“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

ISRA MI’RAJ SEBAGAI LANDASAN SPIRIT KEPEMIMPINAN KAUM MUDA

ISRA MI’RAJ SEBAGAI LANDASAN SPIRIT KEPEMIMPINAN KAUM MUDA

Created by RIZKY KURNIA W

Pemuda dan Kepemimpinan

Dalam riwayat hadits Rasulullah SAW, yakni dikatakan: Rebutlah lima perkara sebelum lima perkara. Masa muda sebelum tiba masa tua. Masa sehat sebelum tiba masa sakit. Masa kaya sebelum datang masa miskin. Masa lapang sebelum masa sempit. Masa lapang sebelum tiba masa sibuk dan masa hidup sebelum datang masa kematian. Betapa pentingnya peluang dan potensi masa muda sebagai sebuah aset yang jelas tergambar pada hadits tersebut.

Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya untuk menjadi aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. “The founding leaders” Indonesia telah meletakkan dasar-dasar dan tujuan kebangsaan sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945.

Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad menjadi momen strategis bagi refleksi bagi pemuda untuk memperbaiki nilai-nilai kepemimpinan bangsa kita. Saat ini bangunan kepemimpinan kita berada di ambang kehancuran. Terungkapnya skandal suap sejumlah pejabat negara, baik di tingkatan eksekutif, legislatif, maupun yudikatif menjadi bukti nyata betapa kian memprihatinkannya pemimpin bangsa ini. Fenomena tersebut merupakan event of experience yang menyedihkan dan kian meneguhkan citra negatif pemimpin bangsa ini, yang dalam istilah William Change dikatakan telah terjadi “demoralisasi“.

Para pemimpin kita saat ini telah kehilangan identitas. Kualitas kepemimpinan tertutup kepentingan-kepentingan individu dan kelompoknya semata. Tidak lagi mewarisi nilai-nilai ketulusan, kebenaran, dan keadilan, sebagaimana pernah diperkenalkan dan diimpikan oleh para pemimpin ideal, sejak Rasulullah hingga sekurang-kurangnya khalifah yang yang empat. Pemimpin kita sedang berada dalam situasi krisis spiritualitas dan kehilangan fondasi keagamaan.

Penting bagi kita semua, terutama kaum muda Indonesia, membiasakan diri yaitu untuk mengerjakan apa saja yang semestinya kita kerjakan guna memperbaiki keadaan dan meningkatkan produktifitas kita sebagai bangsa dan negara. Setiap anak bangsa perlu bertekad melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing melebihi apa yang seharusnya dikerjakan, dengan hanya mengambil hak tidak melebihi hak yang memang seharusnya diterima.

Kepemimpinan (Leadership)
Menurut Kenneth Boulding (1997) dalam buku The Image: Knowledge in Life and Society dikatakan mengenai konsepsi seorang pemimpin, sebagaimana berikut : Good leaders develop through a never ending process of self-study, education, training, and experience. This guide will help you through that process. Good leaders are continually working and studying to improve their leadership skills; they are NOT resting on their laurels. Sementara itu tujuan kepemimpinan (Purpose of Leadership) dikemukakan sebagai berikut, yakni : Leadership is a way of focusing and motivating a group to enable them to achieve their aims. It also involves being accountable and responsible for the group as a whole. (ME96 Leadership Pages) Berikut ini adalah penjelasan mengenai aspek dalam praktek mengarahkan tim (Practical Aspect in Directing Teams). When directing a small team it is important to structure the tasks to be performed. Goals should be easily understood by everyone and tasks broken down so that they appear achievable (ME96 Leadership Pages). Jadi pada intinya terdapat 2 komponen penting sebagai aspek dalam praktek mengarahkan tim (yang dipimpin) yakni :

1. Merumuskan wacana (breaking down the task)

2. Melakukan analisis sasaran (goal analysis)

Dari uraian mengenai pengertian pemimpin yang baik, ditekankan mengenai aspek proses belajar (improvement) di dalamnya. Jadi proses perbaikan kualitas diri selalu diperlukan untuk menghasilkan pribadi yang memiliki kualitas pemimpin, selanjutnya seorang pemimpinpun harus memiliki kearifan untuk mau terus belajar. Kemudian pada uraian mengenai tujuan kepemimpinan, ditekankan mengenai membuat tim menjadi memiliki motivasi dan memiliki kemampuan dalam meraih tujuan yang utuh. Terakhir ditegaskan lagi bahwa terdapat 2 komponen sebagai aspek dalam praktek mengarahkan tim (yang dipimpin), yakni merumuskan wacana (breaking down the task) dan melakukan analisis sasaran (goal analysis).

Pemuda (Youth), secara harfiah, kamus Websters, Princeton mengartikan bahwa youth yang diterjemahkan sebagai pemuda memiliki definisi : (1) a young person, (2) the time of life between childhood and maturity, (3) early maturity. Sedangkan dalam kerangka usia, WHO menggolongkan usia 10 – 24 tahun sebagai young people.

