“Allahumma tawwi umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ibadikas salihina”

GARUT

UMBI GARUT

A. Pendahuluan

Garut (Marantha arun dinacea) merupakan tanaman pangan lokal. Selain sebagai sumber karbohidrat, tanaman garut memiliki manfaat bagi kesehatan terutama penderita diabetes atau penyakit kencing manis karena memiliki kandungan indeks glisemik yang rendah dibanding jenis umbi-umbian yang lain. Tanaman garut termasuk produk unggulan, lantaran tingginya manfaat ekonomi dan kesehatan yang terkandung di dalamnya. Umbi garut kaya akan serat, sehingga produk makanan olahannya dapat membantu kesehatan sistem pencernaan (Anonymous a, 2010)

Taksonom tanaman garut (Maranta arundinaceae L) adalah sebagai berikut (Anonymous b, 2010).

Tanaman garut memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi dan dapat kita jumpai hampir di seluruh wilayah Indonesia. Tanaman ini sangat mudah cara budidayanya, karena mudah pemeliharaannya dan dapat tumbuh dengan baik pada lahan ternaungi. Tanaman ini apabila dibudidayakan secara intensif dapat menghasilkan ratarata 21 ton/ha. Akhir-akhir ini tanaman garut banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan lokal dan mulai dikembangkan untuk agroindustri rumahtangga di pedesaan. Dengan Teknologi yang sederhana dapat meningkatkan nilai tambah (added value) dari komoditas tersebut (Plantus,2007)

Sejak lama masyarakat mengenal garut sebagai tanaman penghasil atau rimpang yang dapat dijadikan panganan seperti halnya singkong dan ubi jalar. Tetapi akibat ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras menjadikan umbi garut sediit dilupakan. Semenjak adanya krismon dan semakin terpuruknya perekonomian Indonesia, ternyata membawa hikmah terhadap banyak komoditas Indonesia yang sebelumnya banyak disepelekan dan bahkan tidak pernah dilirik. Salah satunya umbi tanaman garut. Sejak lama tim ahli di lingkungan Balitbang Pertanian berupaya meningkatkan peran aktif umbi dan terutama tepung garut karena dari hasil penelitian dan pengembangan sejak lama, sudah positif memiliki potensi yang menguntungkan (Plantus,2007).

Tanaman Garut (Maranta Arundinacea, Arrowroot, West Indian Arrowroot) telah dicanangkan Pemerintah sebagai salah satu komoditas bahan pangan yang memperoleh prioritas untuk dikembangkan/dibudidayakan karena memiliki potensi sebagai pengganti tepung terigu. Sebagai sumber karbohidrat, tanaman Garut belum dikembangkan secara sungguh-sungguh di Indonesia.

B. Potensi Wilayah

Tanaman garut bukan merupakan tanaman asli Indonesia. Garut berasal dari daerah Amerika tropik yang kemudian menyebar ke daerah tropik termasuk Indonesia. Daerah penyebarannya merata, meliputi India, Indonesia, Sri Lanka, Hawai, Filipina, Australia, dan St. Vincent. Di Indonesia, tanaman garut dapat dijumpai di berbagai daerah seperti Jawa, Sulawesi, dan Maluku. Garut dikenal dengan nama daerah yang berbeda-beda, misalnya sagu banban (Batak Karo), sagu rare(Minangkabau), sagu andrawa (Nias),sagu (Palembang), larut/pata sagu(Sunda), arut/jelarut/irut/larut/garut(Jawa Timur), labia walanta (Gorontalo),dan huda sula (Ternate) , “arut”, “selarut” atau “laru” (Madura), “peda sula” (Halmahera). Di DI Yogyakarta, tanaman garut tersebar merata di empat kabupaten, yaitu Bantul (Kecamatan Sedayu dan Pajangan), Kulon Progo (Kecamatan Sentolo, Lendah, dan Pengasih), Sleman (Kecamatan Prambanan), dan Gunung Kidul (Kecamatan Semin). Di Jawa Tengah, tanaman garut antara lain dikembangkan di Kabupaten Sragen, seperti di Kecamatan Gesi, Mondokan, Sukodono, dan Miri. Luas lahan pengembangan tanaman garut di kabupaten ini rata-rata 7.828 ha. Tanaman garut juga tersebar di beberapa kabupaten di Jawa Barat, antara lain Ciamis, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Cianjur, dan Bogor. Luas areal garut berkisar antara 6.301−17.847 ha dan produktivitas15−17 t/ha (Djaafar,2010).

Sebagai tanaman teduhan, khususnya di Pulau Jawa, tanaman garut umumnya tumbuh liar dibawah hutan jati. Sedangkan di lahan petanian tumbuh dengan subur di tegalan atau kebun di bawah tanaman tahunan (tanaman umur anjang-TUP). Garut tidak akan dapat tumbuh dengan optimal apabila ditanam di daerah terbuka dengan penyinaran matahari penuh atau secara langsung. Tanaman garut (Maranta arundinacea Linn.) mempunyai sistem perakaran serabut, rhizomanya mula-mula berupa batang yang merayap (stolon), kemudian menembus ke dalam tanah dan secara bertahap membengkak menjadi suatu organ yang berdaging. Rhizomanya memiliki panjang 20-40 cm, dengan diameter 2-5 cm, berwarna putih, serta berd aging tebal (Pinus, 1986).

Kabupaten Sragen yang memiliki ketinggian 75 m – 300 m dari permukaan laut, sangat cocok untuk lahan tumbuh umbi Garut. Tanaman ini mudah ditanam di lingkungan yang ternaungi, dan dapat beradaptasi dari dataran rendah sampai ketinggian 900 m dari permukaan laut. Kebutuhan bibit bisa dicukupi dengan meninggalkan sebagian ujung-ujung umbi sewaktu memanen yang kelak akan tumbuh menjadi tanaman baru lagi. Uniknya, usia tanaman ini mencapai 7 tahun, dan dipanen setiap tahun.

Sampai saat ini, tanaman garut ditanamkan sebagai tanaman tumpangsari (berada bersama dengan tanaman lain) atau sebagai tanaman semiliar di batas tanah-tanah miring, sudut pekarangan rumah, dsb., tetapi belum menjadi tanaman budi daya seperti layaknya singkong, ubi-jalar, talas, dsb. Hasil  utama  tanaman  garut  adalah  umbi.  Tanda­tanda umbi  garut  sudah  waktunya  untuk  dipanen ialah daun­daun menguning, mulai layu dan mati yaitu biasanya pada umur antara 10 ­ 12 bulan setelah tanam. Sebenarnya kandungan pati maksimum pada umbi garut adalah pada saat tanaman berumur 12 bulan, namun pada umur tersebut umbi garut telah banyak berserat sehingga pati sulit untuk diekstrak. Berikut ini adalah tingkat wilayah budidaya tanaman garut (Anonymous b 2010) :

 

No.

Propinsi

Budidaya Teratur

Budidaya Tidak Teratur

Tumbuhan Liar

1

Jawa Barat

0

0

-

2

Jawa Tengah

100

0

-

3

Jawa Timur

84.8

11.2

-

4

DI Yogyakarta

0

90

10 dipekarangan

5

Sumatra Barat

0

0

100 dipekarangan sekitar rumah

6

Jambi

0

100

 

7

Riau

0

3.3

96.7% dipekarangan di pinggir hutan

8

Lampung

5

95

0

9

Kalimantan Selatan

0

0

100 tumbuh di pinggir kampung dan ladang

10

Sulawesi Utara

0

0

Belum di kenal

11

Sulawesi Selatan

0

0

100 tepi semak pinggir kebun

12

Sulawesi Tengah

0

0

100 di hutan dan ladang

13

Maluku

100

0

-

 

C. Kandungan Gizi

Umbi garut mempunyai kelebihan dibandingkan dengan ubi kayu dan ubi jalar ditinjau dari sifat fisik dan kimiawi. Kadar amilosa garut hampir sama dengan ubi kayu dan ubi jalar tetapi tidak mengandung senyawa anti nutrisi seperti HCN dalam ubi kayu fenol dan oligosakarida dalam ubi jalar. Selain itu garut juga masih mempunyai banyak kandungan zat lainnya yang sangat berguna bagi kesehatan manusia. Tanaman ini mempunyai kandungan kimia yang terletak di dalam rimpangnya,yaitu zat pati yang berguna sebagai sumber karbohidrat. Garut ini juga memiliki kandungan kimia saponin dan flavonoid. Kandungan karbohidrat dan zat besi tepung garut lebih tinggi dan lemaknya lebih rendah dibanding tepung terigu dan beras, sedangkan jumlah kalorinya hampir sama.

Pati atau tepung garut bertekstur halus yang mengandung pati kira-kira 19% dari berat basah. Umbi garut segar mempunyai kandungan gizi yaitu: air 69-72%, protein 1,0-2,2%, lemak 0,1%, pati 19,4 -21,7%, serat 0,6 -1,3% dan abu 1,3 -1,4% (Pinus, 1986) Pinus Lingga. 1986. Bertanam Umbi-umbian. Penebar Swadaya, Jakarta.. Adapun ampas umbi garut, menurut hasil analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran, kandungan gizinya adalah: air 6,77%, pr otein kasar 2,80%, lemak kasar 0,83%, serat kasar 11,72%, abu 3,11%, Ca 0,15%, P 0,13%, BETN 85,65% dan energi brutonya 2881 kkal/kg (Abun,2005).

Tepung garut kualitas komersial berwarna putih, bersih, bebas dari noda dan kadar airnya tidak lebih dari 18,5 %, kandungan abu dan seratnya rendah, pH 4,5 ­ 7 serta viskositas maksimum antara 512­ 640 Brabender Unit. 

D. Senyawa Pembatas

Selain kandungan proteinnya yang masih rendah (2,80%), ampas umbi garut mempunyai kelemahan, yaitu kandungan airnya relatif tinggi yang dapat menyebabkan umur simpannya pendek dan penggunaannya sangat terbatas. Hal tersebut dapat menyebabkan ampas umbi garut cepat asam dan busuk, serta tidak disukai oleh ternak. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu upaya untuk meningkatkan penggunaan ampas umbi garut melalui perbaikan nilai nutrisinya. Upaya peningkatan nilai manfaat ampas umbi garut dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain melalui biokonversi dengan jasa mikroba yang dikenal dalam proses fermentasi. Produk fermentasi diharapkan dapat memperbaiki sifat-sifat bahan dasar, seperti meningkatkan kecernaan, menghilangkan senyawa beracun dan menimbulkan rasa dan aroma yang disukai (Prescott , 1959).

E.Contoh Produk

Umbi garut merupakan bahan makanan sehat dan dapat diolah menjadi beraneka jenis bahan makanan. Pati dan tepung garut dapat digunakan sebagai pengganti tepung terigu dan mengandung gizi tinggi. umbi garut dapat membantu persediaan pangan yang sehat, karena tidak mengandung purin yang menyebabkan asam urat tinggi, kandungan serat tinggi, kandungan kolesterol sangat rendah, dan mengandung barium untuk mempercepat pencernaan. Sedangkan dalam hal konsumsi umbi garut dapat diolah menjadi makanan kecil/snack dan bahan makanan seperti: emping, kripik, pati, tepung, dan lain-lain (Djaafar,2010)

Pati atau tepung garut bertekstur halus dan mudah dicerna sehingga cocok untuk makanan bayi atau orang sakit. Umbinya dapat digunakan sebagai bahan kosmetik (bahan baku bedak), lem, obat tradisional yang berkhasiat menyembuhkan mencret dan eksim, memperbanyak air susu ibu (ASI), sebagai penawar racun lebah, racun ular, obat luka, dan sebagai bahan minuman beralkohol. Umbi garut juga baik bagi penderita diabetes karena kandungan glikemiknya rendah. Tepung garut dapat diolah menjadi makanan tradisional atau pun makanan olahan lain seperti layaknya terigu, seperti mi, bahan es krim atau dapat langsung direbus atau dikukus dan langsung disantap. Keripik atau emping garut mulai menjadi komoditas andalan pengrajin makanan ringan di sekitar Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan Sragen. limbah olahan umbi garut dapat digunakan dalam industri kertas tahan sobek dan bahan bakar.

    Garut kurang sesuai untuk produk bakery karena umbi garut tidak mengandung gluten. Gluten merupakan protein yang berfungsi mempertahankan udara di dalam adonan sehingga mengembang. Oleh karena perlu adanya penambahan CMC, Alginat, Gliseril monostearat apabila ingin digunakan dalam pembuatan bakery, karena bahan tambahan tersebut dapat meningkatkan daya tarik butir pati sehingga gas dapat dipertahankan (Kumalaningsih,1998).

Umbi garut yang masih muda dan segar biasana dapat digunakan untuk makanan kecil dengan cara merebus , mengukus atau membakarnya lebih dulu. Makanan tersebut mempunyai rasa manis dan bila sudah tua banyak seratnya sehingga mengurangi kelezatannya. Oleh sebab itu umbi yang sudah tua umumnya diambil patinya atau untuk membuat tepung garut.

Berikut ini adalah contoh produk olahan garut :

1. Pati Garut

Pengolahan pati garut sangat sederhana dan dapat dilakukan pada industri rumah tangga di pedesaan. Umbi garut yang akan diolah menjadi pati sebaiknya dipanen pada umur 10 bulan setelah tanam (Djaafar, 2006) karena rendemen pati dan kandungan amilosanya tinggi. Kadar amilosa pati garut meningkat seiring dengan bertambahnya umur umbi .

Untuk memperoleh pati garut, umbi dicuci bersih lalu digiling menggunakan mesin penggiling dan disaring hingga diperoleh larutan pati. Larutan pati diendapkan kemudian dibuang airnya. Pati basah lalu dicuci dengan menambahkan air, diaduk lalu diendapkan. Pencucian pati sebaiknya dilakukan 3−4 kali agar diperoleh pati yang berwarna putih.

Pati garut, seperti halnya pati dari komoditas lainnya merupakan polimer karbohidrat yang disusun dalam tanaman melalui pengikatan kimiawi dari ratusan hingga ribuan satuan glukosa yang membentuk molekul berantai panjang. Molekul-molekul tersebut disusun dalam entuk granula yang tidak larut dalam air dingin. Granula pati garut mempunyai diameter 5−7 µm, rata-rata 30 µm. Granula tersebut berbentuk bulat telur atau bulat terpotong. Suhu gelatinisasi pati garut berkisar antara 66,20−70°C (Haryadi 1999).

Menurut Djaafar dan Rahayu (2006), pati garut dapat dimanfaatkan sebagai bahan substitusi terigu dalam pengolahan pangan. Tingkat substitusi bergantung pada produk pangan yang akan dihasilkan. Untuk kue kering (cookies), tingkat substitusi 60−100% dapat menghasilkan kue kering dengan kerenyahan tinggi (Djaafar et al. 2004). Dalam pembuatan cake dan roti, diperlukan protein gandum yaitu gluten yang tidak ditemukan dalam bahan pangan umbi-umbian seperti garut (. Kestabilan gluten dalam pembuatan roti ditentukan oleh interaksi antarmolekul protein pembentuk gluten, yaitu dengan ikatan hidrogen dan ikatan disulfida maupun ikatan ionik (Belitz et al. 1986). Ikatan dengan molekul selain protein, yaitu karbohidrat, lemak, dan air ditentukan oleh interaksi hidrofobik dan hidofilik. Oleh karena itu, dalam pembuatan cake dan roti, tingkat substitusi terigu dengan pati garut hanya 40% (Husniartiet al. 2001).

2. Emping Garut

Emping merupakan salah satu bentuk olahan umbi garut. Emping garut mentah berwarna putih kekuningan dan terlihat jelas serat umbinya. Pengolahan emping garut sebaiknya menggunakan umbi yang dipanen pada umur 6−8 bulan setelah tanam. Rendemen emping garut dari umbi yang dipanen pada umur 6 bulan setelah tanam lebih tinggi (24,55%) dibandingkan dengan umbi yang dipanen pada umur 8 dan 10 bulan setelah tanam. Begitu pula dengan kadar seratnya. Kadar serat emping garut pada umbi yang dipanen pada umur 6 bulan setelah tanam lebih kecil yaitu 2,98% pada kadar air 2,24%,dibanding pada umur panen 8 dan 10 bulan setelah tanam. Tingkat kebeningan emping secara visual untuk ketiga umur panen umbi relatif sama. Pengembangan industri pengolahan umbi garut sangat menguntungkan dari segi ekonomi. Emping garut dalam bentuk bulat dan tipis seperti emping melinjo memiliki nilai jual yang lebih tinggi, berkisar antara Rp24.000−Rp40.000/kg (bergantung kualitasnya) dibandingkan dengan emping yang bentuknya memanjang utuh (Rp10.000/kg). Emping garut yang berbentuk memanjang dan utuh memiliki harga jual lebih rendah karena lebih berserat (Djaafar, 2010).

Di Yogyakarta, pati garut umumnya merupakan hasil samping. Bagian umbi yang diolah menjadi emping hanya bagian tengahnya. Potongan kedua ujung umbi dapat diolah menjadi pati. Emping garut mengandung serat yang tinggi dan dapat menjadi pengganti emping melinjo bagi yang berusia lanjut atau penderita asam urat.

 

 

 

 

Emping Garut

3. Keripik Garut 

Bahan alat untuk pembuatan keripik garut antara  lain 1 kg umbi  garut  yang  segar  dan  gemuk, ¼ kgliter air, Minyak goreng dan garam secukupnya. Alat yang digunakan adalah pisau, baskom, kompor dan alat penggoreng. Cara pembuatan keripik garut yaitu umbi dicuci lalu diiris­iris setebal  0,5  cm.  Irisan  tersebut  ditaburi  garam,  diaduk sampai  rata  dan  didiamkan  setengah  jam  agar  lunak  dan hilang  getahnya.  Dicuci  dan  ditiriskan  kemudian  dikukus sampai  kering.  Irisan  itu  digoreng  dalam  minyak  panas, apinya  dijaga  jangan  sampai  kental,  kemudian  masukkan esen  dan  aduk  sampai  rata.  Api  dikecilkan  dan  keripik dimasukan  dalam  adonan  gula  dan  diaduk  sampai  rata. Setelah rata diangkat dan dianginkan sampai dingin. Selanjutnya siap disantap atau dipak dalam kantong plastik untuk dijual (Anonymous b,2010).

4.  Jenang Garut 

Salah satu cara pengolahan tepung garut adalah pembuatan jenang garut. Jenang garut disajikan denganparutan kelapa. Cara pembuatannya adalah tepung  dicampur  dengan  air  bersih sampai  macak­macak  Adonan  ini  dipanaskan  diatas  api kemudian  ditambahkan  4  gelas  santan.  Garam,  daun pandan  dan  gula  jawa  yang  telah  diiris  halus  dimasukan. Adonan  dituangkan  dalam  loyang  dan  dibiarkan  sampai dingin. Setelah  itu  diiris­iris  dengan  bentuk  empat persegi panjang  sebelum  disajikan  digulingkan  dulu  dalam parutan kelapa (Anonymous b,2010). 

5. Jentik manis 

Jentik  manis  merupakan  salah  satu  olahan  basah  dari tepung  garut.  Jentik manis  yang  terbuat  dari  tepung  garut ini cara pembuatannya ditambah dengan sekoteng.Umbi garut dapat diolah menjadi berbagai produk pangan antara lain : kripik garut, mie kering, makanan bayi, pati garut, es krim, dan produk makanan olahan lainnya.Tepung garut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan jenang (dodol), kue dadar, kue semprit, cendol, cantik manis, roti, mie, makanan ringan, dan aneka kue tradisional. Cara pembuatannya  : Tepung  garut,  santan,  garam  dan  gula  dicampur  menjadi satu.  Adonan    ini  dimasak  sambil  diaduk­aduk  sampai menjadi  bubur.  Sekoteng  yang  telah  direbus  dimasukkan, diaduk­aduk  sebentar  kemudian  diangkat.  Dibungkus dengan daun pisang (Anonymous b,2010). 

6. Kue Dadar. 

Kue  dadar  ini  terbuat  dari  tepung  garut  dengan  dicampur tepung  beras  dan  tepung  ketan. Kue dadar ini disajikan dengan santan kental. Cara pembuatannya : Isi/inti : Kelapa diparut, diletakkan di wajan, dibubuhi gula sampai manis dan dituangi kira­kira 1 cangkir air, diaduk­ aduk terus sampai kental,dibubuhi tepung ketan dan diaduk lagi  sampai  tepungnya  matang,  lalu  diangkat. Jika  sudah dingin,  dipulung  panjang­panjang  kira­kira  sepanjang  jari untuk diisikan ke kulit dadar. Kulit dadar : Tiga macam tepung (tepung beras 2 cangkir, tepung garut ¾ cangkir, tepung ketan ¾ cangkair) dicampur menjadi satu, diadoni dengan santan cair yang terlebih dahulu dihangatkan kemudian diuleni. Telur ayam (3 butir) dikocok  dan  dicampurkan  ke  dalam  adonan  tadi,  lalu dicairkan  dengan  santan  sampai  adonan  seperti  adonan risoles,  kemudian  garam  dimasukkan.  Adonan  didadar  di wajan  panekuk  yang  telah  diproses  sedikit  minyak.    Jika pinggirnya  sudah  kering,  diangkat,  kemudian  diisi  dengan unti  kelapa,  lalu  dilipat  seperti  risoles.  Kue  dadar  ini dimakan  dengan  santan  kental  yang  telah  direbus  dengan sedikit garam dan beberapa lembar daun pandan (Anonymous b,2010). 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonymous a. GARUT 2010 http://infobptpjogja.multiply.com/journal/item/22

Anonymous b. 2010. GARUT. http://www.deptan.go.id/ditjentan/admin/rb/Garut.pdf

Abun.2005. EFEK FERMENTASI AMPAS UMBI GARUT (Maranta arundinacea LINN.) DENGAN KAPANG Aspergillus niger TERHADAP NILAI KECERNAAN RANSUM AYAM PEDAGING. http://www.pustaka.unpad.ac.id

Belitz, H.D., R. Kieffer, W. Seilmeier, and H.Weiser. 1986. STRUCTURE AND FUNCTION OF GLUTEN PROTEIN. Cereal Chemistry 63(4):336−341.

Djaafar, T.F. dan S. Rahayu. 2006. TEKNOLOGI PEMANFAATAN UMBI GARUT, PANGAN SUMBER KARBOHIDRAT. Badan Ketahanan Pangan bekerja sama dengan Pusat Kajian Makanan Tradisional Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta. 27 hlm.

Djaafar F Titiek., Sarjiman, dan Arlyna B. Pustika.2010. PENGEMBANGAN BUDI DAYA TANAMAN GARUT DAN TEKNOLOGI PENGOLAHANNYA UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN.www.pustaka-deptan.go.id

Haryadi, M. 1999. HANDOUT HIDRO KOLOID GEL.Fakultas Teknologi Pertanian UGM Yogyakarta. 54 hlm.

Husniarti, I.S. Utami, dan S. Rahayu. 2001.SUBSTITUSI TERIGU DENGAN PATI GARUT (MARANTHA ARUNDINACEA L.) PADA PEMBUATAN ROTI TAWAR. Agritech, Majalah Ilmu dan Teknologi Pertanian 21(1): 15−21.

Kumalaningsih,Sri.1998.ASPEK PENGEMBANGAN PRODUK OLAHAN DARI BAHAN BAKU UMBI GARUT

Pinus Lingga. 1986. BERTANAM UMBI-UMBIAN. Penebar Swadaya, Jakarta.

Plantus.2007. TEPUNG GARUT, ALTERNATIF PENGGANTI TEPUNG TERIGU. http://anekaplanta.wordpress.com/2007/12/22/tepung-garut-alternatif-pengganti-tepung-terigu/.

Prescott, S.C. and C.G. Dunn. 1959. INDUSTRIAL MICROBIOLOGY. 4 ed. Mc. Graw Hill Book Company, New York, Toronto, London.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 92 pengikut lainnya.

Tulisan Terakhir

Mohon maaf jika artikel yang di sajikan berasal dari banyak sumber, sumber yang masih utuh saya tampilkan sumber aslinya, tapi seringkali saya lupa, mohon di maafkan. saya coba perbaiki terus kualitas dan kuantitas blog ini.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 92 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: