apabila dengan adanya tugas tersebut, membuat mahasiswa tidak lagi memperhatikan tujuan adanya OSPEK yaitu pengenalan sistem akademik dan pengenalan lingkungan kampus. Tugas – tugas yang seakan memang dirancang untuk tidak dapat diselesaikan akan memberikan pengaruh buruk pada kondisi psikologis peserta OSPEK karena pusat perhatian mereka tertuju pada penyelesaian tugas. Kekhawatiran timbul akibat akan ada berbagai macam hukuman yang akan mereka terima apabila tugas tidak terselesaikan. Lagi – lagi masalah ketakutan. Mereka mengerjakan tugas bukan karena tugas itu perlu dan memberikan dampak positif jika dikerjakan, namun mereka mengerjakan dengan alasan takut untuk mendapatkan hukuman. Internalisasi nilai ketakutan tentu bukan yang diharapkan oleh panitia OSPEK. Sebagian besar pelaksanaan OSPEK, dalam rangkaian kegiatannya, membuat acara seminar dan presentasi dari pihak – pihak terkait yang nantinya akan terlibat dengan kehidupan mahasiswa di kampus seperti dari sistem akademik kampus, dewan kode etik, presentasi dari organisasi – organisasi, pemanfaatan infrastruktur, dsb. Kelelahan yang diderita peserta akan membuat peserta kehilangan konsentrasi selama pelaksanaan acara presentasi. Padahal acara inilah esensi dari pelaksanaan OSPEK. Mahasiswa dikenalkan dengan system pendidikan kampusnya serta apa hak dan kewajibannya sebagai mahasiswa.

Faktor Minus yang harus Dihapuskan saat Orientasi Mahasiswa Baru

1. Pelaksanaan OSPEK selama ini yang bermaksud menanamkan kedisiplinan dengan hukuman dan bentakan hanyalah sebuah bentuk militerisasi dalam kampus. Ini adalah bentuk KEMUNAFIKAN mahasiswa yang anti militerisme dalam kampus tetapi malah melestarikan militerisme dari waktu ke waktu.

2. Penanaman nilai-nilai baru dalam waktu yang singkat dan dalam tekanan adalah sangat TIDAK EFEKTIF ditinjau dari faktor psikologi. Mahasiswa yang tidak tidur ataupun kelelahan karena mengerjakan setumpuk tugas tidak memiliki kesiapan maksimal untuk menerima informasi baru.

3. Pembuatan aneka atribut yang aneh-aneh merupakan suatu pemborosan uang dan waktu semata, tak sebanding dengan nilai-nilai yang ditanamkan dalam serangkaian aneka atribut tersebut. Dengan kata lain, pembuatan aneka atribut tersebut tidak mengacu pada aspek kreatif

4. Thorndike, seorang ahli psikologi pembelajaran menyatakan bahwa hukuman tidak efektif untuk meniadakan suatu perilaku tertentu. Begitu halnya dengan hukuman dan sanksi pada OSPEK tidak akan efektif membuat seorang mahasiswa untuk menghilangkan perilaku-perilaku buruknya. Setiap orang memiliki kerentanan psikologis yang berbeda-beda, sehingga hukuman yang serampangan ataupun perlakuan yang menekan mental pada OSPEK dapat menimbulkan suatu TRAUMA PSIKOLOGIS tersendiri bagi beberapa orang. Trauma ini pada akhirnya akan menimbulkan abnormalitas kejiwaan seseorang.

5. Hindarkan dari arogansi senioritas. OSPEK bukan ajang perpeloncoan untuk menujukkan arogansi para senior. Bukan pula digunakan sebagai ajang para senior untuk balas dendam atau melakukan intimidasi yang keras ke juniornya. Karena jika OSPEK identik dengan hal tersebut maka OSPEK akan selalu diwarnai dengan kekerasan, intimidasi, penghinaan atau aktivitas negatif yang lain. Memang dalam beberapa hal, kondisi ini menjadi hal yang turun-temurun. Untuk itu, perlu bagi ketua untuk dapat memilih panitia OSPEK dengan atitude yang baik. Perlu di-briefing juga agar panitia tidak terjebak untuk menujukkan aroganitasnya saja yang cenderung mendorong ke arah kekerasan.

6. Hindari memberikan tugas yang tidak rasional dan tidak produktif. OSPEK terkadang identik dengan tugas yang tidak rasional atau tugas yang tidak produktif. Jika jurusan tidak terkait dengan seni, maka sejatinya kadang tidak perlu menyuruh junior menggunakan cara berpakaian yang aneh-aneh dengan kostum yang aneh-aneh. Pakaian aneh-aneh ini kadang justru cenderung merendahkan para junior di mata orang lain. Justru ajarkan mereka cara berpakaian yang sopan dan rapi. Misalnya menggunakan jas, dasi layaknya mereka dipersiapkan diri menjadi profesional sejati.

7. Hindarkan kegiatan yang tidak berguna dan urakan, arahkan kegiatan OSPEK untuk memperkenalkan dunia baru yang intelek. OSPEK pada awalnya memang dirancang untuk memperkenalkan dunia baru kepada mahasiswa baru atau siswa baru. Mereka perlu diberitahu hal-hal yang baru seperti lingkungan baru dan budaya yang baru di tempat yang baru. Perlu ditanamkan ke mahasiswa baru tentang nilai-nilai positif yang perlu dijaga di kampus tersebut. Perlu dijelaskan juga tentang aturan atau norma yang dijunjung tinggi dalam kampus atau sekolah tersebut. Penanaman konsep yang bagus tersebut perlu dilakukan dalam akvitas sederhana yang rutin seperti misalnya menyapa dosen dengan sopan, membuang sampah di tempat dengan benar, bersikap yang benar ketika berjalan, dst. Arahkan kegiatan OSPEK dengan kegiatan membangun kepribadian diri yang baik. Contoh sederhana membangun kedisiplinan diri serta kemandirian. Mengajak mahasiswa baru ke kampus tidak diantar, mandiri dalam pengaturan finansial pribadi. Hal-hal tersebut perlu dipertegas kembali dalam sebuah bentuk mentoring atau dalam bentuk buku saku yang wajib dibaca. Atau kegiatan membaca buku bagi mereka yang malas membaca jadi mau membaca buku dengan kegiatan diskusi dalam perpustakaan selain juga mengurangi kecanggungan mahasiswa baru untuk mendatangi lingkungan baru seperti perpustakaan.

8. Hilangkan tindakan yang menekan (represif) yang membuat stres tapi Tujukan untuk kegiatan yang memotivasi (self-motivation) mampu memacu interaksi & bersosialisasi. Salah satu kunci keberhasilan mahasiswa/siswa baru dalam kuliahnya adalah kemampuan memotivasi diri dengan baik. Ada banyak mereka datang dengan pilihan jurusan yang tidak tepat atau motivasi yang kurang kuat. Perlu dibuat sesi untuk kegiatan yang mengarahkan kepada training motivasi dan pengembangan sikap positif. Selain itu mengingat budaya saat ini, remaja cenderung jarang bersosialisasi atau gemarnya dalam grupnya sendiri.  OSPEK diharapkan mendorong pesertanya untuk mampu lebih bersosialisasi dan berinteraksi satu sama lain. Salah satu kunci sukses di masa yang akan datang adalah kemampuan sosialisasi yang baik dan mampu membina hubungan baik dengan orang lain sehingga tidak perlu ada tindakan represif oleh disma atau QC yang berakibat melemahkan motivasi karena stress atau bahkan mengurangi interaksi dari maba dalam bersosialisasi dengan lingkungan barunya karena gerak-gerik yang terlalu diawasi.

Pembentukan Karakter bukan Dilakukan secara Instan

Titik awal peresmian kata “maha” akan  melekat di belakang kata siswa.
Selama OSPEK berlangsung, maba memberikan kesan pertama terhadap fakultas, alamater, dan senior. Kalangan mahasiswa baru pun memaknai OSPEK secara beragam. Ada yang memandang OSPEK secara positif, ada juga yang memandang OSPEK dengan skeptis dan menilainya sebagai kegiatan yang sama sekali tidak berarti.

Bagi mahasiswa baru yang memandang OSPEK dengan skeptis, maba merasa diperlakukan tidak manusiawi. Ulah panitia OSPEK yang tidak segan-segan dengan mudahnya memberi hukuman, baik fisik maupun verbal, kepada mahasiswa yang tidak displin. Parahnya lagi, ada  panitia OSPEK berusaha menemukan hukuman dengan mencari-cari kesalahan peserta OSPEK. Bila timbul pemikiran di benak maba bahwa OSPEK ialah hanya ajang balas dendam terhadap apa yang dirasakan oleh senior kepada yunior, maka hal tersebut sah-sah saja karena kenyataan di lapangan mencerminkan demikian.

Banyak panitia OSPEK yang tidak sadar bahwa pendekatan tersebut tidak efektif untuk membangkitkan kedisiplinan maba secara komunal. Pengaruh pendekatan tersebut mengesankan menciptakan efek jera, sekaligus memaksakan membudayakan disiplin. Namun, kedisiplinan yang terbangun akibat paksaan akan mendorong maba kembali ke sifat semula. Berbeda bila pendekatan yang diberikan  menekankan kehumanisan mahasiswa baru.

Panitia OSPEK perlu belajar mengenali mahasiswa baru sebagai adik kelas yang berpotensi membangun almamaternya dan sebagai partner psikologis. Selama OSPEK, melakukan pendekatan yang membangun mental, bukan kebanyakan menjatuhkan. Mengubah paradigma mereka dan memperlakukan mereka melalui sentuhan hati, bukan lewat cacian dan suruhan. Berikan pendekatan yang lembut namun tegas. Hal ini menjadi pendekatan efektif sebab membentuk kedisplinan lebih alami.

Beberapa bentuk perilaku diluar kontak non fisik yang digolongkan kekerasan di kampus yaitu: Pertama, pengungkapan kata-kata tidak senonoh dan penghinaan yang merendahkan nilai dan martabat kemanusiaan mahasiswa. Kedua, pemaksaan nilai dan atribut tertentu untuk dilakukan secara massal, seragam dan persis antar satu mahasiswa dengan mahasiswa lainnya. Ketiga, ucapan dan tindakan bernada ancaman fisik, sanksi sosial dan akademik yang tidak proporsional. Seperti seorang panitia yang mengancam mahasiswa baru tidak lulus OSPEK, padahal kelulusan mahasiswa baru ditentukan oleh penanggung jawab sesuai standard aturan yang telah diberitahukan sebelumnya dan bukan merupakan penilaian yang keluar secara pribadi. Keempat, Pemberian tugas yang tidak sepantasnya dan tidak sesuai dengan tujuan pendidikan. Misalnya membawa peralatan atau bahan yang sulit dicari ditempat umum yang bertujuan untuk membuat malu mahasiswa. Kelima, merampas dan merazia barang mahasiswa baru yang merupakan barang pribadi yang bernilai privacy. Keenam, mengaitkan kelemahan pribadi dengan ciri etnis tertentu. Ketujuh, memberi gelar yang berasal dari ciri khas fisik, gaya dan sifat bawaan yang negatif.

Kekerasan non fisik justru akan berdampak lebih buruk dari kekerasan fisik bila telah menjadi tradisi. Buah dari kekerasan non fisik adalah kekerdilan berpikir, pelecehan etika dan moral, mematikan kreatifitas, menumbuhkan dendam, meruntuhkan motivasi dan dampak lain. Dampak-dampak tersebut seharusnya dieliminir untuk memacu pertumbuhan generasi yang inovatif, kreatif dan produktif di kampus.

OSPEK akan dipandang sinis oleh maba bila tidak ada pesan yang ingin disampaikan atau mengaburkan esensi OSPEK. Dan pada dasarnya, OSPEK masih sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan mahasiswa baru mengarungi hidup di kampus. Esensi dari inti OSPEK ialah mengenalkan dan membantu maba untuk beradaptasi dengan lingkungan dan pergaulan yang baru. Maba dapat mengetahui prosedur perkuliahan dan tata tertib akademik. Program OSPEK juga harus selaras membangun kesadaran mahasiswa baru akan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Oleh karena itu OSPEK ialah media awal mendewasakan paradigma dan mematangkan sikap mahasiswa baru.

Sudah bukan zamannya lagi bila OSPEK diisi dengan muatan negatif sehingga menimbulkan stigma di kalangan mahasiswa baru. Pada perkembangannya, sudah tidak relevan bila OSPEK sebagai sarana bullying mahasiswa baru. Bila pendekatan OSPEK yang dibangun salah, maka akan menciptakan generasi mahasiwa yang apatis. Paradigma pendekatan OSPEK tersebut harus dihapuskan. Muatan OSPEK harus memberi kesan dan pesan positif. Sejatinya pesan positif OSPEK akan dinilai berhasil bila mahasiswa baru dapat memetik tergantung dari kualitas OSPEK itu sendiri. Sejauh mana OSPEK  membantu adaptasi mahasiswa baru di lingkungan yang baru. Sejauh mana tujuan dan pelaksaan OSPEK dapat mendewasakan sikap mahasiswa baru untuk menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hal ini menjadi amat penting untuk dipikirkan oleh panitia OSPEK dalam mengonsep dan mengeksekusi pelaksanaan OSPEK.

Alasan-alasan diataslah yang perlu menjadi landasan mengenai perlu atau tidaknya ada sebuah sie QC (Quality Control)/ Disma (Disiplin Mahasiswa) atau Komite Disiplin agar dapat disikapi dengan bijak sehingga sesuai tujuan orientasi mahasiswa baru yang diharapkan tanpa tercampuri pembentukan karakter dengan cara-cara yang instan.

Gaya Orientasi Mahasiswa Baru di Negara Maju

Jika kita berkaca pada beberapa negara maju, kesan OSPEK yang diberikan sungguh sangat berbeda. OSPEK yang dilakukan benar – benar dilakukan sesuai dengan tujuannya, yaitu pengenalan sistem akademik dan kehidupan kampus.

  • Jerman

Melongok tradisi penerimaan mahasiswa baru di sejumlah PT di Jerman, nampak sedikit berbeda bila dibandingkan dengan PT di Indonesia. Dari segi konteks memang serupa yaitu untuk melakukan pengenalan dengan lingkungan kampus, mulai dari informasi akademis, fasilitas kampus, hingga dosen-dosen pengajar. Namun cara yang dilakukan, setiap PT dan negara pasti memiliki perbedaan. Proses pengenalan mahasiswa baru di Indonesia biasanya memakan waktu berhari-hari, bahkan tak jarang kita ketahui di sejumlah PT menyelenggarakan kegiatan orientasi mahasiswa baru hingga berbulan-bulan, dengan tujuan tertentu pastinya.

Lain halnya dengan PT di Jerman, pada umumnya penyelenggaraan kegiatan penerimaan mahasiswa baru tidak membuang waktu lama. Di Hochschule Harz contohnya, mulai dari tingkat Diploma, Sarjana maupun Pascasarjana, pengenalan mahasiswa baru secara efektif hanya diselenggarakan selama kurang lebih 2-3 hari. Rincian kegiatan juga kurang lebih serupa, mahasiswa baru diterima secara langsung oleh petinggi PT setara Rektor, Pembantu Rektor bidang akademik ataupun Dekan Fakultas. Mereka mendapatkan pengarahan akademis secara umum dalam tingkatan PT, fakultas dan jurusan. Lalu dilanjutkan dengan Tour de Campus untuk mengenalkan fasilitas kampus itu sendiri, juga mengemas kegiatan tur kampus ini menjadi sebuah permainan seru. Selebihnya mereka mengadakan acara kumpul-kumpul bersama seperti Barbeque Party di taman kampus atau Welcoming Party di sebuah klub. Tak ada satupun kegiatan ‚bantai-membantai‘ antara senior terhadap junior. Dengan rancangan kegiatan yang padat tersebut, menjadikan waktu lebih efektif dan efisien baik dari pihak PT sendiri juga bagi mahasiswa baru. “Tiap tahun kami selalu melakukan persiapan untuk penerimaan mahasiswa baru, selain rancangan kegiatan yang sifatnya pengenalan akademis, kami juga mengatur pesta penyambutan yang menyenangkan untuk mereka,” ujar Sebastian Ziervorgel selaku tim Humas seraya menjelaskan dengan Bahasa Inggrisnya yang lancar.

Mungkin perbedaan menonjol yang terlihat adalah rasa kekeluargaan yang sangat tinggi di kalangan mahasiswa PT di Indonesia dan rasa individualis di PT Jerman. Namun bila tujuannya untuk solidaritas dan keakraban antar mahasiswa, apakah harus melalui proses ‘penyiksaan’ selama beberapa hari? Apakah tidak ada cara lain untuk memotivasi mahasiswa tanpa harus mengalami tekanan terlebih dahulu, sampai-sampai banyak insiden yang banyak menelan korban? Atau memang sudah karakter masyarakat kita yang terbiasa mengalami penekanan dari zaman penjajahan, setelah itu baru bisa merasakan dampaknya? Bisa jadi pertanyaan ini menjadi kajian penting bagi institusi pendidikan dan para mahasiswa di tanah air. Tradisi budaya boleh berbeda, namun tak ada salahnya apabila kita bisa mengambil sisi positif dari hal yang berseberangan. Menumbuhkan rasa solidaritas bisa dilakukan dengan banyak cara, dengan jalan menciptakan kegiatan yang seru dan menyenangkan seperti kegiatan Outbond atau lainnya. Melihat juga usia mahasiswa yang sudah layak disebut dewasa maka alangkah baiknya mereka diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman dengan seniornya dengan cara yang bijak dan perlakuan yang dewasa pula, tanpa melibatkan tindakan kekerasan entah verbal atau fisik yang berpotensi menimbulkan anarkis.

  • USA

Seorang narasumber yang pernah menjadi Orientation Assistant (O.A.) sebuah Universitas di Washington D.C. , Amerika Serikat berpendapat bahwa OSPEK/New Student Orientation dilakukan dengan tujuan agar mahasiswa baru tahu siapa yang mereka hubungi jika mereka membutuhkan sesuatu.

“One of the most important but simple things students learn during orientation is who to contact if they need something,” says Laura Pasley ’10, student life coordinator and former orientation assistant.

Sebagai contoh, misal seorang mahasiswa ingin berkonsultasi masalah akademis, mereka tahu pihak mana yang harus dihubungi, kepada siapa mereka harus berbicara. Selain itu, jika seorang mahasiswa ingin menggunakan fasilitas yang disediakan kampus, mereka tahu kepada siapa mereka harus meminta izin. Sekalipun sangat sederhana, tujuan OSPEK dapat tercapai, mahasiswa dapat mengetahui apa saja hak mereka dan apa saja yang menjadi kewajiban mereka.

“One aspect of making the transition to college is learning to be an advocate for your own needs and questions. During orientation, we try to give students the contacts and resources needed to be self-sufficient.” says Laura Pasley.

OSPEK menjadi media pihak Universitas dan Fakultas, khususnya panitia OSPEK sendiri, agar mahasiswa baru dapat mengadvokasi kebutuhan mereka sendiri. OSPEK dijadikan sebagai jalan agar mahasiswa mampu mandiri, mampu mengdentifikasi kebutuhan mereka lalu mencari jalan untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

“The process helps students begin adjusting to the college lifestyle because it gives first-years a chance to interact with each other without being overwhelmed by the upperclassmen population,” says Alex Birmingham, Orientation Assistant

Proses OSPEK juga merupakan langkah awal bagi mahasiswa baru untuk bisa saling mengenal satu dan lainnya, mengetahui siapa saja orang yang berada dalam lingkup universitas atau khususnya fakultas.  Tahap perkenalan tersebut dimulai dari teman seangkatan, senior, dosen, karyawan, pegawai kantin, petugas kebersihan, dekan hingga pada tingkat rektor.

Di University of California, Los Angeles (UCLA) sudah sejak tahun 1950-an tidak ada lagi masa orientasi yang diwarnai perpeloncoan. Menurut Roxanne G Neal, Direktur Program Orientasi UCLA, saat ini tidak ada lagi tindakan-tindakan senior dalam program orientasi yang menindas anak baru dengan mengatasnamakan tradisi. Seandainya ada oknum mahasiswa yang melakukannya, maka tindakan ini dianggap pelecehan dan sudah pasti akan mendapat sanksi baik dari pihak universitas maupun kepolisian. Satu-satunya tradisi yang diturunkan dalam masa orientasi adalah yel-yel yang disebut “8-tepukan”. Yel-yel sebagai sarana unjuk gigi sekaligus menjaga semangat ini biasa ditampilkan dalam acara- acara olahraga seperti football dan basket.

  • Belanda

Universitas di Belanda, OSPEK diadakan oleh perkumpulan mahasiswa atau studenten verenigning, bukan universitas. Mahasiswa baru harus mengikuti suatu program yaitu “sorority” selama dua minggu, seminggu di antaranya kerja di hutan sebagai ritual masuk ke sorority. Selama masa orientasi yang disebut Eureka Week itu, mahasiswa baru yang namanya diganti dengan angka selama seminggu kerja di hutan, tanpa mandi, tanpa tahu waktu, tanpa snack dan rokok. Untuk orientasi universitas, yang ada hanya kuliah umum serta jalan-jalan keliling kota dan kampus.

  • Malaysia

Universitas di Malaysia, OSPEK tidak lebih dari pengenalan kampus. Mulai dengan lingkungannya, seperti : berjalan mengelilingi areal kampus, asrama, perpustakaan, pusat pusat kegiatan mahasiswa, pengenalan akademik di fakultas dan jurusan masing-masing. Tidak ada terlihat atribut-atribut tiap fakultas atau jurusannya, seluruhnya sama dengan berpakaian putih – hitam. Dan panitia pelaksana turut serta berpanas-panasan dan berjalan kaki sambil menerangkan lingkungan kampus ke adik-adiknya, kegiatan ini dilaksanakan selama satu minggu.

Penutup

Pada akhirnya, proses OSPEK selayaknya dilaksanakan sebagaimana tujuan awalnya. Diperlukan berbagai macam rangkaian kegiatan yang dapat menjadi media tersampainya tujuan dari OSPEK itu sendiri. Jangan sampai OSPEK hanya dijadikan sebagai ajang balas dendam panitia atas proses OSPEK yang tidak relevan di tahun sebelumnya. Internalisasi nilai kehidupan mungkin perlu dilakukan namun porsinya hanya sebagai “bumbu” agar fokus tujuan dari OSPEK tidak membias. Semestinya, jika diperlukan sebuah rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan internalisasi nilai kehidupan, tak dapat dilakukan hanya dalam rangkaian OSPEK selama tiga sampai empat hari. Diperlukan suatu proses terus menerus dan bersifat jangka panjang, mengingat mahasiswa baru bukanlah sebuah gelas kosong yang dapat diisi dengan berbagai cairan apapun dengan mudah. Mereka adalah sosok yang telah dewasa dan mampu menentukan jalan mereka sendiri.

Saran khususnya untuk OPJH Grapistha HIMALOGISTA UB:

Beberapa saran telah diutarakan secara eksplisit maupun implisit diatas, akan tetapi ada beberapa saran yang menurut saya perlu saya tambahkan untuk memberikan solusi yang lebih kongkrit.

Pemberian informasi mengenai lingkungan kampus dan sekitarnya dapat dilakukan dalam sebuah rangkaian berupa kuliah umum dalam beberapa kali pertemuan, yang kemudian ditindaklanjuti dengan kegiatan-kegiatan dalam kelompok yang dipandu dan difasilitator oleh mahasiswa yang lebih senior. Dinamika kelompok kecil akan lebih terasa dibandingkan kelompok besar, sehingga keakraban antar mahasiswa dalam kelompok maupun antar kelompok pun akan semakin terjalin dengan baik termasuk mendalami informasi yang didapatkan secara teori mampu diterapkan secara praktik.

Tidak perlu adanya pembatasan kreatifitas dalam makna sesungguhnya, yang perlu adalah pembatasan standard minimal dalam kreatifitas. Misalnya dalam pembawaan atribut tidak perlu dilakukan penyeragaman yang serupa, seharusnya atribut dibiarkan beranekaragam sesuai kreatifitasnya.

OSPEK yang menerapkan sistem yang akan membentuk “MABA KONSUMTIF” haruslah dihilangkan. Maba konsumtif dapat dibentuk secara psikologis oleh ospek yang memeritahkan maba-mabanya untuk membeli peralatan ini ataupun membeli jadi suatu produk jadi tertentu.  Hal ini sangatlah bertentangan dengan prinsip dari orientasi mahasiswa untuk dipacu kreatif karena  apabila mahasiswa baru dipaksa untuk menyelesaikan segala permasalahan dengan “membeli” maka unsur kreatifitas dalam otak kanannya akan tertekan. Misal : selalu saja ada perintah untuk membeli merk spidol atau bolpoint merk bersandi  “manusia salju atau supir pesawat terbang” atau membeli permen bersandi “kayu” atau peralatan lain dengan kata-kata merk bersandi lain. Solusinya bagaimana? mudah,,cukup dengan konsep kotradiksi terbalik dimana maba wajib membawa peralatan ini itu tapi “WAJIB BUKAN BARANG BARU” yang akan memacu mahasiswa menjadi lebih kreatif memanfaatkan barang-barang lama, demikian halnya membuat nametag atau atribut lainnya pun harus dilabeli dengan “DIWAJIBKAN KOMPONEN BAHAN PEMBUATAN BUKAN BARANG BARU”.  Indikator keberhasilan pembetukan mahasiswa kreatif dengan cara ini cukup mudah yakni cukup melakukan total pengeluaran maba selama proses orientasi mahasiswa  ini,  semakin sedikit total biaya pengeluaran namun tugas dapat terlaksana menunjukkan bahwa semakin kreatif mahasiswa tersebut. Banyak sekali keluhan pasca ospek mengenai banyaknya pengeluaran yang dikeluarkan saat ospek menunjukkan bahwa ospek sangat “TIDAK MENDIDIK”, padahal saat masuk registrasi maba di Universitas Brawijaya sudah ditarik biaya yang lumayan tinggi untuk OSPEk ORDIK dan ORMAWA.

Penanaman nilai-nilai dan informasi baru sangat efektif dilakukan dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dalam rupa permainan-permainan ringan tanpa hukuman. Hadiah telah terbukti efektif dalam membentuk dan mempertahankan suatu perilaku baru.  Sistem Kredit Poin per Materi dapat juga digunakan sebagai hadiah (rewards). Misalnya poin untuk datang tepat waktu, 1 poin untuk kerapian, 1 poin untuk mengenal denah gedung kuliah. Jika mahasiswa tidak memperoleh standar poin tertentu maka akan bisa dievaluasi mengenai kelulusannya dalam program ospek tersebut. Jadi bukannya panitia berusaha mencari kesalahan melainkan malah panitia mampu membantu memotivasi.

Tapi selepas dari itu, Perlu dilakukan perencanaan dan pola yang matang berdasarkan esensi yang diharapkan sebagai “GOAL”. Setelah pola diperoleh, perlu sosialisasi ke mahasiswa senior dan panitia, kemudian perlu dilakukan simulasi kegitan tersebut. Dengan konsep yang jelas, dan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi telah diketahui, maka seluruh pihak akan mudah mengatur kegitan tersebut, sehingga OSPEK bernuansa positif akan muncul, barulah terlihat kegitan-kegiatan yang menjurus pada perubahan watak.

Kalau takut acara ospek menjadi tidak seru atau tidak berbobot karena sikap pasif dan plegmatis mahasiswa baru maka tidak menjadikan penghalalan sifat dan fungsi tugas disma/QC/Komite disiplin yang seperti skenario sinetron untuk dimunculkan untuk memberikan kekerasan verbal (skenario sinetron karena saat simulasi memang kejadiannya seperti artis sinetron-bukan mencerminkan pribadi yang sesungguhnya). Sungguh sangat disayangkan apabila masih ada mahasiswa baru yang menjalankan acara OSPEK khususnya OPJH Grapistha ITP UB saat evaluasi QC padahal sebelumnya habis ketawa-ketiwi game icebreaking atau saat materi, namun saat melihat QC masuk seperti melihat zombie bangkit dari kubur dan rebutan pingsan. Ada sebuah statement asyik yang bisa saya cuplik dari mrs J

ank skrg itu bnr2 beda ma jaman batu dl,,inget,,

dliat dari background pendidikannya,

maba dah biasa ngalem,liat aja kurikulumnya,KBK,CBSA,KPTS,smw kan brusaha mbwt suasana belajar semenyenangkan mungkin.

maba emg terbiasa dididik dgn menstimulir keinginan belajar mereka melalui contoh kongkrit pendidiknya.

tanpa kekerasan,agar mereka terus menggali potensi diri n mengaplikasikan dlm kehidupannya.

beda ma dulu.kL pun Qta brusaha mbntuk mental mrka yg notabene cm dlm waktu 2hr,,itu sama aja ky nyiram segelas air k gunung berapi yg lg mletus=P..

Kenangan dalam OSPEK hanya menciptakan romantisme tertentu ketika diceritakan beberapa waktu setelah OSPEK, namun tentunya setiap orang tidak ingin mengalami OSPEK untuk beberapa kali lagi. Ini merupakan bukti bahwa setiap orang tidak menginginkan OSPEK terjadi lagi dalam hidup mereka. Hal inilah sebenarnya yang dapat menjadi tolak ukur keberhasilan apakah OSPEK berhasil atau tidak, bukan ditinjau dari apakah OSPEK sudah berjalan sesuai schedule atau penilaian otoristik secara sepihak oleh panitia.

Hal yang menyenangkan akan selalu diingat sebagai kenangan yang menyenangkan bukannya hal yang membosankan karena membuang waktu dan tidak menimbulkan trauma, selain juga karena pembentukan karaktrer harus dilakukan secara bertahap serta terencana sehingga tidak akan menghasilkan generasi instan.

Sumber Informasi Penulisan:

Okezone kampus, BEM FE UI, HIMALOGISTA ITP-UB, DIKTI, dan berbagai masukan pribadi dari mahasiswa S1/S2 yang tidak cukup untuk dituliskan.

SARAN BUAT PARA MAHASISWA BARU: APABILA KAMPUSMU MENJALANKAN PRAKTEK ORIENTASI BERBASIS KEKERASAN FISIK MAUPUN MENTAL ATAU MENERAPKAN HAL-HAL YANG SANGAT  TIDAK MENDIDIK MAKA BOIKOT SAJA, JANGAN IKUTI OSPEK DAN LEBIH PENTING LAGI KIRIMKAN SURAT KOMPLAIN/PETISI BERTANDA TANGAN ORANG TUA KEPADA PEMBANTU DEKAN 3 – (secret-panitia ospek paling takut dengan pihak dekanat khususnya PD 3 karena mereka memiliki beberapa segmen acara ilegal yang biasanya bertentangan dengan konsep akademik dari PD 3). JANGAN TAKUT UNTUK TIDAK LULUS OSPEK KARENA SEMUA MABA PASTI LULUS OSPEK DAN TIDAK MENGULANG TAHUN DEPANNYA LAGI.  TAPI KALAU OSPEK BERJALAN MENYENANGKAN DAN BERMANFAAT MAKA SEBAIKNYA IKUTI, KARENA ORIENTASI TERSEBUT BANYAK MEMILIKI GUNA DI LAIN HARI


Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 101 pengikut lainnya.

Pos-pos Terakhir

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 101 pengikut lainnya.