Definisi yang berbeda ditunjukkan oleh Alquran. Dalam kaidah bahasa Qurani pemuda atau yang disebut “asy-syabab”didefinisikan dalam ungkapan sifat dan sikap seperti:

1. berani merombak dan bertindak revolusioner terhadap tatanan sistem yang rusak. Seperti kisah pemuda (Nabi) Ibrahim. “Mereka berkata: ‘Siapakah yang (berani) melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya dia termasuk orang orang yang zalim, Mereka berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang (berani) mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” (QS.Al-Anbiya, 21:59-60).

2. memiliki standar moralitas (iman), berwawasan, bersatu, optimis dan teguh dalam pendirian serta konsisten dalam dengan perkataan. Seperti tergambar pada kisah Ash-habul Kahfi (para pemuda penghuni gua).”Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda.pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka mengatakan: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran” (QS.18: 13-14).

3. seorang yang tidak berputus-asa, pantang mundur sebelum cita-citanya tercapai. Seperti digambarkan pada pribadi pemuda (Nabi) Musa. “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai kepertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun” (QS. Al-Kahfi,18 : 60).

Jadi pemuda identik dengan sebagai sosok individu yang berusia produktif dan mempunyai karakter khas yang spesifik yaitu revolusioner, optimis, berpikiran maju, memiliki moralitas, dsb. Kelemahan mecolok dari seorang pemuda adalah kontrol diri dalam artian mudah emosional, sedangkan kelebihan pemuda yang paling menonjol adalah mau menghadapi perubahan, baik berupa perubahan sosial maupun kultural dengan menjadi pelopor perubahan itu sendiri.

Nilai Isra’ Mi’raj dalam Kepemimpinan

Di sinilah pentingnya mendalami makna Isra’ Mi’raj, yakni untuk merefleksikan spirit kepemimpinan Nabi Muhammad selama hidupnya bagi kaum muda yang diharapkan menjadi pemimpin yang lebih baik. Sudah bukan waktunya lagi kita memaknai Isra’ Mi’raj hanya semata perjalanan Muhammad di malam hari untuk menerima perintah shalat. Kita mesti menyeret makna peristiwa itu pada konteks yang lebih rill. Sebab, Isra’ Mi’raj penuh labirin dan makna simbolik, baik pada tatanan kemanusiaan atau pun teologi kepemimpinan yang akan dihadapi oleh generasi muda.

Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan spiritualitas terpenting yang menjadi salah satu tonggak sejarah perjuangan Nabi Muhammad dalam membangun peradaban, keadilan, dan kemakmuran bagi seluruh umatnya. Proyeksi awal dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah menciptakan jalan pencerahan untuk membebaskan diri dari sisi gelap (dark side) pengamalan dan sejarah kemanusiaan. Shalat lima waktu yang diprintahkan Tuhan dalam peristiwa Isra’ Mi’raj tidak semata-mata ditafsiri sebagai kewajiban yang sifatnya ritual an sich, melainkan wahana untuk menegakkan kebenaran dan merobohkan bangunan-bangunan kemungkaran di muka bumi.

Jika dicermati, ada banyak hal yang dapat kita jadikan motivasi untuk lebih bersungguh-sungguh memaknai peristiwa agung ini sebagai spirit kepemimpinan. Pertama, spirit penyucian hati. Telah diriwayatkan, bahwa sebelum Nabi Muhammad dibawa Malaikat Jibril, beliau dibaringkan, kemudian dibelah dadanya; hatinya dibersihkan dengan air zamzam. Penyucian hati Rasulullah ini bermakna bahwa setiap manusia tidak akan pernah lepas dari kekhilafan. Setiap kali melakukan kekhilafan, setiap kali pula hatinya ternoda hingga menjadikannya hitam pekat, karena itu penting di sucikan.

Dalam konteks kekinian, jika seorang pemimpin melakukan tindakan yang dapat menyebabkan hati kotor, semisal melakukan suap-menyuap, maka penting juga disucikan, bahkan kalau perlu direndam (dalam penjara). Pemimpin yang hatinya kotor mustahil memiliki keinginan untuk memperjuangkan nasib rakyat. Alih-alih mereka hanya mementingkan kepentingan pribadinya.

Kedua, spirit keteladanan. Ketika di Baital Maqdis, misalnya, Nabi Muhammad ditawari dua gelas minuman yang berisi susu dan khamar, beliau memilih susu. Hal ini mengindikasikan bahwa pemimpin harus mampu memberikan yang terbaik dan bernilai positif bagi dirinya dan umatnya. Spirit keteladanan nabi Muhammad itu bisa dipraktekkan dengan menjauhi tindakan korupsi, skandal suap dan sek yang akhir-akhir ini kian merebak di kalangan wakil rakyat. Karena tindakan-tindakan tersebut lebih parah dari pada sekedar minum khamar.

Ketiga, prinsip keadilan. Proses negosiasi yang dilakukan nabi Muhammad dalam menerima kewajiban shalat juga menjadi cerminan bahwa esensi seorang pemimpin adalah berusaha meringankan beban yang dihadapi umatnya. Al-Ghazali mengungkapkan bahwa seluruh ajaran ibadah yang diwajibkan kepada umat Islam merupakan fondasi yang wajib dilaksanakan untuk menemukan saripati dan esensi agama, yakni agama sebagai rahmat bagi semua bangsa.

Keempat, spirit dan etos membangun peradaban yang kuat. Sejarah mencatat, tidak lama setelah Isra’ Mi’raj, Rasulullah dengan para pengikutnya hijrah ke Madinah. Dengan spirit dan etos yang lahir dari Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad SAW berhasil menyampaikan risalah kenabian di Madinah. Lebih dari itu, Beliau juga berhasil membangun sebuah negara kota yang disebut Al Farabi sebagai negara yang adil, makmur, sejahtera, aman, dan damai. Negara seperti itu adalah sebuah negeri ideal sebagaimana dicita-citakan para ahli dari Yunani, seperti Plato dan Aristoteles. Kepemimpinan Nabi di Madinah dinilai sebagai kesuksesan memadukan antara nilai-nilai keislaman dengan spirit demokrasi, yang dalam bahasa Robert N. Bellah disebut sebagai masyarakat madani (civil society). Menurut Gus Dur, ada lima hal yang diperjuangkan Islam untuk membangun civil society, yaitu pertama, melindungi keselamatan fisik warga masyarakat dari tindakan badani di luar ketentuan hukum, kedua, melindungi keselamatan keyakinan agama masing-masing, tanpa adanya paksaan untuk berpindah agama, ketiga, menjaga keselamatan keluarga dan keturunan, keempat, memberikan jaminan keselamatan harta benda dan milik pribadi di luar prosedur hukum, dan kelima, menjamin keselamatan profesi. Lima hal itulah yang diperjuangkan Nabi selama memimpin Madinah. Kesuksesan nabi Muhammad dalam memimpin Madinah mendapat apresiasi serius di kemudian hari. Filsuf George Bernand Show berkeyakinan seandainya Muhammad diserahi untuk memimpin dunia modern, tentu berhasil menyelesaikan persoalan dengan cara yang dapat membawa dunia yang dapat membawa dunia ke dalam kesejahteraan dan kebahagiaan. Bernand juga meramalkan, akidah yang dibawa Muhammad akan diterima dengan baik oleh Eropa di kemudian hari. Maka tak heran, jika salah seorang sejarawan barat, Michael H. Hart, menempatkan Muhammad sebagai tokoh nomor wahid yang paling berpengaruh sepanjang sejarah umat manusia.

Spirit kepemimpinan nabi Muhammad menemukan momentum untuk diinternalisasikan dalam calon jiwa-jiwa pemimpin yang berada di pundak pemuda bangsa kita saat ini. Momentum Isra’ Mi’raj dapat menggugah bangsa Indonesia dalam menegakkan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, kesejahteraan, dan keimanan, yang pada titik klimaksnya akan lahir sosok pemimpin yang memiliki integritas kebangsaan dan spirit religiusitas yang agung.

Penutup

Pemuda adalah harapan bagi masa depan bangsa. Tugas kita semua adalah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk mengambil peran dalam proses pembangunan untuk kemajuan bangsa kita di masa depan dengan spirit isra mi’raj yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Estafet kepemimpinan di semua lapisan, baik di lingkungan supra struktur negara maupun di lingkup infra struktur masyarakat, terbuka luas bagi kaum muda Indonesia masa kini untuk memberikan pengabdian yang sebaik-baiknya guna mewujudkan cita-cita bangsa yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, serta guna mencapai empat tujuan nasional kita, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Referensi :

Anonymous, 2012. http://east-crew-daru.blogspot.com/2011/10/definisi-pemuda.html.

Anonymous, 2012. http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,9-id,38138-lang,id-c,khotbah-t,Hikmah+Isra++Mi+raj+dan+Pembersihan+Hati+Rasulullah+SAW-.phpx

Anonymous, 2012. http://www.walisongo.ac.id/view/?p=news&id=pesan_sosial_isra%E2%80%99_mi%E2%80%99raj

Anonymous, 2012. http://heavenslights.blogspot.com/2006/04/george-bernard-shaw-and-genuine-islam.html

Bellah, Robert. 2012. Civil Religion in America. http://www.robertbellah.com/articles_5.htm

Boulding, Kenneth. The Image: Knowledge in Life and Society. Ann Arbor, MI: University of Michigan Press, 1997, 175 pp.

Hart, Michael H. The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History. New York: Carol Publishing Group/Citadel Press; first published in 1978, reprinted with minor revisions 1992.

Hefner, Robert W. 2000. Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia. Princeton University Press.

Subairi. 2009. Islam Dan Pemberdayaan Civil Society; Refleksi Pemikiran Abdurrahman Wahid. http://rontalsuber.wordpress.com/2009/08/02/islam-dan-pemberdayaan-civil-society-refleksi-pemikiran-abdurrahman-wahid/

 


 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 115 pengikut lainnya.

Pos-pos Terakhir

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 115 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: